← Obat Nyamuk

Chapter Three

Survey Pertama

POV: Agnes

Ada satu hal yang tidak pernah dijelaskan orang tentang menjadi bridesmaid, dan hal itu adalah: kamu tidak sedang menjadi bridesmaid. Kamu sedang menjadi karyawan tidak dibayar di perusahaan bernama Pernikahan Damar & Vio, dengan jam kerja tidak terbatas dan atasan yang sedang jatuh cinta.

Sabtu berikutnya, jam sembilan pagi, kami berdiri di halaman sebuah gedung serbaguna di pinggiran kota yang brosurnya menjanjikan “sentuhan Eropa klasik” dan kenyataannya menyerupai bank daerah tahun sembilan puluhan.

“Ini,” kata Damar, merentangkan tangan, “kandidat nomor satu.”

“Ini jelek,” kata Vio.

“Ini murah.”

“Ini jelek, Yang.”

“Lima puluh persen dari budget kita, Yang.”

“Aku nggak mau nikah di tempat yang mirip kantor pos.”

“Kantor pos itu terhormat! Kantor pos itu—”

Aku merasakan sesuatu menyentuh sikuku. Pelan. Dua ketukan.

Gala. Dia bahkan tidak menoleh ke arahku. Matanya lurus ke depan, wajahnya seperti orang mengantre di puskesmas, dan jarinya mengetuk sikuku dua kali lalu menunjuk dengan dagu — sangat sedikit, satu derajat — ke arah tempat parkir.

Kode. Kami punya kode.

“Aku ke mobil dulu ya, ambil map,” kataku keras-keras.

“Gue bantu,” kata Gala.

“Gue juga mau ikut—” Damar mulai.

“KAMU DI SINI,” kata Vio. “Kita belum selesai ngomongin kantor pos.”

Kami berjalan pergi dengan langkah yang, kalau dilihat dari luar, mungkin terlihat sedikit terlalu cepat.


Tempat parkirnya kosong dan panas dan bau aspal, dan kami duduk di kap mobilku karena kursi satu-satunya di halaman itu sudah diduduki satpam.

Aku menghela napas panjang. Napas orang yang baru keluar dari ruang sidang.

“Pasal Dua,” kataku.

“Pasal Dua,” Gala mengulang, membuka botol air mineral dan menyerahkannya padaku duluan sebelum mengambil satu lagi untuk dirinya sendiri.

“Kamu tau nggak sih, mereka udah berantem soal venue empat kali minggu ini.”

“Lima.”

“Lima?”

“Damar telepon gue jam dua pagi Rabu.”

“Jam dua pagi?”

“Iya.”

“Ngomongin venue?”

“Ngomongin kenapa Vio nggak suka venue.” Gala meneguk airnya. “Empat puluh menit.”

“Kamu dengerin empat puluh menit?”

“Gue tidur di menit dua belas.”

Aku tertawa. Suaraku memantul di dinding gedung dan terdengar terlalu keras di halaman kosong itu, dan aku menutup mulut dengan punggung tangan.

“Jahat.”

“Gue bangun lagi di menit tiga puluh delapan. Dia belum sadar.”

“Gala.”

“Dia bilang makasih udah dengerin.”

Aku tertawa lagi, lebih keras, dan kali ini aku tidak repot-repot menutup mulut.

Dan begitulah cara dua jam menghilang.

Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya selain begini: ngobrol dengan Gala itu seperti membuka aplikasi yang tidak pernah meminta izin apa pun. Tidak ada basa-basi. Tidak ada bagian di mana kamu harus terlihat menarik. Kami membahas venue, lalu percetakan Damar, lalu klien-ku yang minta logo “dibikin lebih biru tapi jangan biru”, lalu entah bagaimana sampai ke perdebatan serius tentang apakah kantin dekat kampus dulu itu bangkrut atau pindah, dan Gala punya bukti — dia menunjukkan hasil pencarian di ponselnya seperti orang menyerahkan barang bukti di pengadilan — bahwa kantin itu pindah ke seberang dan berganti nama.

“Kamu nyimpen ini?”

