Chapter Sixteen
Kalau Aku Memang Menunggumu?
POV: Alya
Aku tahu jadwal Raka hari Rabu.
Bukan karena menghafal.
Aku cuma tahu.
Ada perbedaan.
Menurutku.
Naya tidak setuju.
“Kelas dia selesai jam dua, kan?” tanyanya ketika kami keluar dari perpustakaan.
Aku menatapnya.
“Kok tanya aku?”
“Karena kamu tahu.”
“Aku nggak tahu.”
Naya melihat jam.
Sekarang pukul satu lewat lima puluh.
Lalu dia melihat arah langkahku.
Kami sedang berjalan menuju gedung barat.
Aku mendesah.
“Oke. Aku tahu.”
“Terima kasih atas kejujurannya.”
“Aku cuma mau ketemu.”
Naya tersenyum.
Kalimat itu keluar lebih mudah daripada perkiraanku.
Beberapa minggu lalu aku mungkin akan mencari tiga alasan.
Sekarang rasanya melelahkan.
Aku memang ingin ketemu Raka.
Selesai.
Kami sampai dekat koridor keluar gedung.
Naya punya kelas lain setelah ini, jadi dia tidak bisa lama.
“Aku duluan?”
Aku mengangguk.
Dia berjalan beberapa langkah, lalu menoleh.
“Semoga kebetulannya menyenangkan.”
“Naya.”
Dia tertawa dan pergi.
Aku berdiri sendiri.
Tiba-tiba keberanianku berkurang setengah.
Ngapain aku di sini?
Jawabannya jelas.
Menunggu Raka.
Itulah masalahnya.
Aku melihat ponsel.
Jam dua kurang dua menit.
Mahasiswa mulai keluar.
Aku berusaha terlihat seperti orang yang punya urusan.
Tidak ada satu pun urusan.
Akhirnya Raka muncul bersama Dimas.
Dia belum melihatku.
Aku tersenyum lebih dulu.
Kemudian matanya menemukan aku.
Ekspresinya selalu sama.
Kejutan kecil yang langsung berubah menjadi hangat.
Aku tidak pernah bosan melihatnya.
Raka mendekat.
Dimas melihatku, lalu melihat Raka.
“Aku duluan,” katanya.
Raka menoleh. “Katanya mau fotokopi?”
“Berubah pikiran.”
Dia pergi begitu saja.
Aku hampir tertawa.
“Hai,” kataku.
“Hai.”
Raka melihat sekeliling.
Kemudian kepadaku.
“Kamu ada urusan di sini?”
Nah.
Pertanyaan yang kutunggu sekaligus kuhindari.
Aku bisa menjawab jujur.
Aku nungguin kamu.
Tapi ternyata keberanianku belum sebanyak itu.
Aku memilih senjata lama.
“Aku cuma kebetulan lewat.”
Raka diam.
Matanya bergerak ke belakangku.
Aku tahu persis apa yang ada di sana.
Gedung fakultasku berada di arah sebaliknya.
Ketika pandangannya kembali kepadaku, aku sudah menahan senyum.
Raka juga.
Tidak ada yang percaya.
Tidak ada yang perlu.
“Oh,” katanya.
“Kenapa?”
“Nggak apa-apa.”
Aku menyipitkan mata.
“Percaya nggak?”
Raka memikirkan jawabannya.
“Harus?”
Aku tertawa.
“Jahat.”
“Belajar.”
“Dari siapa?”
Dia menatapku.
Aku tahu jawabannya.
Aku.
Kami mulai berjalan.
Tidak ada tujuan khusus. Aku bilang mau membeli minum dan Raka ikut.
Di koridor yang cukup sempit, beberapa mahasiswa berjalan dari arah berlawanan.
Aku bergeser mendekat.
Tanganku berada dekat tangannya.
Sangat dekat.
Jari kami bersentuhan sekali.
Aku tidak langsung menjauh.
Raka juga tidak.
Kami terus berjalan.
Beberapa langkah kemudian, punggung jari kami bersentuhan lagi.
Kali ini aku tahu itu bukan sepenuhnya kebetulan.
Jantungku berdebar lebih keras.
Aku melihat lurus ke depan.
Kalau dia pegang tanganku sekarang gimana?
Pikiran itu membuat pipiku panas.
Raka belum melakukan apa-apa.
Aku juga belum.
Tapi jarak beberapa sentimeter itu terasa lebih berisik daripada seluruh koridor.
Sampai di mesin minuman, kami akhirnya menjauh.
Aku hampir kecewa.
Raka membeli dua botol.
Satu diserahkan kepadaku.
“Makasih.”
“Sama-sama.”
Aku membuka tutupnya.
Raka terlihat ingin mengatakan sesuatu.
“Apa?”
Dia menggeleng. “Nggak.”
“Kamu kalau bilang nggak biasanya ada.”
