Chapter Four
Pasal Dua Dilanggar Vio
POV: Agnes
Food testing adalah ide Vio, dan seperti semua ide Vio, ide itu terdengar menyenangkan sampai kamu benar-benar melakukannya.
“Gratis,” katanya di grup chat. “Kita cuma perlu nyicip. Nyicip doang. Gampang.”
Yang tidak dia sebutkan adalah bahwa katering itu menyiapkan dua puluh dua jenis hidangan, bahwa kami harus memberikan penilaian tertulis untuk masing-masing, dan bahwa proses ini akan memakan waktu tiga setengah jam di ruangan tanpa jendela yang berbau kaldu.
Jam satu siang, aku sudah berada di titik di mana makanan berhenti menjadi makanan dan berubah menjadi pekerjaan.
“Ini nomor lima belas.” Petugas katering meletakkan piring kecil di tengah meja. “Sup buntut kuah bening. Silakan.”
“Ini yang keberapa dari sup?”
“Keempat, Bu.”
“Kenapa banyak banget sup.”
“Karena calon pengantin memilih semua kategori sup, Bu.”
Aku menoleh ke Vio dengan tatapan yang seharusnya membunuh.
Vio tidak melihatku. Vio sedang meniup sendok.
Dan Vio sedang meniup sendok itu bukan untuk dirinya sendiri.
“Aaa,” katanya.
“Yang, ada orang.”
“Aaa.”
“Vi—”
“Kamu harus nyicip yang ini dari sendokku karena aku udah kasih lada, dan kalau kamu nyicip dari sendok kamu sendiri nanti rasanya beda, dan penilaian kita jadi nggak akurat.”
Damar membuka mulut.
Aku menatap sup buntut di depanku dan berpikir, dengan tenang, bahwa aku sedang menonton dua orang dewasa saling menyuapi dengan alasan metodologi ilmiah.
Di sebelahku, Gala meletakkan pulpennya.
“Pasal Dua,” gumamku, hampir tidak bersuara.
“Hm.”
“Sekarang.”
“Bentar.”
“Gal, sekarang.”
Dan Gala — tanpa mengubah ekspresinya sedikit pun, tanpa terburu-buru, dengan gerakan seseorang yang sedang melakukan tugas administratif rutin — mengangkat tangan.
“Mbak.”
Petugas katering menoleh. “Ya, Mas?”
“Ini sup buntutnya pakai kaldu berapa jam?”
“Delapan jam, Mas.”
“Delapan jam.” Gala mengangguk pelan. “Api kecil terus?”
“Iya, Mas. Api kecil, nggak boleh mendidih.”
“Kalau mendidih kenapa?”
“Keruh, Mas.”
“Oh.” Gala mencatat sesuatu di formulir penilaiannya. “Terus buntutnya dibakar dulu apa langsung?”
Aku menoleh ke arahnya perlahan.
“Dibakar sebentar, Mas, biar wangi.”
“Berapa lama?”
“Sekitar lima menit.”
“Lima menit sisi berapa?”
Dan begitulah, selama enam menit penuh, Gala Prasetya melakukan wawancara mendalam tentang sup buntut dengan petugas katering yang awalnya bingung, lalu senang, lalu benar-benar antusias, sampai akhirnya beliau duduk di kursi kosong dan mulai menceritakan resep neneknya.
Damar dan Vio berhenti.
Mereka harus berhenti. Tidak ada orang yang bisa mempertahankan atmosfer romantis di ruangan yang sedang membahas titik didih kaldu.
“Mas ini kerja di restoran?” tanya petugas itu akhirnya.
“Nggak. IT.”
“Kok tau banyak?”
“Nggak tau apa-apa. Saya cuma nanya.”
Aku menunduk ke sup buntutku dan mulai tertawa.
Bukan tertawa yang bisa dikendalikan. Tertawa jenis yang datang dari perut, yang bahunya ikut naik turun, yang membuatmu harus menekan mulut dengan serbet karena kalau tidak kamu akan mengeluarkan suara yang memalukan di ruangan berisi delapan orang asing.
