← Obat Nyamuk

Chapter Seven

Hujan, Satu Payung, Klise

POV: Gala

Venue kandidat kesembilan bernama Graha Kencana Wangi, dan seperti delapan sebelumnya, Vio tidak menyukainya.

“Plafonnya rendah.”

“Plafonnya empat meter, Yang.”

“Rendah secara emosional.”

Aku dan Agnes berdiri di belakang mereka, di aula kosong yang gemanya membuat setiap kalimat terdengar seperti pengumuman stasiun. Di luar, langit sudah berwarna seperti aspal basah sejak jam tiga.

“Pasal Dua?” bisik Agnes.

“Belum.”

“Kenapa belum?”

“Belum ada pemandangan berlebihan.”

Damar, tepat pada saat itu, menarik pinggang Vio dan memutarnya satu kali di tengah aula sambil bersenandung.

“Sekarang,” kataku.

“Sekarang.”

Kami mundur ke koridor.

“Mas!” Damar memanggil petugas gedung dari tengah aula. “Ini kalau kita dansa di sini, gemanya kayak gitu terus?”

“Iya, Mas.”

“Bagus nggak?”

“Ya... tergantung lagunya, Mas.”

“Kalau lagunya sedih?”

“Nanti sedihnya dua kali, Mas.”

Vio langsung menoleh ke Damar dengan mata berbinar. “YANG. SEDIHNYA DUA KALI.”

“ITU BAGUS, YANG.”

Aku dan Agnes berdiri di koridor, di luar jangkauan gema, dan tidak mengatakan apa-apa selama beberapa detik.

“Kamu ngerti nggak kenapa itu bagus?” tanya Agnes akhirnya.

“Nggak.”

“Aku juga nggak.”


Hujan turun jam empat lewat, jenis hujan yang tidak melalui tahap gerimis, yang langsung mulai dari tengah.

Damar dan Vio memutuskan bertahan di dalam untuk mengukur sesuatu yang menurutku tidak perlu diukur. Aku keluar untuk memindahkan motorku ke tempat yang lebih teduh, dan saat kembali, aku sudah setengah basah dan Agnes sudah berdiri di teras dengan payung terbuka.

“Kamu bego ya.”

“Motor gue di lapangan.”

“Ya makanya bawa payung.”

“Gue naik motor. Gue nggak bawa payung.”

“Kenapa?”

“Karena kalau gue bawa payung, gue harus bawa payung.”

Agnes membuka mulut, menutupnya lagi, lalu menunjuk aku dengan gagang payung. “Itu bukan alasan. Itu kalimat yang bentuknya kayak alasan.”

“Sama aja.”

“Nggak sama.”

“Kalau hasilnya sama, sama.”

Dia menghela napas dengan cara yang menandakan dia sedang menyerah bukan karena kalah tapi karena lelah, yang mana adalah cara paling umum orang menyerah kepadaku.

“Mobilku di ujung,” katanya. “Aku mau ambil map dari bagasi. Ikut.”

“Gue nunggu di sini aja.”

“Gala.”

“Hujan.”

“Iya, aku tau hujan. Itu makanya aku bawa payung. Payung ini muat dua orang.”

Aku melihat payung itu.

Payung itu tidak muat dua orang. Payung itu ukuran standar, lipat tiga, yang dijual di minimarket dengan harga dua puluh ribu. Payung itu muat satu orang dan sebagian bahu orang kedua.

“Muat,” kata Agnes lagi, seperti membaca perhitunganku.

Ada momen dalam hidup di mana kamu bisa melihat cabang jalan dengan sangat jelas. Bukan setelahnya. Saat itu juga. Kamu melihat dua kemungkinan berdiri berdampingan dan kamu tahu, dengan kepastian yang tidak menyenangkan, bahwa kamu akan memilih yang salah.

“Ya udah,” kataku.


Jarak dari teras ke mobilnya adalah delapan puluh meter.

Aku tahu karena aku menghitungnya. Aku menghitung banyak hal — itu bukan kebiasaan yang aku pilih, itu cara otakku menangani situasi yang tidak bisa aku kendalikan. Delapan puluh meter, dengan kecepatan berjalan normal manusia dewasa, adalah sekitar enam puluh detik.

