Chapter Twelve
Dua Kursi
POV: Alya
Chat dengan Raka ternyata menciptakan masalah baru.
Sekarang setiap kali melihatnya langsung, aku tahu terlalu banyak hal kecil.
Aku tahu dia sering tidur lewat tengah malam kalau ada tugas.
Aku tahu dia tidak suka kopi terlalu pahit.
Aku tahu dia akan membalas stiker aneh dengan stiker yang lebih aneh.
Dan yang paling mengganggu, aku tahu dia jauh lebih banyak bicara lewat chat daripada yang terlihat dari luar.
Jadi ketika aku melihatnya duduk di kantin bersama Dimas, rasanya tidak lagi seperti melihat cowok yang sering lewat.
Rasanya seperti melihat seseorang yang tadi malam mengirim pesan:
*Jangan pesan normal sugar lagi kalau masih mau tidur.*
Aku mendekat bersama Naya.
Raka melihatku.
Senyumnya langsung muncul.
“Hai.”
“Hai.”
Dimas dan Naya saling menyapa.
Ada dua kursi kosong di meja.
Satu di seberang Raka.
Satu di sebelahnya.
Aku berhenti.
Pilihan yang sangat sederhana.
Entah kenapa jantungku ikut terlibat.
Aku menarik kursi di seberangnya.
Belum usah aneh-aneh.
Kami mulai makan.
Awalnya berempat.
Dimas dan Naya ternyata bisa ngobrol dengan cukup mudah. Mungkin karena sama-sama punya hobi mengganggu sahabat.
Beberapa menit kemudian ponsel Dimas berbunyi.
Dia membaca pesan lalu berdiri.
“Gue ke fotokopi bentar. Anak kelompok minta file.”
Naya ikut melihat ponselnya.
“Aku sekalian ambil paket di depan. Tadi kurir chat.”
Aku menatapnya.
Timing-nya mencurigakan.
Tapi pesan kurir benar-benar ada di layarnya.
“Balik?” tanyaku.
“Kalau kurirnya belum kabur.”
Dimas dan Naya pergi hampir bersamaan.
Tiba-tiba tinggal aku dan Raka.
Dua orang.
Dua kursi berhadapan.
Suara kantin yang tadinya biasa mendadak terasa lebih jelas.
Raka minum.
Aku minum.
Kenapa jadi canggung? Kami semalam chat hampir dua jam.
Aku memutuskan menyerang dulu.
“Kamu kalau chat lebih cerewet.”
Raka hampir tersedak.
Aku tertawa.
“Serius.”
“Berarti harus dikurangi.”
“Kenapa?”
“Biar reputasi terjaga.”
Aku tersenyum. “Reputasi pendiam?”
“Iya.”
“Udah rusak.”
Raka menatapku.
“Cepat banget.”
“Risiko kasih nomor ke aku.”
Kalimat itu keluar dengan ringan.
Tapi setelah mengatakannya, aku sendiri merasakan panas kecil di pipi.
Raka justru tersenyum.
“Berarti nomorku aman?”
Aku mengangkat alis. “Tergantung.”
“Tergantung apa?”
“Perilaku.”
Dia tertawa kecil.
Nah.
Itu.
Aku sudah beberapa kali melihat Raka tersenyum.
Tapi tertawa sungguhan berbeda.
Wajahnya terlihat jauh lebih ringan.
Aku sampai lupa mau mengatakan apa.
Raka menyadari.
“Kenapa?”
“Nggak apa-apa.”
Aku mengambil minuman.
Kenapa kalau dia ketawa jadi begitu?
Berbahaya.
Aku mengubah topik.
Kami bicara soal kelas, lalu makanan.
Aku mengeluh porsiku terlalu banyak.
Raka melihat piringku.
“Tadi kamu yang tambah kentang.”
“Itu sebelum aku tahu nasinya sebanyak ini.”
“Berarti salah siapa?”
Aku menatapnya.
Dia terlihat sangat tenang.
“Kamu sekarang berani, ya?”
Raka berhenti sepersekian detik.
“Sedikit.”
Aku tidak menyangka jawaban itu.
Dadaku geli.
Aku menyandarkan siku ke meja.
“Kalau aku marah?”
“Ya minta maaf.”
“Cepat banget menyerah.”
“Strategi bertahan hidup.”
Aku tertawa.
Raka ikut tersenyum.
Percakapan mengalir begitu mudah sampai aku lupa bahwa beberapa minggu lalu kami bahkan tidak tahu nama satu sama lain.
Aku mencicipi minumanku.
Raka melihat.
