← Bu CEO, Saya Cuma Sopirnya

Chapter Twenty Two

JANGAN SAYA TAHAN

POV: Marina

Di depan pintu ruang dewan, aku hampir mengirim pesan ke Fakhri: Kita belum selesai bicara.

Kuhapus sebelum terkirim. Semalam kami berhasil berhenti sebelum ciuman. Pagi ini aku nyaris memakai ponsel kerja untuk menagih percakapan pribadi dari pegawai yang baru mengajukan resign. Aku memasukkan ponsel ke tas dan meminta Naya menunjukkan angka stok terakhir.

Satu gerai belum mengonfirmasi penghentian penjualan. Operasi sudah mengirim orang ke sana. Aku minta keterlambatan itu ditulis apa adanya di laporan, bukan disembunyikan di balik frasa “hampir seluruh gerai”.

Ketua dewan membuka rapat tepat pukul sepuluh.

Sinta menjelaskan rilis bersyarat dan alasannya waktu itu. Ia tidak melempar tanda tangan itu ke staf di bawahnya. Legal memaparkan apa yang sudah ditetapkan semalam: penjualan SV-26-041 dihentikan, pemberitahuan sementara sudah terbit, pembeli punya jalur pengembalian dana. Keputusan pagi ini adalah seberapa luas penarikannya. Bukan apakah kami boleh diam sampai uji lab selesai.

Pak Danu, anggota dewan yang paling betah dengan angka, minta kepastian jumlah unit yang segelnya gagal. Sinta belum punya.

“Unit yang sudah tersebar nggak bisa dipilah aman dan nggak aman hanya dengan melihat kemasan luarnya, Pak.”

“Kalau begitu tarik semua unit batch itu dari gerai, dan tawarkan pengembalian dana ke semua pembeli,” kataku. “Kita periksa tiap saluran. Bukan nunggu orang lapor dulu.”

“Biayanya belum final,” kata Danu.

“Karena jumlah unit di tangan pelanggan juga belum terverifikasi. Rencana biaya punya rentang, Pak. Keputusan punya tenggat.”

Ia menunjuk lampiran proyeksi. Bahkan di hitungan paling rendah, penarikan ini akan memukul target kuartal: kontrak pajangan, ongkos kirim balik, kemasan pengganti, petugas layanan tambahan. Aku tidak mengecilkan angka itu. Aku cuma menolak menjadikannya alasan untuk mempertahankan barang yang kami sendiri belum bisa pertanggungjawabkan.

Lalu giliran Lilis.

Ia tidak membacakan kisah pelanggan seperti pertunjukan sedih. Ia menyebut tiga hambatan: kode batch sulit dibaca, petugas ritel belum menerima instruksi yang seragam, dan sebagian pembeli harus mengulang keluhannya setiap pindah kanal. Lalu tiga perbaikan yang bisa diukur: satu nomor tindak lanjut per laporan, pelatihan ritel hari ini juga, dan petugas yang boleh memproses pengembalian dana tanpa menunggu rapat berikutnya.

“Kapan nomor tunggal itu jalan di semua kanal?” tanya ketua dewan.

“Sore ini untuk laporan baru, Pak. Untuk laporan lama, tim saya butuh dua hari menautkan tiket yang terpisah.”

Danu melirik angka biaya layanan. “Petugas tambahan cuma dua minggu?”

“Dua minggu tahap awal. Setelah itu saya ukur antreannya,” jawab Lilis tanpa berkedip. “Kalau masih melonjak, saya kembali ke sini bawa datanya. Minta perpanjangan.”

Aku melihat Danu menulis sesuatu dan menggarisbawahinya. Lilis tidak membawa hati nurani yang gampang dipuji lalu diabaikan. Ia membawa keputusan yang bisa diperiksa.

“Kalau kita umumkan recall, mereka akan tanya kenapa baru sekarang,” kata Danu.

“Kita jawab pakai tanggal,” kataku. “Kapan hasil uji awal ada, kapan laporan masuk, kapan pengiriman ditahan, kapan stok di gerai dihentikan. Dan kita akui jaraknya terlalu panjang.”

Sinta menunduk sebentar, tapi tidak menarik lampirannya.

Ketua dewan meminta audit independen untuk rilis batch dan sistem eskalasi, dan mengusulkan agar Sinta tidak lagi menyetujui keputusan lanjutan SV-26-041 sendirian. Sinta menerimanya. Aku menambahkan satu permintaan: jalur pengecualian rilis harus otomatis memberi tahu CEO dan legal. Bukan ringkasan setelah produknya beredar.

Danu masih ingin menunggu hasil audit sebelum mengumumkan cakupan penarikan. Yang menjawab justru Sinta.

“Saya yang menandatangani rilis awal, Pak. Saya nggak bisa menjamin unit di rak aman hanya karena sampel tambahannya lolos inspeksi waktu itu.”

Ruangan diam. Danu akhirnya meminta catatan tertulis bahwa keputusan hari ini berdasarkan risiko yang diketahui sekarang, bukan pengakuan atas penyebab setiap keluhan. Legal menuliskannya. Aku menerima syarat itu. Akurasi justru memberi pelanggan informasi yang bisa mereka percaya.

Penarikan disahkan, dengan laporan biaya harian dan pembaruan ke dewan tiap dua hari. Konferensi pers dijadwalkan setelah semua ritel menerima instruksi. Kursiku belum dipersoalkan lewat pemungutan suara, tapi ketua dewan bilang evaluasi kepemimpinan akan mengikuti hasil audit.

Aku mencatatnya. Ancaman itu nyata, dan tidak bisa kuatasi dengan satu pidato bagus.