“Nes?” Vio memiringkan kepala. “Kamu kenapa?”
“Nggak—” Aku menggeleng. Mataku berair. “Nggak apa-apa.”
“Kamu nangis?”
“Ini karena lada.”
“Sup buntutnya nggak pedes.”
“Ini lada yang lain.”
Aku menekan serbet ke mata dan bahuku masih bergetar dan aku tidak bisa berhenti, dan Gala — yang sudah kembali menulis di formulirnya seolah tidak terjadi apa-apa — menggeser gelas air putihku sedikit lebih dekat ke arahku tanpa menoleh.
Itu yang membuatku akhirnya berhenti.
Bukan lelucon soal sup. Gelas air itu.
Hidangan nomor sembilan belas adalah es buah, dan itu adalah titik di mana Damar menyerah pada kewarasan.
“Yang.”
“Hm?”
“Ini es buah pertama yang kita makan bareng setelah tunangan.”
Vio meletakkan sendoknya. “...Iya ya.”
“Ini bersejarah.”
“Ini bersejarah banget.”
“Kita harus foto.”
“HARUS.”
Aku menatap Gala. Gala menatap es buahnya.
Mereka memotret es buah itu dari sebelas sudut. Aku menghitung. Sebelas. Petugas katering diminta memegang ponsel. Lampu ruangan dinilai terlalu kuning. Damar memindahkan sedotan tiga kali sampai “anglenya dapet”.
“Mbak,” kata Gala akhirnya, ke petugas katering, “ini es buahnya pakai sirup apa?”
“Cocopandan, Mas.”
“Merek?”
Dan begitulah kami menghabiskan empat menit berikutnya membahas merek sirup, dan es buah bersejarah itu mencair sempurna sebelum sempat dimakan.
“ES-NYA,” teriak Vio.
“Bersejarah,” kata Gala.
Aku harus pura-pura batuk selama sepuluh detik penuh.
Kami keluar jam empat dengan perut penuh dan jiwa kosong.
“Aku nggak mau makan lagi seumur hidup,” kata Damar di parkiran.
“Kamu bilang gitu tiap hari.”
“Kali ini serius, Yang.”
“Kamu bilang ‘kali ini serius’ juga tiap hari.”
Mereka pergi dengan mobil Damar, masih berdebat, suara mereka menghilang di ujung jalan.
Aku dan Gala berdiri di trotoar.
“Delapan jam,” kataku.
“Hm.”
“Kamu beneran pengen tau atau itu Pasal Dua?”
“Dua-duanya.”
“Bohong.”
“Sekarang gue tau cara bikin kaldu bening.”
“Kamu nggak masak.”
“Bisa aja nanti.”
“Gala, kulkas kamu isinya cuma air mineral sama satu telur yang aku yakin udah kadaluarsa waktu pemilu.”
“Itu telur cadangan.”
“Cadangan buat apa?”
“Buat kalau ada tamu.”
“Gue nggak pernah ada tamu.”
Dan itu — entah kenapa — membuat sesuatu di dadaku melintir sedikit.
Aku tahu apartemen Gala. Aku pernah ke sana tiga kali dalam delapan tahun, semuanya untuk urusan teknis, semuanya tidak lebih dari dua puluh menit. Aku ingat tempat itu bersih dengan cara yang menyedihkan. Bukan bersih karena rajin. Bersih karena tidak ada apa-apa.
Aku mundur satu langkah untuk menatapnya dengan benar, karena kalimat berikutnya butuh ditatap dengan benar.
“Aku bisa jadi tamu.”
Kalimat itu keluar sebelum aku sempat memeriksanya.
Gala menoleh. Dan aku langsung menambahkan, cepat, dengan nada seorang profesional yang sedang menyelamatkan presentasi yang berantakan: “Maksudku, kalau nanti wifiku rusak lagi. Atau apa. Kan aku sering ke—”
Aku tidak menyelesaikannya.
