Chapter Eleven
Vio Menyelidik
POV: Agnes
Vio menghubungiku hari Rabu dengan kalimat yang seharusnya langsung membunyikan alarm di kepalaku.
Vio: nes
Vio: aku butuh temen curhat
Vio: khusus bridesmaid
Vio: ini rahasia
Vio: jangan bilang siapa-siapa
Aku, karena aku bodoh, membalas: oke jam berapa.
Kami bertemu di sebuah kafe yang dipilih Vio, dan aku tahu ada yang salah sejak melihat tempat duduknya.
Vio selalu memilih meja di tengah. Vio adalah orang yang ingin dilihat dan ingin melihat. Delapan tahun aku tidak pernah sekali pun duduk di pinggir bersamanya.
Hari ini dia memilih pojok. Dua kursi. Saling berhadapan.
Interogasi.
“Duduk,” katanya, tersenyum.
Aku duduk dengan punggung tegak seperti orang masuk ruang HRD.
“Jadi gini.” Vio mengaduk tehnya. “Aku deg-degan.”
“Wajar.”
“Bukan deg-degan nikahnya.”
“Terus?”
“Deg-degan setelahnya.”
Dan wajahnya berubah — berubah beneran, bukan berubah versi Vio yang dramatis — dan aku merasa bersalah karena selama tiga puluh detik terakhir aku menganggap ini jebakan.
“Setelah nikah, aku pindah ke rumah Damar,” katanya. “Terus aku bakal jadi ‘istri’. Terus lima tahun lagi mungkin ada anak. Terus aku bakal jadi ‘ibunya siapa’. Terus dua puluh tahun lagi aku nengok ke belakang dan aku nggak bisa nemuin bagian yang cuma aku.”
Aku meletakkan sendokku.
“Vi.”
“Ibuku gitu,” katanya. “Aku baru sadar pas beres-beres barangnya tahun lalu. Nggak ada satu pun barang di rumah itu yang cuma punya dia. Semuanya punya kami.”
Kafe itu terasa lebih sunyi dari seharusnya.
“Kamu nggak akan gitu,” kataku.
“Kenapa?”
“Karena kamu berisik.”
Vio tertawa — satu tawa basah, cepat, yang langsung dia hapus dengan punggung tangan.
“Itu penghiburan paling jelek yang pernah aku denger.”
“Aku serius. Ibu kamu diem. Kamu nggak bisa diem lima menit. Orang yang nggak bisa diem nggak akan ilang, Vi, karena semua orang bakal terus tau kamu ada di ruangan.”
Dia memandangku lama.
“Makasih ya,” katanya.
“Iya.”
“Aku sayang kamu.”
“Iya iya.”
“Nes.”
“Hm?”
“Kamu sama Gala kenapa?”
Ada teknik dalam pekerjaanku yang namanya bridging. Klien bertanya sesuatu yang tidak ingin kamu jawab; kamu tidak menolak menjawab, karena menolak itu mencurigakan. Kamu menjawab sedikit, lalu memindahkan percakapan ke tempat lain sebelum mereka sempat menagih sisanya.
Aku melakukan itu selama empat puluh menit.
“Kenapa apanya?”
“Kalian aneh.”
“Aneh gimana?”
“Kalian jaga jarak.”
“Kami emang jaga jarak. Ada Pasal Tiga.”
“Nah itu.” Vio menunjuk aku dengan sendok. “Dulu kalian nggak jaga jarak, dan nggak ada pasalnya. Sekarang ada pasalnya, dan kalian jaga jarak. Itu artinya pasalnya berhasil, atau pasalnya perlu.”
“Itu artinya kami patuh hukum.”
“Nes.”
“Vi, kamu tadi mau curhat soal nama belakang.”
“Aku udah selesai curhat.”
“Kamu belum. Kamu belum cerita soal Damar mau bikin nama gabungan.”
Dan Vio — Tuhan memberkati Vio — langsung terbawa.
“OH IYA. Dia mau bikin akun bersama namanya ‘DamVi’.”
“Damvi.”
“DAMVI, Nes.”
“Kayak merek obat batuk.”
“AKU BILANG GITU JUGA.”
Empat menit selamat.
Lalu:
“Tapi serius. Kamu suka nggak sama Gala?”
Empat menit habis.
“Vi, aku kenal Gala delapan tahun.”
“Itu bukan jawaban.”
“Itu jawaban.”
“Itu jawaban yang bentuknya kayak jawaban.”
Aku menatapnya dan menyadari, dengan rasa hormat yang tidak nyaman, bahwa Vio sedang menggunakan teknik yang sama denganku dan sedang menang.
