Chapter Ten
Food Testing Kedua
POV: Agnes
Katering pertama kalah karena sup buntutnya terlalu banyak. Katering kedua bernama Dapur Rasa Ibu dan berlokasi di lantai empat sebuah gedung perkantoran yang liftnya hanya berhenti di lantai genap.
“Kenapa lift-nya begitu?”
“Hemat energi, Mbak,” kata satpam di lobi.
“Tapi ini lantai empat. Empat itu genap.”
Satpam itu menatapku dengan tatapan orang yang sudah menjawab pertanyaan ini enam ratus kali. “Yang genap juga nggak semua, Mbak.”
Kami naik tangga.
Food testing kedua berjalan lebih cepat karena Vio, setelah trauma dua puluh dua hidangan, membuat aturan baru: maksimal delapan.
Yang tidak dia perhitungkan adalah Damar.
“Ini yang mana yang pakai kecombrang tadi?”
“Nomor tiga, Mas.”
“Boleh nomor tiga lagi?”
“Boleh, Mas.”
“Boleh dua?”
“Damar,” kata Vio.
“Ini buat perbandingan, Yang.”
“Perbandingan sama apa?”
“Sama nomor tiga yang tadi.”
“Itu SAMA.”
“Makanya bisa dibandingin.”
Aku menunduk ke piringku. Di sebelahku, Gala berkata, dengan suara yang cuma bisa didengar dalam radius setengah meter:
“Dia lagi cari alasan buat makan dua.”
“Aku tau.”
“Vio juga tau.”
“Vio pura-pura nggak tau.”
“Vio bakal ngizinin.”
“Vio bakal ngizinin,” aku mengangguk.
“Ya udah, ambil dua,” kata Vio.
Kami berdua menunduk ke piring masing-masing pada saat yang sama.
Dan di bawah meja, dalam jarak yang tidak melanggar Protokol Poin Satu karena kami sedang duduk dan poin satu hanya mengatur posisi berdiri — sebuah celah yang aku temukan tadi malam dan aku sangat bangga padanya —
sisi luar sepatuku menyentuh sisi luar sepatunya.
Dia tidak bergerak.
Aku juga tidak.
Kami menyelesaikan delapan hidangan seperti itu, dan aku memberikan penilaian tertulis yang sepenuhnya tidak bisa dipertanggungjawabkan, dan waktu Vio bertanya pendapatku tentang nomor enam, aku berkata “gurih” dengan sangat meyakinkan meskipun aku tidak bisa mengingat satu pun hal tentang nomor enam.
Protokol Poin Empat berbunyi: perjalanan pulang dilakukan terpisah, dengan titik temu di lokasi netral.
Titik netral yang aku tentukan adalah ujung Jalan Prapanca, dua ratus meter dari gedung, di depan sebuah toko bunga yang sudah tutup.
Aku memutar dua blok. Aku benar-benar memutar dua blok, seperti orang di film, sambil sesekali melihat spion untuk memastikan mobil Damar tidak mengikuti — padahal Damar tidak punya alasan apa pun untuk mengikutiku dan sedang menuju arah yang berlawanan.
Aku sampai di titik temu jam setengah delapan.
Gala sudah di sana.
Motornya diparkir menghadap keluar, dan dia berdiri di sebelahnya dengan dua gelas plastik di tangan.
Aku menurunkan kaca.
“Kamu udah lama?”
“Sepuluh menit.”
“Kok cepet?”
“Gue lewat belakang.”
“Kamu nggak muter dua blok?”
“Kenapa harus muter dua blok?”
Aku memutuskan untuk tidak menjawab itu.
Dia menyerahkan satu gelas lewat jendela. Es kopi. Aku menyedotnya.
Dan berhenti.
“Ini less sugar.”
“Iya.”
“Aku nggak bilang less sugar.”
“Iya.”
“Gal.”
“Hm.”
Dia sedang menyedot kopinya sendiri sambil melihat ke arah lampu jalan, dengan ekspresi orang yang menunggu bus.
“Kamu tau dari kapan?”
“Tau apa.”
“Bahwa aku minum less sugar.”
Dia berpikir. Benar-benar berpikir, dengan cara yang membuatku ingin mengguncang bahunya.
“Nggak inget,” katanya. “Lama.”
“Lama itu berapa?”
“Nes, ini kopi.”
“Ini bukan kopi.”
“Ini kopi.”
“GALA.”
Dan dia menoleh dan melihat wajahku, dan sesuatu di wajahnya melunak sedikit — bukan tersenyum, tapi bergerak — dan dia berkata:
“Waktu lo pesen di kedai terus lo bilang ke masnya ‘jangan manis-manis banget’ terus lo bilang lagi ‘ya udah manis dikit gapapa’ terus lo bingung sendiri. Gue inget mukanya.”
“Kapan itu.”
“Lama.”
“KAPAN.”
“Sebelum Damar jadian sama Vio.”
Aku duduk di kursi pengemudi dengan es kopi less sugar di tangan dan tidak bisa memproses informasi itu.
