← Aku Cuma Kebetulan Lewat

Chapter Twenty Seven

Jalan yang Dulu Terasa Jauh

POV: Alya

Setelah Dimas membocorkan sejarah operasi kantin Raka, aku punya satu pertanyaan penting.

“Seberapa jauh sebenarnya kamu muter?”

Raka yang sedang minum berhenti.

Kami duduk di taman kampus, hanya berdua.

“Nggak jauh.”

Jawaban terlalu cepat.

Aku menyipitkan mata.

“Raka.”

“Lumayan.”

“Seberapa lumayan?”

Dia melihatku seperti sedang mempertimbangkan apakah hubungan kami cukup kuat untuk menerima kenyataan.

Akhirnya dia berdiri.

“Ya udah. Aku tunjukin.”

Aku langsung ikut.

Kami mulai dari gedung tempat kelas Raka dulu sering berlangsung.

Dia menunjukkan jalur normal menuju perpustakaan.

Pendek.

Masuk akal.

Kemudian jalur yang dulu sering dia ambil.

Kami berjalan.

Belok satu koridor.

Lewat taman.

Turun tangga.

Sampai akhirnya kantin tengah terlihat.

Aku berhenti.

Melihat ke belakang.

Kemudian Raka.

“Kamu muter sejauh ini?”

“Nggak jauh.”

“Raka.”

“Kalau jalan santai... ya lumayan.”

Aku menutup mulut karena mulai tertawa.

Raka terlihat malu.

“Jangan diketawain.”

“Aku nggak ngetawain.”

Aku jelas tertawa.

“Ini jauh!”

“Nggak setiap hari.”

“Berapa kali seminggu?”

Dia diam.

Aku semakin tertawa.

Ya ampun.

Bayangan Raka versi dulu berjalan ekstra hanya untuk melewati mejaku beberapa detik terasa terlalu manis.

Aku meraih lengannya.

“Kenapa nggak langsung nyapa?”

“Belum kenal.”

“Setelah kenal?”

“Takut ganggu.”

“Setelah kita chat?”

Raka melihatku.

“Ya... sudah kebiasaan.”

Aku tertawa lagi.

Kami masuk kantin.

Aku menunjuk meja yang dulu sering kupakai bersama Naya.

“Duduk sana.”

Kami duduk.

Dari posisi ini, jalur yang biasa dilewati Raka terlihat jelas.

Aku menatapnya.

Kemudian muncul rasa malu karena aku ingat sisi ceritaku sendiri.

Raka rupanya juga ingat.

“Sekarang giliran kamu.”

“Apa?”

“Kamu pernah nungguin berapa kali?”

Aku pura-pura sibuk membuka minuman.

“Nggak ingat.”

“Bohong.”

“Sedikit.”

Raka mengangkat alis.

Aku mendesah.

“Ya udah.”

Aku mulai mengaku.

Pernah sengaja memilih kursi yang menghadap jalur.

Pernah memperlambat langkah karena melihat Raka dari jauh.

Pernah memutar lewat gedung barat.

Pernah datang lebih awal hanya supaya kemungkinan bertemu lebih besar.

Raka mendengarkan dengan senyum yang semakin sulit disembunyikan.

“Jangan senyum.”

“Kenapa?”

“Malu.”

“Katanya aku yang parah.”

“Kamu memang parah.”

“Kamu juga.”

Aku tidak bisa membantah.

Lalu aku ingat satu hal.

“Pernah juga...”

“Apa?”

Aku ragu.

Raka menunggu.

“Aku pernah benerin rambut karena lihat kamu datang.”

Dia berhenti.

Aku langsung menyesal.

“Kamu sampai begitu?”

Aku menunjuknya.

“Kamu muter tiga gedung.”

“Itu beda.”

“Bedanya apa?”

Raka tidak punya jawaban.

Aku menang.

Beberapa detik kami cuma saling melihat.

Kemudian tertawa bersama.

Rasanya lucu sekali.

Selama berbulan-bulan, kami masing-masing mengira sedang menyimpan rahasia.

Raka merasa hanya dia yang mencari.

Aku merasa perubahan rute dan waktu tungguku tidak terlihat.

Ternyata dua-duanya sama bodoh.

Setelah tawa reda, Raka melihat jalur di depan kantin.

“Berarti waktu aku nyariin kamu...”

Aku tahu kelanjutannya.

“Kadang aku juga nyariin kamu.”

Dia menoleh.

Ada sesuatu yang lembut di matanya.

Aku menyender ke bahunya.

Dulu jarak antara meja ini dan jalur itu terasa cukup untuk menampung seluruh hubungan kami.

Raka lewat.

Aku melihat.

Senyum.

Selesai.

Sekarang aku bisa menyender sesuka hati.

Tangannya mencari tanganku di atas meja.

Aku menggenggam.

“Raka.”

“Hm?”

“Kamu waktu itu kira kelihatan natural?”

“Iya.”

Aku langsung tertawa lagi.

“Serius?”

“Menurutku.”

“Ya ampun.”

“Kenapa?”

“Kamu tiap beberapa hari lewat di jam yang mirip.”

“Kan jadwal.”

“Gedungmu di sana.”

Raka menutup wajah sebentar.

Aku semakin gemas.

Mungkin kalau dulu aku lebih berani, aku bisa menyapanya lebih cepat.

Tapi kemudian aku berpikir lagi.

Kalau semuanya terjadi lebih cepat, mungkin kami tidak punya semua momen kecil ini.

Hari ketika aku sadar menunggu.

Pertama kali tahu namanya.

Chat sampai malam.

Jalan memutar.

Senyum-senyum bodoh.

Aku tidak ingin menukar semuanya.

Aku mengangkat kepala dari bahunya.

Raka melihatku.

Senyum itu muncul lagi.

Dari dekat.

Tidak lagi cuma beberapa detik.

Aku bisa melihatnya selama aku mau.

Dan lucunya, setelah semua ini, efeknya masih sama.

Dadaku tetap hangat.

Aku masih ingin membalas.

Aku menyentuh pipinya pelan.

“Kenapa?” tanyanya.

“Nggak apa-apa.”

“Kamu kalau bilang begitu biasanya ada.”

Aku tersenyum.

“Aku suka senyummu.”

Raka terdiam.

Sekarang telinganya merah.

Bagus.

Aku masih punya kekuatan.

Aku kembali menyender.

Kantin di sekitar kami ramai.

Orang datang dan pergi.

Di jalur depan, mahasiswa terus lewat.

Aku tidak menunggu siapa-siapa lagi.

Orang yang dulu kutunggu sudah duduk tepat di sebelahku.

Dan ternyata, sejak jauh sebelum kami berani mengaku, kami sudah berjalan saling mendekat.

Hanya saja rutenya memang sedikit memutar.