Chapter Seven
Namaku di Mulutnya
POV: Raka
Aku tahu namanya.
Dia belum tahu namaku.
Selama beberapa minggu, fakta itu tidak pernah terasa seperti masalah.
Aku tidak punya alasan untuk memperkenalkan diri. Kami hanya dua mahasiswa yang kebetulan sering berpapasan. Kalau tiba-tiba aku menghentikannya dan berkata, “Hai, aku Raka,” kemungkinan besar aku akan mengingat kejadian itu setiap malam selama tiga tahun berikutnya.
Jadi aku tidak melakukan apa-apa.
Sampai keadaan melakukannya untukku.
Hari itu aku sedang berdiri di depan ruang sekretariat kegiatan mahasiswa bersama Dimas. Salah satu teman kelas meminta kami mengambil lembar pendaftaran yang harus dibagikan ke kelompok.
Masalahnya, meja di depan pintu penuh tumpukan kertas yang nyaris sama.
“Yang biru atau putih?” tanya Dimas.
“Katanya putih.”
“Ini semua putih.”
“Yang pojok kanan.”
“Pojok kanan yang mana?”
Aku hendak menjawab ketika seseorang di belakang kami berkata, “Yang ada garis birunya?”
Aku mengenali suara itu sebelum berbalik.
Jantungku langsung bereaksi.
Alya berdiri bersama Naya sambil memegang beberapa lembar formulir.
Dari dekat, efeknya ternyata lebih parah.
Aku sudah sering melihat wajahnya dari beberapa meter. Tapi jarak percakapan membuat detail kecil jadi terlalu jelas: cara matanya sedikit menyipit ketika tersenyum, helai rambut yang jatuh dekat pipi, ekspresi ramah yang tidak terasa dibuat-buat.
Tenang.
Aku mengangguk. “Kayaknya itu.”
Alya melihat tumpukan di meja, lalu mengambil satu lembar. “Kalau buat kelompok kelas umum, yang ini. Aku tadi juga diminta ambil.”
“Oh. Makasih.”
“Sama-sama.”
Seharusnya selesai.
Aku bisa mengambil kertas lalu pergi dengan selamat.
Dimas, manusia yang kadang terlalu berguna, justru berkata, “Untung ketemu. Dari tadi Raka yakin yang kanan, tapi kanan dia sama kanan meja beda.”
Aku menoleh kepadanya.
Kenapa namaku harus disebut?
Alya ikut menoleh.
“Raka?”
Satu kata.
Namaku sendiri.
Tapi ketika dia yang mengucapkannya, otakku membutuhkan waktu sepersekian detik terlalu lama untuk memproses.
“Iya,” jawabku.
Bagus.
Satu suku kata.
Masih berfungsi.
Alya tersenyum. “Aku Alya.”
Aku hampir mengatakan aku tahu.
Untungnya mulutku lebih cepat menyadari betapa anehnya jawaban itu.
“Raka,” kataku lagi, lalu langsung merasa bodoh karena namaku baru saja disebut Dimas.
Alya tertawa kecil.
Bukan menertawakan.
Lebih seperti situasinya memang lucu.
“Aku tahu sekarang.”
Bagus sekali, Raka.
Dimas menunduk, jelas sedang menyembunyikan senyum.
Naya juga terlihat menahan sesuatu.
Aku memutuskan fokus pada formulir.
“Jadi yang ini, ya?”
“Iya. Jangan yang bawah. Itu buat kegiatan lain.”
“Siap.”
Percakapan ternyata tidak berhenti di sana. Karena kami menuju arah gedung yang sama, kami berjalan berempat beberapa menit.
Dimas dan Naya lebih banyak bicara. Aku sesekali menjawab.
Alya ternyata mudah diajak bicara.
Itu mengejutkanku.
Bukan karena aku mengira dia sombong. Hanya saja selama ini ada jarak yang terbentuk sendiri di kepalaku. Alya yang selalu terlihat dikelilingi orang, Alya yang namanya diketahui banyak mahasiswa, Alya yang cukup masuk ruangan dan beberapa kepala otomatis menoleh.
Dari dekat, dia mengeluh soal formulir yang terlalu banyak seperti mahasiswa lain.
“Aku tadi hampir ambil yang salah juga,” katanya.
“Berarti aku nggak sendirian.”
“Bedanya aku baca judulnya dulu.”
Aku menatapnya.
Dia tersenyum sedikit nakal.
“Oh, gitu.”
“Iya.”
Ada sesuatu yang baru di sana.
Alya ternyata suka menggoda.
Sedikit.
Dan aku ternyata suka ketika targetnya aku.