“Gue nyari barusan.”

“Kenapa?”

“Karena lo salah.”

“Aku bisa aja bener.”

“Bisa. Tapi nggak.”

“Kamu tau nggak sih, kamu itu tipe orang yang paling nyebelin di dunia.”

“Tipe apa.”

“Tipe yang bener terus tapi ngomongnya dikit. Orang kayak gitu nggak bisa dilawan. Nggak ada bahan.”

Gala memikirkan itu dengan serius. Dia benar-benar memikirkannya — aku bisa melihat prosesnya, dahinya bergerak sepersekian, matanya turun ke aspal.

“Kalau gue ngomong banyak, lo bakal nemu salahnya?”

“Pasti.”

“Ya udah, gue nggak akan ngomong banyak.”

“Gala.”

“Strategi.”

Aku menoleh ke arahnya dan menemukan dia sudah menoleh duluan, dan kami sama-sama buru-buru melihat ke depan lagi seperti dua orang yang tertangkap basah oleh guru piket.

Aku mendorong bahunya. Dia bergeming sekitar satu sentimeter, yang untuk ukuran Gala adalah reaksi berlebihan.

Dan aku baru sadar, setelah tanganku kembali ke sisiku, bahwa aku sudah tidak menggeser tubuhku menjauh setelahnya.

Kap mobil itu tidak lebar. Kami duduk di bagian tengah karena bagian pinggir miring. Dan entah sejak menit ke berapa dari dua jam itu, bahu kiriku menempel di bahu kanannya.

Aku tahu persis kapan aku menyadarinya. Aku bisa menyebutkan detiknya.

Yang tidak aku lakukan adalah bergerak.

Aku terus bicara. Aku ingat aku sedang membahas sesuatu tentang harga bunga, atau kursi, atau salah satu dari seribu hal yang tiba-tiba menjadi urusanku sejak Damar berlutut di lantai kedai — dan aku terus bicara, dengan tempo normal, dengan intonasi normal, sementara sembilan puluh persen kesadaranku terkonsentrasi pada satu titik seluas telapak tangan di bahu kiriku.

Panas. Bukan panas matahari. Panas yang lain.

Dan Gala juga tidak bergerak.

Itu bagian yang membuatku hampir gila. Gala adalah orang yang, kalau ada orang duduk terlalu dekat di angkot, akan menempel ke jendela sampai pipinya penyet. Gala punya radius pribadi seukuran lapangan futsal.

Tapi dia tidak bergerak.

Dan karena dia tidak bergerak, aku tidak bisa bergerak, karena bergerak berarti mengakui bahwa ada sesuatu yang perlu digerakkan.

Jadi kami duduk begitu. Dua orang dewasa. Di kap mobil. Di parkiran gedung yang mirip kantor pos. Membicarakan harga kursi.

Selama — aku tidak tahu. Lama.

Ini nggak berarti apa-apa, kataku ke diriku sendiri, dengan suara yang sangat mirip suara orang berbohong. Kap mobil ini emang sempit. Ini masalah geometri. Ini fisika. Ini bukan apa-apa.

“Nes.”

“Hm?”

“Lo ngomong hal yang sama tiga kali.”

Aku berkedip. “Apa?”

“Soal kursi. Lo bilang tiga kali.”

“...Oh.”

“Lo capek?”

Dia menoleh. Untuk pertama kalinya dalam dua jam itu, dia benar-benar menoleh, dan wajahnya jauh lebih dekat daripada yang aku perkirakan dari perhitungan bahu.

Matanya cokelat gelap dan ada bekas begadang di bawahnya dan aku bisa melihat pantulan gedung jelek itu di sana.

“Iya,” kataku. “Capek.”

“Ya udah.”

Dan dia — ini bagian yang akan aku pikirkan malam itu sampai jam satu pagi — dia turun dari kap mobil, membuka pintu penumpang mobilku, menyalakan AC dengan kunci cadangan yang entah kapan aku pernah titipkan padanya dan lupa aku minta kembali, lalu berdiri di samping pintu yang terbuka itu.

