Chapter Twenty Eight
ALASAN YANG SEBENARNYA
POV: Fakhri
Minggu pagi, Marina mengirim pesan. Tanpa lampiran, tanpa tiga alternatif.
Aku bebas setelah jam empat. Mau jalan kaki dan makan sesuatu yang nggak perlu reservasi?
Aku sedang memasang rak kecil di studio Aisyah. Adikku berdiri di tangga lipat, memegang pot yang belum kering, dan membaca senyumku lebih cepat daripada yang kuizinkan.
“Balas sebelum kamu lupa bagian pertanyaannya.”
Kuketik: Mau. Aku yang pilih tempat. Jam empat di gerbang taman kota?
Aku datang sendiri. Dan aku sudah makan siang.
Kutunjukkan baris terakhir ke Aisyah. “Dia mendahului ceramahmu.”
“Berarti perempuan itu belajar cepat.” Aisyah turun dari tangga. “Beda sama kakakku.”
Sore itu aku datang membawa dua botol air dan tidak membawa kunci mobil siapa pun. Marina menemuiku di gerbang taman dengan sepatu datar dan tanpa satu pun orang kantor. Ia mencium pipiku sekilas, setelah memastikan kami tidak menghalangi orang lewat.
Aku membeku setengah detik. Ia jelas senang melihat hasilnya.
“Kamu boleh protes,” katanya.
“Lagi kuputuskan bagian mana yang mau kuprotes.”
“Kalau kelamaan, kuulang.”
“Ancamanmu makin nggak meyakinkan sebagai ancaman.”
Ia menggandeng tanganku. Sejak ciuman di depan toko roti, kami sudah bertukar pesan soal hal-hal kecil setiap hari, tapi belum pernah menyebut hubungan ini dengan nama. Aku tidak mau satu ciuman memikul semua jawaban. Hari ini aku ingin mengatakan alasanku yang sebenarnya. Kenapa aku datang. Kenapa aku bertahan. Kenapa aku pergi.
Kami melewati kios buah dan tempat bermain anak. Marina membeli dua potong nanas dingin dan menyodorkan satu padaku. Di dekat penjual tanaman, ia berhenti di depan bibit cabai dan memotretnya untuk Bu Tari. Balasan datang dalam hitungan detik: Halaman Ibu nggak kekurangan tanaman.
Marina membeli satu pot.
“Bukannya Ibu bilang nggak butuh?”
“Ibu selalu bilang begitu tepat sebelum ngambil pot baru.”
“Kukira hari ini kamu mau keluar rumah tanpa keputusan pembelian.”
“Ini pengadaan strategis skala pot.”
“Aku minta tender pembanding.”
Ia mencubit lenganku pelan. Aku suka caranya menertawakan kebiasaan kerjanya sendiri, tanpa menganggap setiap candaan sebagai ancaman terhadap kemampuannya memimpin.
Di dekat pintu keluar taman, seorang perempuan muda mengenali Marina dari konferensi pers. Ia tidak minta foto. Ia bilang ibunya sudah dapat pengembalian dana, tapi belum dapat kabar soal tindak lanjut keluhannya.
Marina mendengarkan sampai selesai. Ia memberi kanal yang tepat dan minta perempuan itu menyebut nomor tindak lanjut ke petugas. Ia tidak minta data pribadi di tengah taman. Tidak berjanji kasusnya selesai malam ini. Tidak membela diri.
“Terima kasih sudah bilang ke saya,” katanya.
Setelah perempuan itu pergi, Marina mengetik catatan singkat untuk Lilis, tanpa nama yang tidak ia dapat. Lalu ia menatapku dengan wajah orang yang tertangkap basah.
“Aku janji hari ini nggak bawa kerjaan ke kencan.”
“Itu bukan kerjaan yang kamu bawa. Itu orang yang butuh jalur bantuan.”
“Tetap aja. Aku mau kamu tahu, kerjaanku bisa nongol di tengah jalan.”
“Aku sudah tahu sebelum kita mulai jalan, Rina.”
Kami menemukan bangku di sudut yang lebih sepi. Cahaya sore turun rendah. Aku membuka tutup botol air dan menyodorkannya, lalu sadar ia sudah membuka botolnya sendiri. Ia menatap botol di tanganku.
“Aku bisa jaga diri.”
“Aku tahu. Aku cuma pegang botol yang salah.”
Kami bertukar botol dan tertawa. Ternyata menjaga seseorang kadang berarti membiarkan dia membuka tutup plastiknya sendiri.
“Rina,” kataku. “Ada yang belum pernah kubilang utuh.”
Ia menoleh dan tidak menyela.
Aku menghindari percakapan ini cukup lama. Orang-orang, termasuk analis di ruang Bimo, seperti menunggu cerita bahwa aku menyamar jadi sopir untuk mendekati CEO. Cerita itu lebih seru daripada kenyataan. Tapi cerita itu juga merendahkan setiap hari aku benar-benar bekerja.
