Chapter Seventeen
Poin Delapan
POV: Agnes
Aku membuka dokumen Protokol hari Senin dan menambahkan poin baru.
8. Beri tahu Vio.
Aku menatapnya selama dua menit. Lalu menghapusnya. Lalu mengetiknya lagi. Lalu meninggalkannya di sana dan menutup laptop dan pergi kerja dan tidak bisa berkonsentrasi selama sembilan jam.
Malamnya aku mengirim pesan.
Aku: gal
Aku: aku mau ngomong
Aku: bukan lewat chat
Aku: besok bisa?
Gala: bisa
Gala: ada apa
Aku: besok aja
Gala: ok
Dan aku menatap dua huruf itu dan tidak bisa membacanya sama sekali, yang mana adalah hal baru, karena selama sebelas minggu terakhir aku sudah belajar membaca dua belas varian “ok” milik Gala dan aku pikir aku sudah lulus.
Kami bertemu di apartemennya. Selasa malam. H-13.
Aku membawa laptop.
“Lo bawa laptop.”
“Iya.”
“Ini rapat?”
“Ini bukan rapat.”
“Lo bawa laptop.”
Aku meletakkannya di meja makan dan membukanya dan memutar layarnya ke arahnya, dan aku melihat matanya bergerak ke satu baris di bagian bawah.
8. Beri tahu Vio.
Dia membaca. Lalu membacanya lagi. Lalu duduk.
“Vio udah tau,” kataku.
“Iya.”
“Dia tau dari fitting. Kamu bilang sendiri.”
“Iya.”
“Jadi ini bukan ngasih tau. Ini cuma bikin resmi.”
“Nggak,” katanya. “Beda.”
“Bedanya apa?”
Dan Gala meletakkan kedua tangannya di meja, dan berkata:
“Sekarang Vio curiga. Curiga itu urusan dia sendiri. Kalau kita bilang, Vio jadi tau. Dan orang yang tau harus milih mau nyimpen apa nggak.”
“Vio bisa nyimpen.”
“Bisa. Tapi dia harus.” Dia menatapku. “Nes, tiga belas hari lagi dia nikah sama Damar. Kalau kita bilang minggu ini, kita ngasih dia rahasia yang harus dia simpen dari calon suaminya, tiga belas hari sebelum dia janji nggak nyimpen apa-apa dari orang itu.”
Aku membuka mulut.
Aku tidak punya jawaban, karena dia benar.
Dan aku membenci itu, karena aku sudah menyiapkan tujuh argumen di mobil dalam perjalanan ke sini dan tidak satu pun dari tujuh argumen itu memperhitungkan kalimat barusan.
“Ya udah, kita bilang ke dua-duanya.”
“Sekarang?”
“Iya.”
“Tiga belas hari sebelum nikahan.”
“IYA, GAL.”
“Damar nggak tidur dua malam terakhir karena kursi tambahan,” katanya, dengan suara yang sama sekali tidak naik. “Dia telepon gue jam dua pagi kemarin. Empat puluh menit. Soal kursi.”
“Aku tau.”
“Kalau kita bilang sekarang, itu jadi hal yang dia pikirin. Di antara semua hal yang dia pikirin.”
“Kenapa itu jadi hal buruk?”
“Karena itu bukan hal yang harus dia pikirin. Itu hal kita.”
Aku berdiri.
Aku tidak tahu kenapa aku berdiri. Tubuhku berdiri sebelum aku memutuskan untuk berdiri.
“Gal, ini bukan soal kursi.”
“Gue tau.”
“Kamu ngomong soal kursi.”
“Gue ngomong soal timing.”
“Kamu selalu ngomong soal timing!” Dan suaraku keluar lebih keras dari yang aku niatkan, dan aku melihat dia berkedip sekali. “Sebelas minggu, Gal. Sebelas minggu kamu bilang ‘nanti’, ‘besok’, ‘setelah nikahan’. Dan tiap kali ada alasannya. Dan alasannya selalu bagus. Selalu.”
“Karena alasannya emang bagus.”
“IYA. ITU MASALAHNYA.”
Aku berjalan ke jendela dan kembali lagi, karena aku tidak bisa berdiri diam.
“Kamu tau nggak rasanya gimana,” kataku, “duduk di meja panjang sama empat puluh satu orang dan bilang ‘nggak ada’ delapan kali? Kamu tau rasanya gimana punya sesuatu yang paling bagus di hidup aku dan tiap hari aku harus bilang itu nggak ada?”
Dia diam.
