Chapter Twelve
Dapur
POV: Agnes
Ini yang aku putuskan untuk dilakukan dengan satu hari penuh milik Gala:
Membuat empat ratus lima puluh kue kering.
“Ini bukan yang gue bayangin,” katanya, waktu aku muncul di depan pintu apartemennya jam delapan pagi dengan dua kantong belanja dan satu mixer pinjaman.
“Kamu bayangin apa?”
“Nggak tau. Sesuatu.”
“Ini sesuatu.”
“Ini pekerjaan.”
“Ini pekerjaan bersama,” kataku, dan mendorong masuk melewatinya. “Vio nangis kemarin karena vendor hampers-nya minta tambahan tiga juta. Aku bilang kita bisa bikin sendiri.”
“Kita?”
“Aku sama kamu.”
“Lo nggak bisa masak.”
“Aku bisa baca resep.”
“Itu bukan hal yang sama.”
Aku meletakkan kantong belanja di meja dapurnya — meja dapur yang, aku perhatikan, sama sekali kosong, tidak ada apa pun di atasnya, bahkan tidak ada tempat garam.
“Kamu punya oven nggak?”
Hening.
“Gal.”
“Ada.”
“Kok jedanya lama?”
“Ada di bawah kompor.”
“Kamu pernah pakai?”
“Belum.”
“Kamu tinggal di sini berapa tahun?”
“Empat.”
Aku menoleh perlahan.
“Kamu punya oven selama empat tahun dan kamu belum pernah membukanya.”
“Gue buka,” katanya. “Gue simpen kabel di dalemnya.”
Kami mulai jam sembilan.
Resepnya sederhana: nastar. Aku memilih nastar karena Vio suka nastar dan karena aku pikir nastar adalah kue kering paling mudah di dunia, yang mana adalah keyakinan yang aku pertahankan sampai adonan pertama menempel di jari-jariku seperti sesuatu yang hidup.
“Ini kenapa lengket banget.”
“Mentega lo kebanyakan.”
“Kamu tau dari mana.”
“Gue baca resepnya.”
“Kapan?”
“Semalem.”
Aku berhenti mengaduk.
“Kamu baca resep nastar semalem?”
“Lo bilang mau bikin sesuatu di dapur.” Dia sedang mengupas nanas di wastafel, membelakangi aku. “Gue nggak tau apa. Jadi gue baca lima.”
“Lima resep?”
“Nastar, kastengel, putri salju, lidah kucing, sama satu lagi yang gue nggak inget namanya.”
“Kamu belajar lima resep kue kering semalem karena aku bilang mau bikin sesuatu.”
“Iya.”
Aku berdiri di dapur orang lain dengan tangan penuh adonan dan tidak bisa berkata apa-apa selama beberapa detik.
“Mentega lo kebanyakan,” katanya lagi.
Jam sebelas, dapurnya sudah tidak bisa dikenali.
Tepung di meja, di lantai, di lengan bajuku, dan — entah bagaimana — di rambutku. Kulit nanas menumpuk di wastafel. Ada selai nanas yang tumpah di satu sudut yang tidak ada yang mengaku menumpahkan.
Dan Gala, orang yang apartemennya bersih karena tidak ada apa-apa di dalamnya, tidak mengatakan satu kata pun tentang itu.
Dia hanya bekerja. Mengupas, memarut, mengaduk selai di wajan dengan api kecil selama empat puluh menit tanpa mengeluh sekali pun, karena dia adalah orang yang bisa duduk membaca ribuan baris yang sama tanpa bosan.
Aku memperhatikannya dari meja.
Ada satu hal yang aku pelajari tentang Gala hari itu, dan aku mempelajarinya dari cara dia memarut nanas.
Dia tidak pernah terburu-buru. Bukan karena santai — dia sama sekali tidak santai, punggungnya tegak dan gerakannya efisien. Tapi dia tidak pernah mempercepat sesuatu hanya karena sesuatu itu membosankan. Nanas kedelapan diperlakukan persis sama dengan nanas pertama.
Aku mengerjakan dua puluh delapan slide dengan tiga tingkat kualitas: slide satu sampai lima cantik, enam sampai dua puluh cukup, dua puluh satu sampai dua puluh delapan doa.
Orang ini tidak punya slide dua puluh delapan.
“Gal.”
“Hm.”
“Kamu nikmatin ini?”
