← Aku Cuma Kebetulan Lewat

Chapter Twenty Eight

Kebetulan Lewat

POV: Raka

Hari itu biasa.

Aku suka itu.

Tidak ada acara besar.

Tidak ada ujian terakhir.

Tidak ada sesuatu yang terasa seperti akhir.

Aku selesai kelas siang, keluar dari gedung, lalu berdiri sebentar di koridor sambil melihat mahasiswa berlalu-lalang.

Dimas sudah pergi lebih dulu.

Aku sendirian.

Tanpa sadar, mataku mencari.

Kebiasaan lama.

Bukan karena khawatir.

Bukan karena kami punya janji.

Hanya refleks.

Dulu mencari Alya di keramaian terasa seperti mencuri kebahagiaan kecil.

Kalau melihatnya, hari bagus.

Kalau dia tersenyum, hari sangat bagus.

Sekarang banyak hal sudah berubah.

Tapi satu hal ternyata tidak.

Aku masih senang menemukan wajahnya.

Dan beberapa detik kemudian, aku menemukannya.

Di antara orang-orang yang berjalan melewati halaman, ada satu sosok yang langsung membuat pandanganku berhenti.

Alya.

Ada dia.

Pikiran sederhana yang sama.

Dadaku tetap menghangat.

Alya juga melihatku.

Wajahnya langsung sedikit lebih cerah.

Senyumnya muncul.

Aku membalas.

Lalu aku menyadari sesuatu.

Dia datang dari arah yang salah.

Aku tahu jadwalnya.

Tahu gedungnya.

Setelah percakapan kami kemarin soal seluruh kejahatan navigasi masa lalu, aku bahkan semakin paham peta kampus.

Tidak ada alasan normal bagi Alya muncul dari arah itu.

Dia berjalan menghampiriku.

“Hai.”

“Hai.”

Aku melirik ke belakangnya.

Kemudian kembali melihat wajahnya.

“Bukannya kelasmu di gedung sana?”

Alya mengangguk santai.

“Iya.”

“Terus kamu ngapain di sini?”

Ada jeda kecil.

Aku sudah tahu jawabannya.

Alya juga tahu aku tahu.

Senyum manja dan sedikit nakal muncul.

“Aku cuma kebetulan lewat.”

Aku diam.

Mataku kembali ke jalan di belakangnya.

Gedung Alya ada di arah sebaliknya.

Jadi begini rasanya.

Dulu aku pernah mengatakan kalimat yang sama kepada Dimas.

Kemudian kepada Alya.

Dengan wajah setenang mungkin seolah jalan memutar beberapa gedung adalah fenomena alam.

Ternyata dari sisi penerima, alasannya memang separah ini.

Aku akhirnya memahami penderitaan semua orang.

“Oh,” kataku.

Alya menyipitkan mata.

“Kenapa?”

“Nggak apa-apa.”

“Kamu nggak percaya?”

Aku menahan senyum.

“Percaya.”

“Bohong.”

“Sedikit.”

Alya mencubit lenganku.

Aku tertawa.

Dulu setelah berpapasan, kami akan terus berjalan ke arah masing-masing.

Mungkin salah satu menoleh setelah beberapa langkah.

Mungkin tidak.

Sekarang Alya langsung berdiri di sisiku.

Tangannya mencari tanganku.

Jemari kami bertaut.

Aku menggenggam balik.

“Udah makan?” tanyanya.

“Belum.”

“Makan, yuk.”

“Di mana?”

Alya tidak perlu berpikir.

“Kantin tengah.”

Aku menoleh.

Dia sudah tersenyum.

Tentu saja.

Kami mulai berjalan.

Ada rute pendek menuju kantin.

Ada satu lagi yang sedikit memutar lewat taman dan koridor lama.

Alya mengambil yang kedua.

Aku melihat arah langkah kami.

Tidak mengoreksi.

Dulu aku selalu punya alasan.

Lebih teduh.

Tidak terlalu ramai.

Sekalian jalan.

Sekarang aku tidak membutuhkan alasan.

Kalau jalan ini membutuhkan lima menit lebih lama tetapi Alya berada di sebelahku, lima menit itu justru keuntungan.

Alya mulai bercerita tentang harinya.

Dosen.

Tugas.

Naya.

Sesuatu tentang minuman yang salah pesan lagi.

Aku mendengarkan.

Sesekali dia menggoyangkan tangan kami ketika aku terlalu diam.

Tidak ada confession.

Tidak ada revelation.

Tidak diperlukan lagi.

Aku teringat samar diriku berbulan-bulan lalu.

Lelaki yang melihat seorang perempuan dari kejauhan dan mendadak tidak mendengar apa yang dikatakan sahabatnya.

Yang tidak tahu namanya.

Yang malam itu hanya berpikir:

Semoga besok ketemu lagi.

Kalau bisa mengatakan sesuatu kepada diriku waktu itu, aku tidak yakin akan mengatakan apa-apa.

Mungkin lebih baik membiarkannya menjalani semuanya.

Jalan memutar.

Tatapan singkat.

Senyum yang dibawa pulang.

Hari ketika Alya tidak ada.

Percakapan pertama.

Namaku diucapkan olehnya.

Semua kegugupan bodoh itu.

Karena ternyata semuanya menuju ke sini.

Alya tiba-tiba menoleh.

“Kenapa lihat-lihat?”

Aku baru sadar sejak tadi memperhatikannya.

Versi diriku yang dulu mungkin langsung membuang pandangan.

Sekarang tidak.

Aku tetap melihat Alya.

“Apa?” tanyanya.

Aku tersenyum.

“Nggak apa-apa. Senang aja lihat kamu.”

Alya berhenti satu langkah.

Aku ikut berhenti.

Setelah semua flirting yang pernah dia lakukan, kalimat sederhana itu masih bisa membuat pipinya berubah merah.

Dia merapat sedikit.

“Kamu sekarang makin berani.”

Aku menggenggam tangannya lebih erat.

“Katanya pacarmu.”

Alya menatapku.

Lalu tersenyum.

“Iya.”

Kali ini kata itu tidak membuatku mempertanyakan bagaimana mungkin.

Aku hanya menerimanya.

Kami kembali berjalan.

Alya mengeluh lapar dan menyuruhku mempercepat langkah.

Aku menurut.

Tangan kami tetap bertaut.

Bahu sesekali bersentuhan.

Kami menuju kantin tengah lewat jalan yang sedikit lebih panjang.

Dulu aku memutarnya hanya untuk mendapatkan beberapa detik melihat Alya.

Kemudian Alya mulai melakukan hal yang sama.

Sekarang tidak ada seorang pun yang perlu berpura-pura.

Jalan ini memang lebih panjang.

Tidak apa-apa.

Kali ini, kami memutarnya bersama.