Chapter Twenty Two
Dua Kopi
POV: Gala
Damar mengetuk pintu apartemenku jam sebelas malam, dan dia menikah tujuh jam lagi.
Aku membukanya dan dia berdiri di lorong dengan dua gelas kopi dari minimarket dan wajah orang yang sudah menyerah pada gagasan tidur.
“Lo harusnya tidur,” kataku.
“Lo juga.”
“Gue harus di venue jam tiga.”
“Gue harus nikah jam delapan.” Dia menyodorkan satu gelas. “Kita sama-sama gagal.”
Aku minggir dan dia masuk.
Damar sudah masuk ke apartemen ini mungkin lima puluh kali dalam empat tahun, dan setiap kali dia melakukan hal yang sama: berjalan ke sofa, duduk, dan meletakkan kakinya di meja tanpa bertanya.
Malam itu dia duduk di kursi meja makan.
Itu memberitahuku semua yang perlu aku tahu tentang bagaimana malam ini akan berjalan.
“Gue nggak lama,” katanya. “Gue cuma mau ngomong satu hal terus gue pulang.”
“Oke.”
“Terus gue nggak mau lo jawab pakai satu kata.”
“Oke.”
“Gal.”
“...Iya.”
Dia meletakkan kopinya di meja dan memutar gelasnya sekali.
“Gue mikirin ini dua hari,” katanya. “Dan gue sampai di satu hal yang bikin gue nggak bisa tidur, dan bukan bagian yang lo kira.”
“Bagian mana.”
“Bukan bagian lo bohong.”
Dia mengangkat kepalanya.
“Bagian di ruang tamu kemarin. Waktu gue nanya kenapa lo nunda. Dan lo bilang lo pikir lo bakal jadi hal yang harus gue urus.”
Aku tidak mengatakan apa-apa.
“Gue nggak bisa berhenti mikirin itu,” kata Damar. “Karena artinya, selama delapan tahun, lo ngitung.”
“Ngitung apa.”
“Ngitung berapa banyak tempat yang lo ambil.”
Kulkasku berdengung dan berhenti.
“Gue nggak—”
“Gal, lo duduk di kursi paling jelek di rumah gue. Tiap kali. Delapan tahun.” Damar mencondongkan badan. “Ada sofa. Ada dua kursi bagus. Lo selalu duduk di kursi rotan yang bunyinya kayak mau patah. Nyokap gue sampai nanya, ‘temen kamu kenapa nggak mau duduk di sofa?’”
Aku menatap gelas kopiku.
“Kursinya nggak apa-apa.”
“KURSINYA JELEK, GAL.”
Dan itu adalah pertama kalinya Damar menaikkan suaranya sejak Kamis, dan anehnya itu justru membuat sesuatu di dadaku lebih longgar, bukan lebih sempit.
“Gue mau cerita sesuatu,” katanya, lebih pelan. “Lo nggak pernah tau ini.”
“Apa.”
“Semester tiga. Waktu bokap gue sakit dan gue hampir berhenti kuliah.”
Aku ingat semester itu. Damar menghilang tiga minggu. Waktu dia kembali, dia lebih kurus dan tidak bercerita apa pun kepada siapa pun.
“Gue nggak cerita ke siapa-siapa,” katanya. “Termasuk lo. Lo inget?”
“Iya.”
“Tapi lo tau.”
“Iya.”
“Gimana lo tau?”
“Lo berhenti beli kopi di kantin,” kataku. “Lo bawa air botol dari kosan. Tiga minggu.”
Damar menutup matanya dan tertawa sekali, pendek, tanpa suara.
“Iya,” katanya. “Dan lo nggak nanya. Lo nggak sekali pun nanya. Lo cuma tiap hari beli dua kopi terus naruh satu di meja gue terus pergi.”
“Itu kopi murah.”
“ITU BUKAN SOAL KOPINYA.”
Dia menggosok wajahnya dengan kedua telapak tangan.
