Chapter Twenty
Empat Kursi
POV: Agnes
Gala menelepon aku hari Kamis jam delapan pagi. H-2.
“Gue mau bilang ke Damar.”
Aku sedang menyikat gigi. Aku berhenti.
“Sekarang?”
“Hari ini.”
“Gal, Vio bilang—”
“Gue tau apa yang Vio bilang.”
Aku meludahkan busa dan memegang wastafel dengan satu tangan.
“Dia minta kita nunggu sampai selesai.”
“Dia minta lo nunggu,” kata Gala. “Dia nggak ngomong apa-apa ke gue.”
“Itu teknis banget.”
“Iya.”
“Gal.”
“Nes, dia udah nyimpen lima hari.” Suaranya pelan seperti biasa, dan seperti biasa itu membuat semuanya terdengar lebih serius. “Dua hari lagi dia berdiri di depan tiga ratus orang dan bilang dia nggak akan nyimpen apa-apa dari Damar. Dan dia bakal ngomong itu sambil nyimpen sesuatu. Karena kita.”
Aku tidak mengatakan apa-apa.
“Gue yang bikin dia harus nyimpen,” katanya. “Jadi gue yang harus ngambil balik.”
“Kita.”
“Nes—”
“Kita, Gal.” Aku sudah memegang kunci mobil. “Jangan berani-berani kamu ke sana sendirian.”
Percetakan Damar ada di ruko dua lantai di daerah yang jalanannya selalu macet. Kami sampai jam sepuluh.
Damar sedang berdiri di depan mesin cetak dengan tangan penuh tinta dan wajah orang yang belum tidur.
“WOI!” Dia melambai dengan siku. “Kenapa kalian ke sini? Ada masalah sama layar?”
“Nggak,” kata Gala.
“Souvenir?”
“Nggak.”
“Terus?”
Dan Gala berdiri di tengah percetakan sahabatnya, di antara tumpukan kertas dan bau tinta, dan berkata:
“Gue pacaran sama Agnes.”
Mesin cetak itu terus berjalan.
Itu detail yang aku ingat paling jelas: tidak ada yang berhenti. Mesinnya terus berbunyi. Karyawan Damar terus bekerja di lantai atas. Sebuah motor lewat di luar.
Damar berdiri di sana dengan tangan penuh tinta.
“Sejak kapan,” katanya.
“Sebelas minggu.”
“Sebelas.”
“Iya.”
Damar mengangguk pelan. Lalu mengambil lap dari saku celananya dan mulai membersihkan tangannya, jari per jari, dengan sangat teliti, dan dia melakukan itu selama mungkin dua puluh detik penuh tanpa mengatakan apa pun.
“Mar—” aku memulai.
“Bentar.”
Dia menyelesaikan tangan kanannya. Lalu tangan kirinya.
Lalu melipat lap itu dan memasukkannya kembali ke saku, dan berkata:
“Vio udah tau?”
Dan di situ aku tahu bahwa hari itu akan jauh lebih buruk daripada yang aku bayangkan.
“Iya,” kata Gala.
“Dari kapan.”
“Lima hari.”
Damar mengangguk. Berjalan ke mesin cetak. Mematikannya.
Ruko itu tiba-tiba sunyi.
“Lima hari,” katanya. “Jadi lima hari terakhir dia bangun tidur di sebelah gue sambil nyimpen ini.”
“Mar—” aku memulai.
“Nes, bentar.”
Dia bersandar ke meja potong dan menatap lantai.
“Gue bukan orang pinter,” katanya. “Gue tau itu. Gue nggak bisa ngomong bagus kayak lo, Nes. Gue nggak bisa mikir kayak Gala.”
“Mar, jangan—”
“Tapi gue bisa ngitung.” Dia mengangkat kepalanya. “Sebelas minggu. Berapa kali gue nanya kabar kalian?”
Tidak ada yang menjawab.
“Berapa kali gue telepon lo jam dua pagi, Gal?”
“Banyak.”
“Berapa kali lo denger gue sampai selesai?”
“Semua.”
“Terus berapa kali gue nanya lo lagi apa?”
Dan Gala tidak menjawab, karena jawabannya tidak ada, dan karena Damar sedang menuduh dirinya sendiri.
