← Bu CEO, Saya Cuma Sopirnya

Chapter Eleven

JANGAN BERDIRI TERLALU DEKAT

POV: Marina

Lima menit sebelum naik panggung prapeluncuran Sera Veil, aku sudah hafal urutan acara, tiga angka penjualan uji pasar, dan nama istri setiap direktur mitra ritel yang hadir.

Yang tidak kuhafal: kapan terakhir kali aku minum.

“Mbak dengar?” Naya merapikan kerah blusku sambil membaca tablet.

“Sinta bicara setelahku. Ringkasan uji kemasan. Aku dengar.”

“Aku tadi bilang jangan lupa minum.”

“Oh.”

Sebelum Naya sempat berceramah, sebotol air muncul dari celah pintu ruang rias. Tangan yang memegangnya memakai kemeja gelap, dengan tanda akses armada di dada.

“Botol di meja Ibu sudah kosong dari tadi,” kata Fakhri. Ia tidak masuk; berdiri tepat di garis pintu, seolah ruangan itu punya pagar yang cuma bisa ia lihat. “Yang ini masih tersegel.”

“Kamu menghitung botolku?”

“Saya lewat. Kebetulan kelihatan.”

“Kebetulanmu banyak sekali minggu ini.”

“Saya orangnya beruntung, Bu.” Ia menyerahkan botol itu, lalu menambahkan dengan nada yang sama datarnya, “Pintu selatan dibuka buat jalur pulang. Saya sudah cek dua kali. Pembawa acaranya belum.”

“Terima kasih. Kamu lebih siap daripada MC-nya.”

“Jangan bilang ke beliau, Bu. Nanti saya disuruh pegang mik.”

Aku tertawa, dan ia pergi. Seluruh percakapan itu tidak sampai tiga puluh detik. Tapi ketika aku menoleh, Naya sedang memandangiku dengan ekspresi yang biasanya ia simpan untuk jadwalku yang tidak punya jam makan.

“Apa?”

“Aku belum ngomong apa-apa.”

“Mukamu ngomong.”

“Mukaku cuma senang Mbak akhirnya minum air.”

Pintu panggung terbuka sebelum aku sempat membalas.

Dua puluh menit berikutnya berjalan seperti yang kulatih: bahan baku, kemasan, rencana distribusi. Di depan mitra ritel, aku tidak pernah perlu berpikir dua kali. Yang mengganggu justru adegan di ruang rias tadi: cara Fakhri menyerahkan botol tanpa sekali pun membuatku merasa tidak sanggup mengambil air sendiri.

Turun panggung, Reno dari Lintas Rupa langsung mencegatku. Ia ingin membahas perpanjangan kontrak distribusi. Kujawab evaluasinya baru dibuka bulan depan, sesuai jadwal. Senyumnya tetap lebar untuk kamera, tapi matanya tidak ikut.

Aku sedang menuju meja registrasi untuk mencari Fakhri, karena jadwal pulang kemungkinan mundur, ketika sebuah suara memanggil namaku dari belakang.

“Wah, Marina sekarang punya sopir favorit, ya?”

Ardi. Manajer salah satu mitra ritel. Kenal aku cukup lama untuk merasa berhak bercanda, tidak cukup lama untuk tahu kapan harus berhenti.

“Maksudnya?”

“Tadi dia sampai antar minum ke belakang panggung.” Ardi tertawa, melirik dua stafnya. “Kata anak-anak, kalau cari Bu Marina, cari aja Pak Fakhri. Pasti nempel.”

Salah satu stafnya ikut tertawa, ragu-ragu. Fakhri berdiri tiga langkah dari kami, masih bicara dengan koordinator armada. Ia tidak menoleh. Tapi aku melihat rahangnya mengeras sedetik.

Aku tahu persis bagaimana kalimat seperti itu bekerja. Dari meja prasmanan ke grup chat staf, lalu ke lantai lima, lalu berubah jadi cerita bahwa sopir CEO dapat perlakuan istimewa. Dua tahun lalu, seorang anggota timku naik jabatan setelah menyelesaikan proyek yang hampir mustahil. Yang orang bicarakan justru berapa kali ia terlihat makan siang denganku. Waktu itu aku diam, mengira gosip akan mati sendiri. Gosipnya tidak mati. Dia yang akhirnya resign.

Jadi kali ini aku bergerak cepat. Terlalu cepat.

