← Bu CEO, Saya Cuma Sopirnya

Chapter Twenty Six

JANGAN CATAT INI SEBAGAI RAPAT

POV: Marina

Sabtu sore, Naya menelepon ketika aku sedang berdiri di depan lemari, memegang dua kemeja yang sama-sama kelihatan seperti pakaian untuk menyetujui anggaran.

“Laporan layanan pelanggan sudah masuk sistem,” katanya. “Bimo minta waktu Senin buat paparan audit. Mbak nggak perlu baca sekarang.”

“Aku belum buka laptop.”

“Aku tahu. Makanya aku telepon sebelum Mbak tergoda.”

Setelah ia menutup telepon, aku mengembalikan kedua kemeja itu ke lemari dan mengambil kaus garis-garis yang belum pernah melihat ruang rapat. Fakhri dan aku janjian di toko buku kecil dekat kedai tempat kencan pertama kami berakhir. Tidak ada reservasi. Tidak ada tiga alternatif. Aku tetap memasang pengingat jam pulang di ponsel, tapi sengaja tidak memberinya judul.

Itu kemajuan. Kecil, tapi kemajuan.


Fakhri menunggu di rak buku perjalanan. Kaus polos, jaket tipis, dan lingkar gelap di bawah mata yang dulu kukira tanda kurang tidur. Dulu aku mencuri pandang lewat spion. Sekarang aku boleh berdiri di depannya, dan ia boleh memergokiku.

“Kamu lihatin apa?”

“Matamu. Yang itu.”

“Ada dua.”

“Dua-duanya. Dulu aku hampir nyuruh kamu tidur lebih banyak.”

“Aku tidur. Bentuknya memang begini.”

“Aku tahu. Aku suka.”

Fakhri memindahkan sebuah buku ke rak sebelah dengan kehati-hatian yang berlebihan. “Kamu nggak kasih aku waktu buat nyiapin balasan.”

“Memang sengaja. Kalau kukasih waktu, kamu bikin tabel.”

Kami berkeliling. Ia mengambil buku tentang perjalanan kereta lintas kota. Aku memilih novel tipis yang sampulnya biru, mirip mangkuk Aisyah di dapur Ibu. Kami membayar masing-masing, lalu bertukar buku untuk membaca sinopsis di belakangnya.

“Dulu kamu pengin naik kereta ke mana?” tanyaku.

“Ke kota yang bisa dicapai dalam sehari. Terus pulang besoknya, tanpa harus mendatangi semua tempat wisata. Waktu kecil aku kira jalan-jalan harus penuh kegiatan, biar harga tiketnya terasa pantas.”

“Sekarang?”

“Kalau perginya sama orang yang kusuka, satu tempat bagus dan makan yang cukup sudah bikin harinya pantas.”

Ia mengucapkannya sambil pura-pura sangat tertarik pada peta di halaman belakang. Di lorong sesempit itu, ujung jari kami sudah bersentuhan di punggung buku.

“Kalau gitu kamu baru saja kasih aku alasan buat nggak bikin daftar dua puluh destinasi.”

“Simpan kalimatku sebagai bukti. Kalau nanti aku ngeluh capek.”


Kami makan di warung dengan halaman kecil dan bangku panjang. Kali ini aku duduk di sebelahnya, bukan di seberang. Penjual bertanya apakah bangkunya cukup. Aku menjawab cukup sebelum Fakhri sempat mengukur jarak.

“Kamu ambil saran kursi sebelahan secara harfiah,” katanya.

“Kamu yang nyaranin.”

“Aku nyaranin buat ‘besok’. Waktu itu.”

“Aku agak telat. Kamu mau protes?”

“Lagi kuhitung kerugiannya.”

Aku bergeser beberapa senti lebih dekat. Ia berhenti membaca menu dan menatapku. Ada ruang di sisi lain bangku kalau ia mau menjauh. Ia tidak memakainya.

Kami memesan mi dan dua es teh. Aku cerita Ibu mengirim foto mangkuk Aisyah di meja sarapannya, isinya buah potong, bukan dipajang di lemari. Fakhri menunjukkan pesan Aisyah yang mengeluh: printernya sudah hidup, dan sekarang semua orang di studio ingin mencetak label warna-warni.

“Sewa mejanya jadi?”

“Jadi. Kontrak pendek. Kalau usahaku gagal, Aisyah tetap bisa bayar tanah liatnya.”

“Kamu selalu bikin kalimat romantis kedengaran kayak perjanjian usaha.”

“Tadi itu romantis?”

“Bagian kamu memperlakukan usaha adikmu dengan serius. Iya.”

Ia menatapku lama, lalu tersenyum pelan. Aku ingin menyebut semua hal kecil yang kusukai darinya. Caranya minta izin sebelum membuka berkas. Caranya berhenti bicara saat aku harus memutuskan sesuatu sendiri. Caranya mengejek tiga alternatif restoranku. Tapi kalau kusebut satu per satu, ia akan menuduhku membawa agenda berlampiran. Jadi aku cuma menggeser gelasku, memberi ruang supaya siku kami bisa bersebelahan di meja.


Setelah makan, kami jalan kaki ke halte. Rutenya melewati toko roti itu. Toko roti yang dulu membuatku kesal karena Fakhri menolak langsung pulang demi jam istirahatnya. Etalasenya masih sama. Lampunya masih kuning hangat.

“Aku lapar lagi,” kataku.

