← Obat Nyamuk

Chapter One

Jumat Keempat Puluh Tiga

POV: Agnes

Aku pernah baca di suatu tempat bahwa manusia butuh empat puluh tiga kali pengulangan sebelum sesuatu berubah dari kebiasaan menjadi bagian dari diri.

Aku tidak tahu itu benar atau tidak. Yang aku tahu, malam ini adalah Jumat keempat puluh tiga aku duduk di kursi ini, di Kedai Sepatu, di meja pojok dekat jendela yang kacanya selalu berembun, memandangi dua orang di seberang meja saling menyuapi tiramisu dari satu piring yang sama.

Empat puluh tiga. Aku menghitungnya. Bukan karena romantis. Karena aku account executive dan otakku memang rusak begitu — apa pun yang berulang otomatis masuk spreadsheet di kepalaku.

“Sayang, buka mulutnya.”

“Udah kebuka, Yang.”

“Belum. Yang ini beda. Yang ini buat aku.”

Aku menatap gelas es kopiku. Es-nya sudah mencair jadi air keruh yang menyedihkan, mirip harga diriku.

“Gal,” bisikku ke samping tanpa memalingkan wajah. “Pasal Dua.”

“Belum ada Pasal Dua.”

“Ya makanya nanti aku bikin.”

Gala tidak menjawab. Dia tidak pernah menjawab hal-hal yang dianggapnya tidak butuh jawaban, yang mana, kalau menurut standar Gala, adalah sekitar tujuh puluh persen dari seluruh kalimat yang pernah diucapkan manusia. Dia cuma memiringkan layar laptopnya sedikit ke arahku. Terminal hitam, tulisan hijau berjalan turun, entah apa.

“Itu apa?”

“Log.”

“Log apa?”

“Log.”

“Gala.”

“Agnes.”

Aku menghela napas. Delapan tahun aku kenal orang ini dan aku masih belum berhasil mengekstrak lebih dari lima suku kata darinya dalam satu tarikan napas. Tapi aku tahu apa yang barusan dia lakukan. Dia memiringkan layar itu supaya aku punya sesuatu untuk dilihat selain Damar yang sedang menyeka krim dari sudut bibir Vio dengan ibu jari, pelan, seolah dia sedang membersihkan artefak museum.

Itu Pasal Dua, sebenarnya. Versi belum tertulis.

Kalau kalian bertanya bagaimana ceritanya dua orang dewasa berusia dua puluh lima dan dua puluh tujuh tahun bisa berakhir di kursi ini, tiap Jumat, tanpa dibayar, jawabannya panjang tapi bisa aku ringkas jadi satu kalimat:

Kami berempat sahabat sejak kuliah, dan dua di antara kami pacaran.

Itu saja. Tidak ada tragedi. Tidak ada pengkhianatan. Cuma matematika sederhana: empat orang, satu meja, dan dua di antaranya sudah lama berhenti menyadari bahwa dua sisanya juga bernapas.

Damar Prayoga, sahabat Gala sejak semester satu, sekarang punya usaha percetakan sendiri dan punya kebiasaan mengumumkan perasaannya seperti orang mengumumkan kemerdekaan. Violeta — kami panggil Vio — sahabatku dari UKM yang sama, kerja di bank, dan satu-satunya orang yang bisa menandingi volume suara Damar tanpa terlihat kalah.

Mereka pacaran empat tahun. Mereka masih begitu. Tiap hari. Tiap Jumat. Di depan kami.

Dan kami, entah karena bodoh atau karena sayang atau karena tidak ada acara lain, terus datang.

“Ngomong-ngomong,” Damar meletakkan sendok dengan bunyi yang terlalu keras untuk sendok, “kalian berdua kapan?”

Aku dan Gala menjawab bersamaan.

“Nggak.”

“Nggak ada.”

Damar menunjuk kami dengan sendok itu. “Kompak.”

“Karena pertanyaannya udah keempat puluh tiga kali,” kataku.

“Kok pas banget angkanya?”

“Kebetulan.”

Bukan kebetulan. Tapi aku tidak akan menjelaskan spreadsheet di kepalaku ke orang yang tadi menghabiskan dua belas menit memilih antara tiramisu dan panna cotta lalu memesan keduanya.

Vio menopang dagu. “Serius, Nes. Gala kan lumayan.”

“Lumayan,” ulang Gala datar, matanya tidak lepas dari layar.

“Lumayan banget malah. Rapi. Nggak neko-neko. Punya penghasilan. Nggak ngerokok.”

“Bu, ini bukan pengajian,” kataku.

“Aku cuma bilang.”

