← Obat Nyamuk

Chapter Twenty Six

Kursi Tamu

POV: Agnes

Tamu terakhir pulang jam setengah lima sore.

Vendor mulai membongkar jam lima. Katering mengangkut wadah. Vendor dekorasi mencabut bunga dari meja satu per satu, dan lilin-lilin yang belum habis dikumpulkan dalam satu kardus besar.

Dan pada suatu titik, entah kapan, aula itu berubah dari tempat pesta menjadi ruangan besar dengan kursi.

Kami berempat duduk di meja nomor dua puluh dua.

Bukan meja utama. Bukan pelaminan. Meja nomor dua puluh dua, di tengah, dengan taplak yang sudah miring dan satu vas bunga yang tadi aku pindahkan ke meja tujuh dan tidak pernah dikembalikan.

Vio masih memakai gaunnya. Sepatunya sudah dilepas dan diletakkan di bawah kursi.

Damar sudah membuka dasinya dan tiga kancing teratas.

Gala masih memakai jas lengkapnya karena Gala adalah orang yang tidak akan pernah membuka jas sampai ada orang lain yang membukanya lebih dulu.

“Buka, Gal,” kata Damar.

“Nanti.”

“BUKA.”

Gala membuka jasnya.


Kami tidak bicara selama beberapa menit.

Empat orang yang kelelahan, di aula yang sedang dibongkar, dengan suara vendor yang menggeser kursi di kejauhan.

“Nes,” kata Vio.

“Hm.”

“Foto ibu aku.”

Aku meletakkan sendokku.

“Itu kamu, kan.”

“...Iya.”

“Aku nggak minta.”

“Aku tau.”

“Aku sengaja nggak minta.” Dia memutar cincinnya dengan ibu jari. “Aku mikir dua bulan. Terus aku mutusin nggak, karena aku takut aku bakal ngeliat foto itu terus aku nggak bisa berhenti nangis dan acaranya rusak.”

“Vi—”

“Terus tadi aku jalan ke depan dan aku liat ada di situ.” Dia mengangkat wajahnya. “Dan aku nggak nangis. Aku cuma pegang bingkainya terus aku ngerasa dia dateng.”

Aku tidak mengatakan apa-apa.

“Gimana kamu tau?”

“Aku nggak tau,” kataku. “Aku cuma inget kamu bilang nggak ada satu pun barang di rumah itu yang cuma punya dia.”

Vio menutup matanya.

“Jadi aku pikir hari ini boleh ada satu.”

Dan Vio Violeta, yang menikah delapan jam lalu, menangis untuk kelima kalinya hari itu — dan Damar, yang sudah menghitung, mengeluarkan sapu tangan ketiga dari saku dalamnya tanpa berkata apa-apa.


“Ada yang mau sisa makanan?” tanya Damar akhirnya.

“Nggak.”

“Nggak.”

“Nggak.”

“Ada tujuh rendang di belakang.”

“...Ada nasi?”

Dan begitulah kami akhirnya makan malam pertama sebagai formasi baru: empat piring styrofoam di meja nomor dua puluh dua, dengan satu sendok kayu masing-masing dari souvenir yang tidak jadi dibuang orang.

“Ini kepakai,” kata Damar, mengangkat sendoknya.

“Mar—”

“INI KEPAKAI, NES. GUE BILANG APA.”

“Kamu bilang itu buat empat ratus lima puluh orang.”

“Dan sekarang kepakai buat empat orang. Itu bukti konsep.”

Vio menyandarkan kepalanya ke bahu Damar dan menutup matanya.


“Oke,” kata Vio, tanpa membuka mata. “Sekarang.”

Aku meletakkan sendokku.

“Vi—”

“Aku udah nikah. Acaranya udah selesai. Fotonya udah dapet.” Dia membuka matanya. “Sekarang kita ngomong.”

Aku menarik napas.

“Vi, aku—”

“Bentar. Aku duluan.” Dia duduk tegak. “Aku mau minta maaf.”

“KAMU?”

“Iya.”

“Vi, kamu nggak salah apa-apa.”

“Aku ngomong di ruang tamu Damar hari Kamis dan aku ngomong bener semua,” katanya. “Tapi aku ngomongnya di depan Damar, dua hari sebelum aku nikah, dan aku tau persis kamu nggak bisa jawab apa-apa di situ. Aku milih waktu yang paling nggak adil buat kamu.”

Aku membuka mulut dan tidak ada apa-apa di sana.

“Aku marah dan aku pengen kamu ngerasain.” Dia mengangkat bahunya. “Itu jahat. Aku minta maaf.”

“Vi.”

“Sekarang giliran kamu.”

Dan aku duduk di kursi tamu nomor dua puluh dua di aula yang sedang dibongkar dan berkata hal yang sudah aku susun selama empat hari:

“Aku sayang kalian berdua dan aku ngerahasiain hal paling penting di hidup aku dari kalian selama sebelas minggu, dan alasannya bukan alasan bagus. Alasannya karena aku takut. Dan aku minta maaf.”

Vio mengangguk pelan.

“Terus?”

“Terus—” Aku menoleh ke Gala. Dia mengangguk. “Terus kami pacaran. Dan kami mau kalian tau. Resmi. Bukan karena ketahuan.”

