← Obat Nyamuk

Chapter Five

Lembur

POV: Gala

Jam sebelas lewat empat puluh, notifikasi masuk ke ponselku dengan bunyi yang membuat perutku dingin.

ALERT: prod-db-01 — connection pool exhausted

Aku sudah di kasur. Aku sudah menang. Aku sudah melewati seluruh hari itu tanpa satu pun insiden dan sedang berada di tahap awal tidur, tahap di mana kamu masih tahu kamu sadar tapi sudah tidak keberatan.

Aku menatap layar itu selama empat detik.

Lalu bangun, memakai celana, mengambil laptop, dan pergi.

Ada dua jenis orang di dunia ini: yang bisa membiarkan sesuatu rusak sampai besok pagi, dan aku.


Kafe dua puluh empat jam di dekat kantorku bernama Selalu, yang menurutku adalah nama paling jujur yang pernah diberikan kepada sebuah bisnis. Buka selalu. Terang selalu. Musiknya jazz instrumental yang sama selalu, playlist tiga jam yang aku sudah hafal urutannya, termasuk bagian di menit lima puluh dua yang gitarnya sedikit fals.

Aku duduk di meja paling ujung, dekat colokan, membuka laptop, dan tenggelam.

Ini bagian yang tidak bisa aku jelaskan ke Damar, meskipun dia sudah bertanya tiga kali dalam delapan tahun. Dia pikir pekerjaanku membosankan. Dia salah, tapi aku tidak punya cara untuk menjelaskan kenapa dia salah tanpa terdengar seperti orang aneh.

Yang aku lakukan malam itu, secara teknis, adalah membaca log. Ribuan baris. Mencari satu pola di antara ribuan baris yang tampak sama, mencari titik di mana sesuatu mulai salah, dan biasanya titik itu kecil. Sangat kecil. Satu koneksi yang tidak ditutup. Satu proses yang lupa melepaskan sesuatu yang dipinjamnya.

Dan pekerjaan itu, kalau kamu lakukan cukup lama, mengubah caramu melihat segala hal.

Kamu jadi orang yang memperhatikan hal-hal kecil karena hal-hal kecil itu yang selalu jadi penyebabnya.

Jam dua belas empat puluh, aku menemukannya. Satu baris. Satu proses yang dijalankan setiap tiga jam dan tidak pernah menutup pintunya sendiri, pelan-pelan menghabiskan seluruh ruangan selama dua bulan tanpa ada yang sadar.

Aku memperbaikinya. Menyalakan ulang. Menunggu.

Dan saat menunggu itulah aku mengangkat kepala untuk pertama kalinya dalam satu jam.

Dan melihat Agnes.

Dia duduk enam meja dari tempatku, membelakangi pintu, dengan laptop terbuka dan rambut diikat asal-asalan pakai pulpen. Di mejanya ada tiga gelas. Tiga. Semua kosong.

Aku duduk diam selama mungkin sepuluh detik.

Aku bisa saja tidak menyapa. Itu opsi yang tersedia. Itu, kalau aku jujur, adalah opsi yang paling sering aku pilih seumur hidupku — di kondangan, di reuni, di lift kantor. Ada seni tersendiri dalam menjadi orang yang tidak menambahkan dirinya ke dalam ruangan.

Aku menutup laptop dan pindah ke meja di depannya.

Dia mendongak. Matanya butuh dua detik untuk fokus.

“...Gala?”

“Hai.”

“Kenapa kamu—” Dia melihat jam di sudut layarnya. “Ini jam satu.”

“Iya.”

“Kamu ngapain di sini jam satu?”

“Kerja. Lo?”

“Kerja.” Dia menyandarkan punggung dan menggosok wajahnya dengan kedua telapak tangan, kasar, seperti orang mencuci muka tanpa air. “Klien minta revisi jam sepuluh malam. Dia bilang ‘sedikit aja’. Ternyata ‘sedikit’ itu artinya semuanya.”

“Mau gue pindah?”

“Kenapa harus pindah?”

“Biar lo fokus.”

Dia menatapku. Cukup lama sampai aku mulai menyesali pertanyaannya.

“Jangan,” katanya akhirnya. “Di sini aja.”

Jadi aku di sana.


Kami tidak berbicara selama satu jam empat puluh menit.

