Chapter Eight
PONSEL DI KURSI BELAKANG
POV: Fakhri
Pukul sepuluh lewat empat puluh dua, sesuatu bergetar di kursi belakang.
Aku baru saja keluar dari halaman gedung konvensi setelah menurunkan Marina di lobi. Getarannya berhenti, lalu mulai lagi. Aku menepi di area tunggu sopir, memasang rem tangan, dan menoleh.
Ponsel kerja Bu Marina. Terselip di celah antara sandaran dan jok, layarnya menyala dengan nama Naya. Dan pemiliknya, kalau aku tidak salah ingat jadwal, delapan belas menit lagi harus presentasi di lantai sebelas.
Getaran ketiga berhenti. Kali ini ponselku sendiri yang berbunyi.
“Pak Fakhri.” Suara Naya di sambungan hands-free terdengar seperti orang yang menelepon sambil berlari, karena memang begitu. “Tolong bilang ponsel Mbak Marina ada di mobil.”
“Ada, Bu. Di kursi belakang.”
“Syukurlah. Dia butuh kode verifikasi dari ponsel itu buat buka file presentasinya. Bisa dititip ke koordinator acara di lobi? Namanya Pak Hendra, nanti aku kabari dia.”
Aku membuka folder di dasbor dan mengeluarkan selembar kertas yang mulai lecek: prosedur barang tertinggal dari HR, hari pertama kerja. Untuk perangkat kerja, penerimanya cuma tiga: pemiliknya, kepala staf, atau petugas keamanan perusahaan yang tercatat.
Pak Hendra tidak ada di daftar.
“Saya antar langsung, Bu. Ke Bu Marina atau ke Ibu sendiri.”
“Pemeriksaan tamu di gedung ini lama banget, Pak.”
“Saya tahu. Ada jalur lain yang resmi?”
Jeda. Aku bisa mendengar Naya menimbang antara kesal dan setuju.
“Aku turun,” katanya akhirnya. “Jangan kasih ke siapa-siapa dulu.”
Aku memasukkan ponsel itu ke kantong kain dan mengunci mobil. Sebelum kantong tertutup, satu notifikasi muncul, potongan kalimat dari nomor yang tidak kukenal. Aku membalik kantongnya. Banyak orang merasa sesuatu yang terbaca tanpa sengaja sudah bukan rahasia lagi. Buatku, justru di situ ujiannya.
Di lobi, seorang pria berjas dengan tanda panitia langsung menghampiriku. Rupanya petugas parkir sudah menyebar kabar.
“Ponselnya Bu Marina, ya? Sini, saya bawa ke atas. Sudah mepet.”
“Terima kasih, Pak. Tapi saya harus serahkan langsung ke Bu Marina atau Bu Naya.”
“Saya koordinator acaranya.”
“Saya percaya, Pak. Tapi ini bukan soal percaya atau nggak. Nama Bapak saja yang nggak ada di daftar saya.”
Rahangnya bergerak, siap membantah. Untungnya pintu lift berdenting, dan Naya keluar dengan langkah yang membuat lantai marmer kedengaran ketakutan.
“Kamu bikin aku turun sebelas lantai,” katanya.
“Saya bisa naik kalau kartu tamunya sudah jadi, Bu.”
“Nggak, nggak. Sudah benar.” Ia menandatangani serah terima di aplikasi armada dengan dua ketukan, lalu mengambil kantong dari tanganku. “Aku juga lagi coba buka file-nya dari laptop panitia. Jaga-jaga.”
“Kalau begitu jalankan dua-duanya, Bu.”
“Kamu tenang banget buat orang yang lagi dikejar waktu.”
“Panik nggak bikin lift lebih cepat.”
Naya mendengus, tapi sambil tersenyum, lalu berlari kembali ke lift.
Aku turun ke parkiran. Belum sempat membuka pintu mobil, nomor Naya menelepon lagi. Tapi yang bicara bukan Naya.
“Pak Fakhri.” Suara Marina. Dingin dan pendek. “Kenapa ponselku butuh upacara serah terima?”
“Karena itu ponsel kerja, Bu. Saya nggak boleh kasih ke orang yang nggak ada di daftar.”
“Hendra sudah kerja sama timku bertahun-tahun.”
“Saya nggak tahu itu, Bu. Dan saya nggak tahu dia punya akses ke perangkat Ibu atau nggak.”
Hening sebentar. Kubayangkan ia berdiri di koridor gedung konvensi, memegang ponsel Naya di satu tangan dan berkas di tangan lain, dengan ratusan kursi tamu yang sudah terisi di balik pintu.
“Presentasiku mundur sepuluh menit.”
“Saya minta maaf soal waktunya, Bu.”
“Aku nggak minta maaf. Aku minta dijemput di pintu timur jam dua belas.”
Sambungan putus.
Aku duduk di balik setir lebih lama dari yang perlu. Keputusanku sesuai aturan, aku tahu itu. Tapi aturan yang benar tetap bisa bikin orang lain kerepotan, dan rasa tidak enaknya tidak bisa kutitipkan ke selembar kertas prosedur. Bagian itu memang untuk kupikul sendiri.
Belakangan aku tahu Naya berhasil membuka file dari laptop panitia, lalu menukar urutan dengan pembicara berikutnya. Tidak ada yang perlu menyentuh ponsel Marina selain Marina sendiri. Masalahnya selesai tanpa ada yang melanggar batas. Hanya saja, sepuluh menit itu tetap tercatat atas namaku.
