← Obat Nyamuk

Chapter Eight

Yang Merobek Duluan

POV: Agnes

Undangan Damar dan Vio berjumlah empat ratus lima puluh lembar, dicetak sendiri di percetakan Damar, dan datang dalam kondisi belum dilipat.

“Kenapa belum dilipat?”

“Mesin lipatnya rusak,” kata Damar lewat telepon, dengan suara orang yang sedang menghindari tanggung jawab dari jarak dua belas kilometer.

“Kamu punya percetakan, Mar.”

“Justru karena gue punya percetakan makanya gue tau mesinnya rusak.”

“Terus?”

“Terus gue mikir, ini kan undangan spesial. Undangan yang dilipat tangan itu ada nilainya. Ada sentuhan personalnya. Ada—”

“Ada empat ratus lima puluh lembar.”

“—ada cinta.”

Aku menutup telepon dan menatap tiga kardus di ruang tamuku.

Ponselku berbunyi lagi lima menit kemudian.

Gala: gue udah di jalan

Gala: damar telepon

Gala: katanya ada cinta yang harus dilipat


Kami mulai jam delapan malam.

Prosesnya begini: satu lembar diambil, dilipat tiga, dimasukkan ke amplop, disegel dengan stiker emas kecil bertuliskan D&V yang harus lurus karena Vio akan tahu kalau tidak lurus. Vio selalu tahu.

Aku melipat. Gala menyegel. Kami menemukan pembagian tugas itu dalam sepuluh menit pertama tanpa membicarakannya, dan dalam satu jam kami sudah menyelesaikan seratus dua puluh.

“Kita cepet,” kataku.

“Lo cepet.”

“Kamu juga cepet.”

“Gue nempel stiker. Monyet juga bisa.”

“Monyet nggak bisa lurus.”

“Monyet nggak peduli lurus. Itu bedanya.”

Aku tertawa dan menjatuhkan satu lembar undangan ke lantai, dan saat aku membungkuk mengambilnya, aku melihat kakinya. Kaus kaki abu-abu. Satu lubang kecil di ibu jari kanan.

Entah kenapa aku memikirkan lubang itu selama lima menit berikutnya.


Jam sepuluh, aku membuat mi instan untuk kami berdua karena isi kulkasku, aku sadari dengan malu, tidak jauh lebih terhormat daripada isi kulkasnya.

Kami makan di lantai, di antara kardus, dengan mangkuk di pangkuan.

“Gal.”

“Hm.”

“Kamu belum jawab.”

“Jawab apa.”

“Di tangga butik. Waktu aku nanya kenapa kamu selalu jalan di belakang.”

Dia berhenti mengunyah.

Itu bukan berhenti yang dramatis. Cuma jeda setengah detik, jenis jeda yang tidak akan diperhatikan siapa pun kecuali orang yang sudah menghabiskan delapan tahun mempelajari perbedaan antara diam-yang-biasa dan diam-yang-lain.

“Lo inget.”

“Aku inget semuanya, Gal. Itu pekerjaanku.”

“Pekerjaan lo bikin slide.”

“Pekerjaanku inget apa yang orang bilang terus nagih pas mereka lupa.”

Dia meletakkan mangkuknya di lantai. Memutarnya sedikit sehingga gagang sendoknya menghadap ke dalam, karena dia selalu melakukan itu, karena menurutnya gagang yang menonjol itu “nunggu disenggol”.

“Karena kalau gue di depan,” katanya, “gue nggak tau lo ketinggalan apa nggak.”

Aku memandanginya.

“Itu doang?”

“Itu doang.”

“Bohong.”

“Nes.”

“Kamu selalu jalan di belakang aku selama delapan tahun karena takut aku ketinggalan?”

“Iya.”

“Aku ini dua puluh lima tahun. Aku bisa jalan sendiri.”

“Iya.”

“Terus kenapa?”

Dan dia diam cukup lama sampai aku mulai menyesal bertanya.

“Karena dari belakang,” katanya akhirnya, “gue nggak perlu ngatur muka.”

Ada suara di dalam kepalaku yang berhenti total.

Seluruh ruangan berhenti. Mi di mangkukku berhenti. Suara AC berhenti. Kardus berhenti menjadi kardus.

“Ngatur muka gimana,” kataku, dan suaraku keluar salah, terlalu pelan, sama sekali bukan suara account executive.

“Ya gitu.”

“Gala.”

“Nes.” Dia mengangkat mangkuknya lagi. “Mi-nya dingin.”

Dan aku — untuk pertama kalinya dalam karier hidupku sebagai orang yang selalu menagih jawaban — membiarkannya.

Karena aku takut.

Bukan takut dia menjawab.