Karena ada tangan di pergelanganku dan tiba-tiba aku ditarik ke depan, keras, satu tarikan tunggal, dan punggungku menabrak sesuatu yang hangat dan berbau deterjen, dan sepersekian detik kemudian sebuah motor melintas di tempat aku berdiri tadi dengan bunyi yang membuat telingaku berdenging.
Pengendaranya tidak menoleh. Tidak melambat. Motor itu hilang di tikungan dalam dua detik.
Aku berdiri di sana dengan jantung yang seperti dipukul dari dalam.
Tangan Gala masih di pergelanganku. Tangannya yang satu lagi ada di antara punggungku dan dadanya — telapak terbuka, tidak menyentuh, seperti orang menahan pintu.
“...Gal.”
“Motor.”
“Iya.”
“Trotoarnya nggak jelas batasnya.”
“Iya.”
Dia melepaskan tanganku. Cepat. Mundur setengah langkah dan memasukkan kedua tangan ke saku seolah keduanya baru saja melakukan sesuatu yang memalukan.
“Sori.”
“Kenapa minta maaf?”
“Gue tarik kenceng.”
Aku menatapnya, dan aku ingin mengatakan sesuatu, dan tidak ada satu pun benda di dalam kepalaku yang berbentuk kalimat.
Karena begini: aku sedang mundur satu langkah, menghadap ke arahnya, membelakangi jalan. Aku tidak melihat motor itu. Aku tidak mendengarnya. Aku sedang sibuk mengatakan sesuatu yang bodoh tentang menjadi tamu.
Yang berarti Gala melihatnya.
Yang berarti, selama seluruh percakapan konyol tentang kaldu dan telur kadaluarsa itu, ada bagian dari orang ini yang sedang mengawasi jalan di belakangku.
“Kamu ngeliat dari tadi?”
“Ngeliat apa.”
“Motornya.”
“Gue ngeliat jalan.”
“Kenapa kamu ngeliat jalan?”
Dia mengambil helmnya dari spion. Memasangnya. Menurunkan kaca helm.
“Karena lo nggak,” katanya, dari balik kaca itu.
Lalu menyalakan motornya dan menunggu — seperti biasa, selalu, tanpa pernah dibicarakan — sampai aku masuk ke mobilku dan lampu depanku menyala, baru dia pergi.
Aku duduk di kursi pengemudi selama entah berapa lama dengan tangan di setir.
Pergelanganku masih hangat di tempat dia memegangnya. Aku sadar aku sedang menutupi tempat itu dengan tanganku sendiri, dan aku melepaskannya seperti orang ketahuan.
Dan dia sama sekali tidak menjawab bagian tentang aku jadi tamu.
Malamnya aku tidak bisa tidur.
Ini kebohongan. Aku bisa tidur. Aku memilih untuk tidak, karena aku sedang melakukan sesuatu yang jauh lebih bodoh: duduk di lantai kamar dengan dompet di tangan, membaca ulang selembar kertas yang aku tulis sendiri delapan hari lalu.
Pasal 3 — Dilarang menyukai pihak sesama obat nyamuk.
Oke. Mari kita audit.
Aku account executive. Aku bisa melakukan ini. Aku melakukan ini setiap Senin untuk klien yang membayarku.
Fakta satu: aku tertawa sampai menangis hari ini. Karena orang itu.
Bantahan: orang lucu itu banyak. Aku juga ketawa waktu Damar jatuh dari sepeda tahun lalu.
Fakta dua: aku memikirkan kulkasnya yang kosong selama empat jam.
Bantahan: aku orangnya empatik. Itu bagus. Itu kualitas.
Fakta tiga: aku bilang “aku bisa jadi tamu” tanpa diminta, tanpa alasan, tanpa proses berpikir apa pun.
Bantahan:
Bantahan:
Aku menatap kertas itu.
Baiklah. Aku akan menyusun ulang argumennya.
Menyukai seseorang itu punya gejala. Aku tahu gejalanya karena aku pernah mengalaminya empat tahun lalu, dan gejala itu tidak menyenangkan: kamu memeriksa ponsel terlalu sering, kamu memilih baju dengan pertanyaan “dia bakal lihat nggak”, kamu merasa waktu berjalan aneh saat orang itu ada di ruangan yang sama.
