Chapter Two
Pasal Tiga
POV: Agnes
Aku bangun jam lima empat puluh tanpa alarm, yang mana adalah tanda pertama bahwa ada sesuatu yang salah dengan hidupku.
Tanda kedua: hal pertama yang aku lakukan bukan mengecek email klien, tapi membuka dokumen kosong dan mengetik satu kalimat di baris paling atas.
PERJANJIAN OBAT NYAMUK
Lalu aku menatap layar itu selama sepuluh menit.
Begini cara kerja otakku, dan aku tidak minta maaf untuk itu. Pekerjaanku adalah mengubah kekacauan menjadi timeline. Klien datang dengan permintaan berbentuk kabut — “pokoknya yang fresh tapi tetap elegan tapi jangan mahal tapi viral” — dan tugasku memotong kabut itu jadi kotak-kotak dengan tanggal di bawahnya. Aku bagus dalam hal itu. Aku dibayar untuk itu.
Jadi ketika sesuatu di dalam dadaku mulai berbentuk kabut, refleksku cuma satu.
Bikin sistem.
Aku menghapus semuanya dan mulai lagi.
Pasal 1 — Wajib hadir. Yang absen menanggung yang lain sendirian.
Bagus. Adil. Masuk akal. Karena Jumat lalu Gala terlambat empat puluh menit dan selama empat puluh menit itu aku duduk sendirian menyaksikan Damar menyuapi Vio sambil membuat suara pesawat terbang, dan aku pulang dengan luka batin yang belum sembuh sampai sekarang.
Pasal 2 — Wajib saling menyelamatkan dari pemandangan berlebihan.
Ini formalisasi dari sesuatu yang sudah kami lakukan diam-diam bertahun-tahun. Gala memiringkan layar laptop. Aku tiba-tiba bertanya soal harga tiket kereta. Kami punya seluruh kosakata penyelamatan yang tidak pernah kami bahas.
Aku mengetik Pasal 3.
Lalu menghapusnya.
Lalu mengetiknya lagi.
Lalu berdiri, membuat kopi, kembali, dan mengetiknya untuk ketiga kalinya dengan tangan yang, kalau aku jujur — dan jam enam pagi adalah satu-satunya waktu di mana aku sanggup jujur — sedikit gemetar.
Pasal 3 — Dilarang menyukai pihak sesama obat nyamuk. Grup ini stabil karena berempat, bukan dua-dua.
Nah.
Aku bersandar ke kursi dan membaca kalimat itu berkali-kali sampai kata-katanya kehilangan bentuk.
Ini yang tidak akan aku katakan kepada siapa pun, termasuk kepada Vio, termasuk kepada diriku sendiri kalau aku sedang tidak sendirian di dapur jam enam pagi:
Pasal 3 bukan untuk Gala.
Gala tidak butuh dilarang. Gala adalah manusia yang bisa duduk di sebelah seseorang selama delapan tahun tanpa memberikan indikasi apa pun bahwa dia menyadari orang itu punya wajah. Gala tidak akan melanggar apa pun. Gala bahkan tidak akan mendekati garisnya.
Pasal 3 untuk aku.
Karena kemarin malam aku menoleh ke arahnya di detik yang sama dia menoleh ke arahku, dan selama satu setengah detik yang sangat bodoh itu, aku merasakan sesuatu yang tidak boleh dirasakan oleh seseorang yang punya cicilan mobil dan reputasi profesional.
Dan karena Damar akan menikah. Dan setelah Damar menikah, grup kami akan berubah bentuk, dan yang tersisa dari kami berempat cuma satu hal: bahwa kami masih berempat.
Empat itu stabil. Empat itu meja yang tidak goyang.
Dua-dua itu... entahlah. Dua-dua itu risiko. Dua-dua itu, kalau gagal, bukan cuma satu hubungan yang hilang. Dua-dua itu meja yang patah kakinya.
Aku pernah jadi orang yang sayangnya lebih besar. Sekali. Empat tahun lalu. Aku tidak akan menceritakan detailnya karena detailnya membosankan dan aku sudah membayar terapi untuk berhenti menceritakannya. Yang penting cuma ini: rasanya bukan patah hati. Rasanya malu. Malu yang sangat spesifik, malu karena ketahuan menginginkan sesuatu lebih keras daripada yang menginginkanmu.
Aku tidak mau lagi.
Pasal 4 — Kontrak ini tidak bisa dibatalkan sepihak.
Aku menambahkannya di akhir, dan baru setelah mengetiknya aku sadar kenapa.
Karena kalau nanti — nanti, suatu hari, di suatu Jumat yang tidak aku duga — aku ingin membatalkannya, aku harus menyeret tiga orang lain untuk ikut. Dan aku terlalu pengecut untuk melakukan itu.
Pasal 4 adalah kunci yang aku telan sendiri.