“Ya udah,” kata Damar akhirnya. Dia mengambil kunci dari meja. “Malam ini. Rumah gue. Berempat.”
“Mar—”
“Gue nggak marah, Nes.” Dia berjalan ke pintu. “Gue cuma baru sadar gue tiga bulan cuma ngomongin diri gue sendiri.”
Kami berempat berkumpul jam delapan malam di rumah Damar.
Di ruang tamu yang sama, dengan sofa yang sama, tempat sebelas minggu lalu aku meletakkan selembar kertas HVS bergaris di tengah karena printerku jelek.
Empat kursi. Satu meja.
Vio duduk paling terakhir.
“Aku mau denger dari kamu,” katanya, ke aku. “Bukan dari Gala. Gala udah cerita ke Damar. Aku mau denger dari kamu.”
“Vi—”
“Kapan.”
“Sebelas minggu lalu. Malam kita lipet undangan.”
“Malam kalian lipet undangan,” ulangnya. “Yang kalian video call aku dari situ.”
Aku menutup mata.
“Iya.”
“Aku inget malam itu,” kata Vio. “Aku inget aku bilang kalian malaikat.”
“Vi.”
“Terus?”
“Terus kami mau bilang.”
“Kapan?”
“Besoknya. Terus venue-nya rusak.”
“Terus?”
“Terus—” dan aku mendengar suaraku sendiri dan aku tahu betapa buruknya itu terdengar, “—terus ada souvenir. Terus ada layar. Terus ada tamu tambahan dari orang tua kamu.”
Vio tertawa. Satu kali. Tanpa suara.
“Jadi aku,” katanya. “Nikahan aku. Itu alasannya.”
“BUKAN—”
“Bukan?”
Dan Vio mencondongkan badannya ke depan, dan untuk pertama kalinya dalam delapan tahun aku melihat wajah itu tanpa satu pun lapisan.
“Aku mau bilang sesuatu, dan aku cuma mau bilang sekali,” katanya. “Aku nggak marah karena kalian pacaran. Aku seneng kalian pacaran. Aku udah pengen kalian pacaran sejak tahun kedua kuliah dan aku pernah bikin taruhan sama Damar soal itu dan aku kalah dua kali.”
“Vi—”
“Aku marah karena kalian mikir kebahagiaan aku itu sempit.”
Ruangan itu diam total.
“Kalian mikir hari nikahan aku itu barang pecah belah,” katanya. “Yang kalau kalian taruh satu hal lagi di atasnya, dia bakal remuk. Kalian mikir aku sekecil itu.”
Aku membuka mulut dan tidak ada apa pun di sana.
“Aku nikah, Nes. Aku nggak lagi sekarat.” Suaranya naik untuk pertama kalinya. “Aku bisa dengerin kabar bagus. Aku bisa dengerin kabar bagus dan tetep milih taplak di hari yang sama. Aku bukan orang yang harus dilindungin dari sahabatku sendiri jadian.”
“Vi, aku—”
“Dan kamu tau bagian yang paling nggak enak?”
Dia menatapku.
“Lima hari terakhir aku bangun tiap pagi dan mikirin gimana caranya nggak keceplosan sama Damar. Lima hari, Nes. Di minggu terakhir aku sebagai orang yang belum nikah.” Matanya basah, tapi suaranya tidak. “Aku nggak dapet minggu itu. Aku ngabisin minggu itu buat jagain rahasia orang lain.”
“Itu gue,” kata Gala.
Semua orang menoleh.
“Itu gue,” ulangnya. “Bukan Agnes. Agnes mau bilang dari minggu ketiga. Gue yang nunda. Tiap kali. Gue punya alasan tiap kali dan alasannya selalu masuk akal.”
Dan Damar — yang sejak tadi duduk diam di kursi keempat, yang belum mengatakan satu kata pun sejak kami duduk — akhirnya bicara.
“Kenapa?”
“Apa?”
“Kenapa lo nunda.” Damar tidak marah. Suaranya bahkan lebih pelan dari Gala. “Delapan tahun, Gal. Lo pikir gue bakal ngapain?”
Gala tidak menjawab.
“Lo pikir gue bakal marah?”
Tidak menjawab.
“Lo pikir gue bakal ngerasa kalian ngerebut hari gue?”
Dan Gala berkata, sangat pelan:
“Gue pikir gue bakal jadi hal yang harus lo urus.”