Ini perlu aku catat karena aku tahu bagaimana kedengarannya. Kedengarannya menyedihkan. Dua orang duduk berhadapan di kafe jam satu pagi dan tidak bicara.

Tapi begini yang sebenarnya terjadi:

Aku menyelesaikan laporan insiden. Dia mengerjakan dua puluh delapan slide. Sesekali dia mengumpat pelan ke arah layarnya, kata-kata pendek yang tidak ditujukan ke siapa pun. Sesekali aku mendengar suara ketikannya berhenti terlalu lama dan aku tahu dia sedang macet.

Playlist berputar sampai bagian yang gitarnya fals. Dia mengangkat kepala saat bagian itu.

“Ini lagunya kenapa?”

“Fals.”

“Kamu denger juga?”

“Tiap malam.”

“Kamu sering ke sini?”

“Cukup.”

Dia mengangguk pelan, lalu kembali ke slide-nya, dan aku kembali ke laporan.

Setengah jam kemudian dia berhenti mengetik lagi. Lebih lama dari biasanya. Aku mengangkat kepala dan menemukan dia sedang menatap satu slide dengan kepala miring, mulut sedikit terbuka, mata yang jelas sudah tidak sedang membaca apa pun.

“Nes.”

“Hm.”

“Lo udah baca slide itu berapa lama.”

Dia berkedip. Melihat jam. “...Tujuh menit.”

“Isinya apa?”

“Nggak tau.”

“Ya udah tutup.”

“Nggak bisa. Deadline jam sembilan.”

“Jam sembilan pagi ini?”

“Iya.”

“Berarti masih enam jam.”

“Enam jam itu sedikit.”

“Enam jam itu banyak kalau lo tidur satu.”

Dia menatapku dengan tatapan orang yang ingin membantah tapi kehabisan bahan bakar. Lalu dia melipat tangan di meja, meletakkan pipinya di atas lengan, dan memejamkan mata.

“Dua puluh menit,” gumamnya. “Bangunin.”

“Iya.”

Aku tidak membangunkannya dalam dua puluh menit.

Aku membangunkannya dalam empat puluh, dan saat dia bangun dia bilang “kamu curang”, dan menyelesaikan delapan slide dalam satu jam berikutnya tanpa berhenti sekali pun.

Itu total empat belas kalimat dalam satu jam empat puluh menit. Aku menghitungnya belakangan, di parkiran, seperti orang gila.

Dan aku tidak pernah — dalam dua puluh tujuh tahun — merasa senyaman itu di dekat manusia lain.

Aku ingin menjelaskan ini dengan benar karena aku hanya akan mengakuinya sekali.

Aku bukan orang yang buruk dalam bersosialisasi. Aku bisa. Aku bisa duduk di kondangan dan menjawab pertanyaan tante-tante dan tersenyum di foto. Tapi seluruh proses itu, bagiku, seperti menjalankan program di latar belakang: ada bagian dari otakku yang terus-menerus bekerja, memantau, menghitung berapa lama lagi ini akan berlangsung.

Program itu tidak berjalan malam itu.

Itu saja. Itu seluruh penemuannya. Di dekat Agnes, program itu tidak menyala.


Jam dua lewat sepuluh dia menggeser laptopnya untuk mengambil ponsel, dan gelas kopinya — gelas keempat, es kopi, yang embunnya sudah membentuk genangan kecil di meja — bergeser sekitar tiga sentimeter ke arah keyboard-nya.

Aku memindahkannya.

Aku tidak memikirkannya. Tanganku bergerak, mengambil gelas itu, memindahkannya ke sisi kanan meja, jauh dari laptop. Lalu tanganku kembali ke tempatnya dan aku melanjutkan mengetik.

Aku baru menyadari apa yang aku lakukan sekitar tiga detik kemudian, dan saat itu sudah terlambat.

Agnes sedang melihat gelasnya.

Lalu dia melihat aku.

Aku tidak mengangkat kepala. Aku terus mengetik, dan yang aku ketik selama sepuluh detik berikutnya adalah kalimat yang sepenuhnya tidak berarti dan langsung aku hapus setelahnya.

“Gal.”

“Hm.”

“Kenapa dipindah?”

“Deket laptop.”

“Iya, tapi kenapa kamu—”

“Kemarin lo tumpahin kopi ke keyboard kantor lo.”

Hening.

