Chapter Twenty Three
Lobi
POV: Agnes
Bel apartemenku berbunyi jam dua belas kurang sepuluh.
Aku sudah berbaring dengan alarm disetel jam setengah tiga dan jaket abu yang belum aku lepas, dan bunyi bel itu membuatku duduk tegak dengan jantung yang langsung salah.
Aku membuka pintu.
Vio berdiri di lorong dengan piyama, sandal jepit, dan tas jinjing.
“Vi—”
“Aku kabur,” katanya.
“KAMU APA?”
“Bukan kabur nikahan. Kabur rumah.” Dia mendorong masuk melewatiku. “Rumahku isinya dua belas orang. Ada tante-tante yang tidur di ruang tamu. Ada yang ngorok. Aku nggak bisa tidur dan besok jam tiga aku harus—”
Dia berhenti di tengah ruang tamuku.
Enam kardus dekorasi sudah tidak ada — sudah diangkut ke venue kemarin. Yang tersisa cuma lantai kosong dan dua belas lilin yang sudah pendek di atas piring.
“Kamu belum buang lilinnya.”
“Belum.”
Vio memandangi lilin-lilin itu selama beberapa detik.
Lalu dia duduk di lantai, di tempat yang persis sama tempat aku duduk empat malam lalu, dan berkata:
“Aku boleh nginep?”
Kami duduk di lantai dengan dua gelas air.
Vio tidak bicara selama sekitar tiga menit, yang untuk Vio adalah rekor sepanjang masa.
“Aku takut,” katanya akhirnya.
“Takut apa?”
“Semuanya.” Dia memeluk lututnya. “Aku takut ijabnya gagal. Aku takut penghulunya salah nyebut nama. Aku takut aku pingsan. Aku takut aku nggak nangis dan orang mikir aku nggak sayang. Aku takut aku nangis kebanyakan dan makeupnya luntur dan fotonya jelek.”
“Vi—”
“Aku takut ibuku nggak ada.”
Dan itu keluar dengan cara yang berbeda dari semua kalimat sebelumnya.
Aku tidak mengatakan apa-apa. Aku sudah belajar itu dari orang yang paling tidak bisa bicara yang aku kenal.
“Semua orang bakal dateng,” kata Vio. “Empat ratus lima puluh orang. Dan satu-satunya orang yang aku pengen liat aku pakai gaun itu nggak ada.”
Aku memindahkan tanganku ke lantai, di sebelah tangannya, tanpa menyentuh.
“Aku tau kamu masih marah sama aku,” kataku.
“Iya.”
“Kamu bisa marah sambil nginep.”
“Aku tau.” Dia menyeka bawah matanya dengan jari kelingking, hati-hati, kebiasaan lama. “Itu makanya aku ke sini.”
“Kenapa nggak ke rumah sepupu kamu?”
“Karena aku nggak mau ke rumah sepupu aku,” katanya. “Aku mau ke sini.”
Dan itu adalah bentuk maaf yang paling Vio yang bisa aku bayangkan: bukan kata-kata, tapi datang ke tempat yang salah pada jam yang salah dengan sandal jepit.
Jam satu, aku mengambil dompetku.
“Vi.”
“Hm.”
“Aku mau ngasih kamu sesuatu.”
Aku mengeluarkannya dari lipatan paling dalam, tempat dia berada selama sebelas minggu.
Selembar kertas HVS, bergaris di tengah karena printerku jelek, dilipat dua — dilipat ulang berkali-kali sampai lipatannya lunak, sudutnya bulat, dan tulisan tanganku di baris ketiga sudah pudar di bagian yang sering disentuh.
Vio membukanya.
PERJANJIAN OBAT NYAMUK
Dia membacanya. Sampai bawah. Sampai empat tanda tangan — tanda tangan Damar yang memakan sepertiga halaman, gambar hati kecil di sebelah nama Vio, kotakku sendiri, dan nama Gala dengan huruf cetak seperti orang mengisi formulir bank.
“Kamu masih nyimpen.”
“Tiap hari. Di dompet.”
“Sebelas minggu?”