Kami menempuhnya dalam tiga menit dua puluh detik.

Tidak ada yang mengatakan apa pun tentang itu.

Payung itu memang tidak muat dua orang. Solusinya, yang kami temukan tanpa membicarakannya, adalah dia memegang gagangnya dengan tangan kanan dan aku berjalan di sebelah kirinya, dan bahu kananku basah sepenuhnya, dan bahu kirinya kering, dan di antara kami ada jarak sekitar sepuluh sentimeter yang tidak berubah selama tiga menit dua puluh detik.

Sepuluh sentimeter. Aku juga menghitung itu.

“Kamu basah,” katanya di meter kedua puluh.

“Nggak apa-apa.”

“Geser sini.”

“Nanti lo basah.”

“Aku pakai jaket.”

“Jaket lo bahan kaus.”

“Kamu ngerti bahan?”

“Gue ngerti basah.”

Dia tertawa, dan karena dia tertawa, payungnya bergoyang, dan air dari tepinya jatuh ke leherku.

“Sori.”

“Gapapa.”

“Kamu diem banget.”

“Gue emang diem.”

“Nggak. Kamu diem yang beda.”

Dan aku tidak menjawab itu, karena tidak ada jawaban yang aman, karena dia benar.

Begini yang terjadi di dalam kepalaku selama tiga menit dua puluh detik itu, dan aku akan menuliskannya sekali saja lalu tidak lagi:

Ada versi dari kejadian ini yang sangat sederhana. Aku menggeser tanganku sepuluh sentimeter. Itu saja. Sepuluh sentimeter, dan aku akan mengambil gagang payung itu dari tangannya, dan dia akan protes selama dua detik lalu berhenti protes, dan kami akan berjalan sisa enam puluh meter dengan payung yang dipegang oleh orang yang lebih tinggi, yang mana secara teknis lebih efisien.

Aku memikirkan sepuluh sentimeter itu selama tiga menit dua puluh detik.

Dan aku tidak menggerakkan tanganku.


Ini alasannya, dan alasannya bukan Pasal 3.

Pasal 3 cuma kertas. Aku sudah cukup lama bekerja dengan aturan untuk tahu bahwa semua aturan pada akhirnya cuma kesepakatan, dan semua kesepakatan bisa dibuka kembali kalau ada yang cukup peduli untuk membukanya.

Alasannya adalah ini:

Sepanjang hidupku, aku selalu jadi orang yang datang belakangan. Aku punya dua kakak. Aku anak yang lahir waktu orang tuaku sudah selesai bereksperimen, waktu semua kursi sudah ada yang menempati, dan aku belajar sejak umur tujuh bahwa cara paling aman untuk berada di ruangan adalah dengan tidak menambah beratnya.

Lalu aku kuliah dan bertemu Damar, yang mengambil ruang seperti orang bernapas, dan aku menemukan bahwa ada tempat untukku di sebelah orang seperti itu. Bukan tempat utama. Tempat di sebelah. Dan itu cukup.

Lalu Vio datang, dan lalu Agnes datang, dan tiba-tiba aku punya tiga orang.

Itu banyak. Bagi sebagian orang itu sedikit, tapi bagi aku itu banyak. Itu, sejujurnya, semuanya.

Dan sekarang Damar akan menikah, dan dalam empat bulan hidupnya akan berubah bentuk, dan satu-satunya hal yang tersisa dari kami berempat adalah bahwa kami masih berempat.

Kalau aku menggeser tangan sepuluh sentimeter dan aku salah membaca — kalau ternyata sepuluh sentimeter itu cuma geometri, cuma payung yang sempit, cuma orang yang tidak enak menyuruh temannya kehujanan —

maka aku tidak akan kehilangan satu orang.

Aku akan kehilangan hari Jumat.

Dan aku tidak punya hari Jumat yang lain.


Kami sampai. Dia membuka bagasi, mengambil map itu, dan menutupnya kembali. Seluruh urusan yang menjadi alasan perjalanan ini memakan waktu sebelas detik.

Kami berdiri di sana. Payung masih terbuka. Hujan mengetuk kainnya dengan suara yang, dari bawah, terdengar seperti berada di dalam sesuatu.