“Dia juga nggak ngomong, Vi. Kalau aku pacaran sama Gala, aku bakal ngobrol sama tembok tujuh hari seminggu.”

“Tembok nggak bisa benerin wifi kantormu.”

Aku membuka mulut. Menutupnya lagi.

Karena itu benar. Bulan lalu wifi kantorku mati di hari presentasi klien dan aku menelepon Gala jam enam pagi sambil hampir menangis, dan dia datang empat puluh menit kemudian, tidak mengucapkan satu kata pun, mencabut sesuatu, menancapkannya lagi ke tempat yang menurutku persis sama, lalu pergi. Dia bahkan tidak minta kopi.

Aku ingat memandangi punggungnya di lorong dan berpikir: orang ini aneh sekali.

Dan aku ingat, malamnya, memikirkan itu lagi. Lebih lama dari yang seharusnya.

Aku mengusir ingatan itu seperti mengusir notifikasi yang tidak penting. Geser ke kiri. Hilang.

“Aku laper,” kataku, berdiri. “Ada yang mau nitip?”

“Aku!” Vio mengangkat tangan. “Yang tadi kamu pesen apa sih namanya, Yang?”

“Yang mana, Yang?”

“Yang manis.”

“Semuanya manis, Yang.”

Aku berjalan ke kasir sebelum sempat mendengar sisanya.


Aku kembali dengan dua piring pisang goreng dan menemukan suasana meja sudah berubah.

Bukan berubah dalam artian buruk. Berubah dalam artian: Damar duduk terlalu tegak. Damar tidak pernah duduk tegak. Damar adalah manusia yang punya tulang belakang berbentuk tanda tanya.

Aku meletakkan piring. Melirik Gala.

Gala sudah menutup laptopnya.

Gala tidak pernah menutup laptopnya.

“Ada apa?” tanyaku.

“Nggak ada apa-apa,” kata Damar dengan suara satu oktaf lebih tinggi.

“Kamu kenapa?” Vio menoleh, alisnya naik. “Mar. Muka kamu merah.”

“Panas.”

“AC-nya nyala.”

“Panas dari dalam.”

“Kamu sakit?”

“Nggak.”

“Kamu bohong.”

“Iya.”

Dan kemudian Damar Prayoga, dua puluh tujuh tahun, pemilik percetakan, manusia yang tidak pernah bisa menyimpan rahasia lebih dari empat menit, mendorong kursinya ke belakang dan berlutut di lantai Kedai Sepatu yang baru dipel jam tujuh tadi.

Aku mendengar Vio menarik napas. Bukan pekikan. Cuma tarikan napas, pendek, seperti orang yang tiba-tiba lupa cara melakukannya.

“Vi,” kata Damar.

Suaranya pecah di satu suku kata itu.

“Vi, aku udah latihan ini di kamar mandi tiga minggu, dan aku lupa semuanya.”

Vio menutup mulut dengan kedua tangan.

“Aku cuma inget satu bagian.” Damar merogoh saku jaketnya, mengeluarkan kotak kecil yang sudut-sudutnya sudah lecet karena terlalu lama dikantongi. “Bagian yang bilang, aku nggak mau nunggu momen yang bagus lagi. Karena tiap momen sama kamu udah bagus, dan aku takut kalau aku nunggu terus, aku bakal mati duluan sebelum sempat nanya.”

Kedai itu hening. Bahkan mesin kopi di belakang seolah ikut berhenti.

“Mau nggak?”

Vio mengangguk sebelum Damar selesai bertanya. Mengangguk terus, berkali-kali, sampai air matanya jatuh ke punggung tangan Damar yang gemetar memasangkan cincin.

Lalu seisi kedai bertepuk tangan, dan Vio menubruk Damar sampai keduanya jatuh ke lantai, dan seseorang di meja sebelah berteriak “SELAMAT MAS” dengan sangat tulus, dan aku —

Aku berdiri di sana dengan dua piring pisang goreng masih di tangan, dan tanpa sadar sudah menoleh.

Bukan ke Damar. Bukan ke Vio.

Ke Gala.

Dan Gala sedang menoleh ke aku.

Kami cepat-cepat memalingkan wajah, dua-duanya, dalam waktu yang sama persis, seperti dua orang yang ketahuan mencontek dari lembar jawaban yang sama.

Dadaku berdebar, dan aku memutuskan itu karena suara tepuk tangan.


Setengah jam kemudian, setelah air mata reda dan Vio selesai memotret cincinnya dari dua belas sudut berbeda, Damar menggebrak meja.

“Oke. Oke oke oke. Ini penting.”

“Kamu udah gebrak meja empat kali,” kataku.

“Ini yang kelima dan ini yang paling penting.” Damar menunjuk Gala. “Lo. Best man.”

