← Obat Nyamuk

Chapter Twenty Four

Kabel

POV: Agnes

Empat ratus lima puluh hal bisa salah di sebuah pernikahan.

Aku tahu angka itu karena aku yang membuat daftarnya. Empat daftar, seratus dua belas item, dan aku sudah mencentang semuanya kemarin sore.

Yang tidak ada di daftar mana pun adalah tikus.


04:12.

“ADA TIKUS DI RUANG RIAS.”

Suara itu datang dari MUA bernama Mbak Ririn, yang sudah bekerja di dua ratus pernikahan dan yang, menurut pengakuannya sendiri, tidak pernah berteriak.

Dia sedang berteriak.

“Di mana?”

“DI BAWAH MEJA.”

“Gede?”

“MBAK, SAYA NGGAK NGUKUR.”

Vio, yang sedang duduk dengan setengah wajah sudah dirias, berdiri dari kursinya.

“Vi, jangan berdiri.”

“AKU MAU LIAT.”

“KAMU JANGAN LIAT.”

“NES, INI HARI AKU. AKU BERHAK LIAT TIKUSNYA.”

Dan begitulah, jam empat lewat dua belas pagi, seorang calon pengantin dengan alis baru selesai dan bulu mata palsu sebelah berjongkok di lantai ruang rias untuk melihat ke bawah meja bersama tiga orang lainnya.

Tidak ada tikus.

Ada tali dari kotak dekorasi yang bergerak karena kipas.

“Itu tali.”

“Itu bergerak!”

“Itu tali yang kena kipas, Mbak.”

Mbak Ririn duduk di kursi dan meminum air putih selama empat puluh detik penuh.


04:50.

Vio menangis.

Bukan karena tikus. Karena Mbak Ririn menanyakan hal yang paling wajar di dunia:

“Nanti yang nemenin Mbak jalan siapa?”

“Ayah saya.”

“Ibunya nunggu di depan?”

Dan ruang rias itu berhenti bergerak.

Aku sudah menyiapkan dua belas peniti, dua sendok dingin, lipstik cadangan, tisu, dan empat daftar. Aku tidak menyiapkan ini.

“Mbak,” kataku pelan.

Mbak Ririn menutup mulutnya. “Ya ampun. Mbak, maaf. Maaf ya, Mbak.”

“Nggak apa-apa,” kata Vio, dan suaranya cukup normal untuk membuat semua orang di ruangan itu percaya.

Aku mengambil sendok dingin dari kotak es.

Dan sambil menempelkannya ke bawah mata Vio, aku berkata — pelan, cuma untuk kami berdua:

“Aku udah taruh sesuatu di depan.”

“Apa?”

“Nanti kamu liat.”

Vio memegang pergelangan tanganku.

“Nes.”

“Jangan nanya sekarang. Kamu baru selesai dibedakin.”

Dan Vio tertawa dengan cara yang basah dan pendek dan menutup matanya, dan Mbak Ririn melanjutkan pekerjaannya, dan hari itu berjalan lagi.


05:30.

Sound system mati. Bukan sebagian. Semua. Empat speaker utama, dua monitor, dan mikrofon penghulu.

Aku menemukan Gala di belakang panggung, berjongkok di depan rak kabel, dengan senter di mulut.

Dia sudah di sana sejak jam tiga.

“Gimana?”

Dia mengeluarkan senter dari mulutnya. “Vendor semalem nyabut satu kabel buat ngecas.”

“Ngecas apa?”

“Vape.”

Aku berdiri sangat diam.

“Vendor sound system mencabut kabel utama untuk mengisi daya vape.”

“Iya.”

“Terus dia nggak masang lagi.”

“Iya.”

“Kamu tau ini dari mana?”

“Ada bau.”

Dan dia memasang kembali kabel itu, dan seluruh gedung berbunyi hum pelan, dan empat speaker menyala, dan di aula seseorang berteriak “NYALA!”

Gala berdiri dan mengibaskan celananya.

Dan aku melihatnya untuk pertama kalinya dalam cahaya penuh sejak dua hari lalu.

Dia sudah memakai jas. Kemeja putih, dasi yang sudah terpasang, semuanya rapi kecuali lengan kanan yang tergulung sampai siku karena kabel.

Ada bekas begadang di bawah matanya yang jauh lebih gelap dari biasanya.

“Gal.”

“Hm.”

Dan tepat pada saat itu Damar berteriak dari aula bahwa layar LED menampilkan warna hijau.

“Bentar,” kata Gala.

Dan dia pergi.


06:45.

Layar LED menampilkan warna hijau karena file yang dikirim desainer Vio semalam menggunakan profil warna yang berbeda.

Gala memperbaikinya dalam sembilan menit dengan laptop yang diletakkan di atas kursi tamu.

07:10.

Bunga meja nomor empat belas tidak ada. Ternyata ada, di mobil vendor, yang parkir di gedung sebelah karena salah alamat.

Aku berlari ke gedung sebelah dengan gaun sage dan sepatu hak dan mengangkat dua kotak bunga sendirian, dan waktu aku kembali ada seseorang yang mengambil kotak kedua dari tanganku tanpa berkata apa-apa dan membawanya sampai ke meja nomor empat belas dan meletakkannya dan pergi lagi.

Aku bahkan tidak sempat menoleh.

07:28.

Damar tidak bisa menemukan cincinnya.

“GUE TARUH DI SAKU.”

“Saku yang mana?”

“SAKU JAS.”