“Itu tiga bulan lalu,” katanya pelan.

“Iya.”

“Kamu inget?”

Dan di sinilah aku, seorang laki-laki dewasa dengan pekerjaan tetap dan cicilan motor, tidak punya satu pun jawaban yang aman.

Karena jawaban jujurnya adalah: iya, aku ingat. Aku ingat karena dia menelepon dengan suara yang hampir menangis dan aku menghabiskan Sabtu itu membongkar keyboard-nya dan mengeringkan setiap tombol satu-satu dengan tisu, dan dia duduk di sebelahku selama tiga jam sambil mengeluh tentang klien, dan aku mengingat sebagian besar dari tiga jam itu dengan detail yang tidak wajar untuk suatu peristiwa yang seharusnya tidak penting.

“Gue inget banyak hal,” kataku.

Itu bukan bohong. Itu juga bukan jawaban.

Dia menatapku dua detik lagi, lalu tersenyum kecil ke arah layarnya sendiri dan tidak melanjutkan.

Dan aku menunduk kembali ke laptopku dan berkata kepada diriku sendiri, dengan sangat jelas, dalam kalimat lengkap, dengan cara yang sama seperti aku membaca baris log yang akhirnya menunjukkan penyebab masalahnya:

Oh.

Ini udah lama.

Bukan sejak lamaran Damar. Bukan sejak kontrak itu. Bukan sejak kap mobil di parkiran gedung mirip kantor pos, meskipun aku menghabiskan tiga malam terakhir memikirkan bahu kiri yang tidak aku singkirkan.

Ini sudah lama. Ini seperti proses yang berjalan setiap tiga jam selama dua bulan tanpa menutup pintunya sendiri, pelan-pelan menghabiskan seluruh ruangan, dan tidak ada yang menyadarinya sampai sistemnya berhenti bekerja.

Aku menatap dua kata di layar laporanku:

Root cause.

Lalu menutup laptop.


Kami keluar jam tiga kurang seperempat. Langit belum berubah warna, tapi udara sudah berubah — ada dingin tertentu yang cuma muncul di jam-jam itu.

Dia berjalan ke mobilnya, kunci di tangan, dan berhenti.

“Gal.”

“Hm.”

“Makasih ya.”

“Buat apa.”

“Nggak tau.” Dia menguap, menutup mulut dengan punggung tangan, dan matanya berair karena menguap. “Buat duduk aja.”

Dan dia masuk ke mobilnya dan menyalakan lampunya dan melambai sekali lewat kaca, dan pergi.

Aku berdiri di parkiran itu selama lebih lama dari yang perlu.

Ada empat pasal di selembar kertas yang sekarang ada di dompetnya. Aku sudah membacanya dari jarak dua meter di ruang tamu Damar dan aku tidak pernah lupa apa pun yang aku baca.

Pasal 3.

Aku menaiki motorku dan memasang helm dan berpikir, dengan ketenangan aneh seseorang yang baru saja menerima diagnosis yang sudah dia curigai berbulan-bulan:

Dia menulis pasal itu untuk memastikan ini tidak terjadi.

Dan aku menandatanganinya.

Delapan hari lalu. Dengan huruf cetak. Seperti orang mengisi formulir bank.

Ada satu hal lagi yang aku pahami di parkiran itu, dan aku memahaminya dengan cara yang sama seperti aku memahami semua hal: perlahan, dari data.

Ada dua kemungkinan tentang kenapa seseorang menulis larangan.

Kemungkinan pertama: dia ingin melarang orang lain.

Kemungkinan kedua: dia sedang melarang dirinya sendiri.

Aku sudah membaca ribuan baris log malam ini dan aku tahu bagaimana rasanya ketika sebuah data terlalu bagus untuk dipercaya. Ketika kamu menemukan pola yang persis seperti yang kamu harapkan, dan justru karena itu kamu harus curiga pada dirimu sendiri.

Jadi aku menyimpan kemungkinan kedua di tempat yang tidak akan aku buka.

Karena kalau aku salah, aku akan kehilangan hari-hari Jumat.

Dan hari-hari Jumat itu, harus aku akui sekarang setelah semuanya terlambat, adalah satu-satunya bagian dari mingguku yang tidak perlu aku jalani dengan program latar belakang menyala.

Aku menyalakan motor.

Ya sudah.