← Obat Nyamuk

Chapter Twenty Five

Seratus Dua Puluh Delapan

POV: Gala

Damar tidak pingsan.

Dia melakukan sesuatu yang lebih buruk: dia menangis sejak Vio muncul di ujung lorong dan tidak berhenti sampai ijab selesai, dan penghulunya harus mengulang satu kalimat karena Damar mengangguk sebelum ditanya.

“Sabar, Mas.”

“Iya, Pak. Maaf, Pak.”

“Belum saya tanya.”

“IYA, PAK.”

Aku berdiri di sebelah kanannya, memegang kotak cincin, dan tidak bergerak selama dua puluh dua menit.

Dan di seberang, di sisi Vio, dalam jarak sekitar tiga meter, Agnes berdiri dengan gaun sage dan tangan yang memegang buket cadangan, dan sepanjang dua puluh dua menit itu aku menghadap ke depan seperti yang seharusnya.

Kecuali empat kali.

Aku menghitungnya. Tentu saja aku menghitungnya.

Dan keempat kali itu, dia sedang melihat aku.


Ijab selesai jam sembilan lewat dua puluh.

Vio menangis. Damar menangis. Ibu Damar menangis. Ayah Vio menangis dengan cara yang paling menghancurkan — tanpa suara, sambil terus menepuk punggung anaknya.

Dan waktu Vio berdiri untuk salaman, dia berhenti sebentar di depan meja kecil di sisi kiri pelaminan, tempat ada satu foto dalam bingkai kayu dan satu tangkai bunga putih.

Dia tidak mengatakan apa-apa. Dia cuma menyentuh bingkai itu dengan dua jari.

Agnes yang menaruh foto itu di sana. Aku melihatnya melakukannya jam tujuh pagi, sendirian, waktu tidak ada yang memperhatikan.

Dia tidak memberi tahu siapa pun.


Resepsi dimulai jam sebelas.

Empat ratus lima puluh orang. Alat makan kayu di setiap tempat duduk. Empat puluh lima meja dengan tiga lilin masing-masing, dan seratus tiga puluh lima lilin itu — aku tahu, karena aku yang menghitung ulang stoknya — berasal dari kotak yang sama dengan dua belas lilin yang kami nyalakan di ruang tamunya empat malam lalu.

Aku berdiri di dekat panel kontrol selama tiga jam.

Bukan karena harus. Semua sudah berjalan. Layar berfungsi, sound berfungsi, playlist berjalan sesuai urutan.

Aku berdiri di sana karena itu tempat yang aku tahu.

Dan jam dua siang, seseorang menepuk lenganku.

“Mas Gala?”

Koordinator acara.

“Lima menit lagi sambutan best man.”


Ini yang perlu kalian tahu tentang aku dan berbicara di depan orang.

Aku bisa. Itu bukan masalahnya. Aku pernah presentasi arsitektur sistem di depan empat puluh orang dan tidak satu pun tanganku gemetar, karena arsitektur sistem tidak peduli siapa yang mendengarkannya.

Yang tidak bisa aku lakukan adalah berbicara tentang sesuatu yang aku pedulikan.

Kalau kalimatnya penting, kerongkonganku menutup. Itu bukan metafora; itu benar-benar terjadi, secara fisik, dan sudah terjadi sejak aku umur sembilan tahun.

Itulah kenapa aku menulis seratus dua puluh delapan kata dan menghapal semuanya.

Bukan supaya bagus.

Supaya aku tidak perlu berpikir sambil bicara.


Aku berdiri. Mengambil mikrofon. Berjalan ke depan.

Empat ratus lima puluh wajah.

Damar dan Vio di pelaminan, memegang tangan, dengan wajah dua orang yang belum tidur dan tidak keberatan.

Dan di meja keluarga di sisi kiri, baris kedua, Agnes.

Aku menemukan wajahnya dalam waktu kurang dari dua detik. Aku selalu bisa. Itu keahlian yang tidak berguna sampai hari ini.

Aku membuka mulut.

“Selamat siang.”