Takut aku salah dengar. Takut aku sedang menyusun sesuatu dari bahan yang tidak ada, seperti yang pernah aku lakukan empat tahun lalu, dan aku masih ingat persis bagaimana rasanya ketika bangunan itu roboh dan ternyata aku satu-satunya yang membangunnya.

Jadi aku berkata, “Iya, dingin,” dan kami menghabiskan mi kami dalam diam, dan melanjutkan melipat sampai jam setengah dua belas.


Empat ratus lima puluh selesai jam sebelas lewat empat puluh.

Gala berdiri, meregangkan punggungnya, dan mengambil jaketnya dari sandaran kursi.

“Gue balik.”

“Iya.”

“Sisanya besok Damar yang antar ke pos.”

“Iya.”

“Nes.”

“Hm?”

Dia sudah di depan pintu. Tangannya sudah di gagangnya. Dan dia berhenti di sana, membelakangi aku, dengan bahu yang aku lihat naik sekali — satu tarikan napas yang terlalu dalam untuk orang yang mau pulang.

“Pasal Tiga,” katanya.

Jantungku menabrak sesuatu.

“Kenapa Pasal Tiga?”

“Gue mau ngelanggar.”

Dia masih membelakangi aku.

“Gue udah mikirin ini tiga minggu,” katanya, ke pintu, dengan suara paling datar yang pernah dia gunakan untuk kalimat paling tidak datar yang pernah aku dengar. “Gue udah nyusun semua alasan buat nggak. Alasannya bagus semua. Gue cek dua kali.”

“Gal—”

“Alasan pertama, lo yang nulis pasal itu. Berarti lo mau ada pasal itu. Berarti gue nggak boleh.”

“Gala.”

“Alasan kedua, Damar mau nikah. Gue nggak mau jadi hal yang bikin rusak. Gue paling nggak mau jadi—” Dia berhenti. Menarik napas lagi. “Gue paling nggak mau jadi orang yang bikin repot.”

Dan di situ suaranya, untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, retak sedikit di ujung.

“Alasan ketiga,” katanya, “kalau gue salah, gue kehilangan hari Jumat. Dan gue nggak punya hari Jumat yang lain.”

Aku berdiri di tengah ruang tamu dengan empat ratus lima puluh amplop di sekelilingku dan tidak bisa bergerak sama sekali.

“Terus kenapa kamu ngomong sekarang?” kataku.

“Karena tadi lo nanya soal jalan di belakang.” Dia akhirnya berbalik. “Dan gue jawab jujur. Dan pas gue jawab jujur, lo ngeliat gue kayak gitu. Dan gue nggak bisa mikir hal lain sejak itu.”

“Kayak gitu gimana?”

“Nes.”

“Kayak gitu gimana, Gal?”

“Kayak lo lagi nunggu gue bilang sesuatu,” katanya. “Dan gue nggak bilang. Dan lo kelihatan—”

Dia berhenti. Mencari kata. Untuk seseorang yang bekerja dengan bahasa yang harus presisi, dia jelas sedang kehabisan.

“—kecewa,” katanya.

Aku menutup mulut dengan tangan.

“Jadi gue mau bilang sekarang.” Dia menegakkan bahunya, dan aku bisa melihat itu memakan tenaga, seperti orang mengangkat sesuatu yang jauh lebih berat daripada yang terlihat. “Gue suka sama lo. Udah lama. Gue nggak tau persis kapan mulainya karena gue baru sadar minggu lalu jam tiga pagi di parkiran kafe, dan pas gue sadar, itu udah kayak sesuatu yang udah lama jalan tanpa ada yang nutup pintunya.”

“Gal—”

“Gue tau ini ngerusak.” Suaranya cepat sekarang, cepat untuk ukuran Gala, yang berarti dia sedang panik. “Gue tau ini ngerusak grup, gue tau ini ngerusak jadwal nikahan, gue tau ini bikin lo harus mikirin hal yang sebenernya nggak perlu lo pikirin. Gue tau gue ngganggu—”

“Kamu nggak ganggu.”

Ruangan itu diam.

Aku tidak merencanakan kalimat itu. Kalimat itu keluar dari suatu tempat di dalam diriku yang tidak melalui prosedur apa pun, yang tidak diperiksa, yang tidak dibuatkan sistemnya.

Gala berdiri di depan pintu dengan jaket di satu tangan dan menatap aku, dan wajahnya — wajah yang punya tiga ekspresi total dan dua di antaranya adalah tidak ada ekspresi — melakukan sesuatu yang belum pernah aku lihat.

“Apa?” katanya.

“Kamu denger.” Aku berjalan ke arahnya, melangkahi kardus, menendang satu tumpukan amplop tanpa peduli. “Kamu nggak pernah. Delapan tahun, Gal. Delapan tahun kamu duduk di sebelah aku dan kamu mikir kamu ngerepotin?”