“Pak Fakhri sedang kerja, Ardi. Aku juga. Kalau ada urusan acara, lewat Naya.” Lalu, tanpa menimbang lebih lama, aku berbalik. “Pak Fakhri, tunggu di area pengemudi saja. Naya yang kabari kalau jadwal berubah.”

Ia menatapku. Satu detik. “Baik, Bu.”

Tidak ada protes. Justru itu yang membuat kalimatku terdengar sedingin es begitu keluar. Ardi sudah sibuk menyalami orang lain. Fakhri berjalan ke pintu selatan dengan punggung lurus, dan aku baru sadar: aku baru saja menyuruh orang menyingkir karena omongan orang lain, bukan karena pekerjaannya.


Acara selesai satu jam lebih lambat. Sinta dihujani pertanyaan soal daya tahan pompa; rupanya bukan cuma aku yang pernah melihat tester macet. Ia menjawab bahwa pengujian tambahan sedang berjalan. Aku tidak membiarkannya menjanjikan lebih dari itu.

Sebelum pulang, aku mencari Ardi. Kutunggu sampai ia selesai bicara dengan dua pembeli, lalu kubilang leluconnya soal stafku tidak lucu dan bisa merusak cara orang menilai kerja orang itu. Ardi minta maaf dengan nada orang yang ingin cepat pulang. Aku minta ia mengulanginya langsung ke Fakhri kalau bertemu lagi, tanpa penonton. Ia mengangguk.

Aku tidak merasa menang. Aku baru membereskan separuh masalah, dan separuh sisanya buatanku sendiri.

Di mobil, Fakhri membukakan pintu seperti biasa. Sepuluh menit pertama, ia tidak berkomentar soal rute, tidak menyinggung botol air, tidak menyebut aturan nomor berapa pun. Hening yang sopan. Hening paling tidak enak yang pernah kudengar dari kursi belakang.

Aku mematikan tablet.

“Aku dengar omongan Ardi tadi.”

“Saya juga, Bu.”

“Aku nggak mau orang mengira kamu dapat perlakuan khusus.”

“Saya ngerti alasannya.”

“Tapi?”

Ia menunggu lampu merah berganti hijau dulu sebelum menjawab. “Waktu di pameran Bu Tari, Ibu bilang lain kali akan kasih saya ruang bicara duluan.”

Aku menutup mata sebentar. Tentu saja. Di mobil ini juga, malam itu, aku mengucapkannya dengan sungguh-sungguh. Hari ini aku melupakannya dalam lima detik begitu ada orang lain yang mendengar.

“Tadi saya nggak tahu Ibu lagi melindungi saya,” lanjutnya. “Saya kira saya salah kerja. Sempat mikir, apa botolnya salah merek.”

Itu hampir lucu. Hampir.

“Aku bikin kamu merasa disingkirkan.”

“Sedikit, Bu. Kalau Ibu mau jaga jarak di acara kantor, bilang saja. Saya bisa kerja dengan itu. Yang susah itu nebak.”

“Maaf. Aku panik dengar gosipnya, lalu memutuskan buat kita berdua.”

“Diterima.” Ia melirik spion. “Lain kali, kalau ada yang begitu lagi, Ibu tanya saya setelahnya aja. Jangan tiba-tiba ganti nada ke saya di depan orang. Saya jadi kayak barang yang dipindah dari meja.”

“Aku bisa lakukan itu.”

“Saya pegang, Bu.”

Kami tiba di depan rumah. Fakhri turun untuk membukakan pintu, tapi aku mendahuluinya. Untuk sesaat kami berdiri berhadapan di bawah lampu teras, lebih dekat dari biasanya, tanpa ada siapa pun yang menonton.

“Soal air tadi,” kataku.

“Ibu sudah bilang terima kasih di acara.”

“Itu aku bilang sambil mikirin panggung. Yang ini aku bilang sambil lihat kamu.”

Ia diam cukup lama sampai aku mulai menyesal mengatakannya. Lalu sudut mulutnya bergerak.

“Sama-sama, Bu. Besok saya bawa dua botol. Biar Pak Ardi punya bahan baru.”

Aku masuk rumah sambil tertawa, lalu meletakkan tablet di meja tanpa membukanya lagi. Sebelum tidur, aku mengirim satu instruksi ke Naya: jadwal dan tugas Fakhri tetap seperti biasa. Tidak ada yang berubah hanya karena aku terlambat menjelaskan niatku sendiri.