Dan aku tidak melakukan satu pun dari itu.
Aku memeriksa ponselku.
Tidak ada pesan. Sudah pukul sebelas lewat.
Aku memeriksanya lagi empat menit kemudian.
Lalu — dan ini bagian yang akan aku bawa ke liang kubur — aku membuka lemari.
Bukan karena apa-apa. Karena besok fitting. Karena wajar seseorang mempertimbangkan pakaian untuk acara yang melibatkan pengukuran badan di depan orang lain.
Aku mengeluarkan tiga atasan. Meletakkannya di kasur. Menatapnya.
Dan pertanyaan yang muncul di kepalaku, dengan sangat jelas, dengan suara yang sangat mirip suaraku sendiri, adalah:
Yang mana yang bakal dia—
Aku memasukkan ketiganya kembali ke lemari dengan kecepatan yang tidak wajar dan menutup pintunya seperti orang menutup peti mati.
...
Oke.
Oke, oke, oke.
Aku meletakkan kertas itu kembali ke dompet dan berbaring di lantai, menatap langit-langit, dan berbicara kepada plafon seperti orang gila.
“Ini bukan suka,” kataku. “Ini kebiasaan. Delapan tahun itu lama. Wajar kalau ada... apa namanya. Attachment. Kayak orang sama sandal jepitnya.”
Plafon tidak menjawab.
“Dan lagipula dia nggak. Dia jelas nggak. Dia orang yang bisa duduk di sebelah aku selama delapan tahun tanpa—”
Aku berhenti.
Karena tiba-tiba, di dalam kepalaku, muncul gambar yang sangat spesifik: kap mobil di parkiran gedung mirip kantor pos, dua bahu yang menempel, dan seorang laki-laki dengan radius pribadi seukuran lapangan futsal yang tidak bergerak sedikit pun selama entah berapa lama.
Aku menutup mata dengan kedua tangan.
“Nggak,” kataku ke plafon. “Nggak. Itu geometri.”
Ponselku menyala di lantai, di samping kepalaku.
Gala: kaldu
Aku menatapnya.
Gala: ternyata bisa pakai panci biasa
Gala: tapi 8 jam
Gala: gue nggak punya waktu 8 jam
Aku mengetik.
Aku: kamu beneran nyari cara bikin kaldu
Aku: jam 11 malam
Aku: GALA
Aku: kamu bilang tadi cuma buat pasal dua
Aku: BOHONG YA KAMU
Tiga titik. Lama sekali. Untuk seseorang yang mengetik dua ratus kata per menit dalam pekerjaannya, Gala menyusun pesan seperti orang memahat batu.
Gala: nggak bohong
Gala: dua duanya bener
Aku memandangi layar itu, tersenyum ke arah plafon seperti orang yang kehilangan akal sehat, dan baru sadar dua puluh menit kemudian bahwa aku masih tersenyum.
Malam itu aku tidur jam satu, dan hal terakhir yang aku pikirkan sebelum tidur adalah bahwa besok aku harus mengecek satu hal.
Cuma satu hal kecil.
Ukuran jas.
- 1 Jumat Keempat Puluh Tiga
- 2 Pasal Tiga
- 3 Survey Pertama
- 4 Pasal Dua Dilanggar Vio reading
- 5 Lembur
- 6 Fitting
- 7 Hujan, Satu Payung, Klise
- 8 Yang Merobek Duluan
- 9 Aturan Baru
- 10 Food Testing Kedua
- 11 Vio Menyelidik
- 12 Dapur
- 13 Yang Terakhir Mati
- 14 Souvenir
- 15 Telur
- 16 Angkatan
- 17 Poin Delapan
- 18 Lilin
- 19 Tujuh Hari
- 20 Empat Kursi
- 21 Gladi
- 22 Dua Kopi
- 23 Lobi
- 24 Kabel
- 25 Seratus Dua Puluh Delapan
- 26 Kursi Tamu
- 27 Jumat Keempat Puluh Delapan
- 28 Pasal Lima