← Obat Nyamuk

Chapter Twenty Eight

Pasal Lima

POV: Gala

Ada satu hal yang aku pelajari dari delapan tahun membaca log: kalau kamu ingin tahu kapan sesuatu berubah, jangan cari perubahan besarnya. Cari baris pertama yang berbeda.

Bagi aku, baris pertama itu bukan malam gladi kotor undangan.

Bukan lorong yang gelap. Bukan dapur dengan empat rak nastar.

Baris pertamanya adalah tiga kata yang diucapkan seseorang di depan pintu apartemennya jam setengah dua belas malam, waktu aku sedang menjelaskan kenapa aku merusak segalanya.

Aku tidak pernah menceritakan ini kepadanya, tapi aku mengulang tiga kata itu di kepala selama delapan puluh sembilan hari.

Aku menghitungnya.


Delapan puluh sembilan hari setelah malam itu — dua minggu setelah Damar dan Vio kembali dari Sumba dengan tiga ratus foto dan kulit yang terbakar tidak merata — aku mengambil cuti setengah hari dan pergi ke sebuah toko bingkai di Jalan Kramat.

“Mau dibingkai apa, Mas?”

Aku meletakkannya di meja.

Selembar kertas HVS A4, bergaris di tengah karena printernya jelek, dengan lipatan yang sudah lunak dan sudut yang sudah bulat.

Empat pasal tulisan tangan. Empat tanda tangan.

Dan robekan sepanjang setengah sentimeter di ujung atas.

Bapak pemilik toko memegangnya dengan hati-hati.

“Ini apa, Mas? Piagam?”

“Kontrak.”

“Kontrak apa?”

“Kontrak pertemanan.”

Beliau menatapku beberapa detik, lalu tertawa.

“Ada ya kontrak begitu.”

“Ada, Pak.”

“Ini robek, Mas. Mau saya rapikan? Ada lem khusus.”

“Jangan.”

“Nggak apa-apa, Mas, hasilnya nggak kelihatan.”

“Justru itu,” kataku. “Jangan dirapikan.”

Beliau mengangkat bahunya dan menuliskan sesuatu di nota.


Sebelum menyerahkannya, aku minta pinjam pulpen.

Aku menuliskannya di ruang kosong di bawah tanda tangan, dengan huruf cetak, seperti orang mengisi formulir bank.

Aku sudah menyusunnya selama sebelas hari. Sembilan versi. Yang delapan aku buang.

Pasal 5 — Perjanjian ini diperpanjang tanpa batas waktu, dengan dua perubahan:

(a) Pasal 3 dicabut.

(b) Yang jalan di belakang, gantian.

Aku membacanya sekali.

Lalu menyerahkannya ke bapak itu dan pergi ke kantor dan tidak bisa berkonsentrasi selama tujuh jam.


Aku memberikannya hari Jumat.

Bukan di Kedai Sepatu — di apartemennya, jam enam sore, sebelum kami berangkat.

Dia sedang memakai sepatu di depan pintu waktu aku menyerahkan bungkusan itu.

“Ini apa?”

“Buka aja.”

“Ini ulang tahun aku bukan hari ini.”

“Gue tau kapan ulang tahun lo.”

“Ini bukan tanggal apa-apa.”

“Iya.”

Dia membuka kertas pembungkusnya.

Dan berhenti.

Dia berdiri di depan pintu apartemennya dengan satu sepatu terpasang dan satu di tangan, memegang bingkai kayu berukuran A4, dan tidak bergerak sama sekali selama mungkin lima belas detik.

“Gal.”

“Hm.”

“Ini robekannya masih ada.”

“Iya.”

“Kamu nggak benerin.”

“Nggak.”

“Kenapa?”

“Karena itu bagian dari dokumennya,” kataku.

Dan dia mengangkat wajahnya, dan matanya sudah basah, dan lalu dia menunduk lagi dan membaca bagian bawah.

Aku memperhatikan matanya bergerak dari kiri ke kanan tiga kali.

