Chapter Twenty
Sekarang Aku Boleh Manja
POV: Alya
Ada keuntungan punya pacar yang baru kusadari pada hari ketiga.
Aku boleh manja.
Aku menemukannya saat kami duduk di area baca terbuka setelah kelas.
Raka sedang melihat laptop. Aku baru selesai dua kelas berturut-turut dan rasanya ingin menjadi benda mati.
Aku menjatuhkan tas ke kursi.
“Capek.”
Raka menoleh. “Duduk.”
“Aku udah duduk.”
“Ya istirahat.”
“Nggak bisa.”
“Kenapa?”
Aku sendiri tidak tahu. Aku cuma ingin mengeluh.
“Pokoknya capek.”
Raka menutup laptop. “Mau minum?”
“Nggak.”
“Makan?”
“Nggak.”
“Terus?”
Aku melihat bahunya.
“Geser.”
Raka langsung menggeser kursinya sedikit untuk memberiku ruang.
Aku ikut bergeser ke arahnya.
Dia melihat jarak yang sekarang justru semakin kecil.
“Katanya geser.”
“Iya.”
“Terus kenapa malah ke sini?”
Aku menyandarkan kepala ke bahunya.
Tubuh Raka langsung diam.
Aku menahan senyum.
“Mau deket pacarku.”
Hening.
Satu detik. Dua.
“Raka.”
“Hm?”
“Kamu napas nggak?”
Dia mengembuskan napas panjang.
Aku tertawa.
“Jahat,” katanya.
“Apanya?”
“Kamu tahu.”
Aku semakin nyaman menyender.
Ada rasa hangat yang aneh. Bukan hanya karena berhasil membuatnya gugup.
Aku benar-benar suka berada dekat seperti ini.
Selama berbulan-bulan, kedekatan dengan Raka selalu punya pertanyaan.
Boleh nggak? Dia nyaman nggak? Aku terlalu jelas nggak?
Sekarang pertanyaannya hilang.
Raka akhirnya rileks.
“Masih capek?”
“Iya.”
“Tidur aja.”
“Di sini?”
“Katanya capek.”
Aku mendongak. “Kamu nggak keberatan?”
Raka melihatku seolah pertanyaanku aneh.
“Enggak. Di situ aja.”
Sekarang giliran dadaku yang berdebar.
Kenapa dia kalau tulus begini menyebalkan sekali?
Aku kembali menyandarkan kepala sebelum dia melihat wajahku.
Beberapa menit kemudian Naya datang.
Langkahnya berhenti.
“Wah.”
Aku mengangkat tangan tanpa pindah dari bahu Raka.
“Jangan.”
“Aku belum ngomong.”
“Kamu selalu bilang begitu.”
Raka tertawa.
Naya duduk di seberang. “Nyaman?”
“Banget.”
Aku sengaja menjawab.
Raka kembali kaku sedikit.
Naya melihat telinganya. “Kasihan.”
“Siapa?”
“Raka.”
Raka mengangkat tangan. “Aku aman.”
Aku mendongak. “Bener?”
Dia menatapku.
“Iya.”
Selesai.
Aku kembali kena.
Naya langsung tertawa.
“Kenapa sekarang kamu yang merah?”
“Nggak merah.”
“Raka, merah nggak?”
Raka membuat keputusan bijak. “Aku nggak ikut.”
Aku mencubit lengannya.
Hari-hari berikutnya aku menemukan banyak cara kecil untuk manja.
Mengirim pesan:
*Aku lapar.*
Raka menjawab:
*Makan.*
Aku membalas:
*Temenin.*
Dan dia benar-benar datang kalau bisa.
Suatu sore aku mengirim:
*Bad mood.*
*Kenapa?*
*Nggak tahu. Bujuk.*
Tiga titik muncul lama.
*Jangan bad mood.*
Aku menatap layar.
Kemudian tertawa begitu keras sampai Naya menoleh.
“Apa?”
Aku menunjukkan chat.
Naya menutup wajah. “Dia berusaha.”
“Aku tahu.”
Itulah yang membuatnya lucu.
Pesan lain masuk.
*Mau es krim?*
Aku langsung berhenti tertawa.
*Mau.*
*Aku ke sana.*
Dadaku hangat.
Raka tidak pandai merangkai kalimat manis.
Tapi dia datang.
Sore itu kami duduk di tangga taman sambil makan es krim.
Mood-ku sebenarnya sudah baik bahkan sebelum dia tiba.
Aku tetap pura-pura sedikit murung.
Raka melihatku. “Masih?”
“Sedikit.”
Dia menghela napas. “Gimana cara bujuk yang benar?”
Aku tersenyum. “Cari tahu.”
“Sulit.”
“Belajar.”
Raka menatapku lama.
Kemudian mengulurkan tangan dan mengusap pelan puncak kepalaku.
Cuma sekali.
Gerakannya canggung.
Tapi seluruh tubuhku membeku.
“Gini?” tanyanya.
Aku tidak langsung menjawab.
Raka mulai tersenyum karena sekarang dia tahu.
Aku yang salah tingkah.
Aku cepat-cepat menggigit es krim.
“Lumayan.”
“Cuma lumayan?”
“Jangan besar kepala.”
Raka tertawa.
Aku menatap lurus ke depan sambil menyembunyikan pipi yang panas.
Ternyata punya pacar memang berbahaya.
Aku boleh manja sesukaku.
Tapi ada risiko besar.
Kadang pacarku membalas.
Dan ketika Raka membalas dengan ketulusan sederhana seperti itu, aku selalu kalah telak.
- 1 Hari Pertama Aku Melihatnya
- 2 Jalan yang Sedikit Lebih Panjang
- 3 Cowok yang Sering Lewat
- 4 Senyum
- 5 Ketika Dia Tidak Lewat
- 6 Kebetulan Pertama Milikku
- 7 Namaku di Mulutnya
- 8 Ternyata Memang Sengaja
- 9 Kebaikan yang Tidak Ditujukan Kepadaku
- 10 Sekarang Giliranku
- 11 Sedang Mengetik...
- 12 Dua Kursi
- 13 Terlalu Dekat
- 14 Ini Bukan Kencan
- 15 Orang yang Kucari
- 16 Kalau Aku Memang Menunggumu?
- 17 Tinggal Satu Kalimat
- 18 Kamu Suka Aku, Kan?
- 19 Hari Pertama Punya Pacar
- 20 Sekarang Aku Boleh Manja reading
- 21 Kencan yang Benar-Benar Kencan
- 22 Karena Kamu Memang Begitu
- 23 Jangan Senyum Begitu
- 24 Kali Ini Aku yang Mulai
- 25 Sedikit Lebih Dekat
- 26 Jadi Kalian Baru Jadian?
- 27 Jalan yang Dulu Terasa Jauh
- 28 Kebetulan Lewat