“Aku melamar karena gajinya besar dan tetap. Dua puluh delapan juta, tunjangan, jadwal tertulis. Setelah bertahun-tahun nagih invoice ke klien beda zona waktu, itu berarti banyak buatku dan Ibu. Aku suka nyetir. Aku bangga bisa ngantar kamu dengan aman. Nggak ada misi rahasia.”
“Aku ingat. Waktu wawancara kamu bilang gajinya menarik.”
“Iya. Dan orang selalu anggap itu bercanda, terus ngarang alasan lain yang kedengaran lebih mulia.”
“Aku juga sempat ikut ngarang, setelah tahu gelarmu.” Ia tidak pura-pura lupa. “Aku salah.”
“Kamu sudah minta maaf. Dan kamu sudah menghargai pekerjaanku sebelum lihat CV lengkapku. Itu yang bikin aku bertahan lebih lama dari rencana.”
“Aku takut kalimat berikutnya bikin aku kedengaran kayak mau mengklaim hidupmu.”
“Kamu nggak menciptakan pilihanku,” kataku. “Aku memang sudah mau bikin usaha sendiri. Aku keluar supaya bisa kerja dengan batas yang sehat. Dan supaya kalau aku datang ke rumahmu atau ngajak kamu makan, itu pilihan pribadiku. Bukan karena aku masih nunggu instruksi jam tujuh pagi.”
“Kamu nyesel berhenti?”
“Kadang kangen nyetir di jam yang nggak macet.” Aku meliriknya. “Kangen juga caramu pura-pura nggak lihat spion waktu lagi merhatiin aku.”
Ia menutup wajah dengan telapak tangan. “Kamu tahu.”
“Aku punya kaca. Kerjaannya memantulkan.”
“Kamu nyimpan bukti terlalu lama.”
“Bukan buat melawanmu.” Aku menyentuh tangannya. “Aku mau kenal kamu tanpa alasan pulang ke kursi depan tiap pagi. Dan aku mau kamu nggak perlu ngasih aku pekerjaan baru buat menahanku.”
Marina menatap jari-jari kami. Lama.
“Aku cinta kamu,” katanya.
Tidak ada senyum untuk menyamarkannya. Tidak ada lelucon di belakangnya.
“Aku suka kamu sejak kamu berani bilang jadwalku mustahil. Terus aku makin jatuh, waktu kamu nggak pernah pakai kemampuanmu buat bikin aku berutang. Aku mau ada di hidup yang kamu pilih sendiri. Kalau kamu mau.”
Aku sudah membayangkan pengakuannya beberapa kali. Tidak ada satu pun yang mirip dengan caranya mengucapkannya barusan.
Aku membiarkan jeda cukup lama untuk merasakan takut dan lega sekaligus. Terlalu lama, rupanya. Marina mulai menarik tangannya, mungkin mengira ia sudah memojokkanku.
Aku menggenggamnya kembali.
“Aku mau,” kataku. “Aku cinta kamu, Rina. Waktu aku masih nyetir, aku jatuh cinta sama orang yang bisa marah karena kubantah, terus mengubah jadwal karena ternyata aku benar. Setelah keluar, aku tetap milih orang yang sama.”
Ia mengangkat tangan ke wajahku, lalu berhenti di udara. “Boleh?”
Aku mengangguk.
Ujung jarinya menyentuh lingkar di bawah mataku. “Dulu aku kira ini tanda kamu kerja terlalu keras buat aku.”
“Kadang memang capek. Tapi bentuk mataku nggak bisa kamu perbaiki pakai cuti.”
“Untung. Ternyata aku suka bentuknya.”
“Kamu nyelipin data teknis di tengah pengakuan cinta.”
“Itu data penting.”
“Kamu benar-benar bikin aku jatuh cinta sama orang yang salah buat dilawan.”
“Jangan dilawan.”
“Nggak niat.”
Ia bersandar ke bahuku. Kami duduk begitu sampai suara anak-anak di taman makin jauh. Aku tidak merasa harus menambal hening dengan janji besar. Kalimat-kalimat tadi sudah mengubah sesuatu. Kami boleh merasakan akibatnya dulu, sebelum merencanakan besok.
“Aku masih bisa kecewa kalau kamu batalin kencan karena kerjaan,” kataku akhirnya.
“Boleh. Aku juga boleh kesal kalau kamu terima klien yang nelepon tengah malam, terus lupa tidur.”
“Jadi kita tetap boleh bertengkar?”
“Mudah-mudahan kita bisa ngomong sebelum jadi pertengkaran. Tapi aku nggak mau hubungan yang cuma aman kalau kita setuju terus.”
“Kalau salah satu dari kita merasa kerjaan mulai ngatur hubungan ini, kita bilang. Jangan diam sampai orang lain harus nebak.”
