Chapter Sixteen
Angkatan
POV: Agnes
Reuni itu bukan ide siapa-siapa.
Itu terjadi karena Damar mengirimkan undangan ke grup angkatan, dan seseorang bernama Bagas — yang tidak dekat dengan siapa pun tapi selalu ada di setiap grup — membalas dengan “WAH BERARTI KITA HARUS KUMPUL DULU DONG”, dan dalam waktu empat puluh menit sudah ada tanggal, tempat, dan tiga puluh dua orang yang mengonfirmasi.
Begitulah cara semua hal buruk dimulai.
“Aku nggak mau,” kataku ke Vio.
“Kenapa?”
“Karena reuni itu tempat orang ngukur satu sama lain sambil pura-pura kangen.”
“Nes.”
“Aku serius, Vi. Nggak ada yang kangen. Yang ada cuma pengen tau siapa yang udah nikah dan siapa yang gajinya lebih gede.”
“Kamu takut ditanyain?”
“Aku nggak takut.”
“Kamu takut ditanyain.”
“AKU NGGAK—” Aku menarik napas. “Jam berapa?”
Tempatnya sebuah restoran dengan meja panjang di lantai dua, dan aku sampai jam setengah delapan dan menemukan bahwa tiga puluh dua orang yang mengonfirmasi ternyata menjadi empat puluh satu orang yang datang.
Damar diperlakukan seperti selebriti. Vio diperlakukan seperti selebriti yang lebih penting.
Gala datang sebelas menit setelah aku, duduk di ujung meja, dan berhasil menjadi tidak terlihat dalam waktu kurang dari satu menit.
Itu keahliannya. Aku dulu tidak pernah memperhatikannya. Sekarang aku memperhatikan segalanya.
“AGNES!”
Bagas.
“Hai, Gas.”
“Lo makin—” dia menggerakkan tangannya ke arahku secara umum, “—apa ya. Berubah.”
“Makasih?”
“Kerja di mana sekarang?”
“Agensi.”
“Wah. Sibuk ya?”
“Lumayan.”
“Udah nikah?”
Empat pertanyaan. Empat puluh detik. Dia bahkan tidak berpura-pura.
“Belum.”
“Pacar?”
“Nggak ada.”
Dan aku mengucapkannya dengan sangat lancar, dengan senyum sopan, dengan intonasi yang sama sekali normal — dan di ujung meja, sebelas orang jauhnya, Gala sedang menuangkan air ke gelasnya sendiri dan tidak mengangkat kepala sama sekali.
Tapi tangannya berhenti.
Setengah detik. Botol air itu berhenti di udara, lalu melanjutkan.
Tidak ada satu pun dari empat puluh orang di ruangan itu yang melihatnya.
Aku melihatnya.
Dan aku duduk di kursiku dengan senyum sopan di wajah dan rasa mual kecil yang tiba-tiba muncul di suatu tempat di bawah tulang rusuk.
Malam itu berlangsung tiga jam.
Dalam tiga jam itu:
Aku menjawab “belum” dua belas kali.
Aku menjawab “nggak ada” delapan kali.
Bagas menceritakan gajinya kepada empat orang berbeda dengan cara yang berbeda-beda, dan setiap versi lebih besar dari versi sebelumnya.
Seorang laki-laki bernama Reza — yang dulu satu kelompok KKN denganku — bertanya apakah aku “masih suka nulis”, dan aku butuh empat detik untuk mengingat bahwa aku pernah menulis apa pun dalam hidupku, dan lalu ingat, dan lalu merasakan sesuatu yang aneh dan sedikit sedih.
Vio menceritakan seluruh kisah lamaran Damar kepada meja sebelah dengan durasi sebelas menit dan menangis di menit kesembilan.
Damar memperlihatkan foto souvenir alat makan kayu kepada siapa pun yang berada dalam radius dua meter.
Seorang perempuan bernama Tania berkata “kalian berdua kok nggak jadian aja sih” sambil menunjuk aku dan Gala dari ujung meja, dan seluruh meja tertawa, dan aku tertawa paling keras di antara semuanya, dan Gala berkata “kami nggak cocok” dengan wajah datar dan itu membuat semua orang tertawa lebih keras lagi, dan Damar berteriak “MEREKA PUNYA KONTRAK!” dan harus menjelaskan Perjanjian Obat Nyamuk kepada empat puluh satu orang selama enam menit.
