Chapter Six
Fitting
POV: Agnes
Kami tiba di butik jam sepuluh pagi, dan dalam waktu empat menit Vio sudah membuat pegawai di sana menangis.
Bukan menangis sedih. Menangis karena Vio, saat mencoba gaun kedua, berdiri di depan cermin dan berkata pelan “ini yang dipakai ibuku ya modelnya”, dan pegawai itu — seorang ibu berusia lima puluhan bernama Bu Retno — langsung ikut basah matanya, dan lima menit berikutnya mereka berpelukan sambil membicarakan almarhumah ibu Vio yang meninggal tahun lalu.
Aku duduk di sofa dengan gaun bridesmaid warna dusty sage di pangkuan dan menyadari sesuatu yang tidak pernah aku sadari sebelumnya tentang Vio: dia berisik karena kalau dia diam, dia akan mikir.
Aku menghampirinya waktu Bu Retno pergi mengambil ukuran.
“Vi.”
“Aku nggak nangis.”
“Kamu nangis.”
“Ini debu.”
“Ini butik ber-AC.”
“Debu impor.” Dia mengusap bawah matanya dengan jari kelingking, hati-hati, agar tidak merusak apa pun. “Nes.”
“Hm.”
“Kalau nanti pas hari-H aku jelek gimana.”
“Kamu nggak bakal jelek.”
“Serius. Kalau aku bengkak. Kalau aku nangis dari pagi terus mataku kayak lele.”
“Aku bawa sendok dingin.”
Vio menoleh. “Sendok?”
“Dua. Aku udah masukin daftar.”
“Kamu punya daftar?”
“Aku punya empat daftar.”
Dan Vio menangis lagi, dan aku harus memeluknya sambil menjaga gaun sage itu tidak kena maskara, dan dari luar ruangan aku bisa mendengar suara Damar mengeluh soal sesuatu yang berhubungan dengan bahu.
Ruang fitting pria ada di lantai dua.
Aku naik dengan dua alasan resmi: mengantar sampel warna dasi, dan mengecek apakah warna dasi itu cocok dengan gaun bridesmaid.
Kedua alasan itu benar.
Kedua alasan itu juga bisa diselesaikan lewat foto.
Aku memikirkan hal itu tepat di anak tangga kedelapan, dan memutuskan untuk terus naik, karena berbalik di tengah tangga akan terlihat jauh lebih mencurigakan daripada sekadar naik.
Itu logika yang sangat kuat. Aku bangga padanya. Aku menggunakannya lagi belakangan untuk banyak hal.
“Nah!” Damar berbalik saat aku masuk, merentangkan tangan. “Gimana? Jujur.”
Damar memakai jas biru gelap dan terlihat, harus aku akui, sangat bagus. Dia juga terlihat seperti orang yang tahu dia terlihat bagus, yang mengurangi efeknya sekitar tiga puluh persen.
“Bagus,” kataku.
“Cuma bagus?”
“Bagus banget.”
“Kurang meyakinkan.”
“Mar, aku baru naik tangga.”
Dan kemudian tirai ruang ganti kedua terbuka.
Aku ingin mencatat, untuk keperluan dokumentasi pribadi, apa yang terjadi pada tubuhku selama tiga detik berikutnya.
Detik pertama: tidak ada yang terjadi. Aku melihat seorang laki-laki keluar dari ruang ganti dengan jas abu gelap dan otakku memprosesnya sebagai informasi netral. Itu Gala. Gala pakai jas. Wajar. Dia best man.
Detik kedua: informasi itu tidak selesai diproses.
Karena ada sesuatu yang tidak beres dengan gambar ini, dan otakku sibuk mencari apa. Rambutnya masih berantakan seperti biasa. Wajahnya masih tidak punya ekspresi seperti biasa. Dia berdiri dengan cara yang sama seperti dia berdiri di halte, di lift, di ruang tamu orang — bahu sedikit maju, tangan tidak tahu mau ke mana.
Yang berbeda adalah jasnya pas.
