← Aku Cuma Kebetulan Lewat

Chapter Nine

Kebaikan yang Tidak Ditujukan Kepadaku

POV: Alya

Aku tidak jatuh cinta kepada Raka hari itu.

Setidaknya, aku belum mau menyebutnya begitu.

Tapi kalau nanti seseorang bertanya kapan rasa penasaranku berubah menjadi sesuatu yang lebih serius, mungkin aku akan mengingat tiga kardus, seorang petugas kampus, dan Raka yang sama sekali tidak tahu aku ada di sana.

Siang itu panas.

Naya dan aku baru keluar dari gedung administrasi setelah mengurus berkas. Kami berteduh di koridor ketika seorang petugas berjalan dari gudang kecil sambil membawa tumpukan kardus.

Salah satunya terlihat miring.

Aku baru hendak bilang pada Naya mungkin kami sebaiknya membantu ketika seseorang lebih dulu mendekat.

Raka.

Dia sedang berjalan bersama Dimas dari arah berlawanan.

Raka berhenti tanpa banyak bicara.

“Pak, yang ini ke mana?”

Petugas itu tampak sedikit kaget. “Oh, ke ruang sebelah, Mas. Nggak apa-apa, saya bisa.”

“Sekalian, Pak.”

Raka mengambil dua kardus teratas.

Dimas menatapnya, lalu menghela napas dramatis.

“Kalau kamu ambil dua, aku kelihatan jahat kalau nggak ikut.”

“Ya jangan ikut.”

“Lebih jahat lagi.”

Dimas mengambil satu kardus.

Aku hampir tertawa.

Mereka berjalan bersama petugas itu ke ruangan di ujung koridor.

Raka tidak melihat ke arahku.

Sama sekali.

Dia tidak tahu aku berdiri sekitar dua puluh meter darinya.

Itu seharusnya bukan sesuatu yang luar biasa.

Orang membantu orang lain setiap hari.

Tapi aku tetap memperhatikan.

Beberapa menit kemudian Raka dan Dimas keluar lagi.

Dimas mengatakan sesuatu yang tidak kudengar. Raka tertawa kecil, lalu membantu petugas menahan pintu untuk orang lain yang membawa barang.

Setelah itu mereka pergi.

Tidak melihat sekeliling.

Tidak mencari siapa yang mungkin memperhatikan.

Tidak ada penonton yang diperlukan.

Aku masih memandang arah mereka ketika Naya berkata, “Mau jalan?”

“Hm?”

“Berkas kita sudah selesai.”

“Oh. Iya.”

Kami mulai berjalan.

Beberapa langkah kemudian aku bertanya, “Raka memang sering begitu?”

Naya menoleh. “Begitu gimana?”

“Bantu orang.”

“Kenapa tanya aku? Aku bukan biografernya.”

Aku terdiam.

Benar juga.

Naya lalu tersenyum kecil. “Tapi kayaknya iya.”

“Kok tahu?”

“Pernah lihat dia bantu anak kelas sebelah benerin file presentasi. Terus waktu acara kampus kemarin dia juga ikut angkat kursi, padahal bukan panitianya.”

Aku tidak tahu dua hal itu.

Entah kenapa informasi tersebut terasa menyenangkan.

Jadi memang begitu orangnya.

Bukan baik kepadaku karena dia tertarik.

Bukan tersenyum sopan karena ingin mendekat.

Dia memang terbiasa melakukan hal-hal kecil tanpa banyak bicara.

Kami sampai di tangga.

Aku masih memikirkan itu.

“Alya.”

“Hm?”

“Turunnya lihat depan.”

Aku hampir melewatkan satu anak tangga.

Aku langsung memegang pegangan.

Naya tertawa.

“Diam.”

“Aku belum ngomong.”

“Kamu mau.”

“Tentu.”

Kami makan siang di tempat berbeda hari itu.

Aku tidak melihat Raka lagi sampai sore.

Anehnya, ketika akhirnya bertemu di halaman, perasaanku berbeda sedikit.

