Chapter Fourteen
Souvenir
POV: Agnes
Damar mengalami krisis souvenir pada minggu kelima sebelum hari-H.
Krisis itu dimulai dari sebuah kalimat yang diucapkan sepupunya di acara keluarga: “Souvenir nikahan itu yang penting kepakai. Kalau nggak kepakai, orang buang.”
Kalimat itu masuk ke kepala Damar dan tidak pernah keluar lagi.
“Kipas nggak kepakai,” katanya di grup chat, jam sebelas malam. “Ruangan ber-AC.”
Vio: yang, tidur
Damar: gantungan kunci juga nggak kepakai
Damar: orang zaman sekarang kuncinya dikit
Vio: YANG
Damar: tumbler kepakai
Damar: tapi tumbler mahal
Damar: 450 tumbler itu berapa
Damar: @Gala itung dong
Gala: banyak
Damar: GAL
Dan begitulah minggu itu dimulai: dengan seorang laki-laki dua puluh tujuh tahun yang tidak bisa tidur karena memikirkan apakah benda yang dia berikan kepada empat ratus lima puluh orang akan berakhir di tempat sampah.
Yang, kalau aku jujur, adalah kekhawatiran yang cukup masuk akal untuk seseorang yang seluruh usahanya adalah membuat sesuatu yang dicetak dan disimpan.
Hari Sabtu, kami ke pusat grosir souvenir di daerah yang aku sendiri tidak tahu namanya, di sebuah ruko tiga lantai yang seluruh isinya adalah benda-benda kecil dengan tempat untuk menempelkan nama orang.
Damar berjalan di antara rak-rak itu seperti orang mencari makam.
“Ini gimana?”
“Itu talenan.”
“Talenan kepakai.”
“Talenan ukuran sepuluh senti nggak kepakai, Mar.”
“Buat lemon.”
“Siapa yang motong lemon.”
“Orang.”
“Orang mana.”
“Orang yang motong lemon!”
Vio memijat pelipisnya.
“Ini gimana?” Damar mengangkat benda berikutnya.
“Itu sikat.”
“Sikat kepakai.”
“Itu sikat sepatu.”
“Sepatu kepakai.”
“Mar, kamu mau ngasih empat ratus lima puluh orang sikat sepatu di acara nikahan kamu.”
“Kenapa nggak?”
“Karena orang bakal mikir kamu ngomentarin sepatu mereka.”
Damar meletakkan sikat itu kembali dengan sangat pelan.
Aku dan Gala berdiri di lorong lain, di depan rak berisi kotak-kotak kayu kecil, dalam jarak resmi satu meter.
“Dia bakal beli talenan,” kata Gala.
“Nggak.”
“Dia bakal beli talenan.”
“Vio bakal ngelarang.”
“Vio udah nyerah tiga rak yang lalu.”
Aku menoleh. Vio sedang duduk di kursi plastik di ujung lorong dengan ponsel di tangan dan mata yang sepenuhnya kosong.
“...Dia bakal beli talenan,” kataku.
Krisisnya berakhir jam dua siang dengan keputusan membeli empat ratus lima puluh set alat makan kayu, dan Damar dalam kondisi euforia yang berbahaya.
“Ini kepakai. Ini kepakai seumur hidup.”
“Kayu bisa jamuran, Mar.”
“Nggak kalau dirawat.”
“Kamu ngasih empat ratus lima puluh orang tanggung jawab merawat kayu.”
“Gue ngasih mereka sesuatu yang berarti.”
Kami memuat kardus-kardus itu ke mobilku, karena mobil Damar sudah penuh oleh sampel yang tidak jadi dibeli tapi tetap dia bawa “buat arsip”.
Dan waktu Damar menutup bagasi, dia berhenti.
“Ini jaket siapa?”
Aku merasakan seluruh sistem sarafku berhenti bekerja secara bersamaan.
Karena aku tahu jaket apa itu. Jaket abu-abu, resleting rusak sebelah, yang sudah tiga minggu ada di kursi belakang mobilku karena Gala meninggalkannya di sana malam kami dari toko bunga dan aku tidak pernah mengembalikannya, dan yang — ini bagian yang paling memberatkan — aku pakai kalau AC kantor terlalu dingin.
“Oh,” kataku. “Itu jaketku.”
“Ini gede banget.”
“Aku suka oversize.”
“Ini gede banget, Nes. Ini kayak punya cowok.”
“Emang punya cowok.”
