← Aku Cuma Kebetulan Lewat

Chapter Fifteen

Orang yang Kucari

POV: Raka

Ada banyak orang di halaman utama kampus sore itu.

Terlalu banyak.

Acara antarorganisasi baru selesai, jadi mahasiswa keluar dari aula hampir bersamaan. Dimas berjalan di sampingku sambil mengeluh soal pengeras suara yang menurutnya berhasil merusak pendengaran manusia.

Aku cuma setengah mendengarkan.

Mataku bergerak di antara kerumunan.

Sekali.

Dua kali.

Aku baru sadar apa yang kulakukan setelah tidak menemukan wajah yang kucari.

Dia belum keluar?

Aku berhenti dalam hati.

Dulu aku harus membuat keputusan sadar untuk melewati kantin tengah.

Sekarang aku bahkan tidak perlu memerintah mata.

Mereka mencari Alya sendiri.

“Nyari siapa?” tanya Dimas.

“Nggak nyari siapa-siapa.”

“Refleks banget jawabnya.”

Aku menoleh kepadanya.

Dia tersenyum.

“Sudah, lanjut. Aku nggak ganggu.”

Aku kembali melihat ke depan.

Dan akhirnya menemukannya.

Alya berdiri cukup jauh di dekat tangga aula bersama Naya dan beberapa teman lain.

Jantungku langsung terasa lebih ringan.

Ada dia.

Hampir bersamaan, Alya mengangkat wajah.

Aku tidak tahu bagaimana caranya dia menemukan aku di antara sebanyak ini orang.

Tapi matanya langsung bertemu mataku.

Senyumnya muncul.

Aku membalas.

Tidak sampai tiga detik kemudian, Alya mengatakan sesuatu kepada teman-temannya lalu mulai berjalan ke arahku.

Aku menatapnya mendekat.

Dia ke sini.

Informasi itu seharusnya biasa.

Kami sudah sering bicara.

Sudah chat hampir setiap hari.

Sudah pergi berdua.

Tetap saja ada bagian diriku yang masih menganggap Alya mendatangiku sebagai kejadian istimewa.

“Hai,” katanya setelah sampai.

“Hai.”

“Udah selesai?”

“Iya. Kamu?”

“Baru.”

Dimas dan Naya ikut bergabung beberapa saat kemudian. Teman-teman Alya masih berada di belakang.

Salah satu dari mereka melihat ke arah kami.

Kemudian berbisik sesuatu kepada temannya.

Aku pura-pura tidak sadar.

Alya juga sepertinya tidak peduli.

“Kamu nanti langsung pulang?” tanyanya.

“Mungkin. Kenapa?”

Alya mengangkat bahu. “Nanya aja.”

Sederhana.

Tapi sekarang aku mulai mengenali pola.

Kalau Alya bertanya jadwalku, sering kali ada sesuatu setelahnya.

Benar saja.

“Makan dulu?”

Aku tersenyum. “Boleh.”

Dimas berdeham.

Alya menoleh.

“Kenapa?”

“Nggak apa-apa. Tenggorokan.”

Aku tahu persis tidak ada masalah dengan tenggorokannya.

Naya menahan senyum.

Kami berjalan menuju area makan.

Di tengah kerumunan, Alya beberapa kali hampir terpisah karena orang lewat di antara kami.

Tanpa berpikir, aku memperlambat langkah sampai dia kembali di samping.

Alya menyadari.

Dia tidak mengatakan apa-apa.

Tapi bahunya bergerak sedikit lebih dekat.

Hal kecil.

Efeknya besar.

Ketika kami sampai di kantin, beberapa meja penuh.

Akhirnya kami duduk berempat.

Percakapan berjalan ramai karena Dimas dan Naya menemukan bahan baru untuk saling mengejek.

Aku lebih banyak mendengarkan.

Alya sesekali menoleh kepadaku untuk komentar kecil yang hanya berkaitan dengan percakapan kami sebelumnya.

“Yang kemarin jadi dikumpul?”

“Jadi.”

“Jam dua pagi?”

“Jam satu.”

“Hebat. Kemajuan.”

Aku tersenyum.

Ada rasa aneh ketika memiliki percakapan kecil yang orang lain tidak pahami konteksnya.

Seperti ada ruang kecil di antara kami yang hanya kami berdua tahu.

Setelah makan, salah satu teman Dimas menghampiri meja.

Dia melihatku.

Lalu Alya.

Kemudian Dimas.

“Dim.”

“Hm?”

Dia menunjuk kami dengan dagu, tidak terlalu halus.

“Ini...?”

Aku tahu pertanyaan yang tidak selesai itu.

Dimas juga tahu.

Dia menatapku.

Aku langsung merasa panas di telinga.

Alya sedang minum dan belum melihat.

Dimas akhirnya berkata, “Tanya orangnya.”

Pengkhianat.

Temannya tertawa kecil. “Nggak jadi.”

Alya menurunkan gelas. “Apa?”

“Nggak apa-apa,” jawab kami bertiga hampir bersamaan.

Alya menyipitkan mata.

Aku mengalihkan pandangan.

Beberapa menit kemudian kami keluar dari kantin.

Alya harus kembali ke gedungnya.

Aku menuju parkiran.

Di persimpangan, kami berhenti.

“Nanti chat,” katanya.

“Iya.”

Alya berjalan bersama Naya.

Aku melihatnya pergi.

Dimas berdiri di sampingku.

“Rak.”

“Hm?”

“Gue tanya serius.”

Aku sudah tidak suka pembukaannya.

“Apa?”

“Kamu masih yakin dia cuma ramah?”

Aku tidak langsung menjawab.

Dimas biasanya mengejek.

Kali ini nadanya biasa.

Aku menatap punggung Alya yang semakin jauh.

“Entahlah.”

“Entahlah?”

“Aku nggak mau salah.”

Dimas mengangguk kecil.

Aku memasukkan tangan ke saku.

Kalau aku melihat semua ini dari luar, mungkin jawabannya terlihat mudah.

Alya mencariku di keramaian.

Mendatangiku.

Mengajakku makan.

Mengirim pesan hampir setiap malam.

Menggodaku.

Pergi berdua denganku.

Bahkan kadang menungguku.

Tapi aku ada di dalamnya.

Dan ketika seseorang sangat ingin sesuatu menjadi benar, dia justru harus lebih hati-hati membedakan kenyataan dari harapan.

Aku tidak ingin mengambil keramahan Alya lalu menamainya cinta hanya karena itu yang kuinginkan.

Dimas menepuk bahuku.

“Ya sudah.”

“Kok nggak ceramah?”

“Capek.”

Aku tertawa kecil.

Malamnya Alya mengirim foto sebuah makanan.

*Naya beli ini. Kayaknya kamu bakal suka.*

Aku membalas.

Percakapan berlanjut seperti biasa.

Tapi setelahnya aku kembali mengingat sore tadi.

Kerumunan.

Mataku yang otomatis mencari.

Dan bagian yang paling sulit diabaikan:

ketika akhirnya menemukan Alya, ternyata dia juga sedang mencariku.

Aku berbaring sambil menatap layar.

Harapan yang selama ini selalu kutahan sekarang sudah tumbuh terlalu besar untuk pura-pura tidak ada.

Kalau memang dia juga...

Aku berhenti.

Belum.

Tapi kali ini aku tidak menyelesaikan pikiran itu dengan penyangkalan.

Aku hanya tersenyum.

Mungkin suatu hari nanti aku akan berani menyelesaikan kalimatnya.