“Nes—”

“Kamu tau nggak kenapa aku bikin Pasal Tiga?”

Dia diam.

“Bukan buat kamu,” kataku. “Aku bikin buat aku. Karena aku takut. Karena aku pernah jadi orang yang sayangnya lebih gede dan itu memalukan dan aku nggak mau ngerasain itu lagi seumur hidup aku. Jadi aku bikin pagar. Terus aku berdiri di depan pagarnya tiap hari kayak orang bego.”

Aku berhenti di depannya. Cukup dekat untuk melihat bahwa dia menahan napas.

“Dan kamu,” kataku, “dari semua orang di dunia, kamu, orang yang nggak pernah ngelanggar apa pun, orang yang ngisi formulir bank pakai huruf cetak—”

“Nes.”

“—kamu yang duluan robek.”

Dan Gala Prasetya, dua puluh tujuh tahun, software engineer, orang yang tidak pernah mengambil ruang di ruangan mana pun seumur hidupnya, menjatuhkan jaketnya ke lantai dan berkata, dengan suara yang hampir tidak terdengar:

“Boleh?”

Satu kata.

Dan aku mengangguk sebelum dia selesai mengucapkannya.


Laptopku berdering jam dua belas kurang lima menit.

Kami sedang duduk di lantai, bersandar ke sofa, di antara reruntuhan empat ratus lima puluh amplop, dan tanganku ada di tangannya dan aku belum berhenti tersenyum selama sebelas menit dan pipiku mulai sakit.

Layar menyala: DAMAR (VIDEO CALL).

“JANGAN DIANGKAT,” bisikku.

“Kenapa?”

“Karena mukaku.”

“Muka lo kenapa?”

“MUKAKU LAGI KAYAK GINI, GAL.”

Dia melihat wajahku selama satu detik penuh dan berkata, sangat pelan, “Oh.”

Deringnya berhenti. Lalu mulai lagi. Damar tidak pernah menyerah pada panggilan pertama; itu salah satu dari banyak hal yang membuatnya menyebalkan dan tidak tergantikan.

“Angkat,” kataku akhirnya, menegakkan punggung, menarik napas. “Angkat aja. Aku bisa.”

“Lo yakin?”

“Aku account executive. Aku pernah presentasi sambil demam tiga puluh sembilan derajat.”

Aku mengangkatnya.

“WOI!” Wajah Damar memenuhi layar, terlalu dekat seperti biasa, dengan Vio menyembul di sudut bawah. “UDAH BERAPA?”

“Empat ratus lima puluh. Selesai.”

“SEMUA?”

“Semua.”

“SUMPAH?” Damar memutar kamera ke arah Vio. “YANG, MEREKA SELESAI SEMUA.”

“KALIAN MALAIKAT,” teriak Vio.

“Kami manusia yang punya Pasal Satu,” kataku.

Dan selama tiga menit berikutnya aku berbicara dengan dua sahabatku tentang stiker emas, ongkos kirim pos, dan apakah undangan untuk om Damar harus dikirim atau diantar langsung, dengan suara normal, dengan wajah normal, dengan tempo normal.

Sementara di bawah layar, di luar bingkai kamera, di antara amplop-amplop yang berserakan di lantai —

jari-jari kami bertaut.

Dan setiap kali Damar berbicara terlalu lama, ibu jari Gala bergerak sekali, pelan, di punggung tanganku.

“Oke, kita tutup ya,” kata Damar akhirnya. “Kalian tidur gih. Makasih banget, sumpah. Kalian berdua tuh—” dia menggeleng-geleng, “—kalian berdua tuh partner terbaik yang gue punya.”

“Iya,” kataku.

“Serius. Nggak ada yang lain.”

“Iya, Mar.”

“Ya udah. Nite.”

Layar mati.

Ruangan kembali gelap kecuali lampu meja.

Aku menatap layar hitam itu selama beberapa detik, masih tersenyum, dan senyum itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang lain — sesuatu yang tidak punya nama, yang duduk di dada agak ke kiri.

“Gal.”

“Hm.”

“Kita baru aja bohong ke mereka.”

“Iya.”

“Baru sebelas menit.”

“Dua belas.”

Aku menoleh ke arahnya. Dia sedang menatap layar hitam laptop juga, dengan ekspresi yang sama sekali tidak bisa aku baca.

Lalu tangannya mengeratkan genggaman, sedikit saja, dan dia berkata:

“Besok gue pikirin caranya.”

“Caranya apa?”

“Caranya biar nggak bohong.”

Dan aku menyandarkan kepala ke bahunya — bahu yang tiga hari lalu basah kuyup di bawah payung dua puluh ribu, sepuluh sentimeter dari tanganku — dan berkata:

“Besok.”

Kami berdua tahu, bahkan saat itu, bahwa “besok” adalah kata yang sangat fleksibel.