Sebelum Damar jadian dengan Vio.
Itu lebih dari empat tahun lalu.
Empat tahun. Empat tahun orang ini memesan es kopiku dengan benar tanpa pernah mengumumkan bahwa dia sedang melakukannya, dan aku tidak pernah — tidak sekali pun — menyadarinya, karena kopiku selalu benar dan aku tidak pernah bertanya kenapa hal yang benar itu benar.
Dan tiba-tiba, di dalam mobil di depan toko bunga yang tutup, seluruh delapan tahun terakhir hidupku disusun ulang.
Botol air yang selalu diserahkan padaku lebih dulu. Gelas yang selalu digeser menjauh dari laptop. Sendok yang selalu diputar gagangnya ke dalam. Sisi jalan yang selalu — selalu, aku baru sadar, selalu — dia ambil, sisi yang dilewati kendaraan.
Delapan tahun.
Bukan sejak lamaran Damar. Bukan sejak kontrak. Bukan sejak kap mobil di parkiran.
Delapan tahun.
“Nes.”
“Jangan ngomong dulu.”
“Kenapa?”
“Karena aku lagi ngitung ulang seluruh hidupku dan kamu bakal ngerusak.”
Dia diam dengan patuh selama sekitar dua puluh detik.
“Udah?”
“Belum.”
Dia diam lagi.
“Gal.”
“Hm.”
“Masuk mobil.”
Kami duduk di mobilku selama satu jam empat puluh menit di depan toko bunga yang tutup, dan ini adalah kencan pertama kami, dan tempatnya adalah kursi depan sebuah Honda Jazz keluaran 2016.
Aku tidak akan menukarnya dengan apa pun.
“Ini nggak nyaman,” katanya di menit kesepuluh.
“Kamu kegedean.”
“Gue rata-rata.”
“Kursi ini yang rata-rata. Kamu yang kegedean.”
“Kursi lo maju sepuluh senti dari normal.”
“Karena aku pendek.”
“Iya.”
“Kamu nggak boleh bilang ‘iya’ dengan cepet gitu.”
“Terus gue harus bilang apa.”
“Kamu harus bilang ‘nggak kok, kamu nggak pendek’.”
“Tapi lo pendek.”
“GALA.”
Dia meminum kopinya. Aku menendang lututnya. Dia tidak bergerak.
“Gal.”
“Hm.”
“Kita ini lagi kencan.”
“Iya.”
“Di mobil.”
“Iya.”
“Di depan toko bunga yang tutup.”
“Iya.”
“Kamu nggak merasa ini menyedihkan?”
Dia memikirkan itu dengan serius, yang mana adalah hal yang selalu dia lakukan dan yang selalu membuatku ingin memukul dan memeluknya secara bersamaan.
“Nggak,” katanya.
“Kenapa nggak?”
“Karena gue nggak punya pembandingnya.”
“Maksudnya?”
“Gue belum pernah kencan.”
Aku memutar tubuhku di kursi supaya menghadap dia sepenuhnya, yang di dalam Honda Jazz keluaran 2016 adalah manuver yang membutuhkan perencanaan.
“Kamu dua puluh tujuh tahun.”
“Iya.”
“Kamu belum pernah kencan?”
“Gue pernah pacaran. Kelas tiga SMA. Empat bulan.” Dia menyedot kopinya. “Kami cuma ketemu di sekolah. Terus dia bilang gue kayak nggak ada.”
Ada sesuatu yang mengencang di tenggorokanku.
“Dia bilang gitu?”
“Iya.”
“Itu jahat.”
“Itu bener.”
“Itu NGGAK bener, Gal.”
“Nes.” Dia meletakkan gelasnya di dudukan. “Waktu itu bener. Gue emang nggak ada. Gue nggak tau caranya ada.”
Dan kemudian, tanpa peringatan apa pun, dia berkata:
“Gue suka lo pendek.”
Empat kata.
Diucapkan dengan nada yang persis sama seperti dia mengucapkan “kursi lo maju sepuluh senti dari normal”.
Aku duduk sangat diam.
“Ulangi,” kataku.
“Nggak.”
“Sekali aja.”
“Nggak.”
“Gala—”
“Gue nggak suka ngulang.”
Dan dia menyedot kopinya sampai berbunyi, dan menatap lurus ke depan, ke toko bunga yang tutup, dengan telinga yang merah menyala di bawah lampu jalan.
Aku menutup wajah dengan kedua tangan dan mengeluarkan suara yang tidak akan aku deskripsikan.
Skor malam itu: aku sepuluh, dia satu.
Yang satu itu menghancurkan aku sampai jam dua pagi.
Kami hampir mati jam sembilan lewat.
Ada ketukan di kaca. Aku melompat setinggi tiga puluh sentimeter di kursi yang tidak memungkinkan seseorang melompat.
Seorang satpam. Senter di tangan.
Aku menurunkan kaca dengan senyum profesional terbaik yang pernah aku produksi.