Damar mengangkat kepalanya.
Vio, dari kursi penumpang mobil Damar, memutar badannya ke belakang dengan kecepatan yang tidak alami.
“Punya kakakku,” kataku.
“Kakak lo di Surabaya.”
“Iya, dia ninggalin waktu lebaran.”
“Lebaran itu delapan bulan lalu.”
“Iya. Makanya masih di sini. Karena dia di Surabaya.”
Damar memegang jaket itu, membalikkannya, memeriksa resletingnya.
Dan aku berdiri di parkiran ruko souvenir dan merasakan waktu berjalan dengan kecepatan yang salah, dan di sudut mataku aku bisa melihat Gala yang sedang mengangkat kardus terakhir dan sama sekali tidak mengubah ekspresinya sedikit pun.
“Kakak lo namanya siapa?” tanya Damar.
“Aldi.”
“Aldi berapa tinggi?”
“KENAPA KAMU NANYA TINGGI ORANG.”
“Karena jaketnya gede.”
“Mar,” kata Gala, meletakkan kardus, “ini alat makannya ada yang retak.”
Dan Damar Prayoga menjatuhkan jaket itu ke tanah seperti orang menjatuhkan puntung rokok di pom bensin.
“RETAK?”
“Satu set.”
“MANA.”
“Sini.”
Mereka pergi. Dua laki-laki dewasa membungkuk di atas kardus di parkiran ruko, memeriksa empat ratus lima puluh set alat makan kayu satu per satu selama dua puluh menit.
Aku memungut jaket itu dari tanah.
Dan waktu aku berdiri lagi, Vio sudah di sebelahku.
“Aldi,” katanya.
“Iya.”
“Kakak kamu namanya Aldo, Nes.”
Kami saling menatap selama beberapa detik.
“Aldi itu panggilan,” kataku.
“Panggilan Aldo itu Aldo.”
“Vi.”
“Aku cuma ngasih tau.” Dia menepuk lenganku dua kali, pelan. “Kalau nanti kamu mau ngarang lagi, mending konsisten. Damar nggak bakal sadar. Aku sadar.”
Lalu dia berjalan ke arah mobil Damar dan berteriak “YANG, ITU NGGAK RETAK, ITU EMANG MODELNYA” dengan volume penuh, dan urusan alat makan kayu itu selesai dalam empat detik.
Kami bertemu jam delapan malam di titik netral.
Aku sudah menunggu di dalam mobil selama sepuluh menit dan aku sudah menghabiskan sepuluh menit itu untuk menyusun keluhan.
Dia mengetuk kaca. Aku membuka kunci pintu. Dia masuk.
“‘Ini alat makannya ada yang retak,’” kataku.
“Efektif.”
“Kamu bohong ke Damar.”
“Gue nyelametin lo.”
“Kamu bohong ke Damar tentang alat makan.”
“Gue nyelametin lo dari bohong yang lebih gede.”
“Itu—” Aku membuka mulut. Menutupnya. “Oke, itu bener.”
Aku menyandarkan kepala ke setir.
“Vio tau,” kataku.
“Gue tau.”
“Kamu tau?”
“Dia tau dari fitting.”
Aku mengangkat kepala. “Kamu tau dia tau dari fitting?”
“Dia nanya gue soal keponakan gue lima kali beruntun di kedai,” kata Gala. “Orang nggak nanya lima kali kalau nggak nyari sesuatu.”
“Terus kenapa kamu nggak bilang?”
“Karena lo lagi seneng.”
Aku menoleh ke arahnya.
Dia sedang melihat lurus ke depan, ke toko bunga yang tutup, dengan tangan di lutut.
“Tiga minggu terakhir lo ketawa terus,” katanya. “Gue nggak mau ngasih lo bahan buat mikir.”
“Gal, itu informasi penting.”
“Iya.”
“Kamu nyimpen informasi penting dari aku karena aku lagi seneng?”
“Iya.”
“Itu nggak boleh.”
“Iya.”
“Kamu nggak boleh gitu.”
“Iya.”
“Kamu bilang ‘iya’ terus.”
“Karena lo bener.”
Aku menutup wajah dengan kedua tangan.
“Kamu ngeselin banget,” kataku ke telapak tanganku.
“Iya.”
Kami duduk di sana selama satu jam. Kami sekarang punya kebiasaan itu — dua jam di kursi depan Honda Jazz 2016 di depan toko bunga yang tutup, membicarakan hal-hal yang tidak penting, seperti dua orang yang tidak punya rumah padahal kami punya dua.