“KALIAN BIKIN PASAL?” teriak Bagas.
“EMPAT PASAL,” teriak Damar.
“ADA PASAL DILARANG SUKA-SUKAAN?”
“PASAL TIGA!”
Seluruh ruangan itu bergemuruh.
Aku tertawa sampai mataku berair, dan orang-orang mengira aku tertawa karena leluconnya lucu.
Dan di bawah meja, kaki Gala menekan kakiku sekali. Pelan. Satu kali.
Aku menekan balik.
Kami melakukan itu selama sisa malam, di bawah meja panjang di lantai dua sebuah restoran, di antara empat puluh satu orang yang sedang mengukur satu sama lain — sebuah percakapan lengkap yang tidak menggunakan satu kata pun.
Lo nggak apa-apa?
Nggak apa-apa.
Bohong.
Iya.
Ada satu momen yang tidak lucu.
Jam sepuluh, ruangan itu penuh dan orang mulai berdiri, berpindah meja, mengambil foto. Seseorang di belakangku — aku tidak tahu siapa, aku tidak pernah tahu siapa — mundur sambil membawa gelas, terlalu cepat, tepat ke arah punggungku.
Aku tidak melihatnya.
Aku merasakan tangan di bahuku, menarik aku ke samping sekitar dua puluh sentimeter, dan orang itu lewat, dan gelasnya menyenggol udara tempat aku berdiri tadi.
Tangan itu hilang sebelum aku sempat berbalik.
Waktu aku berbalik, Gala sudah berdiri di jarak satu setengah meter, sedang berbicara dengan seorang laki-laki bernama Reza tentang harga hosting.
Dia tidak menoleh ke arahku sama sekali.
Aku berdiri di tengah ruangan berisi empat puluh satu orang yang tertawa dan berfoto, dan merasakan bahuku masih hangat, dan menyadari bahwa aku tidak bisa mengatakan apa pun kepada siapa pun tentang hal yang baru saja terjadi.
Itu bagian yang menyakitkan.
Bukan menyembunyikan pacaran. Menyembunyikan bukti bahwa seseorang menjagaku.
Kami keluar jam sebelas.
Damar dan Vio pulang duluan karena Vio harus bangun jam lima untuk sesuatu yang berhubungan dengan katering.
Dan aku berjalan ke parkiran belakang, ke tempat motor Gala diparkir, di lantai bawah tanah yang lampunya cuma menyala setengah.
Dia sedang memasang helm.
“Gal.”
Dia menoleh.
Aku tidak tahu apa yang dia lihat di wajahku, tapi dia melepaskan helm itu dan meletakkannya di jok.
Dan aku berjalan lima langkah dan memeluknya.
Bukan pelukan yang manis. Pelukan yang keras, dengan kedua lengan melingkar penuh dan wajah ditekan ke dadanya, jenis pelukan yang kamu berikan kepada seseorang yang akan naik pesawat.
Dia berdiri diam selama satu detik.
Lalu tangannya naik ke punggungku.
“Aku bilang ‘nggak ada’ delapan kali,” kataku ke kausnya.
“Iya.”
“Delapan kali, Gal.”
“Gue denger tiga.”
“Berarti kamu dengerin.”
“Iya.”
“Kamu dengerin dari ujung meja?”
“Iya.”
Aku menarik napas, dan napas itu keluar dengan bunyi yang memalukan.
“Aku benci itu.”
“Gue tau.”
“Aku benci banget.”
“Iya.”
Dan dia tidak mengatakan “maaf”, dan dia tidak mengatakan “sabar ya”, dan dia tidak mengatakan salah satu dari seribu kalimat yang biasa dikatakan orang untuk membuat perasaan orang lain berhenti mengganggu mereka.
Dia cuma berdiri di sana dan membiarkan aku berdiri di sana, dan tangannya bergerak sekali di punggungku, dan itu saja.
Dan setelah mungkin dua menit, aku mengangkat kepala.