Raka melihatku dari jauh.

Senyum yang sama muncul.

Aku membalas.

Tapi kali ini aku tidak hanya melihat cowok yang sering sengaja lewat kantin.

Aku melihat seseorang yang tadi mengangkat kardus tanpa tahu aku memperhatikannya.

Seseorang yang tidak perlu terlihat baik untuk melakukan hal baik.

Dadaku terasa hangat.

Raka dan Dimas mendekat.

“Hai,” sapaku.

“Hai.”

“Kelas?”

“Baru selesai.”

Aku mengangguk.

Ada dorongan aneh untuk mengatakan aku melihatnya tadi.

Tapi kalau kukatakan, mungkin dia akan mengira aku memperhatikannya.

Yang memang benar.

Itulah masalahnya.

Jadi aku bertanya hal lain.

“Capek?”

Raka tampak sedikit bingung. “Nggak terlalu.”

“Bohong. Mukamu capek.”

Dimas langsung menyela, “Nah, tolong bilangin. Dia kalau ada orang minta tolong—”

Raka menyikut lengannya pelan.

“Apa?” tanyaku.

“Fitnah,” kata Raka.

Dimas menatapku dengan ekspresi orang yang dizalimi.

Aku tertawa.

Kami bicara beberapa menit sebelum berpisah.

Saat Raka pergi, aku menyadari sesuatu.

Dulu aku memperhatikan apakah dia lewat.

Sekarang aku mulai memperhatikan bagaimana dia menjalani harinya.

Perubahannya kecil, tapi terasa.

Malamnya Naya menelepon untuk membahas tugas.

Setelah urusan selesai, dia tiba-tiba berkata, “Kamu suka Raka, ya?”

Aku hampir menjatuhkan pulpen.

“Apaan?”

“Pertanyaan.”

“Nggak tahu.”

Aku sendiri terkejut dengan jawaban itu.

Biasanya aku akan langsung bilang tidak.

Naya juga diam sesaat.

“Nggak tahu?”

Aku memutar pulpen.

“Aku... suka lihat dia.”

“Itu sudah kita tahu.”

“Bukan cuma itu.”

Aku berhenti.

Sulit menjelaskan sesuatu yang bahkan belum kupahami.

“Aku kira awalnya cuma karena dia sering lewat. Lucu aja. Terus dia kelihatan baik.”

“Ke kamu?”

“Nah, itu.”

Aku menatap meja.

“Bukan ke aku.”

Aku menceritakan kejadian kardus tadi.

Naya mendengarkan tanpa menyela.

Setelah selesai, dia berkata, “Oh.”

“Apa?”

“Nggak apa-apa.”

“Naya.”

“Aku ngerti.”

“Ngerti apa?”

“Kenapa kamu lihat dia beda sekarang.”

Aku tidak menjawab.

Karena dia benar.

Kalau Raka hanya baik kepadaku, aku mungkin akan menganggapnya bagian dari usahanya mendekat.

Tapi Raka baik ketika aku tidak ada.

Atau lebih tepatnya, ketika dia mengira aku tidak ada.

Dan anehnya, itu jauh lebih berbahaya bagi hatiku.

Setelah telepon selesai, aku membuka ponsel.

Aku belum punya kontak Raka.

Tidak ada chat untuk dibuka.

Jadi aku cuma meletakkannya lagi.

Lalu mengingat senyumnya sore tadi.

Dia memang begitu.

Pikiran itu membuatku tersenyum.

Bukan karena Raka menyukaiku.

Untuk pertama kalinya, aku merasa sedang mulai menyukai sesuatu tentang Raka yang sama sekali tidak ada hubungannya denganku.

Dan mungkin justru itu yang membuatku sedikit takut.

Karena rasa penasaran bisa hilang setelah mendapat jawaban.

Tapi kalau aku mulai menyukai orangnya...

Wah.

Aku menutupi wajah dengan kedua tangan.

Ini mulai bahaya.