“Ini map-nya penting nggak sih sebenernya,” katanya.

“Nggak.”

“Nggak sama sekali?”

“Isinya brosur venue yang udah ditolak Vio.”

“Terus kenapa aku ambil?”

“Gue nggak tau.”

Dia menatap map itu di tangannya, lalu tertawa — pendek, satu embusan lewat hidung, jenis tawa yang orang keluarkan waktu menyadari sesuatu tentang dirinya sendiri yang tidak ingin dia selidiki lebih jauh.

“Aku bego.”

“Nggak.”

“Aku narik kamu delapan puluh meter di tengah hujan buat brosur yang bakal aku buang.”

“Delapan puluh dua,” kataku.

Dia menoleh. “Kamu ngitung?”

Dan itu adalah kesalahan pertama yang aku buat malam itu, dan aku membuatnya dengan sangat tenang, dan aku menyadarinya persis setengah detik setelah terlambat.

“Kebiasaan,” kataku.

“Kebiasaan ngitung jarak ke mobil orang?”

“Kebiasaan ngitung.”

“Ngitung apa aja?”

Sepuluh sentimeter, pikirku. Tiga menit dua puluh detik. Delapan tahun. Empat puluh tiga hari Jumat, yang lo kira gue nggak tau lo hitung juga.

“Macem-macem,” kataku.

“Gal.”

“Hm.”

“Kalau nanti mereka udah nikah—”

Dia berhenti.

Aku menunggu. Aku bagus dalam menunggu; itu satu-satunya keahlian sosial yang benar-benar aku kuasai.

“Nggak jadi,” katanya.

“Ya udah.”

“Kamu nggak nanya?”

“Kalau lo mau bilang, lo bilang.”

Dia menatapku dari bawah payung dua puluh ribu itu, dengan rambut yang ujungnya basah dan alis yang berkerut, dengan ekspresi yang tidak pernah aku lihat di wajahnya selama delapan tahun dan yang tidak bisa aku baca sama sekali.

Sepuluh sentimeter.

“Ayo balik,” kataku. “Damar nyariin.”

“Damar nggak nyariin.”

“Nanti nyariin.”

Kami berjalan kembali, delapan puluh meter, dan kali ini menempuhnya dalam empat menit.

Di teras, dia menutup payungnya dan mengibaskannya dua kali, dan aku berdiri dengan bahu kanan basah kuyup dan bahu kiri kering.

“Kamu basah sebelah,” katanya.

“Iya.”

“Kenapa nggak bilang?”

“Gue bilang.”

“Kamu bilang sekali di meter kedua puluh terus nggak bilang lagi.”

“Gue nggak suka ngulang.”

Dia melepas jaketnya — jaket bahan kaus yang tadi aku hina — dan menyodorkannya ke arahku.

“Nggak usah.”

“Pakai.”

“Nes.”

“Gala, kalau kamu masuk angin besok, yang harus nemenin Vio ke tempat souvenir itu aku sendirian. Sendirian. Kamu ngerti nggak apa artinya itu?”

Aku mengambil jaketnya.

Aku tidak memakainya. Aku menyampirkannya di lengan, dan dia melihat itu, dan dia tidak protes, dan kami berdiri di teras itu selama beberapa detik tanpa mengatakan apa pun sementara hujan terus turun.

Kemudian Damar keluar dari aula sambil berteriak bahwa Vio akhirnya suka venue ini karena plafonnya “ternyata tinggi kalau dilihat dari pojok”.

Semua orang tertawa.

Aku juga tertawa, sedikit, dengan cara yang aku tertawa.

Dan sepanjang perjalanan pulang, dengan jas hujan plastik yang aku beli di lampu merah dan air yang masuk lewat leher, aku memikirkan satu hal dan satu hal saja:

bahwa ada bagian dari diriku yang berharap dia yang menggeser tangannya.

Dan bahwa harapan itu, kalau aku jujur, adalah bentuk kepengecutan yang paling rapi.

Jaketnya masih di jok motorku waktu aku sampai rumah.

Aku menggantungnya di balik pintu kamar, dan tidak mengembalikannya keesokan harinya, dan dia tidak menagihnya.