← Obat Nyamuk

Chapter Twenty Seven

Jumat Keempat Puluh Delapan

POV: Agnes

Kedai Sepatu tidak berubah sama sekali.

Itu hal pertama yang aku sadari waktu masuk hari Jumat jam tujuh lewat: kacanya masih berembun, mesin kopinya masih berbunyi terlalu keras, dan meja pojok dekat jendela masih kosong seperti selalu, karena mereka tahu.

Damar dan Vio sudah di sana.

“KAMI DULUAN,” teriak Damar.

“Kalian selalu duluan.”

“KAMI PUNYA CINCIN SEKARANG. KAMI DATANG TEPAT WAKTU.”

“Itu nggak nyambung.”

“Nes, biarin dia,” kata Vio. “Dia udah gitu lima hari.”

Aku duduk.

Dan lima menit kemudian, Gala datang.


Ada satu momen kecil yang aku pikir tidak diperhatikan siapa pun kecuali aku.

Gala berdiri di ujung meja selama sekitar dua detik.

Dua detik, dengan tangan di sandaran kursi, sebelum duduk.

Karena selama empat puluh tujuh Jumat sebelumnya, dia selalu duduk di kursi sebelah kiri — kursi yang membelakangi jendela, kursi yang paling dingin karena AC-nya persis di atas, kursi yang tidak ada yang mau.

Dan kursi itu masih kosong.

Tapi ada kursi lain di sebelahku.

Dia duduk di sebelahku.

Tidak ada yang mengatakan apa-apa. Damar sedang membaca menu yang sudah dia hafal delapan tahun. Vio sedang memotret cincinnya lagi dari sudut kedua belas.

Dan aku duduk di sana dengan sesuatu yang panas naik ke belakang mataku karena seorang laki-laki memilih kursi.


“Oke,” kata Damar, menutup menu. “Aturan baru.”

“Nggak ada aturan baru,” kataku.

“Ada.”

“Mar—”

“Aturan satu: nggak ada yang boleh minta maaf lagi soal minggu lalu. Udah selesai. Kalau ada yang minta maaf lagi, bayar minumnya semua orang.”

“Setuju,” kata Vio.

“Aturan dua: kalau kalian mau mesra, mesra aja. Gue nggak mau ada yang injek-injekan kaki di bawah meja lagi kayak orang gila.”

Aku merasakan wajahku panas. “Kamu tau soal itu?”

“NES, MEJA INI GOYANG.”

“Delapan tahun kami duduk di meja ini dan kamu baru sadar sekarang?”

“Gue sadar dari bulan lalu. Gue nggak ngomong karena gue pikir kalian bakal ngomong sendiri.” Damar mengangkat gelasnya. “Ternyata nggak. Ternyata gue harus dibilangin di percetakan gue sendiri.”

“Mar—”

“NGGAK ADA MINTA MAAF.”


Malam itu berjalan seperti empat puluh tujuh Jumat sebelumnya.

Damar dan Vio berdebat tentang apakah bulan madu ke Lombok atau Sumba. Vio memenangkan argumen dengan menyebut satu foto yang dia lihat di internet. Damar menyerah dalam empat menit, seperti selalu.

“Gal,” kata Damar di tengah-tengah. “Lo bisa bikin website nggak?”

“Website apa.”

“Buat percetakan gue. Yang bisa order online.”

“Bisa.”

“Berapa?”

“Gratis.”

“Nggak bisa gratis.”

“Bisa.”

“Gal, gue bayar orang buat itu tahun lalu tiga juta terus orangnya kabur.”

“Berarti gue lebih murah.”

Damar menunjuk Gala dengan garpu. “Ini nih. Ini yang gue maksud. Delapan tahun kayak gini terus. Lo nggak pernah mau dibayar.”

“Gue nggak butuh.”

“BUKAN SOAL LO BUTUH APA NGGAK.”

Vio menepuk lengan Damar. “Yang.”

“Apa.”

“Bayar aja dia pakai makan malam tiap Jumat.”

Hening tiga detik.

“...Itu udah gue lakuin delapan tahun,” kata Damar.

“Ya berarti lunas,” kata Vio, dan kembali ke tiramisunya.

Aku menoleh ke Gala.

Dia sedang menatap gelasnya dengan wajah yang benar-benar datar, dan telinganya merah.


Mereka berbagi satu tiramisu dari satu piring.

Mereka saling menyuapi.

Dan aku menyadari, sekitar jam sembilan, bahwa aku sedang menonton itu tanpa merasa apa-apa.

Bukan bosan. Bukan iri. Cuma — biasa saja.

Aku menoleh ke Gala.

Dia sedang menonton mereka juga, dengan wajah yang sama sekali datar, dan waktu dia merasakan aku menoleh, dia menoleh balik.

“Pasal Dua,” kataku pelan.

Dan Gala berkata, dengan nada yang sama datarnya:

“Nggak.”

“Nggak?”

“Nggak perlu.”

Dan dia meletakkan tangannya di atas meja.

Telapak menghadap ke atas.

Di atas meja.

Di depan Damar dan Vio dan seluruh Kedai Sepatu dan tukang parkir yang bisa melihat dari luar jendela berembun.

Aku menatap tangan itu selama mungkin tiga detik.

