← Obat Nyamuk

Chapter Fifteen

Telur

POV: Agnes

Filmnya jelek.

Itu penting untuk dicatat, karena semua yang terjadi setelahnya berakar pada fakta bahwa film yang kami pilih malam itu benar-benar jelek.

“Ini kenapa dia nggak telepon polisi aja.”

“Karena kalau dia telepon polisi, filmnya selesai.”

“Berarti filmnya jelek.”

“Iya.”

“Kenapa kita nonton?”

“Karena lo yang milih.”

“Aku milih berdasarkan poster.”

“Iya.”

“Posternya bagus.”

“Iya.”

Kami di apartemen Gala, di sofanya, hari Jumat malam — Jumat yang pertama dalam empat tahun tanpa Kedai Sepatu, karena Damar dan Vio sedang di Bandung untuk bertemu keluarga besar Vio.

Empat puluh delapan jam tanpa perlu berjarak satu meter.

Aku sudah merencanakan empat puluh delapan jam itu selama sembilan hari.

“Gal.”

“Hm.”

“Kamu tau nggak kenapa aku milih film jelek?”

“Kenapa.”

“Biar kita nggak fokus ke filmnya.”

Dan aku merasakan seluruh tubuhnya di sebelahku berubah — bukan bergerak, berubah, seperti sistem yang tiba-tiba menerima input yang tidak ada di dokumentasinya.

“Oh,” katanya.

“Iya.”

“Oke.”

“Kamu mau ngomong apa lagi?”

“Nggak ada.”

“Gal.”

“Filmnya masih jalan.”

“KAMU NGGAK PEDULI SAMA FILMNYA.”

“Sekarang gue peduli.”

Aku melempar bantal ke wajahnya. Dia menangkapnya dengan satu tangan, meletakkannya rapi di pangkuan — selalu, setiap kali, delapan tahun — dan kembali menonton film jelek itu dengan wajah orang yang sedang menyelamatkan diri.

Aku menarik bantal itu dari pangkuannya, meletakkannya di pangkuanku sendiri, dan berbaring dengan kepala di atasnya.

Yang berarti kepalaku di pangkuannya.

Dia sangat, sangat diam.

“Gal.”

“Hm.”

“Kamu boleh napas.”

“Gue lagi napas.”

“Kamu napas kayak orang yang lagi ngitung napasnya.”

“Iya.”

Dan lalu tangannya turun ke rambutku — pelan sekali, seperti orang yang tidak yakin apakah dia diizinkan — dan mulai bergerak.

Aku menutup mata.

Aku ingat berpikir: aku bakal inget malam ini.

Aku tidak ingat apa pun setelah itu.


Yang aku ingat berikutnya adalah cahaya.

Cahaya yang salah. Cahaya biru-abu yang cuma ada di jam-jam tertentu, dan otakku — yang bahkan dalam kondisi setengah sadar tetap otak seorang account executive — langsung tahu bahwa itu bukan cahaya jam sepuluh malam.

Aku membuka mata.

Ada wajah Gala sekitar dua puluh sentimeter dariku, tertidur, kepala menunduk ke sandaran sofa dengan sudut leher yang pasti akan menyiksanya seharian.

Kami masih di sofa. Aku masih di pangkuannya. Ada selimut di atasku yang tidak ada semalam.

Aku meraih ponselku dari meja.

Dan berhenti.

Karena ponselku tidak ada di meja. Ponselku ada di lantai di sebelah sofa, tersambung ke charger — charger yang bukan punyaku, yang kabelnya ditarik dari colokan di seberang ruangan, melintasi lantai, sampai ke posisi persis di mana tanganku akan menjangkaunya kalau aku bangun.

Baterainya delapan puluh sembilan persen.

Yang berarti seseorang memasangnya sekitar jam dua pagi.

Yang berarti seseorang bangun jam dua pagi, dengan kepala perempuan di pangkuannya dan leher yang pasti sudah sakit, dan hal pertama yang dia pikirkan adalah baterai ponsel orang lain.

06:14.

Dan di bawah angka itu, notifikasi:

Vio (05:40): NES

Vio (05:41): FITTING TERAKHIR JAM 8 JANGAN LUPA

Vio (05:41): BU RETNO BILANG KALAU TELAT DIA NGGAK MAU TANGGUNG JAWAB

Vio (05:42): JAM 8 YA

Vio (05:42): JAM DELAPAN NES

“GALA.”

Dia bangun dengan cara yang sangat khas: matanya terbuka penuh dalam satu detik, tanpa tahap mengantuk, seperti perangkat yang di-restart.

“Hm.”

“JAM ENAM LEWAT EMPAT BELAS.”

“Oke.”

“FITTING JAM DELAPAN.”

“Oke.”

“DI BUTIK. SAMA VIO. SAMA KAMU.”

Dan aku melihat momen di mana informasi itu selesai dimuat di kepalanya.

“...Oh.”

“IYA.”


Empat puluh menit berikutnya adalah bencana yang akan aku ceritakan ke cucuku.

Aku tidak punya baju ganti. Bajuku adalah baju kemarin, yang sudah tidur di sofa selama delapan jam, dan tidak ada satu pun bagian dari baju itu yang bisa muncul di depan Vio tanpa menimbulkan pertanyaan.

“Pakai baju gue.”

“Baju kamu ukuran tenda.”

“Ada yang kecil.”

“Kamu nggak punya yang kecil.”

“Ada.” Dia menghilang ke kamar dan kembali dengan kaus hitam polos. “Ini kekecilan buat gue.”

Aku memegangnya. “Ini pun masih kegedean.”

“Masukin ke celana.”

“KAMU TAU SOAL MASUKIN KE CELANA?”

“Gue punya dua kakak perempuan, Nes.”

