← Bu CEO, Saya Cuma Sopirnya

Chapter Seventeen

POLA YANG TERLALU RAPI

POV: Fakhri

Bimo menatapku seperti menatap orang yang masuk rapat lewat jendela.

Di meja ada Lilis, Naya, seorang analis muda dari tim keamanan informasi, dan perwakilan QA. Bu Marina menyusul sepuluh menit kemudian setelah telepon dengan ritel. Aku hadir karena undangan tertulis Naya. Undangan itu tidak memberiku hak melihat satu baris pun data internal.

“Jelaskan dulu temuanmu,” kata Bimo. “Tanpa nama akun.”

Aku menampilkan tangkapan layar ulasan publik, lengkap dengan cap waktunya. Nama dan foto profil sudah kututup, meskipun semuanya bisa dilihat siapa saja di laman aslinya. Dalam empat puluh menit, beberapa kelompok unggahan memakai urutan kalimat yang serupa. Dua video menyebut angka pemakaian yang sama persis: hari ketiga, pipiku langsung panas.

“Ini bisa terjadi karena orang ikut-ikutan menyalin unggahan yang lagi ramai,” kataku. “Bisa juga ada yang mengatur. Data publik nggak cukup buat memilih salah satunya.”

“Kapan kamu bikin tabel ini?”

“Semalam. Setelah jam nyetir selesai.”

“Kamu sopir pribadi CEO.” Bimo melipat tangan. “Kenapa repot bikin tabel ulasan?”

Pertanyaannya wajar. Nadanya tidak menyenangkan, tapi aku tidak dibayar untuk mendapat nada yang menyenangkan.

“Saya pernah kerja lepas mengolah data, Pak. Pola waktunya kebetulan kelihatan. Kalau nggak berguna, silakan diabaikan.”

“Justru karena mungkin berguna, saya harus tahu dari mana kamu dapatnya.”

“Setuju.”

“Disimpan di mana?”

“Di ponsel pribadi, dari laman publik. Kalau tim Bapak mau pakai, saya serahkan tautan sumbernya. Salinan saya nggak perlu masuk sistem kantor.”

Ia meminta analis di sebelahnya membuka tautan yang sama di komputer kantor. Dua unggahan sudah dihapus. Sisanya masih ada. Bimo mencatat jam pemeriksaannya. Analis muda itu mengangkat alis, menatap dua tautan yang hilang. Aku menahan lidah. Unggahan yang dihapus bisa berarti banyak hal, termasuk orang yang menyesal sudah marah-marah di internet.

Lilis lalu menunjukkan tiket keluhan yang sudah terverifikasi. Jumlahnya naik, dan beberapa pembeli benar-benar memegang botol dengan nomor batch yang bisa dilacak. Ia tidak mau grafik ulasan membuat tim lupa pada mereka. Aku menggeser slide-ku dari layar dan memintanya meneruskan. Aku tidak datang ke ruangan itu untuk membuktikan semua orang salah.

Bimo membagi pekerjaan jadi dua jalur. QA memeriksa produk dan riwayat rilisnya. Timnya memeriksa dugaan koordinasi unggahan, memakai data pesanan dan log yang boleh diakses dalam audit perusahaan. Identitas pelanggan tidak boleh masuk ke lembar yang kulihat. Dan, ini yang membuatku sedikit lebih menghormatinya, ia ingin memastikan jadwal kerjaku tidak membuatku menyetir setelah berjam-jam menatap layar.

Bu Marina baru bicara setelah Bimo selesai.

“Kalau Fakhri bersedia membantu, buat surat penugasan sementara. Batas akses, jam kerja, bayaran, tertulis. Armada cari pengemudi lain selama dia di tim audit. Kalau dia memilih tidak ikut, pekerjaan ini tetap jalan tanpa dia.”

Aku menatapnya. Ia tidak memakai jabatannya untuk mendapatkan jawaban iya dariku. Bimo menulis syarat itu, lalu bertanya langsung.

“Mau bantu tiga hari sebagai analis sementara?”

“Saya mau lihat ruang lingkup dan bayarannya dulu, Pak.”

Analis muda itu tersenyum tanpa suara. Bimo mengangguk pelan. “Itu jawaban yang benar.”


Sore itu HR menyerahkan perjanjian penugasan. Aku boleh mengolah data pesanan yang sudah disamarkan dan log tertentu, di komputer kantor, dengan akun terbatas dan diawasi tim Bimo. Tidak boleh menyalin ke perangkat pribadi. Tidak boleh menghubungi akun pengulas. Tidak boleh membuka informasi pelanggan. Jam menyetirku berakhir sebelum pekerjaan audit dimulai; Pak Darto mengambil alih mobil Marina.

