← Obat Nyamuk

Chapter Nine

Aturan Baru

POV: Agnes

Rencana Gala untuk tidak berbohong bertahan selama empat belas jam.

Aku ingin mencatat bahwa itu bukan salahnya. Dia benar-benar mencoba. Jam tujuh pagi keesokan harinya — jam tujuh, di hari Sabtu — ponselku bergetar.

Gala: gue udah mikir

Gala: kita bilang aja

Gala: hari ini

Aku membaca itu sambil masih setengah tertutup selimut dan langsung duduk tegak seperti orang disiram.

Aku: SEKARANG?

Aku: gal ini jam 7

Aku: kamu tidur nggak sih semalem

Aku: kamu ngetik ini jam berapa

Aku: GALA

Gala: 4

Aku: GALA.

Dan kemudian, sebelum aku sempat mengetik hal lain, notifikasi grup masuk.

Vio: GUYSSSS

Vio: MOBIL KATERINGNYA NABRAK PAGAR GEDUNG

Vio: BUKAN KATERING KITA

Vio: KATERING ORANG LAIN

Vio: TAPI PAGARNYA PAGAR KITA

Vio: GRAHA KENCANA WANGI SEKARANG NAMANYA GRAHA KENCANA PENYOK

Damar: GUE MAU NANGIS

Damar: GUE UDAH DP

Damar: GUE UDAH BIKIN PREWED DI DEPAN PAGAR ITU

Aku menatap layar itu selama beberapa detik.

Lalu mengetik ke Gala:

Aku: hari ini?

Gala: ...

Gala: ya nggak hari ini

Dan begitulah cara sebuah rahasia dimulai. Bukan dengan keputusan besar. Dengan pagar penyok.


Kami menghabiskan hari itu di Graha Kencana Penyok bersama Damar yang berduka dan Vio yang menelepon empat kontraktor dalam dua jam, dan sepanjang hari itu aku dan Gala berdiri dalam jarak tidak kurang dari satu meter satu sama lain seperti dua orang yang baru berkenalan di halte.

Itu melelahkan dengan cara yang sama sekali baru.

Karena aku tahu sesuatu sekarang. Aku tahu bahwa orang yang berdiri satu meter dariku itu, kemarin malam, menjatuhkan jaketnya ke lantai dan bertanya “boleh?” dengan suara yang hampir tidak terdengar. Aku tahu bentuk tangannya. Aku tahu bahwa kalau aku berjalan tiga langkah ke kiri sekarang dan menyentuh lengannya, dia tidak akan menghindar.

Dan aku tidak bisa melakukan satu pun dari itu, dan aku harus berdiri di sana membicarakan pagar.

Jam empat sore, aku sudah tidak tahan.

“Aku pulang duluan ya.”

“Yah, kok cepet,” kata Vio.

“Ada kerjaan.”

“Sabtu?”

“Klienku nggak percaya konsep hari libur.”

“Gue juga balik,” kata Gala.

Vio menoleh ke arahnya.

Cuma menoleh. Tidak berkata apa-apa. Menoleh, satu setengah detik, lalu kembali menatap pagar penyok itu.

Aku berjalan ke mobilku dengan perasaan seseorang yang baru saja lolos dari pemeriksaan bea cukai sambil membawa sesuatu di dalam sepatu.


Kami bertemu di apartemenku jam enam, dan aku sudah menyiapkan laptop.

“Ini apa,” kata Gala, melihat layar.

“Duduk dulu.”

“Nes.”

“Duduk, Gal.”

Dia duduk. Aku memutar layarnya ke arahnya.

PROTOKOL SEMENTARA — REVISI 1

Dia membaca. Aku memperhatikan wajahnya membaca, yang mana adalah aktivitas baru yang sangat aku nikmati.

“Lo bikin dokumen.”

“Aku bikin dokumen.”

“Buat pacaran.”

“Buat pacaran diam-diam. Beda. Yang kedua butuh sistem.”

“Ini ada nomor versinya.”

“Karena akan ada revisi.”

Dia menggulirkan layar ke bawah. Aku melihat alisnya naik satu milimeter di poin ketiga, dan itu memberiku kepuasan yang tidak masuk akal.