Gala berkedip. “Best apa?”

“Best man. Pendamping gue. Yang bawa cincin. Yang pidato.”

“Pidato.”

“Iya.”

“Di depan orang.”

“Ya masa di depan tembok.”

Gala diam. Aku bisa melihat proses berpikirnya dari luar — dan proses berpikir Gala itu seperti buffering video di jaringan buruk. Diam lama, lalu tiba-tiba jalan.

“Nggak bisa yang lain?” katanya akhirnya.

“Nggak ada yang lain.”

“Ada. Ada banyak. Lo punya lima puluh teman.”

“Gue punya lima puluh kenalan,” kata Damar, dan untuk pertama kalinya malam itu suaranya turun jadi pelan. “Gue punya satu Gala.”

Dan aku melihatnya. Aku bersumpah aku melihatnya.

Gala — yang wajahnya punya tiga ekspresi total dan dua di antaranya adalah “tidak ada ekspresi” — mengalihkan pandangan ke jendela berembun itu dan tidak menjawab selama tiga detik penuh.

“Ya udah,” katanya. Pendek. Datar.

Tapi telinganya merah.

Aku menyimpan informasi itu di suatu tempat di kepalaku, di folder yang tidak aku beri nama.

“Nah, dan kamu!” Vio menyambar tanganku dengan kekuatan yang tidak wajar untuk perempuan yang baru saja menangis. “Bridesmaid. Nggak boleh nolak.”

“Aku nolak.”

“Nggak boleh nolak.”

“Aku baru aja nolak.”

“Nggak kedengeran.”

“Vio.”

“Nes.” Dia menggenggam tanganku dengan dua tangan, dan tiba-tiba dia tidak berteriak lagi. “Please.”

Sialan. Itu curang.

“...Iya.”

Vio memekik. Damar berteriak. Mereka berdua melompat-lompat berpegangan tangan seperti dua anak SD yang menang lomba estafet, dan aku duduk kembali ke kursiku, dan di sebelahku Gala membuka laptopnya lagi, dan layar itu menyala menerangi setengah wajahnya.

“Lo pidato di depan tiga ratus orang,” kataku.

“Lo diborong jadi panitia sampai hari-H,” katanya.

“Kita ini apa sih sebenernya.”

“Obat nyamuk,” katanya, tanpa jeda sedikit pun, seperti dia sudah menyiapkan jawaban itu bertahun-tahun lalu dan baru sekarang ada yang bertanya.

Aku tertawa. Terlalu keras. Beberapa kepala menoleh.

Dan saat aku tertawa, Gala menoleh sedikit — cuma sedikit, cuma sudut matanya — dan aku sadar dia sedang melihat aku tertawa, bukan mendengarnya.

Aku berhenti tertawa.


Kami pulang jam sebelas. Damar dan Vio pergi duluan, masih berpegangan tangan, masih berisik, meninggalkan aroma bahagia yang tebal di udara parkiran.

Gala mengantarku ke mobilku, tiga langkah di belakang seperti biasa, karena dia punya kebiasaan aneh memastikan orang masuk mobil dengan selamat tanpa mau kelihatan sedang memastikan.

“Gal.”

“Hm.”

“Mereka bakal nikah.”

“Iya.”

“Terus kita gimana?”

Dia berhenti. Menyelipkan tangan ke saku. Menatap aspal seperti aspal itu punya jawabannya.

“Ya gitu,” katanya. “Kayak biasa.”

“Kayak biasa,” ulangku.

“Iya.”

“Oke.”

Aku masuk mobil. Menutup pintu. Menyalakan mesin. Dia baru berbalik setelah lampu depan mobilku menyala, seperti biasa, dan aku memandangi punggungnya di kaca spion sampai dia hilang di balik tiang.

Aku duduk di parkiran itu selama empat menit tanpa menjalankan mobil.

Empat puluh tiga Jumat. Empat puluh tiga kali duduk di kursi yang sama, di sebelah orang yang sama, menghitung hal-hal yang tidak perlu dihitung.

Dan aku baru sadar malam ini, di parkiran yang bau hujan, bahwa selama empat puluh tiga Jumat itu aku tidak pernah sekali pun merasa keberatan datang.

Bukan karena Damar. Bukan karena Vio.

Aku memegang setir dengan kedua tangan dan berkata pelan, ke dalam mobil yang kosong, ke diriku sendiri, dengan nada seseorang yang baru menemukan retakan di dinding rumahnya sendiri:

“Ini nggak bener.”

Besok pagi aku akan bangun, membuka laptop, dan membuat sesuatu yang bisa memastikan retakan itu tidak melebar.

Aku sudah tahu judulnya.