Chapter Twenty One
Kencan yang Benar-Benar Kencan
POV: Raka
Aku mengajak Alya kencan.
Semua dimulai dari chat Kamis malam.
*Weekend kamu kosong?*
Aku hampir menghapusnya, lalu ingat satu fakta penting.
Dia pacarku.
Kukirim.
*Sabtu kosong. Kenapa?*
Aku menarik napas.
*Mau keluar? Kencan.*
Tiga titik muncul.
*MAU.*
Lalu:
*Tumben berani ngajak duluan 😌*
Aku membalas:
*Belajar.*
Sabtu siang kami bertemu dekat toko buku dan area makan yang pernah kami datangi sebelum jadian.
Bedanya sekarang, aku tidak perlu berpura-pura bahwa kami cuma mencari buku.
Alya datang dengan pakaian kasual yang membuatku perlu mengingat cara bernapas normal.
Dia berhenti di depanku.
“Hai.”
“Hai.”
Matanya menyipit. “Kenapa lihat-lihat?”
Aku bisa mengelak.
Tapi aku sedang belajar.
“Cantik.”
Alya diam.
Pipinya berubah sedikit merah.
“Cuma gitu?”
Aku bingung. “Harus gimana?”
Dia memalingkan wajah. “Nggak apa-apa.”
Aku mulai memahami bahwa Alya juga bisa gugup.
Kami berjalan.
Kencan pertama kami tidak spektakuler.
Toko buku. Makan siang. Jalan santai.
Tapi setiap hal terasa berbeda karena labelnya jelas.
Saat tanganku dekat tangannya, aku masih belum selalu berani memulai. Ketika Alya menyelipkan jemari ke tanganku, aku langsung menggenggam.
Di tempat makan, Alya melihat sekeliling.
Aku teringat kekhawatiranku dulu.
“Tempatnya masih nggak masalah?”
Dia langsung tahu.
“Raka.”
“Hm?”
“Kita sudah pernah bahas.”
“Iya.”
“Aku suka tempat ini.”
Aku mengangguk.
Alya menyandarkan dagu pada tangan.
“Kamu masih mikir aku harus diajak ke tempat mahal?”
“Nggak harus.”
“Tapi?”
Aku diam.
Akhirnya aku berkata, “Kadang aku masih mikir kamu biasa dapat yang lebih bagus.”
Ekspresinya berubah lebih serius.
“Yang lebih bagus menurut siapa?”
Aku tidak punya jawaban.
Alya menunjuk meja di antara kami.
“Aku di sini karena mau sama kamu.”
Dadaku terasa hangat.
“Mau tempatnya apa, aku nggak terlalu peduli.”
Kemudian dia menambahkan, “Asal makanannya enak.”
Aku tertawa.
“Nah, itu penting.”
“Banget.”
Ketegangan hilang.
Kami makan.
Alya tetap mengambil kentangku meskipun punya sendiri. Aku mulai curiga ini prinsip hidup.
Setelah makan, kami masuk toko buku.
Di antara rak, Alya tiba-tiba berkata, “Ini kencan pertama kita.”
Aku menoleh. “Yang waktu beli buku dulu?”
“Itu bukan kencan.”
“Kita pergi berdua.”
“Urusan buku.”
“Makan berdua.”
“Lapar.”
“Ngobrol sampai sore.”
Alya mengangkat satu buku dan pura-pura membaca sampul.
“Pokoknya bukan.”
Aku tertawa. “Baik.”
“Yang ini kencan pertama.”
“Oke.”
Dia melirikku. “Kok gampang?”
“Pacarku maunya begitu.”
Alya berhenti membaca.
Aku berjalan duluan sebelum wajahku sendiri ikut panas.
Beberapa detik kemudian dia menyusul dan memukul lenganku pelan dengan buku.
“Kamu sekarang suka nyerang, ya?”
“Aku ngomong biasa.”
“Itu lebih parah.”
Aku tidak sepenuhnya mengerti, tapi aku suka reaksinya.
Sore menjelang ketika kami keluar.
Kami duduk sebentar di bangku dekat area pejalan kaki.
Alya terlihat lelah.
Tanpa banyak pikir, aku menawarkan bahu.
“Mau?”
Dia menatapku.
Lalu tersenyum sangat manis.
“Mau.”
Dia menyender.
Aku masih gugup.
Tentu.
Tapi tidak sekaku dulu.
Aku mulai menikmati berat ringan kepalanya di bahu.
“Alya.”
“Hm?”
“Hari ini menyenangkan.”
Dia mendongak sedikit.
Aku melanjutkan sebelum keberanian hilang.
“Kapan-kapan lagi.”
Senyumnya berubah.
“Lain kali lagi?”
“Iya.”
“Janji?”
Aku mengangguk. “Janji.”
Saat mengantarnya ke titik jemput, kami masih berpegangan tangan.
Kendaraannya belum datang.
Alya mengayunkan tangan kami kecil-kecil.
“Raka.”
“Hm?”
“Kalau dulu itu bukan kencan, kamu kecewa nggak?”
Aku memikirkannya.
“Nggak.”
“Kenapa?”
“Karena sekarang bisa kencan beneran.”
Alya menatapku.
Lalu menunduk.
Aku melihat telinganya mulai merah.
Kemenangan kecil.
Aku tersenyum.
Alya langsung menangkap.
“Jangan senyum.”
“Kenapa?”
“Pokoknya.”
Kendaraannya datang.
Sebelum masuk, Alya berbalik.
“Makasih buat hari ini.”
“Aku juga.”
Dia mengangkat alis.
Aku memperbaiki.
“Makasih juga.”
Alya tertawa.
Setelah kendaraan pergi, aku berdiri sebentar.
Dulu aku merasa Alya hidup di dunia yang sedikit terlalu jauh dariku.
Hari ini kami makan di tempat sederhana, berebut kentang, masuk toko buku, duduk sampai sore.
Dan dia terlihat bahagia.
Mungkin selama ini jarak itu lebih banyak ada di kepalaku.
Ponsel berbunyi.
*Kencan pertama sukses ❤️*
Aku tersenyum.
*Berarti boleh kedua?*
Balasannya datang cepat.
*Harus.*
Aku memasukkan ponsel ke saku.
Ternyata mencintai Alya secara terbuka jauh lebih menyenangkan daripada sekadar melihatnya dari jauh.
- 1 Hari Pertama Aku Melihatnya
- 2 Jalan yang Sedikit Lebih Panjang
- 3 Cowok yang Sering Lewat
- 4 Senyum
- 5 Ketika Dia Tidak Lewat
- 6 Kebetulan Pertama Milikku
- 7 Namaku di Mulutnya
- 8 Ternyata Memang Sengaja
- 9 Kebaikan yang Tidak Ditujukan Kepadaku
- 10 Sekarang Giliranku
- 11 Sedang Mengetik...
- 12 Dua Kursi
- 13 Terlalu Dekat
- 14 Ini Bukan Kencan
- 15 Orang yang Kucari
- 16 Kalau Aku Memang Menunggumu?
- 17 Tinggal Satu Kalimat
- 18 Kamu Suka Aku, Kan?
- 19 Hari Pertama Punya Pacar
- 20 Sekarang Aku Boleh Manja
- 21 Kencan yang Benar-Benar Kencan reading
- 22 Karena Kamu Memang Begitu
- 23 Jangan Senyum Begitu
- 24 Kali Ini Aku yang Mulai
- 25 Sedikit Lebih Dekat
- 26 Jadi Kalian Baru Jadian?
- 27 Jalan yang Dulu Terasa Jauh
- 28 Kebetulan Lewat