Aku mencetaknya. Printer di kamarku sudah tiga bulan tidak dipakai dan hasilnya bergaris di tengah, tapi aku tidak mencetak ulang. Lalu aku mengambil pulpen dan menulis ulang keempat pasal itu dengan tangan di selembar kertas HVS, karena entah kenapa yang diketik terasa seperti lelucon dan yang ditulis tangan terasa seperti janji.
Aku melipatnya dua kali. Masukkan ke tas.
Baru kemudian aku mengecek email klien, dan menemukan tiga puluh dua email yang masuk sejak semalam, dan tidak satu pun terasa lebih mendesak daripada selembar kertas di dalam tasku.
Kami tidak menunggu sampai Jumat.
Damar mengumpulkan kami hari Minggu di rumahnya dengan alasan “rapat”, yang ternyata artinya duduk di ruang tamu sementara Vio membuka enam belas tab katalog venue di laptopnya dan Damar menyeduh kopi yang terlalu banyak untuk empat orang.
“Sebelum mulai,” kataku, “aku ada agenda.”
“Agenda?” Vio mengangkat wajah.
“Iya.”
“Kita bahkan belum mulai rapatnya.”
“Makanya ini agenda nol.”
Gala, di ujung sofa, sedang melakukan hal yang selalu dia lakukan di rumah orang: duduk di tempat paling tidak strategis, memegang gelas dengan dua tangan, dan berusaha memakan ruang sesedikit mungkin. Dia mengangkat alis setengah milimeter. Itu, dalam bahasa Gala, sama dengan berteriak “APA?”.
Aku mengeluarkan kertas itu dan meletakkannya di meja.
Damar mencondongkan badan. Membaca judulnya. Berhenti. Membacanya lagi, dengan bibir bergerak. Lalu tertawa begitu keras sampai kopinya tumpah ke lututnya sendiri.
“PERJANJIAN OBAT NYAMUK?”
“Baca dulu.”
“Sumpah lo bikin ini?”
“Baca dulu, Mar.”
Vio merebut kertas itu dan membaca keras-keras, dengan intonasi pembawa acara berita, karena Vio tidak punya volume selain maksimal.
“Pasal satu, wajib hadir, yang absen menanggung yang lain sendirian—”
“Itu buat lo, Mar,” kataku.
“Kok gue?”
“Jumat kemarin Gala telat empat puluh menit dan aku harus nonton kalian main pesawat terbang sendirian.”
“Itu romantis!”
“Itu penyiksaan.”
“Pasal dua,” Vio melanjutkan, “wajib saling menyelamatkan dari pemandangan berlebihan.” Dia berhenti. Menoleh ke Damar. “Pemandangan berlebihan itu kita?”
“Ya masa AC.”
“Kita nggak berlebihan.”
“Yang, kamu kemarin nyuapin aku sambil bikin suara pesawat.”
“Itu karena kamu nggak mau buka mulut.”
“Aku lagi ngomong sama Agnes.”
“Nah itu masalahnya.”
Aku menatap langit-langit dan menghitung sampai lima.
“Oke, tapi serius,” Damar mengangkat jari, “kalau kita nggak berlebihan, kenapa nggak ada yang mau duduk di sebelah kita di bioskop?”
“Karena kalian pesan kursi paling pojok terus,” kataku.
“Itu strategi.”
“Itu bukan strategi, itu TKP.”
“Nes—”
“Bulan lalu, Mar. Avengers. Aku duduk di sebelah kalian dan aku nggak tau isi filmnya apa karena selama dua jam aku sibuk mikirin ke mana aku harus ngeliat.”
Vio menutup wajah dengan bantal sofa. “Kita cuma pegangan tangan.”
“Kalian pegangan tangan dengan intensitas orang mau berangkat perang.”
Gala, dari ujung sofa, berkata pelan tanpa mengangkat kepala: “Gue nonton filmnya dua kali. Yang kedua sendirian. Baru ngerti ceritanya.”
Damar melempar bantal ke arahnya. Gala menangkapnya dengan satu tangan, meletakkannya rapi di pangkuan, dan tidak berkomentar lagi.
“Pasal tiga,” kata Vio, dan suaranya berubah. Sedikit. Tapi berubah. “Dilarang menyukai pihak sesama obat nyamuk. Grup ini stabil karena berempat, bukan dua-dua.”
Ruangan itu hening selama satu setengah detik.
Satu setengah detik yang sama panjangnya dengan yang di Kedai Sepatu kemarin malam. Aku mulai curiga itu satuan waktu resmi dalam hidupku.
“Wah,” kata Damar. “Ini kayak ada maksudnya.”
“Nggak ada maksudnya.”
“Ada.”
“Nggak.”
“Nes.” Damar menyipitkan mata. “Orang nggak bikin pasal buat hal yang nggak mungkin kejadian. Nggak ada undang-undang yang ngelarang orang nelen matahari.”
Dan untuk sepersekian detik aku benar-benar tidak punya jawaban, dan itu adalah pengalaman yang sangat asing dan sangat tidak menyenangkan.