Dia berpikir.
“Iya.”
“Kenapa?”
Dan dia tidak menjawab, karena aku sudah cukup mengenalnya untuk tahu bahwa pertanyaan yang jawabannya terlalu besar akan selalu dijawab dengan diam.
Tapi dua menit kemudian, tanpa aku tanya lagi, dia berkata:
“Biasanya kalau gue di sini, gue sendirian.”
Cuma itu.
Lalu dia melanjutkan memarut nanas kesembilan dengan kecepatan yang persis sama.
Nampan pertama masuk oven jam dua belas kurang seperempat.
Nampan pertama keluar jam dua belas lewat lima belas dalam kondisi yang bisa dideskripsikan sebagai arang berbentuk bunga.
“Ovennya panas sebelah,” kata Gala, memegang nampan itu dengan dua lap.
“Kenapa panas sebelah?”
“Karena umurnya empat belas tahun dan gue baru make hari ini.”
“Jadi ini salah aku.”
“Gue nggak bilang gitu.”
“Kamu mikir gitu.”
“Gue mikir ovennya panas sebelah.”
Aku memandangi tiga puluh dua kue gosong itu dan merasakan sesuatu yang tidak masuk akal naik ke tenggorokanku. Bukan karena kue. Karena tiga jam. Karena Vio menangis kemarin. Karena aku ingin satu hal berjalan benar.
“Sori,” kataku.
“Kenapa minta maaf.”
“Aku yang maksa bikin ini.”
“Iya.”
“Kamu bisa aja hari ini tidur.”
“Iya.”
“Terus sekarang dapur kamu—”
Dia meletakkan nampan itu di atas kompor, mengambil satu kue gosong dengan jari, dan memakannya.
Utuh. Satu gigitan.
“Gal—”
“Bagian bawahnya doang yang gosong.”
“Itu arang.”
“Ini karamel.”
“ITU ARANG, GAL.”
Dia mengambil satu lagi. Memakannya. Lalu memisahkan nampan itu — memiringkannya, memeriksa satu per satu dengan serius seperti orang menyortir komponen — dan memindahkan yang paling gosong ke satu piring kecil.
“Yang ini punya gue,” katanya. “Sisanya masih bisa.”
“Kamu nggak usah gitu.”
“Gue suka yang gosong.”
“Nggak ada orang yang suka yang gosong.”
“Sekarang ada.”
Dan dia meletakkan piring itu di sisi mejanya sendiri, dan mengambil nampan kosong, dan mulai menyusun adonan berikutnya seolah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi.
Aku berdiri di sana dengan tepung di rambut.
Dan aku sadar aku sedang tidak mengatakan apa-apa.
Aku, Agnes, orang yang mengisi setiap keheningan yang pernah ada di dalam radius tiga meter dari dirinya sejak umur enam tahun, tidak punya satu pun kalimat.
Nampan kedua berhasil.
Nampan ketiga berhasil. Nampan keempat berhasil.
Kami menemukan ritme sekitar nampan kelima: aku membentuk, dia mengisi selai, aku menyusun, dia yang mengatur waktu karena aku tidak bisa dipercaya dengan waktu. Dia menghitung mundur dengan suara pelan dari dapur — “dua menit”, “satu menit”, “keluar” — dan aku menyahut “SIAP KOMANDAN” dari ruang tamu setiap kali, dan setiap kali dia tidak menanggapi, dan aku tetap melakukannya karena aku tahu dia tidak akan menyuruhku berhenti.
Di nampan kesembilan dia mulai menghitung mundur dengan nada yang sedikit berbeda.
Aku tidak bisa menjelaskan perbedaannya. Tapi ada.
Jam tiga sore, ada empat rak pendingin penuh nastar di ruang tamunya, dan lagu dari ponselku yang aku sambungkan ke speaker kecilnya, dan cahaya yang masuk lewat jendela dengan warna yang cuma ada di jam tiga sore.
Aku sedang di depan meja, menutup toples kelima, ketika aku mendengar langkahnya berhenti di belakangku.
Lalu ada lengan yang melingkari aku dari belakang.
Bukan cepat. Bukan tiba-tiba. Pelan, seperti orang yang memberi waktu untuk ditolak — satu lengan lebih dulu, melintang di depan bahuku, lalu yang kedua, dan kemudian berat dagunya turun ke puncak kepalaku.