Lalu berhenti di baris terakhir.

“‘Yang jalan di belakang, gantian,’” bacanya.

“Iya.”

“Gal.”

“Hm.”

“Kamu tau nggak berapa lama aku nunggu kamu jalan di sebelah aku?”

“Delapan tahun,” kataku. “Dan sepuluh minggu.”

“Kamu ngitung?”

“Gue ngitung semua hal, Nes.”


Dia meletakkan bingkai itu di meja dan memelukku, dan sepatunya yang sebelah lagi jatuh ke lantai, dan kami berdiri di depan pintu apartemennya selama waktu yang tidak aku hitung — dan aku menghitung semua hal, dan aku memilih untuk tidak menghitung yang ini.

“Kita telat,” katanya ke kausku.

“Iya.”

“Vio bakal ngamuk.”

“Iya.”

“Aku nggak mau berangkat.”

“Iya.”

Dan lalu dia mengangkat kepalanya.

“Gal.”

“Hm.”

“Kamu masih mikir kamu ngerepotin nggak?”

Dan aku berdiri di sana, di depan pintu apartemen perempuan yang delapan tahun lalu tidak tahu aku duduk di lobi lantai satu selama tujuh hari, dan aku memeriksa jawabannya sebelum mengucapkannya — seperti yang selalu aku lakukan, seperti yang akan selalu aku lakukan, karena itu cara kerja otakku dan tidak akan berubah.

Aku memeriksanya.

Dan untuk pertama kalinya dalam dua puluh tujuh tahun, jawabannya kembali bersih.

“Nggak,” kataku.

“Beneran?”

“Beneran.”

“Kok bisa?”

Dan aku mengucapkan tiga kata itu — tiga kata yang sudah dia berikan kepadaku delapan puluh sembilan hari lalu, yang aku ulang di kepala setiap kali aku ragu, yang aku bawa ke gedung kosong dan dapur berantakan dan ruang tamu Damar dan mimbar di depan empat ratus lima puluh orang —

tapi kali ini bukan dari mulutnya.

Dari mulutku.

“Gue nggak ganggu.”

Agnes menutup mulutnya dengan tangan.

“Ulangi,” katanya.

“Nggak.”

“Gala—”

“Gue nggak suka ngulang.”

Dan dia memukul dadaku dengan sebelah tangan sambil menangis dan tertawa pada saat yang sama, dan aku menangkap tangan itu dan menahannya di sana, dan di luar hujan mulai turun untuk pertama kalinya minggu itu.


Kami sampai di Kedai Sepatu jam delapan kurang seperempat, empat puluh lima menit terlambat, basah dari parkiran ke pintu karena aku tidak membawa payung.

Aku tidak akan pernah membawa payung. Itu sudah kami sepakati.

Damar berteriak dari meja pojok.

“KALIAN TELAT.”

“Macet,” kata Agnes.

“MACET APA. HUJANNYA BARU LIMA MENIT.”

“Macet yang lain.”

Vio menyipitkan mata ke arah kami berdua. Lalu ke bingkai yang dibawa Agnes di dalam tas kertas, yang sudutnya menyembul keluar.

“Itu apa?”

“Bukan apa-apa,” kata Agnes.

“ITU APA.”

“BUKAN APA-APA, VI.”

Dan Vio merebut tas itu dari tangannya dalam satu gerakan yang sudah dia latih selama delapan tahun persahabatan, dan mengeluarkan bingkai itu, dan membacanya.

Kedai itu hening selama sekitar dua detik.

Lalu Vio berteriak sangat keras sehingga mesin kopi di belakang berhenti dan tiga meja lain menoleh dan seorang bayi di meja empat mulai menangis.

“KAMU BIKIN PASAL LIMA?”

“Vi—”

“DAMAR. DAMAR LIAT INI.”

Damar mengambil bingkai itu. Membacanya. Dan wajahnya melakukan sesuatu yang sangat aneh — mulai dari tertawa, berhenti di tengah, lalu berubah menjadi hal lain sama sekali.