“Masuk. Dingin dulu.”

“Kamu?”

“Gue di sini.”

“Panas.”

“Gue tahan panas.”

“Nggak ada orang yang tahan panas, Gal.”

“Gue software engineer. Gue kerja di sebelah server rack tiga tahun.”

Aku masuk. Dia menutup pintunya. Lalu dia bersandar ke sisi mobil, di luar, membelakangi jendelaku, dan tetap di sana — jadi dari dalam aku cuma bisa melihat punggung kausnya dan garis bahunya dan sedikit rambut belakangnya yang butuh dipotong.

Aku duduk di kursiku sendiri, di mobilku sendiri, dengan AC yang dinyalakan orang lain, dan menatap punggung itu.

Dan berpikir: oh, tidak.


Kami kembali dua puluh menit kemudian dan menemukan Damar duduk di tangga dengan wajah orang kalah perang.

“Vio nggak mau.”

“Ya udah cari yang lain.”

“Ada dua belas kandidat lagi.”

“Ya berarti sebelas kali lagi kita ke sini,” kataku.

“Kalian ikut kan?” Damar mendongak, dan matanya begitu memelas sampai aku merasa seperti sedang menendang anak anjing hanya dengan berpikir tidak. “Kalian harus ikut. Kalian panitia.”

“Kami ikut,” kata Gala.

Aku menoleh cepat ke arahnya.

Dia tidak menoleh balik. Dia sedang memasukkan botol air kosong ke tempat sampah, dengan wajah yang sama sekali tidak berubah, seolah dia baru saja menyetujui rapat rutin.

Sebelas kali lagi.

Sebelas kali lagi ke gedung-gedung kosong di pinggiran kota, dengan Damar dan Vio berdebat di dalam, dan aku dan dia di parkiran, di kap mobil, di bawah matahari.

Aku seharusnya mengeluh. Aku ini orang yang punya dua puluh delapan slide harus selesai Senin.

Yang keluar dari mulutku adalah:

“Sebelas.”

“Sebelas,” Gala mengangguk.

“Yang ada AC-nya duluan ya.”

“Nggak bisa milih.”

“Bisa. Aku yang atur jadwal.”

“Kalau gitu bisa.”

Dan sekali lagi — kali ini di halaman gedung mirip kantor pos, dengan Damar meratap di tangga tiga meter dari kami — sesuatu yang sangat kecil terjadi.

Gala tersenyum.

Bukan senyum yang akan terlihat di foto. Tidak ada gigi. Cuma sudut kiri bibirnya naik sekitar dua milimeter selama mungkin setengah detik sebelum kembali lagi.

Aku pulang hari itu dengan dua puluh delapan slide yang belum tersentuh, punggung yang terbakar matahari, dan satu selembar kertas terlipat dua di dompetku yang tiba-tiba terasa jauh lebih berat daripada tujuh gram.

Jam sebelas malam, ponselku menyala.

Gala: kunci cadangan lo masih di gue

Aku menatap layar itu selama sepuluh detik.

Aku: iya aku tau Aku: dari tahun lalu waktu kunciku ketinggalan di kantor Aku: kamu nggak pernah balikin Aku: kamu inget nggak sih itu udah setahun Aku: setahun loh gal

Tiga titik muncul. Menghilang. Muncul lagi. Aku menahan napas seperti orang menonton pertandingan.

Gala: mau gue balikin?

Dan aku — account executive, dua puluh lima tahun, penulis Pasal 3, orang yang menandatangani dokumen dengan kotak buatan sendiri —

mengetik lima huruf.

Aku: nggak usah

Lalu menaruh ponsel telungkup di kasur dan menatap langit-langit dengan kedua tangan menutup wajah.

Aku membuka dompet. Membuka lipatan kertas itu. Membaca Pasal 3 sekali.

Lalu melipatnya lagi, lebih rapi dari sebelumnya, dan menaruhnya kembali.

Ini masalah geometri, kataku.

Aku tidak percaya pada diriku sendiri, dan itu adalah hal paling merepotkan yang bisa terjadi pada seorang account executive.