Chapter Twenty Three
HARI TERAKHIR MENYETIR
POV: Fakhri
Senin pagi, aku mengambil kunci mobil dinas dari loker dan menemukan secarik catatan dari Naya di papan jadwal.
Pengemudi baru mulai sore. Jangan pakai hari terakhir buat menebus semua jadwal yang pernah gagal.
Kumasukkan catatan itu ke saku. Bahkan saat mengejek, Naya tetap cukup teliti memastikan armada tahu siapa yang bekerja setelahku.
Sejak keputusan dewan Kamis lalu, angka stok SV-26-041 bergerak setiap hari. Jumat, aku menyelesaikan penjelasan metode ke Dita dan menyerahkan daftar hal-hal yang belum bisa dibuktikan. Akun sementaraku dijadwalkan mati sore ini. Aku tidak lagi ikut rapat soal dugaan pelaku unggahan. Kalau nanti ada nama yang ditemukan, tim harus sampai ke sana lewat bukti mereka sendiri, bukan lewat dugaan yang kubawa pulang.
Tugasku hari ini lebih sederhana, dan lebih susah: mengantar Marina ke dua pertemuan, lalu menyerahkan mobil.
Ia keluar rumah dengan map tipis dan roti panggang terbungkus serbet. Dulu ia menganggap sarapan sesuatu yang bisa digeser ke sore. Sekarang ia menyelipkannya ke tas tanpa ada yang mengingatkan.
“Sarapan di mobil?” tanyaku setelah ia duduk.
“Setengah sudah kumakan sebelum turun. Yang ini cadangan, kalau konferensi pers besok menghapus jam makan.”
“Jadwal hari ini belum mengizinkan remah di kursi belakang, Bu.”
“Ini mobil perusahaan. Bukan museum pribadimu.”
Aku menunggu sabuknya. Ia memasangnya sebelum aku sempat membuka mulut, lalu menatapku lewat spion seperti murid yang menagih nilai.
“Lulus,” kataku.
“Sombong sekali buat orang yang mulai besok nggak berwenang mengujiku.”
“Sabuk nggak peduli saya kerja di mana, Bu.”
Ia diam sebentar, lalu tertawa.
Kami memakai rute yang dulu kuusulkan saat seleksi: sedikit lebih panjang, tapi tidak butuh janji mustahil di persimpangan. Ada perbaikan jalan di satu ruas. Aku menelepon Naya untuk menggeser perkiraan tiba. Marina tidak menyuruhku menyelinap ke gang yang belum pasti tembus.
“Aku sudah bilang ke panitia kita telat sepuluh menit,” katanya setelah telepon selesai. “Mereka mulai tanpa aku.”
“Mereka selamat?”
“Sejauh ini. Ternyata CEO bukan tombol buat menyalakan acara.”
Aku ingin menyimpan suaranya waktu mengatakan itu. Dua bulan lalu, ia akan menganggap telat sepuluh menit sebagai kegagalan pribadi dan menebusnya dengan menyuruh semua orang bergerak lebih cepat. Sekarang ia memberi tahu orang lebih awal, dan membiarkan agenda menyesuaikan diri.
Pertemuan pertama di gudang mitra yang menangani pengembalian batch. Aku menunggu di ruang pengemudi. Seorang petugas gudang bertanya apakah aku bagian dari “tim audit yang lagi rame itu”.
“Hari ini saya nyetir, Pak.”
Ia mengangguk, jelas kecewa. Jawabanku jauh kurang seru dari gosip yang ia harapkan.
Sebelum berangkat lagi, Marina minta sepuluh menit untuk menelepon Lilis. Ada pembeli yang mengira pengembalian dana cuma berlaku kalau kotaknya masih disimpan. Marina minta syaratnya diperjelas dan jalur bantuan dibuka untuk yang sudah membuang kotak. Ia tidak menyebut nama siapa pun di depan orang gudang. Aku berdiri di luar mobil, supaya ia bisa bicara tanpa aku jadi penonton yang tidak diperlukan.
Ketika selesai, ia melihatku masih berdiri di bawah atap gudang.
“Kamu boleh masuk. Teleponnya sudah selesai.”
“Saya lagi mastiin petugas ini punya jalur keluar buat kendaraan pengembalian, Bu. Kalau semua truk parkir di depan, kita ikut terjebak.”