Aku membaca setiap halaman. Tarif tambahan tercantum. Begitu juga hakku berhenti dari penugasan ini kapan saja, tanpa memengaruhi kontrak sopir. Aku minta satu koreksi soal jam makan. Disetujui. Baru setelah itu aku tanda tangan.

Sebelum akunku aktif, Bimo minta izin melihat contoh laporan lepas yang pernah kupublikasikan dan menghubungi satu referensi lewat HR. Kuberikan tautan portofolio yang tidak memuat data klien. Ia tidak meminta kata sandi atau apa pun yang melanggar perjanjian lamaku. Pemeriksaan kecil itu justru membuatku tenang. Kalau nanti aku salah membaca sesuatu, timnya tahu siapa yang mereka undang dan sampai mana kemampuanku.

Hari pertama, kami tidak mencari pelaku. Kami menghitung berapa ulasan yang bisa dicocokkan dengan pembelian sah, dan berapa yang masih perlu diverifikasi lewat platform. Aku memeriksa pola waktu pesanan dengan kode anonim. Beberapa kelompok bergerak dengan jeda yang terlalu teratur untuk diabaikan. Tapi orang biasa juga bisa membeli bersamaan setelah menonton video yang sama.

Di samping setiap temuan, aku menulis hipotesis dan cara membuktikan bahwa hipotesis itu salah.

“Kamu selalu nulis alasan analisismu bisa keliru?” tanya analis muda itu.

“Kalau orang lain yang nemu duluan, kita tetap harus memperbaikinya. Lebih cepat kalau kita yang nyari.”

Satu klaster awalnya kelihatan paling rapi. Rapi sekali. Terlalu rapi. Lalu analis lain ingat bahwa platform mengirim notifikasi promo tepat sebelum jam yang kami tandai. Kami ulang hitungannya dengan jendela waktu lebih lebar, dan klaster itu tidak lagi istimewa. Aku mencoretnya. Presentasi sore jadi lebih pendek. Bimo tidak berkomentar soal jumlah temuan; ia cuma minta perubahan metode dicatat.

Di papan putih, Bimo menggambar garis tebal di tengah. Kiri: laporan produk. Kanan: pola penyebaran.

“Dua garis ini jangan disatukan,” katanya, “cuma karena kita kepingin satu jawaban yang gampang.”

Menjelang malam, Bu Marina muncul di pintu ruang audit. Ia tidak masuk untuk membaca layar. Ia bertanya ke Bimo apakah tim butuh keputusan dari kantornya. Bimo bilang belum. Marina mengangguk dan pergi.

Aku kembali ke tabel. Dan selama lima menit berikutnya, aku membaca baris yang sama tiga kali.

Ponselku bergetar. Naya: Mbak Marina ke pertemuan pakai Pak Darto. Jangan lembur cuma gara-gara dia sempat lewat tadi.

Kubalas bahwa jam tugasku sudah ditetapkan dan selesai tepat waktu. Biasanya nasihat seperti itu membuatku ingin membela diri. Dari Naya, rasanya seperti pengingat bahwa batas kami semua masih berdiri di tempatnya.


Bimo menutup komputer audit pukul tujuh. Aku turun membawa catatan metodologi tanpa data pelanggan, dan menemukan Bu Marina di lobi. Ia baru kembali mengambil berkas yang dititipkan di resepsionis, bukan menungguku. Kami kebetulan berjalan ke pintu pada waktu yang sama.

Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak membawa obrolan audit ke lift. Ia juga tidak bertanya soal tabel. Setelah seharian berkutat dengan menit dan angka, kami sama-sama lega membicarakan hal lain.

“Gimana kerja sama Bimo?” tanyanya.

“Teliti. Nggak gampang percaya.”

“Bagus. Memang harus begitu.”

“Setuju, Bu.”

Ia melirik tanda pengenal tamu di dadaku. “Aku baru sadar, aku belum pernah tanya kamu belajar semua itu di mana.”

“Di kampus. Terus di pekerjaan.”

“Jawaban yang sengaja pendek.”

“Jawaban yang cukup buat malam ini, Bu. Besok saya cerita, kalau Ibu masih mau tahu.”

“Aku mau tahu.” Ia berhenti di dekat pintu putar. “Tentang kamu. Bukan cuma tabelnya.”

Mobil jemputannya menunggu di depan. Aku akan pulang naik kendaraan umum. Di luar jam kerja, aku ingin memanggil namanya. Tapi masih ada satpam dan dua staf yang belum pulang di sekitar kami.

“Sampai besok, Bu.”

“Sampai besok, Pak Fakhri.”

Nada suaranya sama tenangnya dengan nadaku. Kami sama-sama tahu nama yang kami simpan itu tidak hilang. Kami cuma sedang menunggu tempat yang tepat untuk memakainya.