← Obat Nyamuk

Chapter Thirteen

Yang Terakhir Mati

POV: Gala

Pagar Graha Kencana Wangi selesai diperbaiki dalam tiga minggu, dan hasilnya, menurut Damar, “lebih bagus dari yang asli”.

“Lo bilang gitu karena lo yang bayar.”

“Gue bilang gitu karena itu bener.”

“Warnanya beda.”

“Itu namanya aksen.”

Sabtu itu adalah jadwal tes teknis: vendor lighting menguji pencahayaan seluruh gedung, dan aku menguji layar LED yang akan dipasang di belakang pelaminan.

Layar itu adalah masalahku sejak dua minggu lalu. Vendor mengirimkan spesifikasi yang salah, resolusinya tidak cocok dengan file yang dibuat desainer Vio, dan tidak ada satu pun orang di rantai itu yang merasa bahwa itu urusannya.

Jadi itu jadi urusanku. Seperti biasa.

“Lo nggak apa-apa sendirian?” tanya Damar jam tujuh malam, sudah memegang kunci mobil.

“Nggak apa-apa.”

“Kita duluan ya. Vio ada acara keluarga jam delapan.”

“Iya.”

“Lo makan dulu gih.”

“Iya.”

“Gal.”

“Hm.”

Damar berdiri di pintu aula dengan kunci di tangan dan wajah yang tiba-tiba berubah.

“Makasih ya,” katanya. “Lo tuh dari dulu selalu—” dia menggerakkan tangannya, mencari kata, gagal menemukannya. “Ya, gitu.”

“Iya.”

“Gue nggak pernah bilang.”

“Nggak usah.”

“Ya udah.” Dia menepuk pintu dua kali. “Jangan pulang malem-malem.”

Aku menyelesaikan konfigurasi layar itu jam setengah sembilan.

Dan waktu aku mengangkat kepala, Agnes masih ada di sana.


“Lo belum pulang.”

“Belum.”

“Kenapa?”

“Vio nitip ngecek warna taplak di bawah lampu.” Dia mengangkat sepotong kain sage dari kursi. “Katanya harus dicek malem, karena acaranya malem.”

“Itu butuh berapa lama?”

“Empat menit.”

“Sekarang jam setengah sembilan.”

“Iya.”

“Lo di sini dari jam tujuh.”

“Iya.”

Dia melipat kain itu dan meletakkannya kembali dengan sangat hati-hati, dan tidak melihat ke arahku sama sekali.

“Taplaknya susah,” katanya.

“Hm.”

“Warnanya banyak.”

“Ada satu.”

“Ada satu, tapi tergantung sudut.”

Aku menutup laptopku.

“Empat menit,” kataku.

“Apa?”

“Ngecek taplak. Empat menit.”

“Iya.”

“Lo di sini seratus menit.”

Dia berhenti melipat.

“Kamu ngitung lagi.”

“Gue selalu ngitung.”

“Kamu tau nggak sih itu nyebelin?”

“Tau.”

“Kamu tetep ngelakuin?”

“Iya.”

Dan dia berjalan ke kursi di seberang dan duduk di sana, di aula kosong berkapasitas tiga ratus orang, di kursi tamu nomor entah berapa, dan bertopang dagu dan menatapku bekerja.

“Kamu nggak keberatan aku di sini?”

“Nggak.”

“Kalau aku ngajak ngobrol terus, kerjaan kamu lama.”

“Iya.”

“Terus?”

Aku memutar sekrup terakhir di braket layar.

“Ya lama,” kataku.

Dia tidak menjawab apa-apa selama sekitar sepuluh detik. Aku tidak mengangkat kepala. Aku tahu wajahnya sedang melakukan sesuatu dan aku tahu kalau aku mengangkat kepala aku tidak akan bisa menyelesaikan braket itu.


Vendor lighting pergi jam sembilan kurang, meninggalkan seluruh sistem dalam mode tes: setiap sepuluh menit, lampu-lampu di gedung itu menyala berurutan dari ujung ke ujung, lalu mati satu per satu dalam urutan terbalik.

Mereka bilang itu untuk memastikan tidak ada yang korslet.

Mereka juga bilang mereka lupa membawa remote untuk mematikannya, dan akan kembali besok.

Jadi begitulah kami berdua terjebak di sebuah gedung kosong yang lampunya menyala dan mati sendiri setiap sepuluh menit, seperti sesuatu yang bernapas.

“Ini serem,” kata Agnes.

“Ini terjadwal.”

“Terjadwal itu nggak bikin nggak serem.”

“Terjadwal itu artinya bisa diprediksi.”

“Gala, kita berdua di gedung kosong yang lampunya nyala sendiri.”

