Chapter Nineteen
Tujuh Hari
POV: Agnes
Aku sudah membayangkan momen ini.
Aku ingin mencatat itu, karena aku pikir orang perlu tahu bahwa aku tidak sepenuhnya bodoh. Selama sebelas minggu, aku sudah membayangkan momen ketahuan sekitar empat ratus kali, dalam berbagai versi.
Dalam semua versi itu, ada teriakan.
Vio berteriak. Damar berteriak. Ada tuduhan, ada suara tinggi, ada pintu yang dibanting, dan lalu ada rekonsiliasi yang emosional dan semua orang berpelukan dan menangis dan itu selesai dalam satu sore.
Tidak satu pun dari empat ratus versi itu benar.
Yang terjadi adalah ini:
Vio berdiri di lorong selama sekitar empat detik.
Lalu dia berkata, dengan suara yang sepenuhnya normal:
“Aku bawa seserahan. Rumah aku udah penuh.”
Dan menyerahkan kotak itu ke arahku.
Aku mengambilnya. Karena apa lagi yang bisa dilakukan seseorang.
“Makasih,” kataku.
“Iya.”
Gala muncul di ambang koridor. Kaus, celana panjang, rambut yang berdiri di satu sisi. Dia berhenti waktu melihat siapa di pintu.
Tidak ada yang mengatakan apa-apa selama mungkin tiga detik.
“Pagi, Vi,” kata Gala.
“Pagi, Gal.”
Dan itu — kalimat itu, dua kalimat sopan itu, diucapkan dengan nada yang benar-benar biasa oleh dua orang yang berdiri di dua sisi sebuah pintu jam tujuh lewat dua puluh pagi —
itu jauh lebih buruk daripada teriakan.
“Ya udah,” kata Vio. “Aku duluan. Masih ada empat tempat.”
“Vi—”
“Bye, Nes.”
Dan dia berbalik, dan berjalan ke lift, dan tidak menoleh.
Aku menutup pintu.
Aku berdiri menghadap pintu itu selama beberapa detik dengan kotak seserahan di tangan, dan hal pertama yang aku rasakan bukan panik.
Yang aku rasakan adalah malu.
Malu yang sangat spesifik, yang aku kenal betul, yang aku kenal dari empat tahun lalu: malu karena ketahuan menginginkan sesuatu.
“Nes.”
“Jangan ngomong dulu.”
“Oke.”
Aku meletakkan kotak itu di meja. Tanganku bergetar dan aku membencinya.
“Dia nggak marah,” kataku.
“Iya.”
“Dia bilang ‘bye, Nes’.”
“Iya.”
“Vio nggak pernah bilang ‘bye’. Vio bilang ‘DAAAH SAYANGKUU’ atau dia nggak bilang apa-apa sama sekali.”
“Iya.”
Aku menoleh. “Kamu bisa berhenti bilang ‘iya’ nggak?”
Dan Gala berdiri di ruang tamuku, di antara enam kardus dekorasi dan dua belas lilin yang sudah mati, dan berkata:
“Gue nggak tau harus bilang apa.”
Dan itu — dari semua hal yang terjadi pagi itu — itu yang membuatku duduk di lantai.
Karena Gala selalu tahu harus bilang apa. Dia mungkin memilih untuk tidak mengatakannya, tapi dia selalu tahu. Delapan tahun, dia selalu punya satu kalimat pendek yang tepat untuk situasi apa pun.
Dan sekarang dia tidak punya.
Kami menunggu.
Itu yang kami lakukan selama enam jam berikutnya: menunggu ponsel berbunyi.
Aku memeriksanya setiap dua menit. Gala tidak memeriksanya sama sekali, yang mana adalah caranya panik.
Jam sembilan: tidak ada.
Jam sepuluh: grup chat menyala.
Vio: guys jangan lupa besok fitting terakhir jam 10
Vio: ini terakhir beneran
Damar: siap
Damar: gue bawa yang dasi
Vio: jangan lupa
Vio: @Agnes @Gala jam 10 ya
Aku menatap layar itu selama satu menit penuh.
“Dia nge-tag kita,” kataku.
“Iya.”
“Kayak biasa.”
“Iya.”