“Setuju. Dan kalau aku salah, kamu nggak perlu nyiapin tabel pembuktian dulu sebelum bilang.”
“Itu bagian paling berat buatku.”
Ia tertawa dan mengaitkan lengannya ke lenganku.
Di jalan keluar, petugas taman mengenali Marina dan menyapanya. Marina membalas dengan namanya sendiri, tanpa menyembunyikan tangannya yang masih ada di tanganku.
“Aku nggak mau hubungan kita jadi pengumuman kantor,” katanya kemudian. “Tapi aku juga nggak mau pura-pura kamu cuma mantan pegawaiku kalau kita ketemu orang.”
“Kita bisa jaga privasi tanpa bohong. Aisyah sudah tahu. Ibu kukasih tahu langsung, bukan dari foto orang lain.”
“Ibuku sudah nebak sebelum aku sendiri berani ngaku.”
“Itu bikin perkenalan keluargaku agak nggak adil.”
Kami sepakat. Tidak ada pernyataan publik. Kalau ada yang bertanya langsung di ruang pribadi, kami tidak menyangkal. Aku tidak akan mengambil kontrak dari Asterra selama kami bersama. Ia tidak perlu menyembunyikan wajahku untuk terlihat netral, dan aku tidak perlu memakai namanya untuk menjual usahaku.
“Sabtu depan aku kosong,” katanya. “Aku mau ngenalin kamu ke Ibu sebagai orang yang bakal datang lagi. Bukan tamu rapat. Kalau jammu bisa, Fakh.”
“Siang bisa. Sorenya aku bantu Aisyah antar wadah pensil.”
“Wadah pensil yang dipesan Ibu?”
“Yang itu. Kayaknya keluarga kita bakal ketemu duluan sebelum kita sempat atur.”
“Aku bisa bantu angkat. Sebagai pembeli yang sudah bayar penuh.”
“Dia bakal mastiin kamu nggak mindahin mangkuk.”
Di halte, Marina menunggu sampai kendaraanku datang. Sebelum aku naik, ia menarik kerah jaketku pelan dan menciumku singkat. Kali ini aku tidak membeku. Aku menahannya sebentar di sisiku setelah ciuman itu selesai.
“Hati-hati di jalan, sayang,” katanya pelan, mencoba kata baru yang sekarang boleh kami pakai berdua.
“Kamu juga, sayang.” Wajahnya memerah, lalu tersenyum. “Jangan balas pesan kerja sambil nyeberang.”
“Kamu masih mau ngatur caraku jalan?”
“Kalau soal keselamatan, iya. Sisanya kita putuskan bareng.”
Kendaraanku berhenti. Ia mundur selangkah supaya aku bisa naik. Ia tidak memintaku mengantarnya pulang hanya karena dulu itu pekerjaanku.
Aku duduk sebagai penumpang dan melihatnya melambai dari tepi taman. Alasanku dulu duduk di kursi depan tetap benar. Alasanku ingin kembali menemuinya juga benar. Dan sekarang, aku sudah mengatakannya tanpa menumpang pada pekerjaan apa pun.
- 1 DI MOBIL INI SIAPA YANG MEMIMPIN?
- 2 JADWAL YANG TIDAK MEMERCAYAI MACET
- 3 BERHENTI DI TOKO ROTI
- 4 ATURAN MOBIL NOMOR SATU
- 5 SOPIR YANG TIDAK BISA DIBELI DENGAN PUJIAN
- 6 KURSI PENUMPANG SEBELAH KIRI
- 7 KELUHAN KECIL
- 8 PONSEL DI KURSI BELAKANG
- 9 MAKAN SIANG DALAM TUJUH MENIT
- 10 ORANG YANG MENGINGAT KOPI SAYA
- 11 JANGAN BERDIRI TERLALU DEKAT
- 12 JALAN MEMUTAR
- 13 BUKAN URUSAN JADWAL
- 14 KALAU ITU PERINTAH, SAYA TOLAK
- 15 GAJI SAYA TIDAK TERMASUK MENEBAK PIKIRAN IBU
- 16 SATU BATCH
- 17 POLA YANG TERLALU RAPI
- 18 CV YANG TIDAK SAYA BACA
- 19 TIDAK SEMUA ULASAN BOHONG
- 20 YANG TIDAK SAMPAI KE MEJA SAYA
- 21 SURAT PENGUNDURAN DIRI
- 22 JANGAN SAYA TAHAN
- 23 HARI TERAKHIR MENYETIR
- 24 SAYA BERTANGGUNG JAWAB
- 25 DI LUAR JAM KERJA
- 26 JANGAN CATAT INI SEBAGAI RAPAT
- 27 DUA HAL YANG SAMA-SAMA BENAR
- 28 ALASAN YANG SEBENARNYA reading
- 29 RUTE PALING PANJANG
- 30 MAU KE MANA?