Aku berlari ke kamar mandi.

Sementara itu, dari luar, aku mendengar suara-suara yang membuatku takut: lemari dibuka, kunci dicari, dan kemudian, entah kenapa, suara kompor menyala.

Aku keluar tujuh menit kemudian dengan kaus hitam yang dimasukkan ke celana kemarin dan rambut yang aku selamatkan dengan cara yang tidak akan aku jelaskan.

Gala berdiri di dapur.

Memasak.

“Gal, kita telat.”

“Tujuh belas menit lagi berangkat.”

“Kamu masak?”

“Lo belum makan dari kemarin jam delapan malem.”

“Aku bisa beli di jalan.”

“Lo nggak bakal beli.”

“Aku bisa—”

“Lo nggak pernah beli,” katanya, tanpa menoleh. “Lo selalu bilang bakal beli terus lo nggak beli terus jam dua siang lo ngeluh pusing.”

Aku berdiri di ambang dapur dengan satu sepatu terpasang.

“Gal.”

“Duduk.”

Aku duduk.


Telurnya gosong.

Bukan gosong sedikit. Gosong dengan cara yang membuat satu sisi berwarna hitam dan berbentuk seperti benua yang belum ditemukan.

“Kompor lo panas sebelah juga?”

“Kompornya nggak apa-apa.”

“Terus?”

“Gue lagi mikirin hal lain.”

“Mikirin apa?”

Dan dia meletakkan piring itu di depanku, dan mengambil garpu, dan memotong bagian yang paling hitam untuk dirinya sendiri sebelum aku sempat protes.

“Nggak penting,” katanya.

Kami makan berdiri di dapur, jam tujuh kurang sepuluh, dengan satu piring dan dua garpu, dan telur itu benar-benar tidak enak.

“Ini nggak enak,” kataku.

“Iya.”

“Ini beneran nggak enak, Gal.”

“Iya.”

“Kenapa kamu makan?”

“Karena gue yang bikin.”

“Itu bukan alasan.”

Dan Gala mengunyah bagian gosongnya dan berkata, dengan nada yang sama seperti dia menyebutkan spesifikasi:

“Enak, kok.”

“KAMU BARUSAN BILANG NGGAK ENAK.”

“Gue bilang ‘iya’.”

“‘Iya’ itu artinya setuju!”

“‘Iya’ itu artinya gue denger.”

Aku meletakkan garpuku dan menatapnya, dan dia balik menatapku, dan kami berdiri di dapurnya jam tujuh kurang sepuluh pagi dengan satu piring telur gosong di antara kami, dan sesuatu di dadaku berbunyi seperti pintu yang ditutup pelan.

“Gal.”

“Kita telat.”

“Iya.”

“Ayo.”

“Iya.”

Aku tidak bergerak.

Dia juga tidak.

Kami berdiri di sana empat detik lebih lama dari yang seharusnya, dan lalu dia mengambil piring itu dan meletakkannya di wastafel, dan aku memakai sepatuku yang satu lagi.


Kami sampai di butik jam delapan lewat empat.

Vio sudah di sana. Bu Retno sudah di sana. Damar sudah di sana, tertidur duduk di sofa, karena mereka baru pulang dari Bandung jam empat pagi.

“TELAT,” kata Vio.

“Macet.”

“Kalian dateng bareng?”

Aku merasakan lantai butik itu memiringkan diri.

“Nggak,” kataku, di detik yang sama Gala berkata:

“Iya.”

Kami saling menatap.

Poin dua dari Protokol: dilarang menjawab pertanyaan pribadi dengan jawaban yang sama persis.

Kami sudah terlalu patuh.

“Maksudnya,” kataku cepat, “kami ketemu di lampu merah.”

“Iya,” kata Gala. “Lampu merah.”

“Lampu merah yang mana?” tanya Vio.

“Yang deket sini.”

“Yang deket sini nggak ada lampu merah, Nes. Itu bunderan.”

“Bunderan yang ada lampu merahnya.”

Vio membuka mulut.

Dan kemudian — dan aku akan berterima kasih kepada semesta untuk ini seumur hidupku — Bu Retno keluar dari ruang belakang sambil mengangkat gaun pengantin yang sudah selesai, dan Vio berhenti bernapas, dan seluruh percakapan tentang bunderan menguap dari muka bumi.

Vio menangis. Bu Retno menangis. Damar bangun karena berisik, melihat gaunnya, dan langsung menangis juga meskipun dia belum sepenuhnya sadar.

“Kamu belum liat apa-apa,” kata Vio.

“Aku liat kamu nangis. Itu cukup.”

“Yang, gaunnya masih di hanger.”

“AKU TAU.”

Bu Retno menepuk lengan Damar dengan tisu. “Nanti pas hari-H gimana, Mas.”

“Saya bakal pingsan, Bu.”

“Jangan, Mas.”

“Saya nggak bisa janji.”

Aku berdiri di belakang dengan kaus hitam kebesaran yang dimasukkan ke celana kemarin.

Dan di sebelahku, dalam jarak resmi satu meter, Gala berkata pelan, tanpa menoleh:

“Kausnya kebalik.”

Aku menunduk.

Labelnya di depan.

Aku sudah memakainya seperti itu selama satu jam dua puluh menit.

“Kamu tau dari kapan?”

“Dari apartemen.”

“KENAPA KAMU NGGAK BILANG?”

“Kita telat.”

“GALA.”

“Dan lo keliatan bagus,” katanya, dan langsung berjalan ke arah Damar sebelum aku sempat memproses apa pun, meninggalkan aku berdiri sendirian di tengah butik dengan label kaus menghadap ke depan dan wajah yang, menurut cermin di sebelah kiriku, tidak bisa diselamatkan.