Mikrofonnya bekerja. Aku sudah mengetesnya empat kali.

“Saya Gala. Teman Damar dari semester satu.”

Beberapa orang bertepuk tangan. Aku menunggu sampai selesai.

“Damar bilang saya harus pidato. Saya bilang saya nggak bisa. Dia bilang, ‘lo nggak usah bisa, lo cuma harus ngomong.’”

Tawa kecil.

“Jadi saya nulis. Empat kali. Yang tiga saya buang.”

Tawa yang lebih besar.

Dan lalu ruangan itu tenang, dan aku sampai di bagian yang aku hapal, dan aku mengucapkannya persis seperti yang aku tulis jam setengah tiga pagi:

“Semester tiga, ayah Damar sakit. Dia nggak cerita ke siapa-siapa. Saya juga nggak nanya. Waktu itu saya pikir itu cara saya nggak ngerepotin dia.

Delapan tahun kemudian, kemarin malam, dia dateng ke rumah saya bawa dua kopi dan bilang saya salah.

Bukan salah karena diem. Salah karena mikir saya orang yang bakal ngerepotin.

Jadi kalau ada yang bisa saya bilang buat Damar sama Vio hari ini, cuma satu:

Kalian berdua nggak pernah bikin orang ngerasa numpang.

Itu hal yang kelihatannya kecil. Itu bukan hal kecil. Ada orang yang butuh delapan tahun buat percaya bahwa dia beneran diundang.“

Aku berhenti.

Ruangan itu sangat sunyi untuk ruangan berisi empat ratus lima puluh orang.

Damar sudah menunduk dengan tangan menutup mata. Vio sedang memegang bahunya.

Dan aku sampai di bagian terakhir — dua puluh satu kata terakhir, yang aku tulis paling akhir, jam dua lewat lima puluh pagi, setelah tiga versi sebelumnya aku hapus.

Aku mengangkat kepalaku.

Dan aku melihat ke meja keluarga, baris kedua, sisi kiri.

“Buat semua yang di sini,” kataku, “kalau kalian pernah ngerasa kayak orang yang cuma numpang duduk di meja orang lain—”

Aku berhenti setengah detik.

“—kalian bukan numpang. Kalian yang bikin mejanya jadi meja. Kalian cuma nunggu ada yang bilangin.”

Dan aku tidak melihat ke arah Damar waktu mengucapkan itu.

Aku melihat ke arah perempuan di baris kedua yang mengucapkan hal yang sama kepadaku sebelas minggu lalu di depan pintu apartemennya, dengan empat ratus lima puluh amplop di lantai dan jaket saya yang sudah jatuh — dengan tiga kata yang lebih pendek dan lebih baik dari seluruh pidato ini.

Yang sekarang sedang menutup mulutnya dengan kedua tangan.

“Makasih,” kataku. “Selamat, Mar. Selamat, Vi.”

Aku meletakkan mikrofon.

Seratus dua puluh delapan kata. Aku menghitungnya nanti, malamnya, karena aku menghitung semua hal.

Seratus dua puluh delapan kata, dan cuma dua puluh satu di antaranya yang sebenarnya untuk satu orang.


Damar memelukku di depan empat ratus lima puluh orang dan tidak melepaskan selama sekitar delapan detik, yang di depan empat ratus lima puluh orang terasa seperti empat menit.

“Lo bilang lo nggak bisa pidato,” katanya ke bahuku.

“Gue emang nggak bisa.”

“LO BARUSAN PIDATO, GAL.”

“Gue baca hapalan.”

“GUE NGGAK PEDULI.”

Vio memelukku setelahnya, cepat, dan berbisik satu kalimat tepat di telinga:

“Dua puluh satu kata terakhir itu bukan buat kami, kan.”

Aku tidak menjawab.

“Bagus,” katanya, dan mundur, dan tersenyum ke arah kamera.


Aku menemukan Agnes empat puluh menit kemudian, di koridor belakang, di dekat pintu ruang rias.

Dia berdiri sendirian dengan buket cadangan masih di tangan.