“Baru dua belas menit sejak makan.”

“Aku mau beli roti buat besok. Itu beda.”

Ia membukakan pintu. “Baik, Bu.”

Aku menahan lengannya. “Kamu sudah nggak harus panggil aku begitu.”

“Aku tahu. Cuma pengin lihat mukamu.”

“Mukaku kenapa?”

“Kelihatan siap membantah sebelum aku selesai ngomong.”

“Ada hal lain yang siap kulakukan kalau kamu masih panggil aku ‘Bu’ malam ini.”

Matanya turun ke bibirku, lalu naik lagi. “Itu ancaman?”

“Undangan. Tapi aku bisa mulai dari roti.”

Di dalam, kasir yang sama melambai ke Fakhri. “Mas! Kayu manisnya tinggal dua!”

“Dua, Mbak,” kataku cepat. “Pisah, ya.”

Kasir memandang kami bergantian, lalu tersenyum seperti orang yang baru menonton episode lanjutan sinetron favoritnya. Kami membayar masing-masing, lalu duduk di kursi luar menunggu gerimis lewat. Kertas roti tergeletak di antara kami. Lampu toko menerangi titik-titik air di trotoar.

“Dulu kamu maksa berhenti di sini karena jam istirahatmu,” kataku. “Aku kesal. Kupikir aku kehilangan tujuh belas menit.”

“Kamu ngitung?”

“Waktu itu aku ngitung semua hal.”

“Aku cuma pengin makan tanpa nyetir sambil lapar.”

“Aku tahu sekarang.” Aku memotong rotiku jadi dua. “Kalau hari itu kamu ngalah, mungkin aku nggak pernah belajar minta bagian. Aku bakal terus mengira ngatur waktu orang lain sama dengan ngatur kalender.”

“Rina,” katanya. “Kemarin kamu bilang takut aku datang cuma karena sopan. Aku nggak tahu apa yang bakal terjadi sama pekerjaanmu. Tapi aku di sini karena aku mau.”

Aku meletakkan roti yang belum habis.

“Aku juga mau kamu di sini. Bukan buat mengantarku. Bukan buat mengolah dataku. Aku mau kenal kamu yang lagi malas balas pesan. Kamu yang usahanya lagi lancar, atau malah bikin pusing. Dan aku mau kamu kenal aku yang nggak punya jawaban rapat.”

“Yang terakhir mungkin paling susah.”

“Iya. Aku terbiasa kelihatan sudah tahu harus ngapain.”

“Aku bisa duduk di sini waktu kamu belum tahu.”

Aku menggeser tangan mendekati tangannya. Ia membalik telapaknya dan menyambutku.

Malam di sofa lobi kantor itu terlintas lagi. Tapi kali ini lain. Kami memilih waktu kami sendiri. Tidak ada jadwal kerjanya yang harus kutandatangani. Tidak ada jabatan untuk tempatku bersembunyi.

“Aku mau cium kamu,” kataku. “Boleh?”

Ia menatapku beberapa detik. Detik-detik paling panjang dalam empat tahun terakhir, termasuk semua rapat dewan.

“Boleh. Aku juga mau.”

Aku mendekat lebih dulu. Ciumannya singkat, hangat, dan sedikit kikuk karena kami sama-sama tersenyum tepat sebelum bibir kami bertemu. Waktu aku menarik diri, gerimis masih turun dan roti kami masih tergeletak di bangku. Fakhri mengembuskan napas, seperti baru ingat ia boleh bernapas.

“Kamu merencanakan itu?” tanyanya.

“Nggak. Kalau kurencanakan, aku bakal datang bawa peta lokasi, prakiraan cuaca, dan lip balm cadangan.”

Ia tertawa. “Berarti kita beruntung kamu lupa.”

Aku menyandarkan dahi ke bahunya sebentar, lalu duduk tegak lagi. Kami tidak menambah ciuman lain untuk membuktikan yang pertama berarti. Aku lebih ingin mendengar apa yang ada di kepalanya.

“Tadi aku takut kamu mundur,” kataku. “Karena aku terlalu langsung.”

“Aku sempat takut kamu nanya cuma karena merasa harus menghapus malam di lobi itu.” Ia mengusap ibu jarinya di punggung tanganku. “Ternyata kamu memang mau tahu jawabanku.”

“Kalau kamu bilang belum, aku berhenti.”

“Aku tahu. Makanya aku bisa bilang iya, tanpa mikir besok ada jadwal yang bergantung pada jawabanku.”

Gerimis mereda. Kami menyepakati satu hal sederhana: bertemu lagi Minggu depan, setelah sama-sama mengecek jadwal. Tanpa menjadikan ciuman ini kontrak yang harus segera diberi nama.

Kendaraanku datang. Aku ingin tinggal lebih lama, tapi Fakhri harus pulang menyelesaikan proposal klien, dan aku sudah belajar bahwa jam orang lain bukan bagian dari kalenderku.

Di mobil, pesan dari Naya menyala: Bimo sudah jadwalkan paparan Senin. Nikmati akhir pekan, Mbak.

Aku membalas satu kata, Iya, lalu menelungkupkan ponsel di pangkuan. Urusan distributor mungkin berubah total dalam dua hari. Malam ini yang berubah lebih kecil, dan jauh lebih berani: aku bilang aku ingin dekat, dan Fakhri mendengarnya sebagai permintaan. Bukan perintah.