Itu saja. Jasnya pas. Bahu jas itu berhenti tepat di ujung bahunya, dan lengannya berhenti tepat di pergelangan, dan untuk pertama kalinya dalam delapan tahun aku melihat bentuk orang ini tanpa lapisan kaus oversize yang selalu dia pakai untuk menghilang.
Detik ketiga: aku berhenti berpikir sama sekali.
Bukan berpikir hal yang salah. Berhenti. Layar hitam. Sistem tidak merespons.
“...Nes?”
Aku berkedip.
Gala sedang menarik lengan jasnya dengan wajah tidak nyaman.
“Aneh ya?”
“Nggak.”
Terlalu cepat. Aku menjawab terlalu cepat dan volumenya terlalu keras dan Bu Retno yang sedang menyematkan jarum di pinggang Damar mengangkat kepala.
Aku memperbaiki. “Maksudku, nggak aneh.”
“Kayaknya kegedean di sini.” Dia menunjuk bahunya.
“Nggak kegedean.”
“Kerasa longgar.”
“Itu emang modelnya.”
“Oh.”
“Iya.”
“Ya udah.”
Percakapan itu selesai. Percakapan itu selesai dan berlangsung sekitar sembilan detik dan tidak mengandung satu pun informasi penting, dan aku berdiri di tengah ruangan memegang sampel dasi seperti orang yang lupa kenapa dia ada di sana.
Karena aku memang lupa kenapa aku ada di sana.
“Dasinya mana?” tanya Bu Retno.
“Oh. Ini.” Aku menyerahkannya.
Bu Retno menempelkan sampel warna itu ke kerah jas Gala, memiringkan kepala, lalu mengangguk puas.
“Cocok, Mbak. Ini sama gaun Mbak yang tadi kan?”
“Iya.”
“Wah pas banget. Nanti pas foto Mbak sama Mas ini berdampingan, bagus.”
Aku membuka mulut untuk mengatakan sesuatu yang normal.
Yang keluar adalah: “Iya.”
Cuma itu. Iya. Satu kata, dengan nada yang, saat aku memutarnya ulang di kepala sepuluh detik kemudian, terdengar sangat berbeda dari yang aku maksudkan.
Gala melihat ke cermin. Bukan ke aku. Ke cermin.
Dan di cermin itu, karena posisi kami, matanya bertemu mataku selama sepersekian detik sebelum dia menunduk memeriksa kancingnya.
Telinganya merah.
Aku tahu telinga itu. Aku sudah punya folder untuk telinga itu.
“Nes.”
Aku menoleh.
Vio berdiri di ambang pintu.
Aku tidak tahu sudah berapa lama dia di sana. Itu masalahnya. Aku benar-benar tidak tahu, karena aku tidak mendengar tangga berderit, dan tangga di butik itu berderit untuk semua orang.
“Eh. Udah selesai?”
“Udah dari tadi.” Vio tersenyum. Senyum yang manis. Senyum yang, kalau kamu tidak mengenal Vio, akan terlihat seperti senyum biasa. “Aku manggil kamu dua kali dari bawah.”
“Oh ya? Nggak kedengeran.”
“Nggak kedengeran,” ulang Vio.
“Berisik di sini.”
Ruangan itu, saat itu, benar-benar sunyi kecuali suara jarum Bu Retno.
“Iya,” kata Vio. “Berisik banget.”
Dan dia berbalik dan turun, dan tangga itu berderit untuknya seperti untuk semua orang.
Aku berdiri diam selama beberapa detik.
Dia nggak lihat apa-apa, kataku ke diriku sendiri. Nggak ada yang bisa dilihat. Aku cuma berdiri. Berdiri itu bukan kejahatan.
“NES!” Suara Vio dari bawah. “AKU MAU NANYA!”
“APA?”
“KALAU AKU PAKAI SARUNG TANGAN, MENURUT KAMU BERLEBIHAN NGGAK?”
“BERLEBIHAN!”
“BU RETNO BILANG BAGUS!”