“Kamu ganti jas dua kali pagi ini.”

“...OH.”

Cincin itu ditemukan di jas yang salah, yang sudah digantung kembali di mobil, yang kuncinya ada di tangan ayah Damar, yang sedang di kamar mandi.

Empat menit paling panjang dalam sejarah keluarga Prayoga.

07:34.

Om Bandi datang.

Empat puluh menit lebih awal dari perkiraan, dan langsung duduk di meja nomor tiga.

“Meja tiga itu meja siapa?” tanyaku ke Damar.

Damar melihat printout seating chart. Wajahnya berubah.

“Nes.”

“Apa.”

“Tante Lis di meja sebelas.”

“Kamu bilang delapan meja.”

“MEJA TIGA KE MEJA SEBELAS ITU DELAPAN MEJA.”

“BERARTI PAS?”

“ITU PAS TAPI SEJALUR PANDANGAN, NES.”

Aku menghabiskan enam menit berikutnya memindahkan satu vas bunga tinggi dari meja dua puluh dua ke meja tujuh untuk memblokir garis pandang antara dua orang yang bertengkar tahun 2011 karena alasan yang tidak diketahui siapa pun.

Itu berhasil.

Om Bandi dan Tante Lis tidak saling melihat sepanjang acara, dan tidak ada satu pun dari empat ratus lima puluh tamu yang tahu bahwa perdamaian dunia hari itu ditopang oleh satu vas bunga sewaan seharga tujuh puluh ribu.

07:50.

Semuanya siap.


Ada sepuluh menit di mana tidak ada yang perlu dilakukan.

Itu selalu terjadi. Setelah semua kekacauan, selalu ada sepuluh menit kosong sebelum sesuatu dimulai, dan sepuluh menit itu adalah yang paling aneh.

Aku berdiri di koridor belakang, di dekat pintu ruang rias, memegang tas berisi dua belas peniti.

Dan Gala berdiri di ujung koridor yang sama, sekitar delapan meter jauhnya, menurunkan lengan kemejanya dan mengancingkannya.

Kami saling melihat.

Delapan meter.

Dia menyelesaikan kancing kirinya. Lalu berjalan.

Dan berhenti di jarak sekitar satu meter — jarak protokol, jarak yang sudah tidak berlaku lagi sejak dua hari lalu tapi yang tubuh kami sudah hafal.

“Nes.”

“Hm.”

“Lo tidur berapa jam?”

“Empat puluh lima menit.”

“Gue nol.”

“Kamu nggak tidur sama sekali?”

“Gue nulis.”

“Nulis apa?”

Dan dia tidak menjawab itu.

“Bunga yang tadi berat,” katanya.

“Kamu yang ambil satu?”

“Iya.”

“Kamu nggak bilang apa-apa.”

“Lo lagi buru-buru.”

Aku memandanginya. Jas abu gelap, dasi warna sage yang sama dengan gaunku, lengan yang sekarang sudah rapi lagi, dan wajah yang belum tidur.

Delapan tahun. Lobi lantai satu. Tujuh hari. Jam enam sampai jam delapan malam.

“Gal.”

“Hm.”

“Aku mau nanya sesuatu abis ini.”

“Abis apa?”

“Abis semuanya selesai.”

Dia mengangguk pelan.

“Oke.”

“Kamu nggak nanya mau nanya apa?”

“Nggak.”

“Kenapa?”

Dan Gala Prasetya, yang tidak tidur sama sekali, yang sudah bekerja lima jam sejak jam tiga pagi, yang baru saja memperbaiki sound system yang dirusak oleh vape, berkata:

“Karena gue bakal jawab apa pun.”


Pintu ruang rias terbuka.

Dan Vio keluar.

Aku sudah melihat gaun itu belasan kali. Aku ada di sana waktu dipilih, waktu diukur, waktu difitting empat kali. Aku tahu setiap jahitannya.

Aku tidak siap.

Dia berdiri di ambang pintu dengan wajah yang tidak menunjukkan satu pun jejak dari perempuan yang lima jam lalu duduk di lantai apartemenku dengan sandal jepit, dan matanya menemukan aku duluan.

“Nes.”

“Iya.”

“Aku belum nangis.”

“Bagus.”

“Aku bakal nangis dalam tiga puluh detik.”

“Aku pegang sendoknya.”

Dan di belakangku, aku mendengar suara Gala — pelan, cuma untuk dirinya sendiri, kalimat pertama yang dia ucapkan tentang Vio dalam tiga bulan yang bukan tentang logistik:

“Damar bakal pingsan.”

Vio mendengarnya.

Dan Vio tertawa — tawa yang basah dan pecah dan terlalu keras untuk koridor — dan menangis tepat pada jadwalnya, tiga puluh detik seperti yang dia bilang, dan aku mengeluarkan sendok dingin dari tas dan Mbak Ririn berteriak dari dalam dan seluruh koridor berubah menjadi kekacauan selama empat menit.

Dan di tengah kekacauan itu, sambil menahan wajah Vio dengan dua tangan dan sendok, aku menoleh ke belakang satu kali.

Gala masih berdiri di sana.

Dia tidak sedang melihat Vio.

Dan waktu matanya bertemu mataku, dia tidak memalingkan wajahnya seperti yang selalu dia lakukan selama delapan tahun.

Dia cuma mengangguk. Sekali. Pendek.

Seperti orang yang sedang mengatakan sesuatu yang panjang dengan satu gerakan.