← Obat Nyamuk

Chapter Eighteen

Lilin

POV: Agnes

H-7.

Kotak-kotak dekorasi datang ke apartemenku hari Sabtu karena rumah Damar sudah penuh dan rumah Vio sudah penuh dan apartemen Gala, menurut Vio, “terlalu bersih untuk dirusak”.

Enam kardus besar di ruang tamuku: kain, vas, bunga kering, dan satu kardus penuh lilin.

“Kenapa lilin?”

“Buat centerpiece,” kata Vio lewat telepon. “Tiap meja tiga.”

“Empat puluh lima meja.”

“Seratus tiga puluh lima lilin. Aku beli seratus lima puluh buat jaga-jaga.”

“Jaga-jaga apa?”

“Nes, kalau kamu udah sampai tahap ini, kamu jaga-jaga buat semuanya.”


Gala datang jam tujuh malam untuk membantu menyortir, dan hujan mulai jam delapan.

Bukan hujan biasa. Hujan yang membuat orang berhenti berbicara di tengah kalimat untuk mendengarkannya.

“Ini deras banget.”

“Iya.”

“Kamu bawa jas hujan?”

“Nggak.”

“Kamu naik motor tanpa jas hujan lagi?”

“Cerah tadi jam tujuh.”

Aku menatapnya dari lantai, di antara enam kardus.

“Kamu ini orang paling teliti yang aku kenal dan kamu nggak pernah bawa jas hujan.”

“Gue teliti sama hal yang bisa gue kontrol.”

Listrik mati jam sembilan lewat lima belas.


Gelap total, dan lalu suara — bukan suara, ketiadaan suara. Kulkas berhenti. Kipas berhenti. Seluruh apartemen berhenti berdengung, dan yang tersisa cuma hujan.

“Gal.”

“Di sini.”

“Ini mati satu gedung apa cuma unit aku?”

Aku mendengar dia berdiri, membuka pintu, dan lorongnya juga gelap.

“Satu gedung.”

“Genset?”

“Kalau ada, nyala tiga puluh detik lalu. Nggak ada.”

Dia menutup pintu.

Dan aku duduk di lantai gelap di tengah enam kardus dan mulai tertawa.

“Kenapa?”

“Gal.”

“Hm.”

“Kita punya seratus lima puluh lilin.”


Kami menyalakan dua belas.

Bukan tiga, bukan lima. Dua belas, karena aku bilang “banyakin” dan dia bilang “boros” dan aku bilang “ini punya Vio” dan dia berhenti membantah.

Kami menaruhnya di piring, di gelas, di atas kardus, di lantai — dan dalam waktu empat menit ruang tamuku berubah menjadi sesuatu yang tidak pernah aku lihat sebelumnya.

Cahaya lilin tidak seperti cahaya lampu. Cahaya lampu menunjukkan ruangan. Cahaya lilin cuma menunjukkan yang ada di dekatnya, dan sisanya dibiarkan hilang.

Jadi apartemenku menyusut. Menjadi lingkaran seluas tiga meter, dengan dua orang dan enam kardus dan hujan di luar.

Dia menyalakan yang di sisiku lebih dulu. Aku memperhatikan itu.

“Gal.”

“Hm.”

“Kamu nyalain yang deket aku duluan.”

“Iya.”

“Kenapa?”

Dan dia berkata, tanpa nada apa pun, sambil menyalakan yang ketujuh:

“Lo takut gelap.”

Aku tidak pernah memberitahunya bahwa aku takut gelap.

Aku tidak pernah memberitahu siapa pun, karena aku dua puluh lima tahun dan itu memalukan.

Aku memikirkan kapan dia bisa tahu, dan aku menemukan jawabannya sekitar dua puluh detik kemudian: lorong venue, tiga minggu lalu, waktu lampunya mati dan aku memegang lengan kausnya dan mencengkeramnya terlalu keras.

Dia tidak berkomentar apa pun waktu itu.

Dia cuma menyimpannya.