Damar menutup matanya.
“Astaga, Gal.”
Tidak ada yang berteriak.
Itu yang paling aku ingat. Empat orang di satu ruang tamu, dan tidak ada satu pun teriakan, dan itu jauh lebih buruk daripada empat ratus versi yang pernah aku bayangkan.
Vio berdiri jam sembilan.
“Aku nikah lusa,” katanya. “Kita bakal ngelewatin lusa. Semuanya bakal jalan. Aku bakal senyum di foto dan kalian bakal berdiri di sebelah kami dan itu bakal bagus.”
“Vi—”
“Tapi habis itu kita ngomong lagi.” Dia mengambil tasnya. “Dan aku nggak mau ngomong apa-apa sampai habis itu, karena aku cuma punya dua hari dan aku mau make dua hari itu buat nikah.”
Dia berjalan ke pintu.
Lalu berhenti.
“Nes.”
“Iya?”
“Kamu masih bridesmaid aku,” katanya, tanpa berbalik. “Itu nggak berubah. Aku nggak nyabut apa pun. Aku cuma lagi marah.”
Dan dia keluar.
Aku menemukan Vio di teras sepuluh menit kemudian, duduk di anak tangga, memandangi jalan.
Aku duduk di sebelahnya tanpa bertanya apakah boleh.
Kami tidak bicara selama beberapa menit.
“Aku beneran udah nebak dari fitting,” katanya akhirnya.
“Aku tau.”
“Aku nunggu kamu cerita.”
“Aku tau.”
“Tiap Jumat aku duduk di seberang kamu dan aku nunggu.” Dia menggosok wajahnya dengan telapak tangan. “Aku bikin kesempatan, Nes. Aku ngajak kamu ke kafe. Aku curhat duluan soal ibuku biar kamu ngerasa aman. Aku ngasih kamu pintu tiga kali.”
Sesuatu di dadaku hancur pelan-pelan.
“Aku pikir kamu lagi nyidik.”
“Aku emang nyidik,” katanya. “Tapi aku nyidik biar kamu cerita, bukan biar aku nangkep kamu.”
Dia menoleh untuk pertama kalinya.
“Kamu pikir aku mau nangkep kamu?”
Dan aku menangis di teras rumah calon suami sahabatku, dua hari sebelum pernikahannya, dengan tangan menutup mulut supaya tidak bersuara.
Vio tidak memelukku.
Itu bagian yang paling menyakitkan, dan juga bagian yang membuatku tahu bahwa dia benar-benar sahabatku: dia tidak memelukku, karena memelukku akan membuatku merasa lebih baik, dan aku belum boleh merasa lebih baik.
Dia cuma duduk di sana sampai aku selesai.
“Vi.”
“Hm.”
“Aku takut.”
“Takut apa?”
“Takut ngerusak kita berempat,” kataku. “Aku bikin Pasal Tiga karena aku takut kalau aku sama Gala jadian terus gagal, kita berempat bubar. Aku nggak mau kehilangan ini.”
Dan Vio memandangi jalan itu untuk waktu yang lama.
“Nes,” katanya akhirnya. “Kamu tau apa yang hampir bikin kita bubar?”
“Apa?”
“Bukan kalian jadian.”
Dia berdiri dan mengibaskan belakang roknya.
“Tapi kalian mikir kalian harus ngerahasiain itu dari kami.”
- 1 Jumat Keempat Puluh Tiga
- 2 Pasal Tiga
- 3 Survey Pertama
- 4 Pasal Dua Dilanggar Vio
- 5 Lembur
- 6 Fitting
- 7 Hujan, Satu Payung, Klise
- 8 Yang Merobek Duluan
- 9 Aturan Baru
- 10 Food Testing Kedua
- 11 Vio Menyelidik
- 12 Dapur
- 13 Yang Terakhir Mati
- 14 Souvenir
- 15 Telur
- 16 Angkatan
- 17 Poin Delapan
- 18 Lilin
- 19 Tujuh Hari
- 20 Empat Kursi reading
- 21 Gladi
- 22 Dua Kopi
- 23 Lobi
- 24 Kabel
- 25 Seratus Dua Puluh Delapan
- 26 Kursi Tamu
- 27 Jumat Keempat Puluh Delapan
- 28 Pasal Lima