“Normal sugar lagi?”
Aku langsung defensif. “Aku lupa.”
“Terus nanti malam bilang nggak bisa tidur.”
“Kamu kan bisa nemenin chat.”
Hening.
Aku baru sadar apa yang kukatakan.
Raka menatapku.
Aku menatap balik.
Untuk pertama kalinya hari itu, dia terlihat benar-benar kehilangan jawaban.
Aku hampir menang.
Hampir.
Kemudian dia berkata, “Boleh.”
Satu kata.
Nada biasa.
Damage tidak biasa.
Sekarang aku yang mengalihkan pandangan.
Kenapa dia jawab iya?
Bukannya itu yang kuinginkan?
Iya.
Tetap saja.
Aku mengambil kentang goreng supaya punya kegiatan.
Raka tersenyum kecil.
Aku curiga dia tahu aku salah tingkah.
“Kamu senyum apa?”
“Nggak.”
“Bohong.”
“Sedikit.”
Aku menendang ujung sepatunya pelan di bawah meja.
Raka tertawa.
Ketika Dimas dan Naya akhirnya kembali, makanan kami sudah hampir habis.
Naya duduk dan menatapku.
Lalu Raka.
Lalu meja.
“Lama?” tanyanya.
“Nggak,” jawabku terlalu cepat.
Raka minum untuk menyembunyikan senyum.
Aku menatapnya tajam.
Dia semakin senyum.
Orang ini.
Setelah makan, kami masih duduk.
Itu baru kusadari ketika meja di sebelah sudah berganti penghuni.
Tidak ada yang punya alasan khusus untuk tetap di sana.
Tapi kami tetap bicara.
Tentang hal-hal kecil.
Raka bercerita Dimas pernah tertidur saat kelas daring dan menjawab dosen dengan suara setengah sadar.
Dimas protes.
Naya tertawa sampai hampir menjatuhkan minuman.
Aku melihat Raka lagi.
Dia tampak nyaman.
Dan aku menyukai versi ini.
Bukan cowok yang cuma tersenyum dari jauh.
Bukan cowok yang gugup ketika kupanggil.
Raka yang duduk bersama kami, bercanda, sesekali menggodaku balik, lalu tersenyum tanpa sadar.
Saat akhirnya kami berpisah, aku baru menyadari sudah hampir dua jam sejak duduk.
Malamnya, pesan Raka masuk.
*Udah bisa tidur setelah normal sugar?*
Aku tersenyum.
*Belum. Salah siapa?*
*Yang pesan.*
*Jahat.*
Tiga titik muncul.
*Katanya bisa ditemenin chat.*
Aku menatap layar.
Dadaku menghangat.
Dia ingat.
Aku menggigit bibir supaya tidak tersenyum terlalu lebar, padahal tidak ada siapa-siapa di kamar.
*Ya udah. Temenin.*
Balasannya cepat.
*Siap.*
Aku rebah di kasur.
Hari ini cuma makan siang.
Tidak ada kencan.
Tidak ada sesuatu yang resmi.
Tapi aku sudah tahu satu hal.
Kalau besok bisa makan bareng lagi... aku mau.
Dan itu mungkin masalah.
Karena semakin lama, aku semakin tidak ingin menyebut semua ini kebetulan.
- 1 Hari Pertama Aku Melihatnya
- 2 Jalan yang Sedikit Lebih Panjang
- 3 Cowok yang Sering Lewat
- 4 Senyum
- 5 Ketika Dia Tidak Lewat
- 6 Kebetulan Pertama Milikku
- 7 Namaku di Mulutnya
- 8 Ternyata Memang Sengaja
- 9 Kebaikan yang Tidak Ditujukan Kepadaku
- 10 Sekarang Giliranku
- 11 Sedang Mengetik...
- 12 Dua Kursi reading
- 13 Terlalu Dekat
- 14 Ini Bukan Kencan
- 15 Orang yang Kucari
- 16 Kalau Aku Memang Menunggumu?
- 17 Tinggal Satu Kalimat
- 18 Kamu Suka Aku, Kan?
- 19 Hari Pertama Punya Pacar
- 20 Sekarang Aku Boleh Manja
- 21 Kencan yang Benar-Benar Kencan
- 22 Karena Kamu Memang Begitu
- 23 Jangan Senyum Begitu
- 24 Kali Ini Aku yang Mulai
- 25 Sedikit Lebih Dekat
- 26 Jadi Kalian Baru Jadian?
- 27 Jalan yang Dulu Terasa Jauh
- 28 Kebetulan Lewat