← Obat Nyamuk

Chapter Twenty One

Gladi

POV: Agnes

Gladi resik dimulai jam empat sore di Graha Kencana Wangi dan berlangsung selama tiga jam empat puluh menit.

Semuanya berjalan lancar.

Aku ingin menekankan itu: semuanya berjalan lancar. Tidak ada yang salah. Tidak ada vendor yang telat, tidak ada dekorasi yang jatuh, tidak ada satu pun dari empat ratus lima puluh hal yang gagal.

Dan itu adalah tiga jam empat puluh menit terburuk dalam hidupku.


Begini cara empat orang yang saling menyayangi bekerja bersama tanpa saling bicara:

Vio berdiri di depan, mengatur segalanya, dengan suara yang normal dan efisien dan sama sekali tidak berteriak. Dia tidak berteriak sekali pun sepanjang sore. Bu Retno bertanya apakah dia sakit.

Damar mengurus vendor, mengangkat kursi, dan tertawa dengan orang-orang katering. Dia tertawa terlalu banyak. Dia orang yang menutupi kegelisahan dengan volume, dan sore itu volumenya penuh.

Gala mengurus layar, sound system, dan seluruh kabel yang membentang di sepanjang sisi kiri aula. Dia bekerja sendirian dan tidak ada yang mendekat karena tidak ada yang mengerti apa yang dia kerjakan.

Dan aku memegang empat daftar dan mencentang.

Kami saling bicara — tapi cuma dalam bentuk instruksi.

“Mic dua nggak nyala.”

“Bentar.”

“Kursi meja tujuh kurang satu.”

“Aku ambil.”

“Taplak yang ini kotor.”

“Ganti aja.”

Sepanjang sore itu, kami mengucapkan sekitar seratus kalimat, dan tidak satu pun di antaranya kalimat.


Jam lima, kami harus melatih prosesi.

Ini bagian yang tidak pernah aku bayangkan akan terasa seperti hukuman.

Damar berdiri di ujung lorong penghubung — lorong yang sama, lorong dengan sakelar di dinding kiri, lorong tempat lampu terakhir mati di atas kepala kami tiga minggu lalu.

Gala berdiri di sebelah kanannya.

Aku berdiri di sisi seberang, di posisi bridesmaid.

Dan Vio berjalan dari ujung sana, tanpa gaun, memakai kaus dan celana pendek, menghitung langkah dengan koordinator acara.

“Pelan, Mbak. Delapan hitungan per empat langkah.”

“Segini?”

“Lebih pelan.”

Dia mengulanginya empat kali.

Dan aku berdiri di sana empat kali, di seberang Gala, dalam jarak sekitar tiga meter, dan setiap kali Vio berjalan aku bisa melihat Gala di seberang lorong dan Gala bisa melihat aku, dan kami berdua harus terus menghadap ke depan.

Di pengulangan ketiga, aku melihatnya menoleh.

Cuma sekali. Setengah detik. Ke arah dinding kiri, ke sakelar itu.

Lalu kembali menghadap ke depan.

Aku hampir tidak bisa menyelesaikan pengulangan keempat.


Jam enam, aku menemukan Vio sendirian di ruang rias.

Dia sedang duduk di kursi menghadap cermin, dan gaunnya tergantung di belakangnya dengan plastik pelindung yang belum dibuka.

“Vi.”

“Hm.”

“Boleh aku duduk?”

Dia mengangguk ke arah kursi kosong.

Kami duduk berdampingan menghadap cermin, dan itu ternyata jauh lebih mudah daripada duduk berhadapan, dan aku mencurigai Vio tahu itu.

“Besok jam berapa kamu bangun?” tanyaku.

“Tiga.”

“Tiga?”

“MUA-nya dateng jam empat.”

“Aku dateng jam empat juga.”

“Kamu nggak perlu.”

“Aku dateng jam empat,” ulangku.

Vio memandangi pantulan kami di cermin.

“Nes.”

“Hm.”

“Besok aku bakal nangis pas ijab.”

“Aku tau.”

“Aku bawa dua sapu tangan tapi itu nggak cukup.”

“Aku bawa tisu di tas. Dan sendok dingin. Dan lipstik cadangan warna kamu. Dan peniti dua belas.”

Vio menoleh.

“Dua belas?”

“Sepuluh peniti kecil, dua besar.”

Dan Vio menatapku di cermin selama beberapa detik, dan aku melihat sesuatu di wajahnya melunak sekitar dua persen.

“Kamu udah nyiapin itu dari kapan?”

“Tiga minggu lalu.”

Dia tidak mengatakan apa-apa.

Lalu dia berkata, ke cermin, bukan ke aku:

“Aku masih marah.”

“Aku tau.”

“Aku bakal marah sampai lusa. Mungkin lebih.”

“Aku tau.”

“Tapi makasih buat penitinya.”

Dan itu — dua belas peniti — adalah hal pertama dalam tiga hari yang terasa seperti sesuatu yang tidak rusak.


Aula itu dingin.

Bukan dingin biasa. Vendor AC menyalakan semuanya pada tingkat maksimum sejak jam dua untuk mengetes beban listrik, dan tidak ada yang menurunkannya karena Damar bilang “biarin, besok kan penuh orang”.

Jam tujuh, aku sudah tidak bisa merasakan jari-jariku.