“Delapan belas minggu,” kataku. “Dari awal.”
Vio memegang kertas itu dengan dua tangan.
Lalu dia memegangnya dengan cara yang berbeda — satu tangan di setiap sisi, ibu jari di tengah — dan aku melihat apa yang akan dia lakukan.
“Vi.”
“Ini yang bikin semuanya,” katanya.
“Iya.”
“Ini yang bikin kamu takut.”
“Iya.”
Dia menarik.
Setengah sentimeter. Aku mendengar bunyinya — bunyi kertas yang mulai menyerah.
Lalu dia berhenti.
Dia menatap robekan kecil di ujung atas itu selama beberapa detik, dan lalu menurunkan tangannya dan melipat kertas itu kembali, mengikuti lipatan lamanya, dengan sangat hati-hati.
“Nggak,” katanya.
“Kenapa?”
“Simpen.”
Dia menyerahkannya kembali kepadaku.
“Buat bukti kalian pernah sebodoh ini,” katanya, dan untuk pertama kalinya dalam empat hari, dia tersenyum. Kecil. Tapi asli.
Aku mengambil kertas itu.
Ada robekan sepanjang setengah sentimeter di ujung atas, dan robekan itu akan ada di sana selamanya, dan aku memutuskan saat itu juga bahwa aku tidak akan memperbaikinya.
“Nes.”
“Hm.”
“Boleh aku cerita sesuatu?”
“Boleh.”
Vio berbaring di lantai dengan tangan di bawah kepala, menatap langit-langit.
“Tahun kedua kuliah. Kamu inget waktu kamu tipes?”
“Yang aku dirawat seminggu?”
“Iya.”
“Inget. Aku nggak bisa makan apa-apa selain bubur dan aku benci bubur sampai sekarang.”
“Aku ke sana tiap hari,” kata Vio.
“Aku tau. Kamu bawa majalah.”
“Aku bawa majalah dan aku berisik dan suster-suster benci aku.”
“Iya.”
Vio diam sebentar.
“Gala juga ke sana tiap hari,” katanya.
Aku menoleh.
“Gala nggak pernah ke rumah sakit.”
“Gala ke rumah sakit tiap hari selama tujuh hari,” kata Vio, masih menatap langit-langit. “Dia nggak pernah naik. Dia duduk di lobi lantai satu, di kursi deket apotek, dari jam enam sampai jam delapan malem. Terus dia pulang.”
Ada sesuatu yang sangat dingin dan sangat pelan turun dari tenggorokanku ke perutku.
“Kamu bohong.”
“Aku ketemu dia di hari ketiga,” katanya. “Aku turun beli minum. Aku liat dia duduk di situ pakai tas kuliahnya. Aku bilang, ‘Gal, kamarnya di lantai empat.’ Dia bilang, ‘iya, gue tau.’”
“Terus?”
“Terus aku bilang ‘ya udah naik’. Dan dia bilang—”
Vio menoleh ke arahku.
“‘Nanti dia harus ngomong.’”
Aku menutup mulutku dengan kedua tangan.
“Aku nanya, ‘terus kamu ngapain di sini?’ Dan dia bilang, ‘kalau ada apa-apa, gue deket.’”
“Tujuh hari?”
“Tujuh hari, Nes.”
“Dua ribu—” Aku tidak bisa menghitung. Aku, yang menghitung semua hal, tidak bisa menghitung. “Itu tujuh tahun lalu.”
“Delapan,” kata Vio. “Itu delapan tahun lalu.”
Aku menunduk ke lantai.
“Kenapa kamu nggak pernah cerita?”
“Karena dia minta aku nggak cerita,” katanya. “Dan aku nurut, karena aku pikir dia bakal ngomong sendiri. Setahun. Terus dua tahun. Terus aku taruhan sama Damar dan aku kalah, terus aku taruhan lagi dan aku kalah lagi.”
Dia duduk.
“Terus delapan tahun lewat dan aku sadar dia nggak akan pernah ngomong, karena orang kayak Gala itu nggak bisa ngomong. Mereka cuma bisa duduk di lobi.”