Lalu aku meletakkan tanganku di atasnya, dan jari-jari kami bertaut, dan aku merasakan ibu jarinya bergerak sekali di punggung tanganku, seperti sebelas minggu lalu, seperti setiap kali sejak itu — tapi kali ini dengan lampu menyala dan tanpa taplak di atasnya.

Vio melihatnya.

Dia tidak berteriak. Dia tidak memotret. Dia tidak mengatakan apa-apa sama sekali.

Dia cuma menyeka bawah matanya dengan jari kelingking, hati-hati, seperti biasa, dan kembali membicarakan Sumba.


Damar dan Vio pulang jam sepuluh lewat.

Kami tinggal.

“Gal.”

“Hm.”

“Aku mau ngomong sesuatu dan aku mau kamu diem sampai selesai.”

“Oke.”

Aku memutar gelasku sekali.

“Delapan tahun,” kataku. “Aku nggak sadar apa-apa selama delapan tahun. Dan aku nggak akan maafin diri aku sendiri soal itu, jadi tolong jangan bilang nggak apa-apa.”

“Oke.”

“Jadi aku mau ngitung. Sekarang. Sekali. Terus aku nggak akan ngungkit lagi.”

Aku meletakkan gelas itu.

“Es kopi less sugar. Empat tahun. Kamu nggak pernah nanya sekali pun karena kamu udah tau.”

Dia membuka mulut.

“Diem.”

Dia menutup mulut.

“Botol air. Kamu selalu kasih ke aku duluan. Delapan tahun. Aku baru sadar bulan lalu.”

“Sisi jalan. Kamu selalu ambil sisi yang kena kendaraan. Aku ngecek foto-foto lama, Gal. Semua foto. Kamu selalu di sisi kanan aku kalau kita jalan di trotoar.”

“Gelas kopi yang kamu geser jauh dari laptop, karena tiga bulan sebelumnya aku numpahin kopi ke keyboard kantor.”

“Sakelar. Kamu hafal semua sakelar di semua gedung karena kalau mati, harus ada yang tau.”

“Charger. Jam dua pagi.”

“Ponsel aku yang kamu—” Suaraku pecah sedikit. Aku menariknya kembali. “Jaket. Yang kamu kasih pas kita lagi nggak baik-baik aja.”

“Tempelan parkir yang kamu simpen.”

“Dan lobi lantai satu,” kataku. “Tujuh hari. Jam enam sampai jam delapan. Kursi deket apotek.”

Aku mengangkat kepalaku.

“Sekarang kamu boleh ngomong.”

Gala duduk di seberang meja pojok dekat jendela berembun, dengan gelas es kopi yang tinggal es, dan tidak mengatakan apa-apa selama sekitar sepuluh detik.

“Lo lupa satu,” katanya akhirnya.

“...Apa?”

“Kunci cadangan mobil lo.”

“Itu bukan—”

“Gue nggak pernah balikin,” katanya. “Setahun. Lo pikir gue lupa.”

Aku menatapnya.

“Kamu nggak lupa?”

“Gue nggak pernah lupa apa pun, Nes.”

Dan aku menutup wajahku dengan kedua tangan di tengah Kedai Sepatu jam setengah sebelas malam.


Kami keluar terakhir.

Di parkiran, aku berdiri di samping mobilku dan tidak langsung membuka pintu.

“Gal.”

“Hm.”

“Boleh aku ngomong satu hal yang aneh?”

“Boleh.”

“Aku kangen jadi obat nyamuk.”

Dia menoleh.

“Bukan kangen yang beneran,” kataku cepat. “Aku nggak mau balik ke sana. Aku cuma—”

Aku mencari katanya.

“Selama empat puluh tujuh Jumat, aku selalu tau tempat aku di mana. Aku obat nyamuk. Itu jelek, tapi itu jelas.” Aku bersandar ke pintu mobil. “Sekarang aku nggak tau aku apa.”

Gala berpikir.

Dia benar-benar berpikir, dengan cara yang selalu dia lakukan, dan aku menunggu karena aku sudah belajar menunggu dari orang yang paling ahli.

“Lo bukan apa-apa,” katanya.

“...Makasih banget, Gal.”

“Bukan gitu.” Dia memasukkan tangan ke saku. “Maksud gue, lo nggak perlu jadi apa-apa. Obat nyamuk itu posisi. Posisi itu ada karena ada yang di tengah.”

“Terus sekarang?”

“Sekarang nggak ada yang di tengah,” katanya. “Empat orang. Satu meja. Nggak ada yang nemenin siapa-siapa.”

Aku memikirkan itu selama beberapa detik.

“Itu bagus.”

“Iya.”

“Kenapa rasanya aneh?”

“Karena lo delapan tahun jadi yang nemenin,” kata Gala. “Orang yang biasa nemenin selalu bingung waktu berhenti.”

Aku menatapnya di bawah lampu parkiran Kedai Sepatu.

“Kamu ngomong soal aku apa soal kamu?”

Dan Gala Prasetya membuka pintu mobilku untukku, seperti selalu, dan berkata:

“Iya.”


Dia menunggu sampai lampu depanku menyala.

Dan waktu aku keluar dari parkiran, aku melihat di kaca spion bahwa dia belum bergerak.

Berdiri di sana, di bawah lampu, dengan helm di tangan, menonton mobilku sampai belok.

Empat puluh delapan Jumat.

Aku menghitungnya.