“Belajar juga?”
“Cepat.”
Dia tertawa kecil.
Aku menyukai percakapan seperti ini.
Tidak ada kalimat besar.
Tapi ada sesuatu di bawah setiap kata.
Aku bersandar pada dinding.
“Raka.”
“Hm?”
“Kalau misalnya aku memang nungguin kamu tadi?”
Dia berhenti minum.
Aku sendiri kaget sudah mengatakannya.
Bukan pengakuan penuh.
Tapi cukup dekat.
Raka menatapku.
Tidak ada senyum sekarang.
Dia terlihat benar-benar memikirkan setiap kata.
“Aku bakal senang.”
Dadaku berdetak sekali keras.
“Cuma senang?”
Raka tampak sedikit gugup.
Aku sengaja.
Ini wilayahku.
Tapi kemudian dia berkata, “Banget.”
Sekarang aku yang tidak siap.
Aku menunduk ke botol.
Orang ini kenapa jujur terus?
Raka tidak menambahkan apa-apa.
Tidak menggoda balik.
Justru itu yang membuat jawabannya terasa lebih nyata.
Kami akhirnya berjalan menuju persimpangan.
Tangan kami kembali dekat.
Tidak menyentuh kali ini.
Tapi aku tahu kami berdua sadar.
Sebelum berpisah, Raka berkata, “Besok?”
Aku menatapnya.
“Apa?”
“Kantin.”
Senyumku langsung muncul.
“Boleh.”
Dia mengangguk.
Kami pergi ke arah masing-masing.
Aku baru berjalan sepuluh langkah ketika ponsel berbunyi.
Naya.
*Gimana kebetulannya?*
Aku mengetik sambil berjalan.
*Aku bilang ke dia aku mungkin nungguin.*
Balasan tidak datang selama hampir satu menit.
Kemudian:
*AKHIRNYA.*
Aku tertawa sendiri.
*Belum bilang suka.*
*Aku nggak bilang kamu confess. Aku bilang akhirnya kamu berhenti pura-pura tersesat.*
Aku memutar mata.
Malamnya kami menelepon.
Naya mendengarkan cerita lengkap sampai bagian jawaban Raka.
“Aku bakal senang,” tirunya.
“Jangan.”
“Banget.”
“Naya.”
Dia tertawa.
Aku menutup wajah dengan bantal.
Setelah tawanya reda, Naya bertanya, “Jadi?”
Aku tahu maksudnya.
Kali ini aku tidak ingin menghindar.
Aku memikirkan semua hal kecil.
Senyum Raka.
Jalan memutar.
Chat malam.
Cara dia mendengarkan.
Cara dia baik ketika tidak ada yang melihat.
Cara dia gugup tapi tetap menjawab jujur.
Dan rasa senang yang selalu datang ketika mataku menemukan dia.
Aku menarik napas.
“Kayaknya aku beneran suka dia.”
Hening sebentar.
Naya menjawab lembut, “Iya.”
Aku mengangkat kepala dari bantal.
“Kok cuma iya?”
“Aku sudah tahu.”
“Ngeselin.”
“Tapi benar.”
Aku tidak bisa membantah.
Setelah telepon berakhir, pesan dari Raka masuk.
*Udah makan?*
Aku tersenyum.
*Udah. Kamu?*
Percakapan sederhana dimulai lagi.
Tapi malam ini rasanya berbeda.
Karena untuk pertama kalinya aku membaca namanya di layar tanpa bersembunyi dari kebenaran yang sudah jelas.
Iya.
Aku suka Raka.
- 1 Hari Pertama Aku Melihatnya
- 2 Jalan yang Sedikit Lebih Panjang
- 3 Cowok yang Sering Lewat
- 4 Senyum
- 5 Ketika Dia Tidak Lewat
- 6 Kebetulan Pertama Milikku
- 7 Namaku di Mulutnya
- 8 Ternyata Memang Sengaja
- 9 Kebaikan yang Tidak Ditujukan Kepadaku
- 10 Sekarang Giliranku
- 11 Sedang Mengetik...
- 12 Dua Kursi
- 13 Terlalu Dekat
- 14 Ini Bukan Kencan
- 15 Orang yang Kucari
- 16 Kalau Aku Memang Menunggumu? reading
- 17 Tinggal Satu Kalimat
- 18 Kamu Suka Aku, Kan?
- 19 Hari Pertama Punya Pacar
- 20 Sekarang Aku Boleh Manja
- 21 Kencan yang Benar-Benar Kencan
- 22 Karena Kamu Memang Begitu
- 23 Jangan Senyum Begitu
- 24 Kali Ini Aku yang Mulai
- 25 Sedikit Lebih Dekat
- 26 Jadi Kalian Baru Jadian?
- 27 Jalan yang Dulu Terasa Jauh
- 28 Kebetulan Lewat