Aku berhenti bergerak.
Toples itu masih setengah tertutup di tanganku.
Dia tidak mengatakan apa-apa. Aku juga tidak.
Aku bisa merasakan napasnya di rambutku, pelan dan teratur, dan detak jantungnya di punggungku — lebih cepat dari napasnya, jauh lebih cepat, dan itu adalah satu-satunya hal di seluruh apartemen itu yang mengaku.
Ada tepung di lenganku. Ada tepung di lengannya.
Lagu itu berganti.
Di luar, seseorang di lantai bawah memanggil anaknya. Sebuah motor lewat. Kulkasnya berdengung dan berhenti.
Aku meletakkan toples itu di meja. Pelan sekali, supaya tidak berbunyi.
Lalu aku menutup tanganku di atas tangannya.
Dan kami berdiri seperti itu di dapur yang berantakan, di antara empat rak nastar, dengan cahaya jam tiga sore yang jatuh miring di lantai, selama waktu yang tidak aku hitung — dan aku menghitung semua hal, dan aku memilih untuk tidak menghitung yang ini.
Dia melepaskan aku akhirnya. Mundur setengah langkah.
Aku berbalik.
Wajahnya merah sampai ke leher.
“Gal.”
“Jangan ngomong.”
“Aku belum ngomong apa-apa.”
“Lo mau ngomong.”
“Aku mau nanya.”
“Jangan.”
“Kenapa?”
Dan Gala Prasetya berdiri di dapurnya sendiri dengan tepung di lengan dan telinga yang merah menyala, dan berkata:
“Karena gue nggak tau kenapa gue ngelakuin itu. Dan kalau lo nanya, gue harus mikirin jawabannya. Dan gue nggak mau mikir dulu.”
Aku menutup mulutku.
“Ya udah,” kataku.
“Iya.”
“Nggak usah dipikir.”
“Iya.”
Dan aku berbalik lagi ke meja, dan melanjutkan menutup toples, dan dia berdiri di sebelahku dan mulai memberi label pada toples-toples itu dengan tulisan tangan huruf cetak yang rapi seperti orang mengisi formulir bank.
Kami selesai jam tujuh malam. Empat ratus lima puluh nastar, dua puluh dua toples, satu dapur yang harus dibersihkan sampai jam sembilan.
Waktu aku pulang, dia mengantarku ke lift — bukan cuma ke pintu, ke lift — dan berdiri di sana sampai pintunya tertutup.
Dan di dalam lift, sendirian, aku melihat pantulanku di dinding logam: rambut berantakan, tepung di pipi, mata yang bengkak karena mengupas nanas selama sebelas jam.
Aku terlihat berantakan sekali.
Aku tidak pernah terlihat sebagus itu seumur hidupku.
Vio: NES
Vio: DAMAR BILANG KALIAN BIKIN HAMPERS SENDIRI
Vio: BERDUA
Vio: SEHARIAN
Vio: 450
Vio: aku nangis lagi
Vio: ini nangis yang bagus
Vio: tapi aku juga mau nanya sesuatu
Vio: kalian berdua
Vio: seharian
Vio: di apartemennya gala
Vio: 🙂
Aku menatap layar itu di dalam mobilku di parkiran apartemennya sendiri, jam setengah delapan malam, dengan tepung yang masih menempel di lengan.
Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, aku tidak mengarang apa pun.
Aku cuma mematikan ponsel, meletakkannya di kursi penumpang, dan mengemudi pulang.
- 1 Jumat Keempat Puluh Tiga
- 2 Pasal Tiga
- 3 Survey Pertama
- 4 Pasal Dua Dilanggar Vio
- 5 Lembur
- 6 Fitting
- 7 Hujan, Satu Payung, Klise
- 8 Yang Merobek Duluan
- 9 Aturan Baru
- 10 Food Testing Kedua
- 11 Vio Menyelidik
- 12 Dapur reading
- 13 Yang Terakhir Mati
- 14 Souvenir
- 15 Telur
- 16 Angkatan
- 17 Poin Delapan
- 18 Lilin
- 19 Tujuh Hari
- 20 Empat Kursi
- 21 Gladi
- 22 Dua Kopi
- 23 Lobi
- 24 Kabel
- 25 Seratus Dua Puluh Delapan
- 26 Kursi Tamu
- 27 Jumat Keempat Puluh Delapan
- 28 Pasal Lima