“Kalau iya kenapa?” kataku akhirnya.
Dia mencondongkan badan.
“Nah gitu dong.”
“Aku nanya doang.”
“Kalau iya, aku bakal seneng banget,” katanya. “Kalau iya, aku bakal nangis. Kalau iya, aku bakal beliin kalian sesuatu yang mahal dan aku bakal ngasih tau semua orang di kantorku yang bahkan nggak kenal kalian.”
“Kalau iya, Pasal Tiga rusak.”
“Pasal Tiga itu kertas HVS bergaris di tengah karena printer kamu jelek.”
“Kamu tanda tangan.”
“Aku gambar hati di sebelahnya,” kata Vio. “Itu bukan tanda tangan. Itu doodle.”
Aku tertawa. Aku tidak berniat tertawa, tapi aku tertawa, dan tawa itu terlalu lega, dan aku melihat Vio mencatat kelegaan itu di suatu tempat di belakang matanya.
“Aku nggak suka Gala,” kataku, dengan nada paling profesional yang aku punya.
Vio bersandar.
“Oke,” katanya.
Dan aku tahu, dengan kepastian yang membuat perutku dingin, bahwa dia tidak percaya satu kata pun — dan bahwa dia memutuskan untuk membiarkannya, untuk sekarang, karena Vio adalah orang yang tahu kapan harus berhenti menekan dan itu justru bagian yang paling menakutkan darinya.
Bagian kedua terjadi hari Jumat.
Kami berempat di Kedai Sepatu, meja pojok dekat jendela berembun, membahas seating chart. Damar membawa printout dan spidol. Vio membawa opini.
“Om Bandi nggak bisa semeja sama Tante Lis.”
“Kenapa?”
“Tahun 2011.”
“Apa yang terjadi tahun 2011?”
“Nggak ada yang tau,” kata Damar khidmat. “Itu yang bikin serem.”
“Terus gimana kita ngatur meja kalau alasannya nggak ada yang tau?”
“Jauhin aja.”
“Sejauh apa?”
Damar mengukur printout itu dengan dua jari. “Delapan meja.”
“DELAPAN?”
“Yang, ini demi keselamatan bersama.”
Dan aku, karena aku sudah lulus ujian hari Rabu, merasa aman.
Aku lupa bahwa aku bukan satu-satunya yang diuji.
“Gal,” kata Vio, tanpa mengangkat kepala dari printout. “Kamu bisa bikin website RSVP-nya kan?”
“Bisa.”
“Kapan bisa selesai?”
“Minggu depan.”
“Kamu Sabtu kosong nggak? Bisa dikerjain Sabtu?”
Dan Gala berkata:
“Sabtu gue ada.”
Aku merasakan lantai kedai itu miring tiga derajat.
Vio mengangkat kepalanya.
“Ada apa?”
“Ada acara.”
“Acara apa?”
“Keluarga.”
“Keluarga siapa?”
“Keluarga gue.”
“Acara apa?”
“Ulang tahun.”
“Ulang tahun siapa?”
Dan di sinilah aku menyaksikan sesuatu yang belum pernah aku saksikan dalam delapan tahun: Gala Prasetya kehabisan jawaban.
Bukan panik. Wajahnya sama sekali tidak berubah. Tapi ada jeda — satu jeda, sekitar tiga perempat detik — dan di dalam jeda itu aku bisa mendengar seluruh sistemnya mencari file yang tidak ada.
“Keponakan,” katanya.
“Kamu punya keponakan?”
“Dua.”
“Namanya siapa?”
“Vi,” aku memotong, “kamu ngapain sih interogasi orang.”
“Aku cuma nanya nama keponakan.”
“Kamu nanya lima pertanyaan beruntun.”
“Empat.”
“Lima, aku ngitung.”
“Kamu ngitung?”
Dan aku menutup mulut satu detik terlambat.
Damar, yang sepanjang percakapan ini sedang menggambar meja nomor tujuh dengan spidol dan lidah menjulur ke samping, tiba-tiba mengangkat kepala.
“Bentar. Gal, keponakan lo yang mana? Yang di Bekasi?”
“Iya.”
“Yang namanya Kayla sama Rafa?”
“Iya.”
“Oh.” Damar kembali ke gambarnya. “Ultah Kayla emang Sabtu. Nyokap lo posting di grup keluarga.”
Hening.
“Kamu di grup keluarganya Gala?” tanya Vio.