“Tiga minggu, Gal. Tiap hari. Dan lo nggak pernah minta gue cerita, dan lo nggak pernah bilang apa-apa, dan lo nggak pernah — nggak sekali pun — bikin gue ngerasa gue lagi ngerepotin lo.”
Dia mengangkat gelas kopi minimarket itu sedikit dari meja.
“Makanya gue bawa dua.”
Dan aku duduk di apartemenku sendiri dan tidak bisa melihat ke arahnya.
“Jadi gini,” kata Damar. “Ini yang mau gue bilang.”
Dia meletakkan gelasnya.
“Lo bukan orang yang gue urus.”
“Mar—”
“Diem dulu.” Dia mengangkat satu tangan. “Delapan tahun lo mikir lo numpang di grup ini. Gue baru sadar itu kemarin dan gue marah, dan gue marah bukan sama lo — gue marah sama gue, karena gue nggak pernah bilang.”
“Lo nggak perlu bilang.”
“GUE PERLU BILANG.”
Dia berdiri.
“Lo tau kenapa gue milih lo jadi best man?”
“Karena gue temen lo.”
“Gue punya lima puluh temen.”
“Lo punya lima puluh kenalan,” kataku, dan aku tidak berniat mengatakannya, tapi kalimat itu keluar karena aku ingat kalimat itu, karena aku mengingat semua yang orang katakan kepadaku.
Damar berhenti.
“Lo inget.”
“Gue inget semuanya.”
“Gue bilang itu di kedai. Malam gue lamaran.”
“Iya.”
“Lo inget kalimatnya.”
“Iya.”
Dan Damar Prayoga, yang akan menikah tujuh jam lagi, berdiri di tengah apartemenku dan berkata dengan suara yang tiba-tiba tidak stabil:
“Terus kenapa lo masih mikir lo ngerepotin, Gal? Gue bilang gue punya satu Lo. Gue bilang itu tiga bulan lalu. Lo inget kalimatnya persis. Terus kenapa lo masih—”
Dia berhenti.
Menggosok matanya dengan pergelangan tangan.
“Anjir,” katanya. “Gue nggak boleh nangis. Besok gue harus foto.”
“Lo bakal nangis besok.”
“Gue tau gue bakal nangis besok. Gue nggak mau nangis dua kali.”
Dan aku berdiri, dan aku memeluknya, dan itu adalah kali kedua dalam delapan tahun aku memeluk Damar — yang pertama adalah di pemakaman ayahnya, semester empat, dan aku tidak mengatakan apa pun waktu itu juga.
Dia menepuk punggungku tiga kali dengan keras seperti yang selalu dilakukan laki-laki karena kami tidak tahu cara lain.
“Lo bego,” katanya ke bahuku.
“Iya.”
“Lo bego banget.”
“Iya.”
“Sebelas minggu, Gal.”
“Iya.”
Dia pergi jam dua belas kurang seperempat.
Di pintu, dia berhenti.
“Gal.”
“Hm.”
“Soal Agnes.”
Aku menunggu.
“Gue nggak akan ikut campur,” katanya. “Itu urusan kalian. Tapi gue mau bilang satu hal, terus gue diem selamanya.”
“Bilang.”
“Delapan tahun gue ngeliat lo sama dia.” Dia menggaruk belakang lehernya. “Dan gue selalu mikir, kenapa sih nggak jadian aja. Terus gue mikir, ya mungkin nggak cocok. Mungkin gue aja yang ngarang.”
“Mar.”
“Terus kemarin di ruang tamu, pas dia bilang lo nunda sebelas minggu, gue liat mukanya.”
Dia menoleh ke arahku.
“Dia nggak marah karena lo nunda, Gal. Dia takut lo nunda karena lo nggak yakin.”
Sesuatu di dalam dadaku berhenti bergerak.
“Gue yakin,” kataku.
“Gue tau lo yakin. Gue tau itu dari tahun kedua kuliah.” Dia membuka pintu. “Dia nggak tau. Itu bedanya.”