Aku sedang berdiri di dekat pintu belakang mencentang daftar keempat — daftar barang yang harus dibawa besok pagi — dan aku menggigil dengan cara yang mengganggu tulisanku.

Dan lalu ada berat di bahuku.

Jaket.

Jaket abu-abu dengan resleting rusak sebelah, yang tiga hari lalu masih ada di kursi belakang mobilku dan yang aku kembalikan ke pemiliknya hari Kamis dalam sebuah gestur yang aku pikir sangat dewasa dan sekarang aku sesali.

Aku tidak berbalik.

Aku berdiri menghadap daftar keempat dengan pulpen di tangan dan tidak berbalik selama mungkin lima detik.

Waktu aku akhirnya berbalik, dia sudah berjalan kembali ke arah kabel-kabelnya di sisi kiri aula, tiga puluh meter jauhnya, dengan punggung yang tidak mengatakan apa-apa.

Kami tidak berbicara sejak semalam.

Bukan bertengkar. Lebih buruk dari bertengkar. Kami tidak bertengkar sama sekali — kami cuma tidak punya apa-apa untuk dikatakan, karena semua yang perlu dikatakan sudah dikatakan di ruang tamu Damar dan tidak satu pun dari kalimat-kalimat itu bisa ditarik kembali.

Aku memakai jaket itu.

Dan aku terus mencentang daftar keempat, dan tanganku berhenti bergetar, dan aku menyelesaikan tiga puluh dua item terakhir dengan tulisan yang rapi.


Kami selesai jam delapan lewat.

Di parkiran, Damar mengumpulkan kami berempat — dan itu satu-satunya momen sepanjang hari di mana kami berdiri dalam satu lingkaran.

“Oke,” katanya. “Besok. Semua orang jam empat.”

“Jam empat,” kata Vio.

“Jam empat,” kataku.

“Jam tiga,” kata Gala.

Kami semua menoleh.

“Sound sama layar harus dites sebelum vendor dateng,” katanya. “Kalau ada yang error, gue butuh dua jam.”

“Gal, lo tidur jam berapa?”

“Nggak tau.”

“Lo tidur kan?”

“Iya.”

“Lo bohong.”

“Iya.”

Dan Damar menepuk dada Gala sekali dengan punggung tangannya — gestur yang sudah aku lihat delapan tahun, gestur yang artinya sudah, cukup, gue ngerti — dan untuk pertama kalinya sejak Kamis, ada sesuatu di antara mereka berdua yang bergerak sedikit.

Gala tidak menepuk balik.

Tapi dia tidak mundur.


Aku pulang sendirian.

Di dalam mobil, di lampu merah kedua, aku sadar aku masih memakai jaketnya.

Aku menyalakan lampu kabin dan melihat ke bawah dan menemukan bahwa resletingnya masih rusak sebelah, dan bahwa ada bau yang aku kenal, dan bahwa di saku kanan ada sesuatu.

Aku merogohnya.

Tempelan parkir. Satu lembar.

Bukan tempelan parkir kantorku.

Tempelan parkir dari gedung apartemenku, tanggal empat hari lalu, yang berarti dari malam hujan itu.

Dia menyimpannya.

Aku duduk di lampu merah yang sudah hijau selama entah berapa detik sampai mobil di belakangku membunyikan klakson.


Aku (22:14): gal

Aku (22:14): makasih jaketnya

Aku (22:16): aku tau kita lagi nggak

Aku (22:16): aku nggak tau kita lagi apa sebenernya

Aku (22:17): tapi makasih

Tiga titik.

Muncul. Hilang.

Muncul. Hilang.

Muncul.

Gala (22:31): lo kedinginan

Dan itu saja. Empat kata.

Aku membaca empat kata itu berkali-kali sambil duduk di lantai kamarku, dan aku sadar bahwa aku sedang mencari sesuatu di dalamnya — mencari tanda, mencari petunjuk apakah kami masih ada.

Dan aku tidak menemukan apa pun, karena empat kata itu persis sama dengan empat kata yang akan dia kirim sebelas minggu lalu, atau setahun lalu, atau delapan tahun lalu.

Itu masalahnya dengan orang yang mencintai lewat tindakan kecil.

Waktu semuanya rusak, kamu tidak bisa membedakan apakah tindakan kecil itu masih berarti sesuatu — atau apakah dia cuma orang yang tidak bisa membiarkan orang lain kedinginan.


Aku menyetel alarm jam setengah tiga.

Lalu aku menggantung gaun sage di balik pintu kamar, dan meletakkan tas berisi dua belas peniti dan sendok dingin dan lipstik cadangan di sebelah pintu, dan menyusun sepatu di atasnya supaya tidak mungkin aku lupa.

Lalu aku duduk di kasur dengan jaket abu itu masih di badanku dan tidak melepasnya.

Besok Vio menikah.

Besok pagi jam empat aku akan berdiri di ruang rias dan menyisir rambut sahabatku dan memberikan sendok dingin ke matanya, dan jam delapan aku akan berdiri tiga meter dari orang yang aku cintai dan kami berdua akan menghadap ke depan.

Dan lusa — lusa, entah bagaimana — kami berempat harus mencari tahu apakah masih ada empat kursi.

Aku tidur jam satu dengan lampu menyala dan jaket yang tidak dilepas.

Alarmnya berbunyi satu setengah jam kemudian.