Sore itu pengumuman penarikan SV-26-041 tayang. Halamannya bisa dibuka pelanggan tanpa mengisi formulir dulu: kode batch, cara minta bantuan, pilihan pengembalian, dan jam pembaruan berikutnya. Dua jam kemudian kami memperbaiki gambar kemasan, setelah beberapa pembeli memberi tahu nomor cetaknya tertutup stiker harga di gerai tertentu. Hal begitu tidak pernah kelihatan dari meja dewan.

Naya masuk membawa berkas HR. “Surat Fakhri sudah diproses. Handover sampai Senin. Bimo sudah terima daftar kerjanya.”

Aku menatap tanda terima itu. Tidak ada kolom untuk keberatan seorang perempuan yang ingin laki-laki itu tetap di dekatnya. Ruang yang tersisa untuk CEO cuma memastikan hak dan serah terimanya adil.

“Aku mau mengubah tawaranku tadi pagi,” kataku.

“Diubah jadi apa?”

“Dicabut. Aku nawarin posisi yang bahkan belum diminta Bimo, cuma karena panik.”

Naya menunggu sampai aku selesai membaca. “Bilang langsung. Terus jangan minta dia kasih jawaban lain supaya Mbak merasa lebih enak.”

“Kamu makin galak.”

“Aku belajar dari dewan hari ini.”


Aku menemui Fakhri di ruang serah terima setelah memastikan Bimo sudah selesai dengannya. Pintu kubiarkan sedikit terbuka. Ia sedang menulis langkah-langkah untuk mereproduksi grafik ulasan; di pinggir halaman ada tiga catatan kecil berisi peringatan soal sampel yang tidak lengkap. Begitu melihatku, ia menutup halaman yang memuat kode pesanan dan berdiri.

“Ada keputusan soal batch?”

“Penarikan disetujui. Pengumuman sudah tayang. Tim Bimo tetap jalan, tapi nggak dipakai buat mengurangi bantuan ke pelanggan.”

“Bagus.” Ia memperhatikan wajahku. “Bukan berarti harimu jadi gampang.”

“Nggak.” Aku duduk di kursi tamu, bukan di ujung meja. “Tawaran posisi tadi pagi kutarik. Kebutuhan analis itu urusan Bimo. Aku nawarin karena takut kamu pergi, bukan karena sudah menilai kebutuhan timnya dengan benar.”

Ia tidak langsung menjawab.

“Maaf aku mengulang kesalahan yang sama. Serah terima dan referensimu kutandatangani sesuai hasil kerjamu. Kamu nggak perlu tinggal supaya aku tenang. Dan kamu nggak perlu janji apa-apa soal setelah Senin.”

“Aku bisa cerita rencanaku kalau kamu mau tahu.”

“Aku mau tahu. Sebagai orang yang suka kamu. Tapi aku nggak akan pakai rasa penasaran itu buat menawar tanggal resign-mu.”

Kalimat itu keluar tanpa kututup dengan lelucon. Fakhri menyandarkan tangan ke sisi meja. Ia menatapku lama, seperti sedang memastikan aku tahu berat kalimat yang baru kuucapkan.

“Aku dengar,” katanya. “Aku juga suka kamu. Tapi tadi pagi aku merasa semua alasan yang kubangun sendiri tiba-tiba nggak kelihatan, karena kamu panik.”

“Aku hampir bilang, tinggal saja sampai konferensi pers selesai. Bukan karena tim butuh sopir. Karena aku mau tahu kamu ada di mobil waktu aku pulang. Itu nggak adil buat kamu.”

“Mungkin aku bakal bilang iya kalau kamu minta begitu,” jawabnya. “Terus beberapa bulan lagi aku bakal bertanya-tanya, kita bareng karena sama-sama mau, atau karena aku terus menunda pergi.”

Kami sama-sama diam. Ia tidak membiarkanku menanggung seluruh kesalahan sendirian: keinginannya untuk mengiyakan juga nyata. Justru karena itu kami harus menjaga keputusan masing-masing tetap kelihatan jelas.

“Kamu benar. Aku lagi belajar lihat hidupmu tanpa buru-buru membetulkannya.”

“Nggak harus sempurna hari ini.”

“Jangan kasih aku target baru. Nanti aku bikin tabel.”

Ia tertawa pendek. Senin ia tetap pergi. Minggu depan aku tetap mungkin kehilangan jabatan. Tapi kali ini aku bisa menatap suratnya tanpa membayangkannya sebagai hukuman.

“Satu lagi,” katanya. “Kalau nanti aku nggak antar kamu lagi, itu karena kontrakku selesai. Bukan karena aku mau kamu merasa kehilangan.”

“Aku tahu.” Aku berdiri. “Dan kalau aku nggak menghubungi kamu selama kamu masih kerja di sini, itu karena aku mau kamu punya ruang memilih tanpa suara atasan di dalamnya.”

Kami berhenti satu langkah dari pintu. Ia tidak meraihku. Aku bisa melihat ia ingin, dan ia mungkin bisa melihat hal yang sama padaku. Aku mengalihkan tanganku ke gagang pintu.

“Sampai besok, Bu?” katanya, sengaja memakai sapaan kantor, dengan senyum yang nyaris tidak kelihatan.

“Sampai besok, Pak Fakhri.”

Di luar, Naya menyodorkan daftar pertanyaan media untuk konferensi pers. Aku mengambilnya tanpa menoleh ke belakang. Untuk pertama kalinya hari itu, menghormati keputusan Fakhri terasa seperti sesuatu yang benar-benar bisa kulakukan. Bukan cuma kalimat baik yang kuucapkan.