← Aku Cuma Kebetulan Lewat

Chapter Six

Kebetulan Pertama Milikku

POV: Alya

Setelah menyadari aku menunggunya, aku melakukan hal yang sangat dewasa.

Aku pura-pura tidak menyadarinya lagi.

Dua hari penuh.

Menurutku itu pencapaian.

Hari ketiga, aku dan Naya keluar dari kelas lebih cepat. Kami seharusnya menuju gedung bahasa untuk mengambil lembar kegiatan yang dititipkan seorang teman. Jalur tercepat adalah lurus melewati taman kecil lalu belok kanan.

Aku malah belok kiri.

Naya berjalan tiga langkah sebelum berhenti.

Aku terus berjalan.

“Alya.”

“Hm?”

“Gedung bahasa pindah?”

Aku menoleh seolah baru menyadari dia tertinggal. “Nggak.”

“Terus?”

“Lewat sini juga bisa.”

Naya melihat koridor di depan kami, lalu menatapku.

Aku sudah mengenal tatapan itu.

Tatapan yang tidak menuduh apa-apa karena dia tahu kalau menunggu cukup lama, aku akan memberinya bukti sendiri.

“Kenapa?” tanyaku.

“Nggak kenapa-kenapa.”

Aku kembali berjalan.

Sebenarnya rute ini tidak terlalu jauh. Hanya memutar sedikit melewati sisi gedung tempat beberapa kelas umum biasa berlangsung.

Dan kebetulan—benar-benar kebetulan menurut versi yang sedang berusaha kuyakini—aku pernah melihat cowok itu keluar dari gedung tersebut pada jam seperti sekarang.

Sekali saja.

Aku cuma ingin memastikan.

Memastikan apa, aku juga tidak tahu.

Mungkin apakah dia memang punya kelas di sini.

Mungkin apakah dia akan tersenyum kalau melihatku di tempat yang tidak biasa.

Mungkin aku hanya ingin melihatnya.

Pikiran terakhir membuat langkahku sedikit melambat.

Ya ampun.

Aku tidak pernah punya kebiasaan sengaja mencari cowok di kampus.

Biasanya justru orang lain yang menciptakan alasan untuk mendekat. Mengajak kenalan, meminta kontak, menawarkan bantuan yang sebenarnya tidak kubutuhkan.

Cowok ini tidak melakukan satu pun.

Dia cuma lewat.

Senyum.

Pergi.

Dan entah bagaimana sekarang aku yang berjalan memutar.

“Aku merasa sedang diculik,” kata Naya dari samping.

“Kalau diculik, kamu nggak akan dikasih tahu.”

“Terima kasih informasinya.”

Kami hampir mencapai ujung koridor ketika dua pintu kelas terbuka hampir bersamaan. Mahasiswa mulai keluar.

Aku refleks memperlambat langkah.

Naya melihatku.

Aku pura-pura membaca pengumuman yang ditempel di papan.

Jangan kelihatan nunggu.

Lalu aku sadar betapa lucunya pikiran itu.

Aku memang sedang menunggu.

Dadaku mulai berdebar kecil ketika orang-orang terus keluar.

Satu kelompok.

Dua.

Bukan dia.

Aku mulai merasa rute memutar ini akan menjadi keputusan yang memalukan.

Kemudian seseorang muncul dari pintu paling ujung.

Tas gelap di satu bahu.

Berjalan di samping cowok cerewet yang biasa bersamanya.

Ada dia.

Rasa senang itu datang terlalu cepat untuk dicegah.

Aku buru-buru melihat papan pengumuman lagi.

Isinya jadwal pemeliharaan pendingin ruangan.

Aku membacanya seolah masa depanku bergantung pada informasi tersebut.

“Menarik?” bisik Naya.

“Lumayan.”

“AC lantai tiga?”

Aku ingin menginjak kakinya.

Suara langkah semakin dekat.

Aku tidak perlu melihat untuk tahu kira-kira kapan mereka akan sejajar dengan kami.

Tapi rasa penasaran menang.

Aku mengangkat wajah.

Cowok itu juga sedang melihat ke arahku.

Ekspresinya berubah.

Kecil sekali.

Alisnya terangkat sedikit, lalu matanya terlihat lebih hidup sebelum senyum yang kukenal muncul.

Dia benar-benar terlihat senang melihatku.

Dadaku seperti disentuh sesuatu yang ringan.

Aku tersenyum balik.

“Siang,” katanya ketika jarak kami cukup dekat.

“Siang.”

Temannya mengangguk sopan. Naya membalas.

Mereka terus berjalan.

Tidak ada percakapan.

Tidak ada kejadian besar.

Tapi kali ini aku tidak langsung bergerak.

Aku melihat punggungnya menjauh dua detik lebih lama daripada yang seharusnya.

Kemudian Naya berdeham.

Aku berbalik.

Dia sedang tersenyum.

“Apa?”

“Nggak ada.”

“Jangan mulai.”

“Aku bahkan belum mulai.”

Kami melanjutkan perjalanan menuju gedung bahasa.

Jalan memutar tadi menambah mungkin lima menit.

Anehnya, aku sama sekali tidak menyesal.

“Jadi,” kata Naya.

“Jadi apa?”

“AC lantai tiga gimana?”

Aku menatapnya.

Dia tertawa.

“Lucu banget?”

“Lumayan.”

Aku mendecakkan lidah, tetapi sudut bibirku sendiri sulit turun.

Yang mengganggu bukan karena Naya tahu.

Naya memang selalu tahu terlalu banyak.

Yang mengganggu adalah aku mulai tahu juga.

Aku sengaja mengambil jalan itu.

Aku sengaja memperlambat langkah.

Dan ketika dia muncul, aku senang.

Sangat sederhana.

Sangat memalukan.

Sore harinya, aku kembali memikirkan ekspresinya ketika melihatku.

Bukan senyumnya saja.

Ada sepersekian detik sebelum senyum itu muncul. Seperti kejutan yang menyenangkan.

Dia senang lihat aku.

Aku memutar pulpen di antara jari.

Seharusnya fakta itu tidak terasa sebesar ini.

Mungkin dia memang ramah.

Mungkin dia juga sudah terbiasa melihatku.

Tapi kalau hanya itu, kenapa aku tersenyum setiap kali mengingatnya?

Ponselku berbunyi.

Pesan Naya.

*AC lantai tiga aman?*

Aku menatap layar lama sekali.

Lalu mengirim stiker marah.

Balasannya datang cepat.

*Besok mau inspeksi gedung lain?*

Aku meletakkan ponsel terbalik.

Pipiku terasa hangat.

Enggak.

Beberapa detik.

Aku mengambil ponsel lagi.

Tidak membalas.

Tapi di dalam hati ada satu pengakuan kecil yang tidak bisa lagi kubantah.

Kalau ketemu dia lagi... aku mau.