“Ini preventif,” kataku akhirnya, dengan suara account executive yang sedang menyelamatkan pitch. “Kalian bakal nikah. Habis nikah kalian punya rumah, punya jadwal sendiri, punya urusan sendiri. Yang bisa bikin kita tetap ketemu tiap Jumat cuma satu: kalau nggak ada yang canggung. Dan yang bikin canggung cuma satu: kalau ada yang jadian terus putus.”
Aku sendiri kaget betapa masuk akalnya itu terdengar.
“Ini bukan tentang aku sama Gala,” lanjutku. “Ini tentang meja. Meja empat kaki. Potong satu, goyang.”
Vio memandangku lama.
Terlalu lama.
“Oke,” katanya akhirnya, tersenyum manis dengan cara yang membuat bulu kudukku berdiri. “Masuk akal banget.”
“Kan.”
“Banget.”
“Vio.”
“Nggak ngomong apa-apa kok.”
Damar sudah merebut pulpen. “Pasal empat, kontrak ini nggak bisa dibatalin sepihak. Gue suka. Ini kayak kontrak kerja gue sama vendor kertas.” Dia menandatangani dengan tanda tangan yang panjangnya tidak masuk akal, memakan sepertiga halaman. “Nih. Sah.”
Vio menandatangani sambil menggambar hati kecil di sebelah namanya. Aku menandatangani dengan rapi, di kotak yang aku buat sendiri, karena aku orang yang membuat kotak untuk tanda tangan.
Lalu kertas itu bergeser ke ujung sofa.
Gala meletakkan gelasnya. Mengambil pulpen. Dan aku menyadari, dengan cara yang membuat perutku terasa aneh, bahwa dia tidak membaca dokumen itu.
Dia sudah membacanya. Dari ujung sofa. Dari jarak dua meter. Tanpa memegangnya. Dia sudah selesai membaca sejak Vio mengucapkan Pasal 1, dan sejak saat itu dia cuma menunggu gilirannya.
“Nggak ada yang mau lo protes?” tanya Damar.
“Nggak,” kata Gala.
“Nggak ada satu pun?”
Gala memandangi kertas itu sebentar.
“Pasal satu nggak adil,” katanya. “Kalau gue telat karena server down, gue nggak bisa milih.”
“Ya minta dispensasi.”
“Ke siapa.”
“Ke Agnes. Dia yang bikin.”
Gala menoleh ke arahku.
Dan berkata, dengan nada paling datar yang pernah diciptakan manusia:
“Boleh minta dispensasi?”
“Nggak.”
“Ya udah.”
Dia menandatangani. Namanya kecil, huruf cetak, seperti orang mengisi formulir bank.
Kertas itu kembali ke tanganku, sekarang penuh empat tanda tangan, dan aku melipatnya dua kali dan memasukkannya ke dompet, dan seharusnya aku merasa lega.
Sistem sudah jadi. Kabut sudah jadi kotak. Kotak sudah ada tanggalnya.
Kenapa aku tidak lega?
Vio mengantarku ke depan waktu pulang, berjalan pelan sengaja supaya tertinggal dari yang lain.
“Nes.”
“Hm.”
“Pasal tiga itu—”
“Vi, kalau kamu mau bilang sesuatu yang bikin aku harus mikir malam ini, jangan.”
Vio tertawa kecil. Lalu memelukku dari samping, cepat, dan berbisik tepat di telingaku:
“Aku cuma mau bilang, orang yang bikin pagar biasanya yang paling sering berdiri di deketnya.”
Lalu dia melepaskanku dan berteriak “HATI-HATI SAYANGKU” dengan volume yang bisa didengar tiga rumah, dan masuk kembali ke dalam.
Aku berdiri di trotoar dengan dompet di tangan.
Di dalamnya ada selembar kertas terlipat dua, dengan empat tanda tangan, dan satu pasal yang aku tulis untuk satu orang.
Dan orang itu, saat ini, sedang berdiri sepuluh meter dariku di dekat motornya, memakai helm, menunggu — seperti biasa — sampai mobilku menyala dulu.
- 1 Jumat Keempat Puluh Tiga
- 2 Pasal Tiga reading
- 3 Survey Pertama
- 4 Pasal Dua Dilanggar Vio
- 5 Lembur
- 6 Fitting
- 7 Hujan, Satu Payung, Klise
- 8 Yang Merobek Duluan
- 9 Aturan Baru
- 10 Food Testing Kedua
- 11 Vio Menyelidik
- 12 Dapur
- 13 Yang Terakhir Mati
- 14 Souvenir
- 15 Telur
- 16 Angkatan
- 17 Poin Delapan
- 18 Lilin
- 19 Tujuh Hari
- 20 Empat Kursi
- 21 Gladi
- 22 Dua Kopi
- 23 Lobi
- 24 Kabel
- 25 Seratus Dua Puluh Delapan
- 26 Kursi Tamu
- 27 Jumat Keempat Puluh Delapan
- 28 Pasal Lima