Hening.

Dan lalu Damar Prayoga, yang menikah delapan jam lalu, meletakkan sendok kayunya dan berkata dengan suara paling serius yang pernah aku dengar darinya:

“Gue perlu waktu buat memproses ini.”

“...Mar—”

“Ini berat, Nes.”

“Mar, kamu udah tau dari Kamis.”

“IYA TAPI SEKARANG RESMI.”

Vio menendang kakinya di bawah meja.

“AW.”

“Jangan bercanda.”

“Gue nggak bercanda! Gue mau upacara!”

“Upacara apa.”

Dan Damar berdiri.


Yang terjadi setelahnya berlangsung sekitar sebelas menit, dan aku akan menceritakannya secara ringkas karena tidak ada versi yang membuatnya terdengar masuk akal.

Damar mengambil dua sendok kayu.

Dia menyuruh aku dan Gala berdiri di depan meja nomor dua puluh dua.

Dia menyuruh Vio menjadi saksi.

Dan lalu dia — memakai jas pengantin dengan tiga kancing terbuka, di aula yang sedang dibongkar, di depan empat orang vendor dekorasi yang berhenti bekerja untuk menonton — memimpin sebuah upacara yang dia karang sepenuhnya di tempat.

“Saudara Gala Prasetya.”

“Mar.”

“SAUDARA GALA PRASETYA.”

“...Iya.”

“Apakah saudara bersedia menerima Saudari Agnes sebagai pihak sesama obat nyamuk, dalam keadaan berempat maupun berdua, dalam keadaan ada acara maupun nggak ada acara?”

Gala berdiri di sana dengan wajah yang sepenuhnya datar.

“Bersedia.”

“KERAS SEDIKIT.”

“Bersedia.”

“Saudari Agnes.”

“Iya.”

“Apakah saudari bersedia berhenti bikin dokumen?”

“...Objection.”

“NGGAK ADA OBJECTION DI UPACARA INI.”

“Vi, tolong.”

“Nes, dia bener,” kata Vio dari kursinya, sambil memakan rendang.

“Apakah saudari bersedia,” ulang Damar, “berhenti bikin dokumen dan mulai ngomong pakai mulut kayak manusia normal?”

Aku menatap langit-langit aula yang lampunya sedang dimatikan satu per satu oleh vendor.

“Bersedia.”

“Dengan ini,” kata Damar, mengangkat dua sendok kayu dan menyilangkannya di atas kepala kami seperti orang yang menonton terlalu banyak film pedang, “kalian resmi. Silakan cium mempelai—”

“MAR.”

“—TANGAN. SILAKAN CIUM TANGAN. INI ACARA KELUARGA.”

Dan aku tertawa sampai aku harus duduk, dan Vio tertawa sampai gaunnya kotor kena rendang, dan Damar tertawa paling keras di antara semuanya, dan Gala berdiri di sana dengan dua sendok kayu masih tersilang di atas kepalanya dengan wajah orang yang menerima nasibnya.

Empat orang vendor dekorasi bertepuk tangan.


Kami pulang jam delapan malam.

Di parkiran, Vio memelukku — pelukan penuh, yang keras, yang sudah aku tunggu selama lima hari.

“Nes.”

“Hm.”

“Jumat depan Kedai Sepatu. Jam tujuh.”

“Kalian bulan madu.”

“Bulan madunya Senin,” katanya. “Jumat kita nongkrong.”

“Vi, kamu baru nikah.”

“Nes.” Dia melepaskan pelukannya dan memegang bahuku dengan dua tangan. “Aku nikah sama Damar. Aku nggak nikah sama Jumat.”


Malam itu, di kasur, jam sebelas kurang.

Aku: gal

Aku: aku masih nggak percaya damar pake sendok kayu

Aku: DUA sendok kayu

Aku: dan dia nyilangin di atas kepala kamu

Aku: dan kamu diem aja

Aku: kamu tuh kenapa sih orangnya nurut banget

Tiga titik.

Muncul. Hilang. Muncul lagi.

Dan aku menunggu satu kata. Aku sudah siap untuk satu kata. Sebelas minggu — delapan tahun, sebenarnya — aku sudah terlatih untuk satu kata.

Gala: gue nggak nurut

Gala: gue mikirin kalimat “dalam keadaan berempat maupun berdua”

Gala: dia ngarang itu di tempat

Gala: dan itu persis hal yang gue takutin selama 11 minggu

Gala: bahwa berdua itu artinya bukan berempat lagi

Gala: terus dia bilang “maupun”

Gala: gue kepikiran satu kata itu sampai sekarang

Aku duduk tegak di kasur.

Tujuh baris.

Aku menghitungnya. Tujuh baris, dari orang yang selama delapan tahun membalas chatku dengan “ok” dan sesekali “iya” kalau dia sedang murah hati.

Aku: gala

Aku: kamu balas 7 baris

Gala: iya

Aku: KAMU BALAS TUJUH BARIS

Gala: lo biasanya 5

Gala: gue kalah terus

Dan aku menekan bantal ke wajahku dan berteriak ke dalamnya selama sekitar empat detik.