“Gal.”
“Hm.”
“Kenapa kita selalu di sini?”
“Karena ini titik netral.”
“Kita bisa di apartemen kamu. Nggak ada yang tau.”
Dia diam.
“Gal?”
“Gue suka di sini.”
“Kenapa?”
Dan dia menunjuk ke arah toko bunga yang tutup — plang kayunya sudah miring, tanamannya sudah lama mati, ada spanduk sewa yang sudah pudar.
“Karena tempat ini nggak dipakai siapa-siapa,” katanya. “Terus kita pakai.”
Aku memandangi toko itu.
Delapan minggu terakhir, aku sudah memarkir mobil di depan toko itu tiga puluh satu kali. Aku tidak pernah sekali pun benar-benar melihatnya.
“Kamu tau nggak,” kataku, “kadang kamu ngomong satu kalimat yang bikin aku harus mikir tiga hari?”
“Nggak.”
“Kamu tau.”
“Nggak.”
“GALA.”
Jam sembilan lewat, aku memutuskan untuk membalas dendam.
“Gal.”
“Hm.”
“Tadi kamu panik nggak?”
“Kapan.”
“Waktu Damar megang jaket kamu.”
“Nggak.”
“Bohong.”
“Nggak panik.”
“Gal, aku ngeliat kamu. Kamu ngangkat kardus, terus kamu berhenti setengah detik.”
“Itu kardusnya berat.”
“Itu kardus sendok kayu.”
“Empat ratus lima puluh.”
“KAMU PANIK.”
Dan aku memutar tubuhku di kursi menghadap dia, dan mencondongkan badan sedikit, dan menggunakan nada yang selama ini terbukti seratus persen efektif — nada rendah, pelan, dengan senyum yang aku tahu bekerja:
“Ngaku aja, Mas. Kamu panik.”
Aku menunggu telinganya merah.
Aku selalu menunggu telinganya merah. Itu ritualku. Itu sumber kebahagiaanku sejak lima minggu lalu.
Gala menoleh.
Dia menoleh, dan menatapku dari jarak dua puluh sentimeter, dan berkata — dengan suara yang sama sekali datar, tanpa jeda, tanpa satu milimeter pun perubahan di wajahnya:
“Gue panik. Bukan karena Damar.”
“...Terus?”
“Karena lo pakai jaket gue ke kantor tiap hari dan lo nggak pernah bilang, dan gue baru tau tadi, dan gue mikirin itu terus sampai sekarang.”
Ada bunyi di dalam kepalaku seperti sesuatu yang jatuh dari rak.
“Aku—” Aku berhenti. “Kamu tau dari mana aku pakai ke kantor.”
“Ada tempelan parkir kantor lo di sakunya.”
“Aku—”
“Tiga lembar. Tiga hari beda.”
“Gala—”
“Gue simpen,” katanya.
Lalu dia membuka pintu mobil, keluar, memasang helmnya, dan menunggu — seperti biasa, selalu — sampai lampu depanku menyala.
Aku tidak menyalakan lampu depanku selama empat menit.
Karena aku tidak bisa menemukan sakelarnya.
Karena tanganku tidak bekerja.
Karena aku, Agnes, dua puluh lima tahun, pemegang rekor kemenangan sepuluh berbanding satu selama lima minggu berturut-turut, baru saja dihancurkan secara total oleh seorang mas-mas IT dengan tiga lembar tempelan parkir.
- 1 Jumat Keempat Puluh Tiga
- 2 Pasal Tiga
- 3 Survey Pertama
- 4 Pasal Dua Dilanggar Vio
- 5 Lembur
- 6 Fitting
- 7 Hujan, Satu Payung, Klise
- 8 Yang Merobek Duluan
- 9 Aturan Baru
- 10 Food Testing Kedua
- 11 Vio Menyelidik
- 12 Dapur
- 13 Yang Terakhir Mati
- 14 Souvenir reading
- 15 Telur
- 16 Angkatan
- 17 Poin Delapan
- 18 Lilin
- 19 Tujuh Hari
- 20 Empat Kursi
- 21 Gladi
- 22 Dua Kopi
- 23 Lobi
- 24 Kabel
- 25 Seratus Dua Puluh Delapan
- 26 Kursi Tamu
- 27 Jumat Keempat Puluh Delapan
- 28 Pasal Lima