Matanya merah dan makeup di bawah matanya sudah tidak ada, dan dia tidak berusaha memperbaikinya.

Kami saling melihat dari jarak sekitar tiga meter.

Aku tidak berjalan mendekat.

Ini bukan karena takut. Ini karena — dan aku baru mengerti ini hari itu, berdiri di koridor dengan jas yang kepanasan — karena ada hal-hal tertentu yang tidak boleh diambil.

Harus diberikan.

Jadi aku berdiri di sana.

Dan setelah beberapa detik, dia berjalan.

Tiga meter. Dia menempuhnya dalam waktu yang sangat lama untuk tiga meter, dan berhenti tepat di depanku, dan mendongak.

“Gal.”

“Hm.”

“Kamu nginep di lobi rumah sakit tujuh hari.”

Aku tidak mengatakan apa-apa.

“Delapan tahun lalu,” katanya. “Jam enam sampai jam delapan. Kursi deket apotek.”

“Vio cerita.”

“Vio cerita.”

Aku menatap lantai marmer koridor itu.

“Kenapa kamu nggak naik?” tanyanya.

Dan aku memberikan jawaban yang sudah aku simpan selama delapan tahun tanpa pernah punya tempat untuk meletakkannya:

“Karena kalau gue naik, lo harus ngomong sama gue. Dan lo lagi sakit.”

Agnes menutup matanya.

“Terus kenapa kamu tetep dateng?”

“Karena kalau ada apa-apa,” kataku, “gue deket.”

Dan dia menangis di koridor belakang Graha Kencana Wangi, di hari pernikahan sahabatnya, dengan buket cadangan yang jatuh ke lantai marmer dan tidak ada satu pun dari kami yang memungutnya.

Aku memeluknya.

Empat ratus lima puluh orang berada di aula, dua puluh meter dari sana, bertepuk tangan untuk sesuatu yang tidak aku dengar.


Kami berdiri di koridor itu cukup lama sampai musik di aula berganti dua kali.

“Gal.”

“Hm.”

“Aku mau nanya yang tadi.”

“Sekarang?”

“Sekarang.”

Aku menunggu.

Dia melepaskan pelukannya secukupnya untuk melihat wajahku, dan matanya masih basah, dan makeup-nya sudah tidak ada, dan dia terlihat seperti orang yang sudah tidak punya apa-apa lagi untuk disembunyikan.

“Kenapa kamu nunda sebelas minggu?”

Dan di sinilah aku bersyukur — untuk pertama kalinya seumur hidupku — bahwa aku adalah orang yang menyiapkan jawaban sebelum ditanya.

Karena Damar sudah memberitahuku pertanyaan ini kemarin malam.

“Bukan karena gue nggak yakin,” kataku.

Aku melihat sesuatu di wajahnya bergerak.

“Gue yakin dari tahun kedua kuliah,” kataku. “Gue yakin waktu gue duduk di lobi itu tujuh hari. Gue nggak pernah nggak yakin, Nes. Gue cuma nggak pernah ngerasa gue berhak.”

“Gal—”

“Dan itu bukan salah lo. Itu bukan salah Damar, bukan salah Vio, bukan salah kontrak.” Aku menarik napas. “Itu gue. Itu udah lama sebelum lo ada.”

Agnes menatapku.

“Sekarang gimana?” tanyanya.

“Sekarang gue lagi belajar.”

“Belajar apa?”

Dan aku berkata, karena hari itu sudah terlalu panjang untuk berbohong:

“Belajar duduk di sofa.”

Dia tidak mengerti. Dia tidak akan mengerti sampai suatu hari nanti Damar menceritakan soal kursi rotan itu kepadanya, dan dia akan menelepon aku jam sebelas malam untuk memarahiku.

Tapi dia melihat wajahku, dan dia tidak bertanya.

Dia cuma mengangguk, dan meletakkan dahinya kembali ke dadaku, dan kami berdiri di koridor belakang itu sampai koordinator acara datang mencari best man yang hilang.