1. Dilarang berdiri dalam radius kurang dari satu meter di depan Damar/Vio. 2. Dilarang menjawab pertanyaan pribadi dengan jawaban yang sama persis. Jawaban identik = mencurigakan. 3. Semua percakapan pribadi dilakukan di apartemen salah satu pihak. Pihak yang ditentukan: apartemen Gala. 4. Perjalanan pulang dari agenda nikahan dilakukan terpisah, dengan titik temu di lokasi netral. 5. Chat pribadi tidak boleh dibalas dalam waktu kurang dari empat menit jika sedang dalam agenda bersama.

“Poin lima nggak bisa,” katanya.

“Kenapa?”

“Rabu lo rapat mingguan jam sepuluh sampai setengah dua belas. Kalau gue balas empat menit di jam itu, artinya lo lagi pegang HP di rapat, dan lo nggak pernah pegang HP di rapat. Itu justru mencurigakan.”

Aku menatapnya.

“Terus Kamis lo biasanya ke klien,” lanjutnya, sambil menggulirkan layar seolah sedang membahas jadwal server. “Jadi Kamis siang lo emang lama balesnya. Itu normal. Nggak usah diatur.”

“Gala.”

“Hm.”

“Kamu hafal jadwal aku?”

Dia berhenti menggulirkan.

“Nggak.”

“Kamu barusan nyebut dua hari sama jamnya.”

“Itu cuma—” dia berhenti. “Lo sering ngeluh.”

“Aku ngeluh soal klien. Aku nggak pernah ngasih tau jadwalku.”

“Ya gue simpulin.”

“Kamu SIMPULIN?”

“Dari pola.”

“Kamu bikin pola dari keluhan aku.”

“Nes, gue kerjanya baca log.”

“AKU BUKAN LOG.”

Dan Gala mengangkat wajahnya dari layar dan berkata, dengan nada yang persis sama seperti dia menjelaskan sesuatu yang membosankan:

“Iya. Lo lebih gampang dibaca.”

Aku melempar bantal sofa ke arahnya.

Dia menangkapnya dengan satu tangan dan meletakkannya rapi di pangkuan, seperti yang selalu dia lakukan, dan kembali membaca dokumen itu.

“Poin tiga,” katanya.

“Kenapa poin tiga?”

“Kenapa apartemen gue?”

“Karena apartemenku deket rumah Vio.”

“Apartemen lo empat kilometer dari rumah Vio.”

“Empat kilometer itu deket.”

“Empat kilometer itu jauh. Apartemen gue tiga kilometer dari rumah Damar.”

Aku mengambil laptop itu, menutupnya, dan meletakkannya di meja.

“Iya,” kataku. “Aku ngarang.”

“Gue tau.”

“Kamu tau dari tadi?”

“Dari poin satu.”

“Poin satu itu masuk akal!”

“Poin satu masuk akal. Poin tiga itu lo pengen ke tempat gue.”

Dan dia mengatakan itu dengan wajah yang sama sekali tidak berubah, dengan nada yang sama seperti dia menyebut spesifikasi laptop, dan aku merasakan panas naik dari leher ke telinga dengan kecepatan yang memalukan.

“...Iya,” kataku.

“Ya udah.”

“Ya udah apa?”

“Ya udah, dateng aja. Nggak usah pakai pasal.”

Aku menatapnya.

Delapan tahun. Delapan tahun aku mengenal orang ini dan aku baru tahu bahwa cara mengalahkan seluruh sistem pertahananku ternyata adalah dengan mengatakan kalimat sederhana dengan wajah datar.

“Gal.”

“Hm.”

“Kamu nggak boleh ngomong kayak gitu.”

“Kayak gimana.”

“Kayak gitu. Datar. Sambil ngomong hal yang—” aku melambaikan tangan ke arahnya secara umum, “—hal yang kayak gitu.”

“Gue nggak ngerti.”

“Kamu ngerti.”

“Nggak.”

Tapi telinganya merah.

Dan di situlah, di sofa apartemenku, jam tujuh kurang sepuluh menit di hari Sabtu, aku menemukan mainan baru.


Begini penemuanku, dan aku mendokumentasikannya dengan serius karena aku memang orang yang seperti itu:

Gala Prasetya punya satu titik lemah, dan titik lemah itu bukan sentuhan, bukan kata-kata manis, bukan hal-hal yang ada di buku.

Titik lemahnya adalah ketidaksesuaian.

Kalau kamu mengatakan sesuatu yang lembut dengan cara yang lembut, dia akan menanganinya. Wajahnya tidak akan berubah. Dia akan menjawab “hm” dan melanjutkan hidupnya.