Petugas gudang menunjukkan pintu samping untuk van kecil. Ternyata ia belum diberi tahu bahwa armada penarikan akan datang bergelombang mulai sore. Marina minta operasi mengirim jadwal kedatangan, bukan menyalahkan petugas yang tidak pernah dikabari. Aku mencatat rute keluar untuk sopir berikutnya.
Itu pekerjaan sopir. Tidak akan pernah muncul di cerita orang tentang tabel audit. Tapi hari ini jauh lebih berguna daripada pendapat yang tidak diminta.
Di perjalanan kedua, Marina membuka bungkus roti dan memakan setengahnya. Aku melihat dari spion.
“Kamu boleh bilang aku sudah berkembang,” katanya.
“Saya tulis di laporan kendaraan: penumpang pakai sabuk dan tidak menjatuhkan selai.”
“Jangan. Naya bisa jadikan itu indikator kinerja tahunan.”
Kami tertawa, lalu sunyi beberapa menit. Aku sadar, sebagian besar percakapan kami selama ini terjadi tanpa saling menatap langsung. Kaca spion memberi jarak aman: cukup untuk menangkap senyum, tidak cukup untuk menanyakan apa yang terjadi kalau kami duduk berhadapan tanpa seragam di antara kami.
“Kamu sudah dapat tempat kerja?” tanyanya.
“Meja di rumah dulu. Aisyah nawarin satu sudut di studionya kalau aku perlu ketemu klien. Belum kuterima. Dia pasti minta bayaran dalam bentuk benerin printer.”
“Kedengarannya lebih mahal dari sewa.”
“Jauh. Daftar kerusakannya dari tahun lalu.”
Marina meletakkan rotinya. “Kamu bakal cari klien kayak dulu?”
“Dengan aturan baru. Jam kerja tertulis, ruang lingkup tertulis, izin akses tertulis. Kalau ada yang minta aku lihat data orang lain tanpa dasar, aku bisa nolak sebelum invoice pertama.”
“Tabunganmu cukup buat nolak?”
“Buat beberapa bulan. Kuhitung dengan teliti.” Aku melirik spion. “Kamu boleh nanya. Asal jangan diam-diam nawarin kontrak dari kantormu karena khawatir.”
“Nggak akan.” Ia melipat serbet. “Aku nanya karena mau tahu kamu. Bukan mau menyelamatkan usahamu.”
Koreksi kecil itu membuat pertanyaan berikutnya terasa mungkin. Tapi tempat dan waktunya belum berubah. Aku masih di kursi sopir. Ia masih punya rapat dengan legal sebelum kami pulang.
Sore hari, aku memarkir mobil di kantor untuk terakhir kalinya. Petugas armada memeriksa bensin, dokumen, dan satu goresan lama yang sudah tercatat sejak bulan pertamaku. Aku menyerahkan kunci dan kartu akses parkir, lalu menandatangani berita acara. HR memastikan upah, bayaran penugasan audit, dan sisa cutiku dibayar sesuai jadwal. Bimo menyaksikan akun sementaraku dinonaktifkan. Aku tidak perlu pura-pura sedih kehilangan layar yang sudah selesai kupakai.
Pengemudi baru, Wahyu, memintaku menjelaskan catatan kendaraan. Kami duduk sebentar di meja armada. Getaran kecil di pintu belakang, nomor bengkel langganan, prosedur kalau jadwal berubah mendadak.
“Bu Marina susah diajak kompromi soal waktu, Mas?”
Aku sempat ingin menjawab dengan lelucon lama. Lalu kupilih yang lebih berguna.
“Kalau waktunya nggak mungkin, kasih perkiraan yang masuk akal ke Naya. Jangan paksa mobil membayar rapat yang molor. Beliau sekarang bisa dengar itu.”
Wahyu mencatatnya tanpa terlihat butuh cerita lebih jauh. Aku menyerahkan buku kendaraan. Mulai besok, caranya membangun kepercayaan dengan Marina akan jadi miliknya sendiri.
Naya datang membawa amplop berisi surat referensi yang sudah disetujui HR. Ketepatan mengemudi, penanganan informasi terbatas, dan penugasan audit yang memang kulakukan. Tidak ada pujian yang menjadikanku pahlawan. Aku berterima kasih justru karena surat yang bisa diperiksa seperti itu yang paling berguna.
“Mbak Marina masih di atas,” kata Naya. “Mungkin pulang bareng Wahyu.”
“Aku tahu.”
“Kamu pasti ngira aku bakal nyuruh kamu naik.”
“Kamu bakal nyuruh?”