“Iya.”

“Kamu nggak takut?”

Aku memikirkan itu.

“Nggak.”

“Kenapa nggak?”

Karena hal-hal yang berjalan sesuai jadwal tidak pernah menakutkan bagiku. Yang menakutkan adalah hal-hal yang tidak punya pola. Yang menakutkan adalah manusia.

“Gue cuma nggak,” kataku.

Kami berjalan ke arah pintu keluar melewati lorong penghubung — lorong panjang yang menghubungkan aula utama dengan lobi, yang dalam tiga bulan akan menjadi jalan yang dilewati Vio.

Lorong itu gelap. Sakelarnya di dinding sebelah kiri, dan aku sudah tahu di mana karena aku selalu tahu di mana sakelar berada di gedung mana pun yang pernah aku masuki, karena itu salah satu dari banyak hal aneh tentang cara otakku bekerja.

Aku menyalakannya sebelum dia sampai di ambang.

“Kok kamu tau?”

“Tau apa.”

“Sakelarnya.”

“Gue liat tadi sore.”

“Kamu ngeliat sakelar tadi sore.”

“Gue ngeliat semua sakelar di gedung ini tadi sore.”

Dia berhenti berjalan. “Kenapa?”

“Karena kalau mati, ada yang harus tau.”

Dan aku terus berjalan, karena kalau aku berhenti aku harus melihat wajahnya, dan aku sudah cukup terganggu malam itu.

Dan tepat waktu kami masuk ke lorong itu, seluruh gedung mati.

Gelap total. Bukan gelap seperti malam. Gelap seperti di dalam kotak.

Aku mendengar Agnes menarik napas.

“Gal.”

“Sepuluh menit.”

“KAMU BILANG SEPULUH MENIT ITU LAMA BANGET DI SITUASI KAYAK GINI.”

“Delapan menit lagi.”

“GALA.”

Dan aku merasakan tangannya menemukan lengan kausku dan menggenggamnya, dan aku berdiri sangat diam supaya dia tidak melepaskannya.


Ini yang aku pikirkan dalam gelap selama delapan menit itu.

Aku memikirkan dapur. Tiga minggu lalu. Aku memikirkan bagaimana aku berdiri di belakangnya dengan toples-toples di depan kami dan tidak tahu sama sekali kenapa tanganku bergerak, dan bagaimana dia menutup tangannya di atas tanganku, dan bagaimana sejak hari itu aku tidak pernah sekali pun berhasil memikirkan hal lain lebih dari empat menit berturut-turut.

Aku juga memikirkan hal yang lebih tidak nyaman.

Bahwa dalam tiga minggu terakhir, kami sudah berbohong kepada Damar dua belas kali. Aku menghitungnya. Dua belas, termasuk hal-hal kecil, termasuk “gue lagi di rumah” waktu aku sedang di parkiran mobilnya.

Dan bahwa setiap kali aku hendak mengatakan sesuatu, ada hal lain yang lebih mendesak: pagar, layar, vendor, souvenir, orang tua Vio yang tiba-tiba mau menambah lima puluh tamu.

Aku bagus dalam menunda. Itu keahlian yang sama dengan menunggu, dilihat dari sisi yang salah.

Lampu pertama menyala di ujung lorong.

Lalu yang kedua. Ketiga. Berurutan, satu per satu, berjalan ke arah kami dengan jeda sekitar setengah detik, dan lorong itu terisi cahaya sedikit demi sedikit dari ujung sana ke ujung sini.

Dan aku melihat wajahnya muncul dari gelap secara bertahap, seperti sesuatu yang sedang dimuat.

Dia masih memegang lengan kausku.

Dia tidak melepaskannya waktu lampu menyala.

“Nes.”

“Hm.”

“Lo mau gue jujur?”

“Selalu.”

“Gue nggak takut gelap,” kataku. “Gue nggak keberatan lampunya mati barusan.”

Dia menatapku.

“Kenapa?”

“Karena lo pegang lengan gue.”

Dan aku melihat sesuatu terjadi pada wajahnya — dua tahap, cepat: pertama dia hampir tertawa, karena itu adalah reaksinya terhadap semua hal yang membuatnya gugup. Lalu tawa itu tidak jadi.

“Gal.”

“Hm.”

“Kamu tau nggak kamu barusan ngomong apa.”

“Tau.”

“Kamu ngomong itu sengaja?”

“Iya.”

“Kamu latihan?”

“Empat kali.”

“KAPAN?”

“Tadi. Waktu gelap.”