“Gal, dia nge-tag kita kayak biasa.”
Dan aku merasakan sesuatu yang buruk mulai terbentuk di perutku, karena aku sudah kenal Vio delapan tahun dan aku tahu apa artinya ini.
Vio tidak menyimpan apa pun. Vio adalah orang yang mengirim tangkapan layar percakapan orang lain ke grup dalam waktu empat detik. Vio tidak bisa menyembunyikan hadiah ulang tahun lebih dari satu hari.
Kalau Vio bertingkah normal, itu berarti dia sedang melakukan sesuatu yang sangat, sangat sulit.
“Dia nggak bilang ke Damar,” kataku.
“Belum.”
“Dia nggak akan bilang.”
“Nes—”
“Dia nggak akan bilang, Gal.” Aku meletakkan ponsel itu di meja dengan tangan yang masih bergetar. “Dia nikah tujuh hari lagi. Dia nggak akan ngasih Damar hal ini seminggu sebelum nikahannya. Dia bakal nyimpen. Sendirian.”
Aku mengangkat kepalaku.
Gala sedang berdiri di dekat jendela dengan punggung menghadapku.
“Kamu bilang ini hari Selasa.” Aku menarik napas. “Kamu bilang persis ini. Kamu bilang kalau Vio tau, dia harus milih mau nyimpen apa nggak.”
“Iya.”
“Kamu bener.”
“Gue nggak mau bener soal ini.”
“Tapi kamu bener.”
Dia tidak berbalik.
“Gue nggak mau bener soal ini, Nes,” katanya lagi, dan suaranya melakukan sesuatu di ujung yang aku belum pernah dengar. “Gue mau salah. Gue mau lo yang bener dan gue yang kebanyakan mikir dan kita bilang minggu lalu dan sekarang semuanya udah selesai.”
Ruangan itu sangat sunyi.
“Kalau kita bilang minggu lalu,” kataku pelan, “dia tetep harus nyimpen.”
“Iya. Tapi dia dapet pilihannya dari kita.” Dia akhirnya berbalik. “Sekarang dia dapetnya dari pintu.”
Jam empat sore, ponselku bergetar.
Bukan grup. Japri.
Vio: nes
Vio: aku nggak marah
Aku duduk tegak.
Vio: aku cuma perlu waktu
Vio: dan aku nggak punya waktu sekarang
Vio: aku punya 7 hari dan 400 hal
Vio: jadi bisa nggak kita nggak ngomongin ini dulu
Vio: sampai selesai
Vio: please
Aku membaca itu tiga kali.
Lalu mengetik.
Aku: vi
Aku: aku minta maaf
Aku: aku bener-bener minta maaf
Aku: kita mau bilang
Aku: kita udah mau bilang, kita cuma nunggu
Tiga titik. Lama.
Vio: aku tau
Vio: kalian selalu nunggu
Dan itu saja.
Tidak ada lagi. Tidak ada emoji. Tidak ada tanda baca yang salah, tidak ada huruf kapital, tidak ada lima gelembung beruntun.
Empat kata, dan seluruh berat sebelas minggu ada di dalamnya.
Fitting terakhir keesokan harinya berlangsung selama dua jam empat puluh menit dan merupakan pengalaman paling aneh dalam hidupku.
Semuanya normal.
Vio berteriak soal panjang lengan. Damar mengeluh soal dasi. Bu Retno menjahit sambil bercerita tentang cucunya. Aku memakai gaun sage dan berputar dua kali dan Vio berkata “cantik banget, Nes” dan memelukku dari samping dan aku bisa merasakan tangannya menepuk lenganku dua kali seperti biasa.
Semuanya normal, dan itu yang salah.
Karena Vio tidak sekali pun menatapku lebih dari dua detik.
Delapan tahun, Vio menatapku terlalu lama. Itu kebiasaannya. Dia menatap orang sampai orang itu tidak nyaman, karena dia ingin tahu segalanya dan tidak punya rem.
Hari itu, matanya selalu bergerak sebelum sampai.
“Gimana?” tanya Damar di parkiran. “Vio agak diem ya hari ini?”
“Iya?” kataku.
“Kayak capek.”
“Mungkin capek.”