Dia meletakkan bingkai itu di meja dengan hati-hati.

Lalu dia menoleh ke aku dan tidak mengatakan apa-apa selama beberapa detik.

“Mar—”

“Diem, Gal. Gue lagi nggak boleh nangis di tempat umum.”

“Lo nangis di kedai ini tiga bulan lalu.”

“ITU LAMARAN. ITU BEDA.”

Dan dia berdiri dan memelukku di tengah Kedai Sepatu, di depan tiga meja yang menonton, dan menepuk punggungku tiga kali dengan keras karena kami tidak tahu cara lain.


Kami duduk berempat sampai jam sebelas.

Damar memesan tiramisu. Vio makan setengahnya. Mereka berdebat tentang apakah foto Sumba yang mana yang akan dicetak besar, dan Damar kalah dalam enam menit.

“Gal,” kata Vio di tengah-tengah, tanpa mengangkat kepala dari ponselnya. “Boleh nanya sesuatu?”

“Boleh.”

“Waktu di rumah sakit. Delapan tahun lalu.”

Agnes berhenti mengaduk.

“Kenapa kamu minta aku nggak cerita?”

Dan aku memikirkan itu — benar-benar memikirkannya, karena aku belum pernah ditanya dan karena aku tidak pernah menyusun jawabannya.

“Karena kalau lo cerita,” kataku, “dia bakal ngerasa harus berterima kasih.”

Vio meletakkan ponselnya.

“Terus?”

“Terus dia bakal ngerasa punya utang. Dan orang yang ngerasa punya utang nggak bisa milih apa-apa dengan bebas.”

Meja itu diam.

“Delapan tahun,” kata Vio pelan. “Kamu nggak cerita selama delapan tahun supaya dia bisa milih dengan bebas.”

“Iya.”

“Gal, itu—” Dia berhenti. Mengambil napas. “Itu bego banget dan itu manis banget dan aku nggak tau harus marah apa nangis.”

“Nangis,” kata Damar. “Selalu nangis. Itu lebih cepet.”

Dan Vio menangis, dan Damar mengeluarkan sapu tangan dari saku dalamnya seperti orang yang sudah terlatih, dan Agnes menendang kakiku di bawah meja — bukan pelan.

“Aduh.”

“Itu buat delapan tahun,” katanya.


Agnes memesan es kopi.

“Less sugar,” katanya ke pelayannya.

“Nggak usah,” kataku pada saat yang sama, ke pelayan yang sama. “Punya dia yang biasa.”

Agnes menoleh ke arahku dengan tatapan membunuh.

“Aku bisa pesen sendiri.”

“Iya.”

“Aku udah pesen sendiri selama dua puluh lima tahun.”

“Iya.”

“Gala.”

“Hm.”

“...Makasih.”

Dan Vio, dari seberang meja, mengeluarkan satu suara pendek lewat hidungnya dan tidak mengatakan apa-apa.


Di atas meja, di antara empat gelas dan satu piring tiramisu yang tinggal setengah, ada sebuah bingkai kayu berukuran A4.

Di dalamnya ada selembar kertas HVS dengan garis pucat di tengah, empat pasal tulisan tangan seorang perempuan yang menyelesaikan ketakutannya dengan membuat sistem, empat tanda tangan, satu robekan sepanjang setengah sentimeter yang sengaja tidak diperbaiki, dan lima baris huruf cetak di bagian bawah.

Dan di sekelilingnya, empat orang.

Empat kursi. Satu meja.

Tidak ada yang menemani siapa-siapa.

Di bawah meja itu, di tempat yang tidak bisa dilihat siapa pun — meskipun sekarang tidak ada lagi yang perlu tidak terlihat — kakinya menyentuh kakiku.

Aku menekan balik.

Dan itu, kalau ada yang bertanya, adalah kalimat terpanjang yang pernah aku ucapkan.

— TAMAT —