Dan Agnes menutup wajahnya dengan satu tangan — yang satunya masih memegang lengan kausku — dan mengeluarkan suara panjang yang tidak punya nama, dan berkata ke telapak tangannya sendiri:

“Kamu nggak boleh gitu.”

“Kenapa.”

“Karena aku yang harusnya begitu.”

“Kenapa harus lo?”

“KARENA AKU YANG BIASANYA MENANG.”

Lampu berikutnya menyala. Yang di atas kami.

Dan aku melihat wajahnya di bawah cahaya itu — rambut yang belum dia rapikan sejak tadi, satu benang kain sage menempel di bahunya, mata yang sedang menatapku dengan sesuatu yang aku tidak punya kosakatanya —

dan aku menyadari, dengan sangat tenang, bahwa aku sudah tidak takut lagi.

Bukan tidak takut kehilangan hari Jumat. Itu masih ada. Itu akan selalu ada.

Tapi ada hal lain yang lebih besar sekarang, dan hal itu adalah bahwa perempuan ini sedang berdiri sepuluh sentimeter dariku di sebuah lorong dan tidak melepaskan lenganku, dan aku sudah menghabiskan delapan tahun berdiri sepuluh sentimeter dari orang ini dan tidak melakukan apa pun.

Aku sudah cukup lama menjadi orang yang menunggu.

“Nes.”

“Apa.”

“Boleh?”

Dia berhenti bernapas.

“Kamu selalu nanya,” katanya, dan suaranya keluar salah. “Kamu selalu nanya dulu.”

“Iya.”

“Kenapa?”

“Karena gue nggak mau ngambil apa pun yang nggak dikasih.”

Dan Agnes melepaskan lengan kausku — hanya untuk memindahkan tangannya ke depan kausku, ke bagian dada, menggenggam kainnya dengan kedua tangan dan menariknya ke bawah sekitar sepuluh sentimeter.

“Boleh,” katanya.


Aku tidak akan menuliskan bagian itu dengan detail, karena aku tidak punya alat untuk itu.

Yang bisa aku tulis adalah hal-hal di sekelilingnya, karena hal-hal di sekelilingnya adalah yang aku ingat dengan presisi yang tidak wajar:

Bahwa lampu kedelapan menyala di tengah-tengah, dan lorong itu jadi terlalu terang, dan tidak ada satu pun dari kami yang berhenti.

Bahwa tangannya pindah dari kausku ke leherku.

Bahwa dia harus berjinjit, dan bahwa aku menunduk, dan bahwa di suatu titik aku menyadari aku sedang memegang wajahnya dengan kedua tangan dan aku tidak ingat kapan tanganku sampai di sana.

Bahwa dia tertawa sekali — pendek, di tengah — dan aku merasakan tawa itu, dan itu adalah hal terbaik yang pernah terjadi pada saraf-saraf di wajahku.

Bahwa di suatu tempat di belakang kami, sistem pencahayaan menyelesaikan siklusnya, dan mulai mematikan lampu satu per satu dari ujung sana.

Dan bahwa lampu terakhir yang mati adalah yang di atas kami.

Yang berarti selama sekitar empat puluh detik, di sebuah gedung kosong berlantai marmer di pinggiran kota, tepat di lorong yang tiga bulan lagi akan dilewati Vio dengan gaun putih dan Damar menunggu di ujungnya —

ada tepat satu lampu yang menyala di seluruh bangunan itu, dan lampu itu ada di atas kepala kami.


Gelap datang lagi. Kami tidak bergerak.

“Gal.”

“Hm.”

“Lampunya mati.”

“Iya.”

“Kamu nggak takut?”

“Nggak.”

“Sekarang alasannya apa?”

Dan aku, yang tidak pernah bisa mengatakan apa pun yang benar pada waktu yang benar, yang butuh empat kali latihan untuk satu kalimat, yang menghabiskan delapan tahun menerjemahkan segalanya menjadi gelas kopi yang digeser dan sisi jalan yang diambil dan botol air yang diserahkan lebih dulu —

berkata:

“Alasannya sama.”

Dan dia menempelkan dahinya ke dadaku dan tidak mengatakan apa-apa selama sisa delapan menit itu.


Kami keluar jam sepuluh lewat.

Di parkiran, dia berhenti di samping mobilnya dan tidak langsung membuka pintu.

“Gal.”

“Hm.”

“Kita harus bilang.”

“Iya.”

“Beneran harus.”

“Iya.”

“Setelah nikahan.”

Dan aku berkata “iya” untuk yang ketiga kalinya, dan aku tahu — sudah tahu saat itu, berdiri di parkiran dengan kunci motor di tangan — bahwa itu adalah kebohongan keempat belas.

Bukan kepada Damar.

Kepada dia.