Dan aku berdiri di sana dengan tangan di gagang pintu.
“Gal.”
“Hm.”
“Besok pas gue di depan, pas gue nunggu Vio jalan,” katanya. “Lo berdiri di sebelah kanan gue.”
“Gue emang best man. Gue emang di sebelah kanan.”
“Gue tau. Gue cuma pengen bilang.” Dia memasukkan tangan ke saku. “Dua puluh tahun lagi, kalau gue liat foto itu, gue mau lo ada di dalemnya. Bukan di dapur.”
Aku memegang gagang pintu dan tidak bisa mengatakan apa-apa selama beberapa detik.
“Lo tau soal dapur?”
“Nikahan kakak lo? Gal, gue dateng. Gue nyariin lo tiga jam.”
“Lo nyariin gue?”
“GUE NYARIIN LO TIGA JAM, TERUS GUE NEMU LO LAGI NGUPAS BAWANG.”
“Gue makan tujuh sate.”
“GUE TAU LO MAKAN TUJUH SATE, LO CERITAIN ITU DI JALAN PULANG.”
Dan kami berdua tertawa di ambang pintu jam dua belas kurang seperempat, tujuh jam sebelum dia menikah, dan tawanya terlalu keras untuk lorong apartemen dan seseorang di unit sebelah membuka pintu untuk melihat.
Setelah dia pergi, aku duduk di kursi meja makan selama mungkin dua puluh menit tanpa menyalakan lampu.
Lalu aku mengambil ponselku.
Aku membuka kontaknya. Menatapnya.
Aku mengetik empat kalimat berbeda dan menghapus keempatnya.
Karena begini masalahnya: Damar baru saja memberitahuku bahwa aku bukan orang yang harus diurus, dan aku percaya dia. Aku benar-benar percaya dia, di dalam dada, bukan cuma di kepala.
Tapi Agnes bukan Damar.
Damar memaafkan aku karena aku memberinya kopi selama tiga minggu delapan tahun lalu.
Agnes tidak berutang apa pun kepadaku. Agnes cuma tiga hari lalu duduk di ruang tamu Damar dan mendengar sahabatnya bilang bahwa dia sudah menyiapkan tiga pintu dan tidak ada yang lewat.
Dan sebelas minggu itu — sebelas minggu di mana perempuan itu bangun tiap pagi dan tidak boleh menyebut satu-satunya hal yang ingin dia sebut — itu aku.
Bukan kebetulan. Bukan pagar penyok. Bukan souvenir.
Aku.
Aku meletakkan ponsel itu di meja tanpa mengirim apa pun.
Lalu aku mengambil laptop, membuka dokumen kosong, dan mulai mengetik.
Bukan pesan.
Pidato.
Dan aku mengetik sampai jam setengah tiga pagi, dan menghapus tiga versi, dan yang keempat aku simpan.
Panjangnya seratus dua puluh delapan kata.
Untuk ukuranku, itu novel.
- 1 Jumat Keempat Puluh Tiga
- 2 Pasal Tiga
- 3 Survey Pertama
- 4 Pasal Dua Dilanggar Vio
- 5 Lembur
- 6 Fitting
- 7 Hujan, Satu Payung, Klise
- 8 Yang Merobek Duluan
- 9 Aturan Baru
- 10 Food Testing Kedua
- 11 Vio Menyelidik
- 12 Dapur
- 13 Yang Terakhir Mati
- 14 Souvenir
- 15 Telur
- 16 Angkatan
- 17 Poin Delapan
- 18 Lilin
- 19 Tujuh Hari
- 20 Empat Kursi
- 21 Gladi
- 22 Dua Kopi reading
- 23 Lobi
- 24 Kabel
- 25 Seratus Dua Puluh Delapan
- 26 Kursi Tamu
- 27 Jumat Keempat Puluh Delapan
- 28 Pasal Lima