“Selamat malam, Pak.”
“Malam, Mbak. Maaf, ini parkir di sini agak lama ya?”
“Iya, Pak, maaf. Ini lagi—” otakku berputar dengan kecepatan penuh, “—lagi nunggu jemputan.”
“Nunggu jemputan?” Satpam itu melihat ke arah Gala. Lalu ke arah motor Gala yang terparkir tiga meter di depan. Lalu kembali ke aku.
“Iya.”
“Mbak bawa mobil, Masnya bawa motor.”
“Iya.”
“Terus yang dijemput siapa?”
Hening.
“Saya,” kata Gala.
Satpam itu mengarahkan senternya ke Gala.
“Motor saya mogok,” kata Gala, dengan wajah paling datar di alam semesta. “Itu motornya. Sekarang lagi nunggu derek.”
“Derek buat motor?”
“Ada.”
“Baru tau saya.”
“Baru ada.”
Satpam itu berdiri di sana selama tiga detik yang terasa seperti tiga puluh.
“Ya udah,” katanya akhirnya. “Tapi jangan lama-lama ya, Mbak, Mas. Ini daerah sini rawan.”
“Siap, Pak.”
“Oh iya,” dia menoleh lagi. “Mas ini yang temennya Pak Damar bukan? Yang punya percetakan?”
Aku merasakan seluruh darah di tubuhku pindah ke suatu tempat.
“Iya, Pak,” kata Gala.
“Wah! Saya sering nganterin dokumen ke sana. Salam ya, Mas.”
“Siap.”
Satpam itu pergi.
Aku menunggu sampai dia berbelok di ujung jalan, lalu menoleh ke Gala dengan sangat, sangat pelan.
“‘Derek buat motor’?”
“Ada.”
“NGGAK ADA, GAL.”
“Ada. Gue pernah lihat.”
“KAMU HAMPIR BIKIN KITA KETAHUAN GARA-GARA DEREK.”
“Yang hampir bikin ketahuan itu ‘nunggu jemputan’,” katanya. “Lo bawa mobil.”
Dia benar.
Dia benar, dan itu jauh lebih menyebalkan daripada kalau dia salah.
Aku menyalakan mesin dengan gerakan yang jauh lebih keras dari yang diperlukan.
“Nes.”
“Apa.”
“Sabtu depan gue kosong.”
Aku berhenti.
“...Kosong?”
“Iya.”
“Seharian?”
“Iya.”
“Ngapain?”
“Nggak tau. Lo yang atur.”
Dan itu — dari semua kalimat yang dia ucapkan malam itu, termasuk empat kata tentang tinggi badanku — itu yang paling telak.
Karena Gala tidak pernah menyerahkan apa pun kepada siapa pun. Gala adalah orang yang selalu menyesuaikan diri dengan rencana orang lain, yang selalu bilang “terserah”, yang duduk di kursi paling tidak strategis di rumah orang. Delapan tahun aku tidak pernah sekali pun mendengar dia meminta sesuatu.
Dan sekarang dia menyerahkan satu hari penuh kepadaku dan bilang lo yang atur.
“Oke,” kataku.
Suaraku berhasil terdengar biasa saja. Aku bangga pada itu sampai hari ini.
Aku mengantarnya berjalan tiga meter ke motornya seperti orang mengantar tamu negara.
“Gal.”
“Hm.”
“Jaketku masih di kamu.”
Dia berhenti memasang helm.
“Iya.”
“Nggak usah dibalikin.”
“Iya.”
“Aku cuma ngasih tau.”
“Iya.”
Dan di bawah kaca helm yang belum dia turunkan, di bawah lampu jalan yang menyala kuning di depan toko bunga yang tutup, aku melihatnya tersenyum. Dua milimeter. Setengah detik.
Dia menunggu sampai lampu depanku menyala, seperti biasa.
Dan aku mengemudi pulang dengan es kopi less sugar di dudukan gelas, dan berpikir bahwa aku sudah menghabiskan empat tahun meminum bukti tanpa pernah membacanya.
- 1 Jumat Keempat Puluh Tiga
- 2 Pasal Tiga
- 3 Survey Pertama
- 4 Pasal Dua Dilanggar Vio
- 5 Lembur
- 6 Fitting
- 7 Hujan, Satu Payung, Klise
- 8 Yang Merobek Duluan
- 9 Aturan Baru
- 10 Food Testing Kedua reading
- 11 Vio Menyelidik
- 12 Dapur
- 13 Yang Terakhir Mati
- 14 Souvenir
- 15 Telur
- 16 Angkatan
- 17 Poin Delapan
- 18 Lilin
- 19 Tujuh Hari
- 20 Empat Kursi
- 21 Gladi
- 22 Dua Kopi
- 23 Lobi
- 24 Kabel
- 25 Seratus Dua Puluh Delapan
- 26 Kursi Tamu
- 27 Jumat Keempat Puluh Delapan
- 28 Pasal Lima