“BU RETNO YANG JUALAN, VI!”
Hening tiga detik.
“BU RETNO BILANG DIA TERSINGGUNG!”
“BILANG MAAF DARI AKU!”
“BU RETNO BILANG NGGAK APA-APA KATANYA MBAKNYA BENER!”
Damar menggeleng pelan sambil memandangi cermin. “Gue mau nikah sama orang yang komunikasinya pakai sistem estafet.”
“Kamu juga barusan teriak dari lantai dua kemarin nanyain sabun,” kata Gala.
“Itu urgent.”
“Sabun.”
“Sabunnya abis di tengah mandi, Gal. Itu situasi darurat nasional.”
“Nes.” Damar melambaikan tangan ke arahku. “Menurut lo gue pakai dasi kupu-kupu atau biasa?”
“Biasa.”
“Kenapa?”
“Karena kalau kupu-kupu kamu bakal mainin itu terus semalaman dan fotonya jadi miring semua.”
Damar terdiam. “...Anjir, bener.”
“Iya.”
“Kok lo tau?”
“Karena kamu manusia yang sama sejak semester satu, Mar.”
Gala, yang sedang melepas jasnya di belakang, mengeluarkan suara pendek dari hidungnya. Bukan tawa. Sesuatu yang berjarak satu tingkat sebelum tawa.
Aku menoleh cepat, dan dia sudah membelakangi aku, menggantung jas itu di hanger dengan sangat hati-hati, jauh lebih hati-hati daripada yang dia lakukan pada barang mana pun yang pernah aku lihat dia pegang.
Kami turun bersama. Damar duluan, dua anak tangga sekaligus, karena Damar tidak pernah menuruni tangga seperti manusia normal.
Gala di belakangku. Selalu di belakang.
Tangga butik itu kayu, sempit, dan dipoles sampai mengilap oleh seseorang yang jelas lebih peduli pada penampilan daripada keselamatan. Aku turun sambil membawa gaun sage di satu lengan dan ponsel di tangan yang lain, membaca chat klien, karena aku adalah manusia yang tidak pernah belajar.
Anak tangga keenam dari bawah.
Tumitku menyentuh ujungnya dan terus meluncur.
Ada satu detik di mana dunia menjadi sangat jelas dan sangat lambat: aku merasakan pusat tubuhku pindah ke tempat yang salah, aku melihat lantai satu bergerak naik ke arahku, dan aku sempat berpikir — dengan jernih, dengan sedih — gaunnya.
Lalu ada lengan melintang di depan dadaku dan aku berhenti.
Bukan berhenti seperti tertangkap. Berhenti seperti sesuatu yang direm. Punggungku menempel di dada seseorang, satu tangan menahan lengan atasku, dan tangan yang lain — dan ini yang membuatku memikirkan hal ini selama tiga hari berikutnya — tangan yang lain sudah lebih dulu berada di bawah gaun sage itu, menahannya agar tidak menyentuh tangga.
Dia menyelamatkan aku dan gaunnya dalam satu gerakan.
“Pegangan,” katanya, tepat di belakang telingaku.
Suaranya normal. Sama sekali normal. Tidak ada napas yang berubah, tidak ada panik, seperti orang menyebutkan nomor antrean.
“...Iya.”
“Nes.”
“Iya. Iya, aku pegangan.”
Aku memegang pegangan tangga dengan kedua tangan seperti anak umur lima tahun. Dia melepaskan lenganku, memindahkan gaun sage itu dengan hati-hati ke lengannya sendiri, dan berdiri di anak tangga yang sama denganku sampai dia yakin aku tidak akan mati.
“BUNYI APA ITU?” teriak Damar dari bawah.
“NGGAK ADA,” kataku.
“KEDENGERAN KAYAK ORANG JATUH!”
“NGGAK ADA YANG JATUH, MAR.”
Karena memang tidak ada. Itu bagian yang membuatku gila selama tiga hari.