Kami sampai di persimpangan koridor.
Kelasku ke kiri. Alya dan Naya ke kanan.
“Duluan, ya,” kata Naya.
Dimas mengangguk.
Alya melihatku.
“Makasih, Raka.”
Aku tidak tahu sebenarnya dia berterima kasih untuk apa. Mungkin karena tadi aku membantu memindahkan beberapa tumpukan formulir saat petugas meminta. Mungkin hanya kebiasaan sopan.
Tidak penting.
Yang penting namaku muncul lagi.
“Ya. Sama-sama.”
Mereka pergi.
Aku dan Dimas berjalan ke arah sebaliknya.
Tiga langkah.
Lima.
Dimas belum bicara.
Aku justru semakin curiga.
Akhirnya aku berkata, “Kenapa diam?”
“Lagi menghormati momen.”
“Mulai lagi.”
“Dia tahu namamu.”
Aku menatap lurus.
“Sekarang iya.”
“Gimana rasanya?”
“Biasa.”
Dimas tertawa pendek. “Mukamu nggak biasa.”
Aku menghela napas.
Kami masuk kelas. Aku duduk dan mengeluarkan buku.
Lima menit kemudian dosen belum datang.
Aku melihat halaman kosong.
Lalu tanpa alasan, ingat lagi suara Alya.
Raka?
Aku menutup mata sebentar.
Dimas yang duduk di sebelah langsung berkata, “Jangan.”
“Apa?”
“Aku tahu kamu lagi muter ulang.”
Aku menoleh tajam.
Dia tertawa.
“Kelihatan.”
“Ganggu banget.”
“Terima kasih.”
Aku mencoba membaca materi.
Tidak banyak yang masuk.
Bukan cuma karena Alya tahu namaku.
Hari ini aku juga mendengar dia bicara lebih dari satu kata. Mengetahui dia bisa menggoda. Mengetahui dia tertawa kecil ketika aku melakukan sesuatu yang bodoh.
Jarak yang selama ini cuma diisi senyum mendadak punya percakapan.
Dan anehnya, itu membuatku ingin tahu lebih banyak.
Aku segera mengingatkan diri sendiri.
Pelan-pelan.
Tidak perlu memaksa apa pun.
Kalau setelah ini kami kembali cuma berpapasan dan tersenyum, itu juga tidak apa-apa.
Tapi sore itu, saat hendak pulang, aku melihat Alya di seberang halaman.
Dia sedang bicara dengan Naya.
Aku tidak berniat menyapa dari sejauh itu.
Kemudian Alya melihatku.
Dia mengangkat tangan kecil.
Aku membalas.
Dari kejauhan, bibirnya bergerak.
Aku tidak mendengar suaranya.
Tapi aku bisa membaca bentuknya.
Raka.
Aku tersenyum sepanjang jalan menuju parkiran.
Dimas tidak perlu tahu.
Sayangnya dia berjalan di sampingku.
“Dia manggil nama kamu lagi, ya?”
Aku diam.
“Raka?”
“Diam, Dim.”
Dia tertawa puas.
Aku memasukkan tangan ke saku, tetap berjalan, dan gagal menghentikan senyum.
Namaku tidak berubah.
Tapi entah kenapa, setelah hari ini, aku merasa akan selalu sedikit menyukai cara Alya mengucapkannya.
- 1 Hari Pertama Aku Melihatnya
- 2 Jalan yang Sedikit Lebih Panjang
- 3 Cowok yang Sering Lewat
- 4 Senyum
- 5 Ketika Dia Tidak Lewat
- 6 Kebetulan Pertama Milikku
- 7 Namaku di Mulutnya reading
- 8 Ternyata Memang Sengaja
- 9 Kebaikan yang Tidak Ditujukan Kepadaku
- 10 Sekarang Giliranku
- 11 Sedang Mengetik...
- 12 Dua Kursi
- 13 Terlalu Dekat
- 14 Ini Bukan Kencan
- 15 Orang yang Kucari
- 16 Kalau Aku Memang Menunggumu?
- 17 Tinggal Satu Kalimat
- 18 Kamu Suka Aku, Kan?
- 19 Hari Pertama Punya Pacar
- 20 Sekarang Aku Boleh Manja
- 21 Kencan yang Benar-Benar Kencan
- 22 Karena Kamu Memang Begitu
- 23 Jangan Senyum Begitu
- 24 Kali Ini Aku yang Mulai
- 25 Sedikit Lebih Dekat
- 26 Jadi Kalian Baru Jadian?
- 27 Jalan yang Dulu Terasa Jauh
- 28 Kebetulan Lewat