Tapi kalau kamu mengatakan sesuatu yang lembut dengan cara yang sama sekali biasa saja — dengan nada orang memesan makanan, di tengah percakapan tentang hal lain, tanpa peringatan —

sistemnya berhenti.

Aku mengujinya tiga kali malam itu.

Uji satu. Jam delapan, sambil memasak mi (lagi, karena kulkasku belum berubah).

“Gal, garemnya di lemari atas. Aku suka banget sama kamu. Yang pintu kiri.”

Jeda. Empat detik. Dia berdiri di depan lemari yang salah.

“...Kiri.”

“Iya, kiri.”

“Oke.”

Dia membuka lemari kanan.

Uji dua. Jam sembilan, sambil dia memperbaiki router-ku yang sebenarnya tidak rusak tapi aku bilang rusak.

“Kamu tau nggak, dari belakang gitu, kamu keliatan bagus banget.”

“Nes.”

“Aku cuma ngasih tau.”

“Gue lagi masukin kabel.”

“Aku tau. Makanya aku ngasih taunya sekarang.”

Kabel itu jatuh.

Uji tiga. Jam sepuluh, di pintu, waktu dia mau pulang.

“Makasih ya, Mas.”

Aku tidak pernah memanggilnya “Mas” seumur hidupku. Delapan tahun, tidak pernah sekali pun. Aku memanggilnya Gala, atau Gal, atau “woi” kalau sedang darurat.

Aku mengatakannya dengan nada paling biasa yang bisa aku produksi. Nada orang berterima kasih kepada petugas parkir.

Gala berhenti dengan tangan di gagang pintu.

Aku menghitung. Satu. Dua. Tiga. Empat. Lima.

“...Iya,” katanya.

Lalu dia keluar dan menutup pintu dan aku mendengar langkahnya berhenti di lorong selama sekitar tiga detik sebelum lanjut lagi.

Aku merosot ke lantai dengan punggung menempel di pintu dan menekan kedua telapak tangan ke wajahku dan tertawa tanpa suara sampai perutku sakit.


Ponselku berbunyi setengah jam kemudian.

Gala: kunci cadangan lo masih di gue

Aku menatap layar itu. Kalimat yang sama persis. Kata per kata, sama persis dengan yang dia kirim berminggu-minggu lalu, di malam lain, waktu semuanya masih belum punya nama.

Aku: iya

Aku: aku tau

Aku: kamu udah nanya ini bulan lalu

Aku: dan aku bilang nggak usah dibalikin

Aku: dan kamu nggak balikin

Aku: jadi kenapa kamu nanya lagi

Tiga titik. Muncul. Hilang. Muncul.

Gala: karena sekarang artinya beda

Aku membaca itu tiga kali.

Lalu menaruh ponsel di dada dan berbaring di lantai depan pintu apartemenku sendiri seperti orang yang baru saja diberi tahu bahwa dia menang undian.

Aku: gala

Aku: kamu nggak boleh ngomong kayak gitu lewat chat

Aku: aku nggak bisa liat muka kamu

Aku: aku butuh liat muka kamu buat mastiin kamu ngomong itu sambil datar apa nggak

Aku: JAWAB

Gala: ok

Dan aku berteriak ke bantal.


Hal terakhir malam itu, jam setengah dua belas, aku membuka laptop lagi dan mengetik satu baris tambahan ke dokumen protokol.

6. Pihak kedua dilarang mengirim kalimat yang berdampak emosional dalam format teks. Wajib disampaikan langsung.

Aku menyimpannya sebagai Revisi 2.

Lalu aku duduk memandangi layar itu selama satu menit penuh, dan sesuatu yang dingin dan kecil lewat di belakang tulang rusukku.

Karena aku baru sadar apa yang sedang aku lakukan.

Aku sedang membuat sistem. Lagi.

Aku membuat kontrak pertama untuk menjauhkan diriku dari orang ini, dan kontrak itu gagal, dan sekarang aku membuat kontrak kedua untuk menyembunyikan orang ini, dan dua-duanya keluar dari tangan yang sama, dan dua-duanya adalah cara yang sangat rapi untuk tidak menghadapi satu-satunya kalimat yang sebenarnya perlu diucapkan:

Mar, Vi, kami jadian.

Enam kata. Aku bisa mengetik enam kata dalam tiga detik.

Aku menutup laptop.

Besok, pikirku.

Dan aku sudah cukup dewasa untuk tahu persis seberapa banyak kata itu bernilai.