Kami tidak menyortir dekorasi lagi setelah itu.

Kami duduk di lantai dengan punggung di sofa, berdampingan, dan tidak melakukan apa pun sama sekali selama entah berapa lama.

Aku biasanya tidak bisa. Aku orang yang mengisi. Kalau ada lima detik kosong, aku memasukkan sesuatu ke dalamnya — kalimat, pertanyaan, suara. Aku sudah begitu sejak kecil. Ibuku bilang aku belajar bicara sebelum belajar jalan dan tidak pernah berhenti sejak itu.

Malam itu aku tidak mengisi apa pun.

“Nes.”

“Hm.”

“Lo diem.”

“Iya.”

“Lo nggak pernah diem.”

“Aku tau.”

“Lo nggak apa-apa?”

Dan aku menoleh, dan wajahnya setengah tersinari dari sisi kanan dan setengah hilang, dan aku berkata:

“Aku nggak apa-apa.”

Dan itu benar.

Itu satu-satunya hal yang sepenuhnya benar yang aku ucapkan sepanjang minggu itu.


Kami membicarakan hal-hal kecil, akhirnya. Bukan karena harus. Karena ada.

Dia menceritakan tentang kakak keduanya yang menikah waktu dia SMA dan bagaimana dia menghabiskan seluruh resepsi di dapur gedung membantu katering karena tidak tahu harus berdiri di mana.

“Nggak ada yang nyariin lo?”

“Nggak.”

“Sampai selesai?”

“Sampai selesai.”

Aku memutar tubuhku untuk melihatnya.

“Gal, itu sedih banget.”

“Nggak sedih. Enak, kok. Di dapur ada makanan.”

“GALA.”

“Gue serius. Gue makan tujuh sate.”

Dan aku tertawa, dan lalu berhenti tertawa, karena aku sadar aku sedang menertawakan sesuatu yang seharusnya tidak lucu, dan karena aku sadar bahwa orang ini akan berdiri di depan tiga ratus orang tujuh hari lagi dan berpidato.

“Minggu depan kamu nggak boleh di dapur,” kataku.

“Gue best man. Gue nggak bisa di dapur.”

“Aku tau. Aku cuma ngasih tau.”

Dia diam sebentar.

“Lo bakal di mana?” tanyanya.

“Di sisi Vio.”

“Berarti gue bisa liat lo.”

“Iya.”

“Ya udah.”

Dan dia mengatakan “ya udah” dengan cara yang membuat dua kata itu berarti sesuatu yang sama sekali lain.


Aku menyandarkan kepala ke bahunya jam sepuluh.

Dia memindahkan lengannya supaya aku lebih nyaman, dan setelah itu tangannya tidak kembali ke tempatnya, dan tinggal di sana, di lenganku, bergerak sesekali dengan ibu jarinya.

Hujan tidak berhenti.

Jam sebelas, salah satu lilin mati dan tidak ada dari kami yang menyalakannya lagi.

“Gal.”

“Hm.”

“Hujannya nggak berhenti.”

“Iya.”

“Kamu nggak bawa jas hujan.”

“Iya.”

“Motor kamu di parkiran terbuka.”

“Iya.”

Aku mengangkat kepalaku dari bahunya.

Dan menatapnya. Dan tidak mengatakan apa-apa selama sekitar empat detik.

Dan aku melihat dia mengerti — melihat pemahaman itu masuk ke wajahnya, pelan, seperti sesuatu yang dimuat baris demi baris.

“Nes.”

“Aku nggak bilang apa-apa.”

“Lo bilang.”

“Aku bilang motor kamu di parkiran terbuka.”

“Iya.”

“Itu fakta.”

“Iya.”

Dan dia menelan, dan aku melihat lehernya bergerak, dan itu adalah hal paling jujur yang pernah dilakukan tubuh orang ini di depanku.

“Gue bisa pulang,” katanya, dan suaranya keluar dengan cara yang salah.

“Bisa.”