“Aku bukan orang yang bisa nyimpen, Gal. Aku kerjanya ngomong. Aku ngomong seharian tiap hari sama orang yang aku nggak peduli, dan satu-satunya hal yang aku pengen omongin adalah satu-satunya hal yang nggak boleh aku omongin.”
“Nes—”
“Dan aku mulai ngerasa,” dan di sini suaraku melakukan sesuatu yang tidak aku izinkan, “aku mulai ngerasa kayak ini nggak beneran ada. Kayak ini cuma sesuatu yang terjadi di mobil sama di apartemen kamu.”
Ruangan itu sangat sunyi.
“Ini beneran ada,” kata Gala.
“Aku tau.”
“Nes, ini beneran ada.”
“Aku TAU.” Aku menekan pangkal hidung dengan dua jari. “Tapi nggak ada satu pun orang di dunia yang bisa mastiin itu ke aku selain kamu. Dan itu berat. Itu berat banget buat satu orang.”
Dia berdiri.
Berjalan ke dapur. Menuangkan air ke dua gelas. Membawanya kembali dan meletakkan satu di depanku.
Dan aku ingin sekali marah pada gestur itu — pada betapa dia selalu, selalu melakukan hal kecil yang benar di saat aku ingin dia melakukan hal besar yang benar — tapi aku minum airnya, karena aku memang haus.
“Gue mau bilang sesuatu,” katanya. “Dan lo nggak akan suka.”
“Bilang.”
“Lo bikin protokol itu sebelas minggu lalu.”
“Iya.”
“Lo udah revisi tujuh kali.”
“...Iya.”
“Poin delapan baru muncul hari Senin.”
Aku meletakkan gelas itu.
“Tujuh revisi,” katanya. “Sebelas minggu. Nggak ada satu poin pun yang bunyinya ‘kasih tau mereka’. Sampai kemarin.”
“Kamu bilang aku nggak mau ngasih tau?”
“Gue bilang lo juga nunda.”
“Aku nunda karena kamu—”
“Nes.” Suaranya masih pelan. Itu bagian yang paling menyebalkan; dia tidak pernah menaikkan suaranya, dan itu membuatku terdengar seperti orang gila. “Lo bisa bilang ke Vio kapan aja. Lo nggak butuh izin gue. Vio itu sahabat lo delapan tahun. Lo bisa telepon dia sekarang.”
Aku berdiri di tengah ruangan dan tidak mengatakan apa-apa.
“Kenapa lo nggak?”
Dan aku ingin mengatakan sesuatu yang tajam, sesuatu yang menang, karena aku selalu menang dalam hal ini dan ini pekerjaanku dan aku dibayar untuk ini —
tapi yang keluar adalah kebenaran, dan kebenarannya jelek:
“Karena kalau aku bilang, ini jadi nyata. Dan kalau ini nyata, ini bisa gagal.”
Aku duduk di kursi meja makan.
“Kalau ini rahasia, nggak ada yang bisa ngeliat aku gagal,” kataku ke meja. “Aku pernah gagal di depan orang, Gal. Empat tahun lalu. Semua orang tau aku yang lebih sayang. Semua orang liat.”
Hening.
“Jadi kita berdua sama,” kataku.
“Nggak,” katanya.
“Nggak?”
“Beda.” Dia duduk di kursi seberang. “Lo takut ini gagal. Gue takut ini ngerusak.”
“Bedanya apa?”
“Bedanya, kalau lo takut gagal, artinya lo peduli sama kita.” Dia menatap gelasnya. “Kalau gue takut ngerusak, artinya gue masih mikir kita ini sesuatu yang bisa ngerusak.”
Aku mengangkat kepalaku.
“Gal.”
“Hm.”
“Itu—” Aku menelan. “Itu jelek banget.”
“Iya.”
“Kita ini bukan hal yang ngerusak.”
“Gue tau.”
“Kamu nggak tau.”
“Gue tau di sini,” dia mengetuk pelipisnya sekali. “Nggak tau di bagian lain.”
Kami duduk berhadapan di meja makan selama mungkin sepuluh menit tanpa bicara.
Bukan diam yang nyaman. Bukan diam kafe jam dua pagi. Diam yang lain, yang punya bobot, yang membuat suara kulkas terdengar terlalu keras.
Aku yang bicara duluan, karena selalu aku.
“Aku nggak mau berantem.”
“Gue juga nggak.”
“Kita berantem?”
“Kayaknya iya.”
“Ini berantem pertama kita.”
“Iya.”
“...Sebelas minggu. Lumayan.”
“Rata-rata pasangan tiga minggu.”
“Kamu nyari datanya?”
“Nggak.”