Aku menangis di lantai apartemenku sendiri jam setengah dua pagi, di malam sebelum pernikahan sahabatku, dengan kertas kontrak yang robek setengah sentimeter di tanganku.
Vio menepuk punggungku dua kali. Tidak lebih.
“Nes.”
“Hm.”
“Aku mau nanya sesuatu dan aku mau kamu jawab jujur.”
“Iya.”
“Kamu takut kamu yang lebih sayang, ya?”
Dan aku mengangguk, karena aku tidak bisa mengucapkan apa-apa.
“Ya udah,” kata Vio. “Sekarang kamu tau.”
Kami tidur jam dua kurang seperempat, di kasurku, seperti kami dulu tidur di kos-kosan waktu semester lima.
Sebelum tidur, Vio berkata satu hal lagi ke arah langit-langit.
“Nes.”
“Hm.”
“Aku nggak akan minta maaf soal marah aku.”
“Aku nggak minta kamu minta maaf.”
“Bagus. Karena aku nggak akan.” Dia menarik selimut. “Tapi aku mau kamu tau, aku marah karena aku nyariin kamu tiga bulan dan kamu nggak ada. Bukan karena aku benci kamu.”
“Aku tau.”
“Kamu tau?”
“Iya.”
“Kok kamu tau?”
Dan aku memandangi langit-langit apartemenku dan berkata:
“Karena kamu nginep di sini.”
Vio tidak menjawab.
Tapi sekitar dua menit kemudian, dalam keadaan hampir tidur, dia menendang kakiku sekali di bawah selimut — pelan, sekali — seperti yang selalu dia lakukan sejak semester lima, dan itu adalah seluruh percakapan yang perlu terjadi.
Alarmku berbunyi empat puluh lima menit kemudian.
Vio bangun dengan mata bengkak, rambut kacau, dan wajah yang benar-benar tidak siap untuk menjadi pengantin dalam lima jam.
“Aku jelek.”
“Kamu jelek.”
“NES.”
“Aku bawa sendok dingin.”
Dan Vio Violeta, dua puluh enam tahun, yang akan menikah lima jam lagi, duduk di tepi kasurku dengan dua sendok dingin di kedua matanya dan berkata:
“Nes.”
“Hm.”
“Habis ini kita ngomong ya. Beneran ngomong. Berempat.”
“Iya.”
“Aku masih marah.”
“Aku tau.”
“Tapi aku pengen kamu tau satu hal sebelum hari ini mulai.”
Dia menurunkan sendoknya.
“Kalau nanti kamu jalan di belakang aku di lorong itu,” katanya, “terus kamu liat ke seberang dan kamu ngeliat dia berdiri di sebelah Damar—”
Dia berhenti.
“Inget lobi lantai satu.”
Lalu dia berdiri, mengambil tas jinjingnya, dan berjalan ke kamar mandi sambil berteriak bahwa dia butuh sikat gigi cadangan, dan seluruh apartemen berisik lagi seperti seharusnya.
Aku duduk di tepi kasur dengan dua sendok dingin di tangan.
Jam tiga kurang lima belas.
Hari itu dimulai.
- 1 Jumat Keempat Puluh Tiga
- 2 Pasal Tiga
- 3 Survey Pertama
- 4 Pasal Dua Dilanggar Vio
- 5 Lembur
- 6 Fitting
- 7 Hujan, Satu Payung, Klise
- 8 Yang Merobek Duluan
- 9 Aturan Baru
- 10 Food Testing Kedua
- 11 Vio Menyelidik
- 12 Dapur
- 13 Yang Terakhir Mati
- 14 Souvenir
- 15 Telur
- 16 Angkatan
- 17 Poin Delapan
- 18 Lilin
- 19 Tujuh Hari
- 20 Empat Kursi
- 21 Gladi
- 22 Dua Kopi
- 23 Lobi reading
- 24 Kabel
- 25 Seratus Dua Puluh Delapan
- 26 Kursi Tamu
- 27 Jumat Keempat Puluh Delapan
- 28 Pasal Lima