Tidak ada yang jatuh, dan tidak ada satu pun bunyi yang terjadi selain satu langkah pendek dari belakang, dan Damar di lantai satu bahkan tidak melihat apa-apa.
“Jantungku,” kataku, pelan.
“Kenapa?”
“Nggak. Nggak apa-apa.”
Kami melanjutkan turun. Aku duluan. Dia di belakang. Dan aku tiba-tiba sangat sadar pada jarak di belakangku — jarak yang sudah ada di sana selama delapan tahun dan tidak pernah sekali pun aku pikirkan.
“Gal.”
“Hm.”
“Kenapa kamu selalu jalan di belakang?”
Dia diam tiga anak tangga.
“Tangganya sempit.”
“Bukan itu jawabannya.”
“Itu jawabannya.”
Aku berhenti dan berbalik, dua anak tangga di bawahnya, yang membuat tinggi kami tiba-tiba setara dan wajah kami jauh lebih dekat daripada yang aku rencanakan.
Dia berhenti mendadak. Tangannya menyambar pegangan tangga.
“Bukan,” kataku.
“Nes.”
“Apa.”
“Kalau lo berhenti di tangga, gue nggak bisa lewat.”
“Aku tau.”
“Ya udah.”
“Ya udah apa?”
Dia melihat ke bawah — ke Damar, yang sudah sampai lantai satu dan sedang berteriak menanyakan sesuatu tentang parkir — lalu kembali ke aku.
“Nanti gue kasih tau.”
“Kapan?”
“Nanti.”
Dan dia menunggu, dengan sabar, dengan tangan masih di pegangan tangga, sampai aku menyerah dan berbalik dan melanjutkan turun.
Aku tidak menoleh lagi. Tapi aku menghitung langkahnya di belakangku sampai lantai satu.
Dua belas.
Aku pulang, membuka laptop, mengerjakan revisi klien selama empat jam, dan sama sekali tidak memikirkan apa pun.
Itu bohong.
Yang benar adalah aku mengerjakan revisi klien selama empat jam dengan tingkat efisiensi tiga puluh persen, dan di sela-selanya aku membuka galeri ponsel dan menghapus satu foto yang aku ambil diam-diam di butik tadi dengan alasan “dokumentasi warna dasi”, lalu membukanya lagi dari folder Baru Dihapus, lalu mengembalikannya, lalu menutup ponsel dengan keras dan meletakkannya di ruangan lain.
Jam delapan malam, chat masuk.
Vio: nes
Vio: btw
Vio: kamu tadi diem 3 detik ya
Aku menatap layar itu.
Aku: apa maksudnya
Vio: nggak
Vio: cuma nanya
Vio: aku ngitung soalnya
Vio: 1
Vio: 2
Vio: 3
Vio: 😊
Aku meletakkan ponsel telungkup, memejamkan mata, dan menekan pangkal hidung dengan dua jari.
Ada empat pasal di dompetku.
Dan untuk pertama kalinya sejak aku menulisnya, aku mulai curiga bahwa aku bukan satu-satunya orang di grup ini yang bisa membaca dokumen dari jarak dua meter.
- 1 Jumat Keempat Puluh Tiga
- 2 Pasal Tiga
- 3 Survey Pertama
- 4 Pasal Dua Dilanggar Vio
- 5 Lembur
- 6 Fitting reading
- 7 Hujan, Satu Payung, Klise
- 8 Yang Merobek Duluan
- 9 Aturan Baru
- 10 Food Testing Kedua
- 11 Vio Menyelidik
- 12 Dapur
- 13 Yang Terakhir Mati
- 14 Souvenir
- 15 Telur
- 16 Angkatan
- 17 Poin Delapan
- 18 Lilin
- 19 Tujuh Hari
- 20 Empat Kursi
- 21 Gladi
- 22 Dua Kopi
- 23 Lobi
- 24 Kabel
- 25 Seratus Dua Puluh Delapan
- 26 Kursi Tamu
- 27 Jumat Keempat Puluh Delapan
- 28 Pasal Lima