“KAMU NYARI DATANYA.”
Dan sesuatu di ruangan itu melunak sekitar sepuluh persen, dan aku membenci betapa mudahnya aku dilunakkan.
“Gal.”
“Hm.”
“Aku nggak bisa terus-terusan gini.”
“Gue tau.”
“Aku serius. Aku nggak lagi ngomong biar kamu tenang. Aku beneran nggak bisa.”
Dia mengangguk pelan.
“Sampai nikahan,” katanya. “Tiga belas hari.”
“Terus habis itu?”
“Habis itu kita bilang. Dua-duanya. Bareng.”
“Kamu janji?”
Dan dia melakukan sesuatu yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya: dia mengambil ponselnya, membuka kalender, dan mengetik sesuatu.
Lalu memutar layarnya ke arahku.
Sebuah acara. Tanggal: tiga hari setelah nikahan. Jam tujuh malam.
Judulnya: Kedai Sepatu. Bilang.
“Sekarang ada di kalender gue,” katanya. “Gue nggak pernah ngelewatin apa pun yang ada di kalender gue.”
Aku menatap layar itu.
Dan aku tahu — aku tahu, bahkan saat itu, dengan bagian dari diriku yang bekerja di bidang menjanjikan hal-hal kepada klien — bahwa memasukkan sesuatu ke kalender bukanlah hal yang sama dengan melakukannya.
Tapi aku ingin percaya. Dan orang yang ingin percaya adalah orang yang paling mudah dibohongi, terutama oleh dirinya sendiri.
“Oke,” kataku.
Dia mengantarku ke bawah jam sebelas.
Kami tidak berpegangan tangan di lift. Kami tidak berpegangan tangan di lorong parkir. Ada jarak sekitar empat puluh sentimeter di antara kami sepanjang jalan, dan jarak itu terasa seperti sesuatu yang punya suhu.
Aku masuk ke mobil. Menutup pintu. Menyalakan mesin.
Dan dia berdiri di sana — di tempat yang sama, dengan posisi yang sama, dengan tangan di saku — menunggu sampai lampu depanku menyala.
Seperti biasa.
Persis seperti biasa. Tidak berkurang satu milimeter pun.
Dan itulah yang akhirnya membuatku menangis, di dalam mobil, di lantai parkir bawah tanah, dengan mesin menyala dan lampu depan yang belum aku nyalakan.
Bukan karena bertengkar.
Karena orang yang baru saja bertengkar denganku tetap berdiri di sana menunggu lampuku menyala, dan akan terus berdiri di sana sampai aku menyalakannya, bahkan kalau aku butuh satu jam.
Aku menyalakan lampu depan.
Dia mengangkat tangan sekali, pendek.
Aku pulang.
Aku (23:41): gal
Aku (23:41): maaf ya
Aku (23:42): aku tadi keras
Aku (23:42): aku capek aja
Aku (23:43): bukan capek sama kamu
Aku (23:43): capek sama caranya
Tiga titik. Muncul. Hilang. Muncul.
Gala (23:49): gue baca 6x
Gala (23:50): lo nggak keras
Gala (23:50): lo bener
Gala (23:51): dan gue nggak bisa mikirin jawaban yang lebih bagus dari itu, jadi gue kirim ini aja
Aku membaca empat baris itu berkali-kali sambil berbaring di kasur dengan lampu masih menyala.
Empat baris. Untuk Gala, itu pidato.
Dan aku tertidur sambil memegang ponsel, dan aku tidak menyadari — sampai berminggu-minggu kemudian, waktu semuanya sudah hancur dan disusun ulang — bahwa tidak ada satu pun dari empat baris itu yang berbunyi “besok kita bilang.”
- 1 Jumat Keempat Puluh Tiga
- 2 Pasal Tiga
- 3 Survey Pertama
- 4 Pasal Dua Dilanggar Vio
- 5 Lembur
- 6 Fitting
- 7 Hujan, Satu Payung, Klise
- 8 Yang Merobek Duluan
- 9 Aturan Baru
- 10 Food Testing Kedua
- 11 Vio Menyelidik
- 12 Dapur
- 13 Yang Terakhir Mati
- 14 Souvenir
- 15 Telur
- 16 Angkatan
- 17 Poin Delapan reading
- 18 Lilin
- 19 Tujuh Hari
- 20 Empat Kursi
- 21 Gladi
- 22 Dua Kopi
- 23 Lobi
- 24 Kabel
- 25 Seratus Dua Puluh Delapan
- 26 Kursi Tamu
- 27 Jumat Keempat Puluh Delapan
- 28 Pasal Lima