“Gue di grup keluarga Gala sejak 2019,” kata Damar, tanpa mengangkat kepala. “Nyokapnya nambahin gue pas gue nolongin pindahan. Gue nggak pernah keluar karena nggak enak.”
Aku menatap Gala.
Gala meminum air putihnya dengan wajah orang yang baru saja diselamatkan dari tiang gantungan oleh kebetulan paling tidak masuk akal dalam sejarah persahabatan.
“Ya udah, berarti Minggu,” kata Vio.
“Minggu bisa.”
Vio kembali ke printout.
Tapi sebelum itu — dan aku melihatnya, aku bersumpah aku melihatnya — dia melirik ke bawah meja.
Cuma sekali. Setengah detik.
Ke arah kaki kami.
Kami bubar jam sebelas.
Di trotoar depan kedai, sebuah mobil masuk ke area parkir terlalu cepat, dan lampunya menyapu kami semua.
Aku tidak sempat bergerak.
Gala sudah setengah langkah di depanku, badannya sedikit menyerong, tangan kirinya terangkat rendah di sisi tubuhku — tidak menyentuh, cuma ada di sana.
Mobil itu berbelok dan parkir dengan normal. Tidak ada apa-apa. Tidak pernah ada apa-apa.
Gala turun tangan dan mundur ke posisinya semula dalam waktu kurang dari satu detik.
“Sori,” katanya.
“Kenapa minta maaf terus sih.”
“Refleks.”
“Aku tau itu refleks.”
“Ya udah.”
Aku menoleh — bukan ke Gala.
Ke Vio.
Vio sedang berdiri di sebelah mobil Damar dengan kunci di tangan, dan dia tidak melihat mobil yang masuk itu sama sekali.
Dia melihat tangan Gala.
Dan waktu matanya bertemu mataku, dia tersenyum — senyum yang manis, senyum yang hangat, senyum yang sama sekali tidak menuduh apa pun — dan berkata:
“Hati-hati di jalan ya, Nes.”
Lalu masuk ke mobil.
Damar dan Vio pergi duluan seperti biasa, dan aku dan Gala berjalan ke kendaraan masing-masing dengan jarak resmi satu meter.
“Ulang tahun keponakan,” kataku.
“Itu bener.”
“Kamu ngarang.”
“Gue ngarang. Terus ternyata bener.”
“Kamu lupa keponakan kamu ulang tahun?”
“Gue inget. Gue nggak inget tanggalnya.”
“Gal, kamu inget aku pesen es kopi salah empat tahun lalu.”
Dia membuka helmnya dan memasangnya, dan sebelum menurunkan kaca helm, dia berkata:
“Iya.”
Cuma itu.
Iya.
Aku berdiri di parkiran dengan kunci mobil di tangan dan wajah yang panas, dan dia menyalakan motornya, dan menunggu sampai lampu depanku menyala, dan pergi.
Ponselku bergetar waktu aku sampai rumah.
Vio: nes
Vio: btw
Vio: kaki kamu kenapa nggak pernah gerak kalau lagi duduk sebelah gala
Vio: kamu tuh orangnya gerak terus
Vio: delapan tahun
Vio: 🙂
Aku menatap layar itu selama satu menit penuh.
Lalu membuka laptop, membuka dokumen Protokol, dan menambahkan satu baris.
7. Dilarang duduk bersebelahan di Kedai Sepatu.
Aku menyimpannya sebagai Revisi 3.
Dan sambil menutup laptop, aku menyadari sesuatu yang tidak menyenangkan: bahwa dokumen itu sekarang punya tujuh poin, bahwa aku sudah merevisinya tiga kali dalam sebelas hari, dan bahwa tidak ada satu pun poin di dalamnya yang berbunyi “beri tahu mereka”.
- 1 Jumat Keempat Puluh Tiga
- 2 Pasal Tiga
- 3 Survey Pertama
- 4 Pasal Dua Dilanggar Vio
- 5 Lembur
- 6 Fitting
- 7 Hujan, Satu Payung, Klise
- 8 Yang Merobek Duluan
- 9 Aturan Baru
- 10 Food Testing Kedua
- 11 Vio Menyelidik reading
- 12 Dapur
- 13 Yang Terakhir Mati
- 14 Souvenir
- 15 Telur
- 16 Angkatan
- 17 Poin Delapan
- 18 Lilin
- 19 Tujuh Hari
- 20 Empat Kursi
- 21 Gladi
- 22 Dua Kopi
- 23 Lobi
- 24 Kabel
- 25 Seratus Dua Puluh Delapan
- 26 Kursi Tamu
- 27 Jumat Keempat Puluh Delapan
- 28 Pasal Lima