“Empat hari lagi.” Damar menepuk bahuku. “Sebentar lagi lo bebas, Nes. Lo udah kayak pegawai gue tiga bulan ini.”
Dan dia tertawa, dan aku ikut tertawa, dan di seberang parkiran Vio sedang membuka pintu mobil dan sama sekali tidak melihat ke arah kami.
Malamnya aku duduk di lantai ruang tamu di antara enam kardus dan membuka laptop.
Dokumen Protokol masih terbuka di tab yang sama. Delapan poin. Revisi ketujuh.
Aku menggulir ke bawah dan menatap poin delapan.
8. Beri tahu Vio.
Aku menghapus seluruh dokumen itu. Semua delapan poin. Select all, delete.
Layar putih kosong.
Dan lalu aku duduk di sana selama sekitar sepuluh menit menatap layar putih itu, dan tidak mengetik apa pun, karena tidak ada satu pun sistem di dunia yang bisa memperbaiki hal yang baru saja terjadi.
Aku menutup laptop.
Ponselku menyala di lantai.
Gala: lo udah makan
Aku: belum
Gala: gue di lobi
Aku turun.
Dia berdiri di dekat pos satpam dengan dua bungkus nasi dan wajah yang, untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, terlihat sama capeknya dengan wajahku.
Kami makan di kursi lobi apartemenku, di depan satpam yang menonton sinetron, di bawah lampu neon yang salah satunya berkedip.
Kami tidak membicarakan Vio.
Kami tidak membicarakan tujuh hari, atau nikahan, atau kalender yang ada acara berjudul “Kedai Sepatu. Bilang.”
Kami membicarakan nasinya.
“Ini ayamnya kegaraman.”
“Iya.”
“Kamu tetep makan.”
“Iya.”
Dan waktu selesai, dia mengumpulkan bungkusnya dan bungkusku dan membuangnya, dan berdiri, dan berkata:
“Nes.”
“Hm.”
“Apa pun yang kejadian minggu depan,” katanya, “gue nggak akan ke mana-mana.”
Aku mendongak.
“Kamu janji?”
Dan Gala Prasetya, orang yang selalu menjawab pertanyaan besar dengan diam, orang yang butuh empat kali latihan untuk satu kalimat, orang yang menuliskan janjinya ke kalender karena dia tidak percaya pada mulutnya sendiri —
berkata:
“Gue nggak janji.”
Aku merasakan sesuatu jatuh.
“Gue nggak janji,” ulangnya, “karena gue udah kebanyakan janji sama lo dan gue belum nepatin satu pun.”
Dia mengambil helmnya dari kursi.
“Jadi gue nggak akan janji lagi. Gue cuma nggak akan ke mana-mana.”
Lalu dia keluar, dan menyalakan motornya, dan menunggu.
Dan aku sadar, berdiri di lobi dengan kaki telanjang di lantai keramik, bahwa dia sedang menunggu sesuatu yang tidak ada — tidak ada mobil, tidak ada lampu depan untuk dinyalakan, karena aku sedang berada di rumahku sendiri.
Dia menunggu sampai aku masuk lift.
Aku melambai lewat kaca lift.
Dan dia mengangkat tangan sekali, pendek, seperti biasa, dan pintu lift menutup.
- 1 Jumat Keempat Puluh Tiga
- 2 Pasal Tiga
- 3 Survey Pertama
- 4 Pasal Dua Dilanggar Vio
- 5 Lembur
- 6 Fitting
- 7 Hujan, Satu Payung, Klise
- 8 Yang Merobek Duluan
- 9 Aturan Baru
- 10 Food Testing Kedua
- 11 Vio Menyelidik
- 12 Dapur
- 13 Yang Terakhir Mati
- 14 Souvenir
- 15 Telur
- 16 Angkatan
- 17 Poin Delapan
- 18 Lilin
- 19 Tujuh Hari reading
- 20 Empat Kursi
- 21 Gladi
- 22 Dua Kopi
- 23 Lobi
- 24 Kabel
- 25 Seratus Dua Puluh Delapan
- 26 Kursi Tamu
- 27 Jumat Keempat Puluh Delapan
- 28 Pasal Lima