“Gue bisa naik ojek. Motor gue tinggal di sini.”

“Bisa.”

“Atau—”

Dia berhenti.

Dia berhenti karena Gala tidak pernah, tidak sekali pun dalam sebelas minggu, mengambil apa pun yang tidak diberikan. Dia selalu bertanya. Dia bertanya “boleh?” di lorong yang gelap. Dia bertanya “boleh?” di depan pintu apartemenku dengan jaket di lantai.

Aku sudah mengenal orang ini selama delapan tahun dan aku tahu persis di mana dia akan berhenti.

Jadi aku yang tidak berhenti.

“Gal.”

“Hm.”

“Jangan pulang.”


Aku tidak akan menuliskan sisanya.

Bukan karena tidak penting. Karena itu satu-satunya bagian dari sebelas minggu terakhir yang tidak berupa rahasia yang harus dijaga dari siapa pun — dan aku ingin ada satu hal, satu saja, yang tidak pernah menjadi cerita untuk orang lain.

Yang bisa aku tulis adalah ini:

Bahwa hujan tidak berhenti sampai jam tiga pagi.

Bahwa lilin terakhir mati sekitar jam satu, dan gelapnya tidak terasa gelap.

Bahwa di suatu titik aku menyadari napasnya sudah teratur, dan aku terjaga selama mungkin dua puluh menit setelah itu hanya untuk mendengarkannya, seperti orang yang tidak percaya bahwa listrik sudah menyala kembali dan terus mengecek sakelar.

Bahwa jam setengah tiga, dalam keadaan setengah tidur, dia berkata sesuatu yang tidak akan pernah aku ceritakan kepada siapa pun.

Dan bahwa aku tidak menjawabnya, karena aku sedang menangis, dan aku tidak ingin dia tahu.


Aku bangun jam tujuh pagi.

Listrik sudah menyala — kulkas berdengung lagi, dan lampu kamar mandi yang lupa aku matikan semalam sekarang terang.

Hujan sudah berhenti. Cahaya masuk lewat jendela dengan warna yang bersih.

Gala masih tidur, wajah setengah terbenam di bantal, dengan ekspresi yang benar-benar kosong dari segala hal — tidak ada perhitungan, tidak ada penjagaan, tidak ada program latar belakang.

Aku memandanginya selama beberapa menit dengan perasaan yang tidak punya nama.

Lalu aku bangun, memakai kaus hitamnya yang tergantung di kursi — kaus yang sama, kaus yang pernah aku pakai terbalik selama satu jam dua puluh menit — dan berjalan ke dapur untuk membuat kopi.

Aku ingat berpikir, sambil menuangkan air panas:

Tujuh hari lagi.

Tujuh hari lagi semuanya selesai dan kita bisa berhenti.

Dan aku ingat merasa ringan. Benar-benar ringan, untuk pertama kalinya sejak Damar berlutut di lantai Kedai Sepatu.

Bel pintu berbunyi jam tujuh lewat dua puluh.

Aku membukanya tanpa berpikir, dengan cangkir di satu tangan dan rambut yang tidak bisa dijelaskan dan kaus hitam kebesaran yang jelas bukan milikku, karena aku pikir itu satpam, karena aku pikir itu paket, karena aku pikir itu siapa pun di seluruh dunia selain —

Vio.

Berdiri di lorong dengan kotak seserahan di kedua tangan, mulut yang sudah terbuka untuk mengucapkan sesuatu, dan kalimat itu tidak pernah keluar.

Di belakangnya, di lantai, ada sepatu.

Sepatu laki-laki. Ukuran empat puluh tiga. Yang aku letakkan di luar semalam karena basah.

Vio melihat sepatu itu.

Lalu melihat kausku.

Lalu melihat wajahku.

Dan hal terakhir yang terjadi sebelum semuanya berubah adalah suara dari dalam apartemenku — suara seseorang yang baru bangun, dari arah kamar, dengan nada orang yang belum tahu apa pun:

“Nes? Siapa?”