Chapter Four
Senyum
POV: Raka
Ada perbedaan besar antara seseorang membalas senyummu dan seseorang tersenyum lebih dulu.
Aku baru mengetahui itu pada hari Selasa.
Dimas dan aku sedang menuju kelas setelah makan siang. Rute kami melewati sisi kantin tengah—kali ini benar-benar jalur yang masuk akal, dan aku bersedia menunjukkan jadwal kalau diperlukan.
Alya sedang duduk bersama temannya.
Aku melihatnya dari jauh, lalu segera mengalihkan pandangan ke depan.
Aturannya masih sama.
Jangan aneh.
Jangan membuat orang tidak nyaman.
Kalau mata bertemu, senyum. Kalau tidak, ya sudah.
Sederhana.
Masalahnya, ketika kami tinggal beberapa meter dari mejanya, aku belum sempat melihat ke arahnya.
Alya sudah melihatku.
Dan dia tersenyum duluan.
Langkahku nyaris kehilangan ritme.
Dia senyum duluan.
Aku membalas seolah hal itu biasa.
Setidaknya aku berharap begitu.
Kami lewat.
Aku terus berjalan.
Dia tadi senyum duluan.
Dimas sedang menjelaskan soal tugas kelompok.
Aku mengangguk.
Dia mengenaliku.
“Jadi kita kumpul jam empat?” tanya Dimas.
“Boleh.”
“Besok.”
“Hm.”
“Padahal tadi aku bilang Jumat.”
Aku menoleh.
Dimas mendesah panjang. “Sudah kuduga.”
“Aku dengar.”
“Kamu jawab boleh untuk tiga hari berbeda.”
Aku diam.
Dimas menatap wajahku, lalu menoleh ke belakang. “Oh.”
Lagi-lagi nada itu.
“Apa?”
“Kalau mau senyum, senyum aja.”
“Aku biasa aja.”
“Kamu dari tadi senyum.”
Aku spontan meratakan ekspresi.
Dimas tertawa begitu keras sampai dua orang di depan kami menoleh.
“Diam.”
“Maaf. Refleks.”
Kami masuk kelas. Aku duduk, mengeluarkan buku, lalu menulis tanggal di pojok halaman.
Setelah itu aku berhenti.
Dia mengenaliku.
Itu bagian yang terus kembali.
Mungkin senyum tadi cuma keramahan. Alya terlihat memang ramah. Aku pernah melihatnya menyapa orang lain dengan cara yang sama.
Aku tidak perlu membesar-besarkan sesuatu yang sederhana.
Tetapi untuk bisa tersenyum lebih dulu, dia harus tahu aku ada.
Dan anehnya, fakta sekecil itu cukup membuat ujung penaku berhenti beberapa detik di atas kertas.
“Rak,” bisik Dimas.
Aku menoleh.
“Dosen sudah masuk.”
Aku buru-buru membuka halaman materi.
Satu jam berikutnya aku berhasil menjadi mahasiswa normal lagi.
Hampir.
Saat kelas selesai, Dimas menyampirkan tas dan berkata, “Lewat kantin?”
Aku menatapnya.
Dia memasang wajah polos.
“Kenapa?”
“Perpus.”
“Kita nggak ke perpus.”
“Oh iya.”
Aku berjalan lebih dulu.
Dimas menyusul sambil menahan tawa.
Hari berikutnya aku bertemu Alya lagi di koridor berbeda.
Kali ini tidak ada kantin. Tidak ada pola. Tidak ada alasan untuk mengira dia akan berada di sana.
Aku sedang turun tangga ketika melihatnya naik bersama temannya.
Aku sempat berpikir apakah sebaiknya aku menunggu dia melihat dulu.
Pikiran itu bahkan belum selesai ketika Alya mengangkat wajah.
Mata kami bertemu.
Senyumnya muncul.
Lebih cepat daripada milikku.
Dadaku menghangat.
Aku membalas.
“Siang,” katanya pelan saat kami berpapasan.
Aku hampir lupa bahwa manusia juga bisa memakai suara.
“Siang.”
Satu kata.
Hanya satu kata.
Kami terus berjalan ke arah berlawanan.
Aku mencapai anak tangga terakhir, lalu berhenti sepersekian detik.
Dia nyapa.
Aku tidak menoleh.
Kali ini bukan karena takut terlihat aneh.
Aku hanya sedang berusaha menyimpan momen itu tanpa merusaknya dengan harapan yang terlalu banyak.
Dimas tidak ada di sana untuk mengejekku.
Sayangnya, itu berarti aku harus menanggung sendiri senyum bodoh yang muncul sampai beberapa menit kemudian.
Malamnya aku membuka catatan kuliah.
Di tengah membaca, ingatan tentang satu kata tadi muncul lagi.
Siang.
Aku menutup mata sebentar.
Parah.
Aku sudah senang hanya karena dia tersenyum.
Sekarang dia menyapa.
Kalau begini terus, standar kebahagiaanku akan semakin tidak masuk akal.
Tapi sebelum kembali membaca, aku tetap tersenyum.
Karena satu hal sekarang terasa pasti.
Di antara ratusan orang yang lewat di kampus setiap hari, Alya Maheswari sudah mengenal wajahku.
- 1 Hari Pertama Aku Melihatnya
- 2 Jalan yang Sedikit Lebih Panjang
- 3 Cowok yang Sering Lewat
- 4 Senyum reading
- 5 Ketika Dia Tidak Lewat
- 6 Kebetulan Pertama Milikku
- 7 Namaku di Mulutnya
- 8 Ternyata Memang Sengaja
- 9 Kebaikan yang Tidak Ditujukan Kepadaku
- 10 Sekarang Giliranku
- 11 Sedang Mengetik...
- 12 Dua Kursi
- 13 Terlalu Dekat
- 14 Ini Bukan Kencan
- 15 Orang yang Kucari
- 16 Kalau Aku Memang Menunggumu?
- 17 Tinggal Satu Kalimat
- 18 Kamu Suka Aku, Kan?
- 19 Hari Pertama Punya Pacar
- 20 Sekarang Aku Boleh Manja
- 21 Kencan yang Benar-Benar Kencan
- 22 Karena Kamu Memang Begitu
- 23 Jangan Senyum Begitu
- 24 Kali Ini Aku yang Mulai
- 25 Sedikit Lebih Dekat
- 26 Jadi Kalian Baru Jadian?
- 27 Jalan yang Dulu Terasa Jauh
- 28 Kebetulan Lewat