“Nggak. Dia tahu kamu selesai jam berapa.”
Aku turun ke lobi dengan tasku sendiri. Marina berdiri dekat pintu putar, memegang ponsel dan map pertanyaan media. Ia berhenti membaca ketika melihatku. Tidak ada kebetulan ajaib: di layar ponselnya, pesan Naya soal serah terima kendaraan masih terbuka. Ia sengaja turun untuk ini.
“Sudah lengkap?”
“Kunci, akun, upah, surat. Cuma catatan Naya yang kubawa tanpa izin.”
“Itu mungkin cara dia memastikan kamu pulang.”
Kami berjalan keluar. Mobil yang biasa kukemudikan terparkir beberapa meter dari pintu. Wahyu sedang mengecek rute di perangkatnya. Aku menahan dorongan untuk memberitahunya belokan mana yang biasanya tidak disukai Marina. Jadwal dan keselamatannya sekarang di tangan orang yang memang bertugas.
“Aku nggak akan minta kamu antar aku besok,” kata Marina.
“Bagus. Aku juga nggak akan pura-pura ada berkas yang ketinggalan supaya bisa ikut.”
Ia menatap tanganku, lalu wajahku. Aku tahu ia sedang mengingat sofa lobi itu. Kontrakku baru berakhir sepuluh menit lalu, dan aku tetap tidak mau mengubah momen serah terima kunci jadi adegan perpisahan yang menuntut balasan.
“Semoga konferensinya jujur,” kataku.
“Aku usahakan. Bukan cuma besok.”
“Aku tahu.”
Ia menarik napas. “Aku mau menghubungi kamu setelah ini. Tapi bukan malam ini. Besok hari pertamamu buat urusanmu sendiri, dan aku punya banyak pertanyaan yang harus kujawab di depan publik.”
“Kalau kamu menghubungi, bilang jelas mau ngajak apa,” kataku. “Aku sudah pensiun dari pekerjaan menebak pikiran atasan.”
Marina tersenyum, kali ini tanpa kaca spion di antara kami. “Aku kira kamu nggak pernah menerima pekerjaan itu.”
“Benar. Makanya sekarang bisa kutagih kalau kamu coba-coba.”
Ia masuk ke mobil. Aku berjalan ke halte.
Beberapa langkah pertama terasa aneh, tidak memastikan mobilnya keluar dengan aman. Lalu aku menoleh sekali, dan melihat Wahyu menunggu sampai sabuk Marina terpasang sebelum menjalankan mobil.
Aku meneruskan langkah. Ternyata ada hal yang bisa kutinggalkan tanpa kehilangan semua yang pernah terjadi di dalamnya.
- 1 DI MOBIL INI SIAPA YANG MEMIMPIN?
- 2 JADWAL YANG TIDAK MEMERCAYAI MACET
- 3 BERHENTI DI TOKO ROTI
- 4 ATURAN MOBIL NOMOR SATU
- 5 SOPIR YANG TIDAK BISA DIBELI DENGAN PUJIAN
- 6 KURSI PENUMPANG SEBELAH KIRI
- 7 KELUHAN KECIL
- 8 PONSEL DI KURSI BELAKANG
- 9 MAKAN SIANG DALAM TUJUH MENIT
- 10 ORANG YANG MENGINGAT KOPI SAYA
- 11 JANGAN BERDIRI TERLALU DEKAT
- 12 JALAN MEMUTAR
- 13 BUKAN URUSAN JADWAL
- 14 KALAU ITU PERINTAH, SAYA TOLAK
- 15 GAJI SAYA TIDAK TERMASUK MENEBAK PIKIRAN IBU
- 16 SATU BATCH
- 17 POLA YANG TERLALU RAPI
- 18 CV YANG TIDAK SAYA BACA
- 19 TIDAK SEMUA ULASAN BOHONG
- 20 YANG TIDAK SAMPAI KE MEJA SAYA
- 21 SURAT PENGUNDURAN DIRI
- 22 JANGAN SAYA TAHAN
- 23 HARI TERAKHIR MENYETIR reading
- 24 SAYA BERTANGGUNG JAWAB
- 25 DI LUAR JAM KERJA
- 26 JANGAN CATAT INI SEBAGAI RAPAT
- 27 DUA HAL YANG SAMA-SAMA BENAR
- 28 ALASAN YANG SEBENARNYA
- 29 RUTE PALING PANJANG
- 30 MAU KE MANA?