“Gal.”
“Hm.”
“Tadi kamu bilang ‘kami nggak cocok’.”
“Iya.”
“Di depan empat puluh satu orang.”
“Iya.”
“Itu sakit.”
Dia diam.
“Aku tau itu perlu,” kataku. “Aku yang bikin protokolnya. Aku yang nulis poin dua. Tapi tetep sakit.”
“Iya.”
“Kamu nggak mau bilang sesuatu?”
Dan Gala melepaskan pelukannya secukupnya untuk bisa melihat wajahku, dan berkata:
“Gue bilang ‘kami nggak cocok’ karena itu kalimat yang paling cepet bikin orang berhenti nanya.” Dia berhenti. “Dan karena kalau gue bilang kalimat yang lain, gue nggak yakin gue bisa berhenti di satu kalimat.”
Aku menutup mata.
“Mas.”
“Hm.”
“Aku mau naik motor kamu.”
“Mobil lo—”
“Aku tau di mana mobilku. Aku mau naik motor kamu.”
“Ke mana.”
“Ke mana aja. Puter blok. Aku nggak peduli.”
Dan Gala Prasetya, dua puluh tujuh tahun, orang yang tidak pernah melakukan satu pun hal yang tidak efisien seumur hidupnya, mengambil helm cadangannya dari bagasi jok dan memakaikannya ke kepalaku dan mengencangkan talinya di bawah daguku dengan dua tangan, pelan-pelan, sambil sedikit menunduk.
“Kekencengan?”
“Nggak.”
“Kelonggaran?”
“Nggak.”
“Ya udah.”
Kami memutar blok itu sebelas kali.
Aku memeluknya dari belakang dan menempelkan wajahku — helm, sebenarnya — ke punggungnya, dan kami tidak bicara sama sekali karena tidak mungkin bicara di atas motor, dan itu sempurna.
Di putaran keenam, aku merasakan tangan kirinya turun dari setang selama tiga detik untuk menekan tanganku di perutnya.
Lalu kembali ke setang.
Di putaran kesebelas, aku menepuk bahunya dan menunjuk ke arah mobilku, dan dia mengantarku ke sana dan berhenti dan aku turun dan melepas helm.
Rambutku hancur total.
“Aku jelek,” kataku.
Dan Gala melihatku selama sekitar dua detik dan berkata:
“Nggak.”
Satu kata.
Datar.
Aku masuk ke mobilku dan menyalakan lampu depan dan dia pergi, dan aku duduk di sana dan tertawa sendirian di dalam mobil di lantai bawah tanah yang lampunya cuma menyala setengah, seperti orang yang sudah kehilangan seluruh akal sehatnya.
Vio (23:47): nes
Vio (23:47): kamu tadi ke parkiran belakang ya
Vio (23:48): aku ketinggalan powerbank jadi balik lagi
Vio (23:52): ...
Vio (23:54): nggak jadi
Vio (23:54): tidur gih
Vio (23:55): 🙂
Aku membaca itu di parkiran, di dalam mobil, dengan rambut yang masih hancur dan helm cadangan Gala di kursi penumpang karena dia lupa memintanya kembali.
Aku tidak membalas.
Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, aku tidak merasa lega karena tidak ketahuan.
Aku merasa capek.
- 1 Jumat Keempat Puluh Tiga
- 2 Pasal Tiga
- 3 Survey Pertama
- 4 Pasal Dua Dilanggar Vio
- 5 Lembur
- 6 Fitting
- 7 Hujan, Satu Payung, Klise
- 8 Yang Merobek Duluan
- 9 Aturan Baru
- 10 Food Testing Kedua
- 11 Vio Menyelidik
- 12 Dapur
- 13 Yang Terakhir Mati
- 14 Souvenir
- 15 Telur
- 16 Angkatan reading
- 17 Poin Delapan
- 18 Lilin
- 19 Tujuh Hari
- 20 Empat Kursi
- 21 Gladi
- 22 Dua Kopi
- 23 Lobi
- 24 Kabel
- 25 Seratus Dua Puluh Delapan
- 26 Kursi Tamu
- 27 Jumat Keempat Puluh Delapan
- 28 Pasal Lima