Pukul dua belas lewat dua, Marina keluar dari pintu timur. Naya berpisah di trotoar dan naik mobil lain kembali ke kantor. Marina masuk ke kursi belakang, menyimpan ponsel di saku blazer, bukan lagi di jok, lalu memasang sabuk.
“Presentasinya lancar, Bu?”
“Lancar. Mereka mendahulukan pembicara lain.”
“Saya dengar gara-gara saya jadwalnya mundur.”
“Memang gara-gara kamu.” Ia menyandarkan kepala. “Dan gara-gara aku ninggalin ponsel di jok. Dua-duanya benar.”
Aku mengangguk dan mulai menyetir. Di lampu merah pertama, ia bicara lagi.
“Hendra minta ponselnya ke kamu?”
“Iya, Bu.”
“Kalau dia maksa?”
“Saya telepon Bu Naya. Biar beliau yang putuskan.”
“Kamu bisa saja kasih, dan aku hemat sepuluh menit.”
“Bisa, Bu. Tapi setelah itu saya nggak bisa jawab kalau Ibu tanya siapa yang pegang ponsel Ibu selama sepuluh menit itu.”
Marina menghela napas panjang. “Aku kesal karena harus ubah urutan acara. Bukan karena kamu nggak kasih ponselku sembarangan.”
“Saya ngerti, Bu.”
“Belum. Soalnya aku belum bilang terima kasih.”
Aku menatap jalan. Terima kasih itu tidak menghapus sepuluh menit tadi. Tapi bahuku tiba-tiba terasa lebih ringan. “Sama-sama, Bu.”
“Kalau kejadian lagi, Naya harus turun sebelas lantai terus?”
“Bisa dibuat daftar penerima resmi per acara, Bu. Tapi bukan saya yang tentukan siapa yang dapat akses.”
“Nanti aku minta Bimo dan Naya susun.” Bimo, kepala keamanan informasi, mungkin akan senang dapat pekerjaan baru. Mungkin juga tidak. “Yang penting jangan sampai ponsel bisa diserahkan ke siapa saja cuma supaya rapat mulai tepat waktu.”
“Kalau ada daftarnya, saya ikuti.”
“Kalau daftarnya salah?”
“Saya tanya dulu sebelum serahkan.”
“Bagian legal pasti jatuh cinta sama kamu.”
“Belum tentu, Bu. Saya bikin jadwal Ibu telat.”
“Legal nggak pernah marah gara-gara sepuluh menit. Mereka marahnya gara-gara sepuluh miliar.”
Ia tersenyum ke arah jendela. Aku menyimpan pertanyaan yang ingin kulontarkan: masih kesal, atau sengaja bercanda supaya aku berhenti merasa bersalah? Mungkin dua-duanya. Aku bisa hidup dengan itu.
Ia minta mampir ke kantor cabang dulu untuk mengirim file lewat jaringan perusahaan. Di sana, seorang staf menawarkan membawakan laptopnya. Marina menolak dengan halus, mendekap laptopnya sendiri, dan menanyakan arah ruangan. Sebelum pergi, ia menoleh ke arahku lewat pintu mobil yang masih terbuka.
“Jadi begini rasanya punya aturan yang harus dipatuhi.”
“Ibu boleh protes. Saya dengarkan.”
“Aku tahu. Justru itu yang bikin susah protes.”
Ia pergi. Aku menunggu di mobil sambil mengisi laporan perangkat tertinggal: jam ditemukan, siapa yang menerima, berapa menit selisihnya. Bukan untuk menyalahkan Marina. Supaya Bimo punya bahan.
Sebelum menjemputnya lagi, aku menoleh ke kursi belakang sekali lagi. Kosong.
Besok aku akan tetap memeriksanya. Bukan karena aku ragu ia akan lebih hati-hati. Hari ini aku cuma belajar satu hal: aku tidak suka mendengar suaranya sedingin tadi. Kalau itu bisa dicegah dengan menoleh ke belakang setiap pagi, harganya murah sekali.
- 1 DI MOBIL INI SIAPA YANG MEMIMPIN?
- 2 JADWAL YANG TIDAK MEMERCAYAI MACET
- 3 BERHENTI DI TOKO ROTI
- 4 ATURAN MOBIL NOMOR SATU
- 5 SOPIR YANG TIDAK BISA DIBELI DENGAN PUJIAN
- 6 KURSI PENUMPANG SEBELAH KIRI
- 7 KELUHAN KECIL
- 8 PONSEL DI KURSI BELAKANG reading
- 9 MAKAN SIANG DALAM TUJUH MENIT
- 10 ORANG YANG MENGINGAT KOPI SAYA
- 11 JANGAN BERDIRI TERLALU DEKAT
- 12 JALAN MEMUTAR
- 13 BUKAN URUSAN JADWAL
- 14 KALAU ITU PERINTAH, SAYA TOLAK
- 15 GAJI SAYA TIDAK TERMASUK MENEBAK PIKIRAN IBU
- 16 SATU BATCH
- 17 POLA YANG TERLALU RAPI
- 18 CV YANG TIDAK SAYA BACA
- 19 TIDAK SEMUA ULASAN BOHONG
- 20 YANG TIDAK SAMPAI KE MEJA SAYA
- 21 SURAT PENGUNDURAN DIRI
- 22 JANGAN SAYA TAHAN
- 23 HARI TERAKHIR MENYETIR
- 24 SAYA BERTANGGUNG JAWAB
- 25 DI LUAR JAM KERJA
- 26 JANGAN CATAT INI SEBAGAI RAPAT
- 27 DUA HAL YANG SAMA-SAMA BENAR
- 28 ALASAN YANG SEBENARNYA
- 29 RUTE PALING PANJANG
- 30 MAU KE MANA?