Chapter Twenty Five
Sedikit Lebih Dekat
POV: Alya
Aku membuat kesalahan.
Aku mengira karena sudah beberapa minggu pacaran, aku masih memegang kendali.
Memang, Raka sudah mulai berani menggenggam tanganku duluan.
Kadang mengatakan sesuatu yang membuatku salah tingkah.
Tapi secara umum, aku masih pihak yang lebih ahli membuat jantung orang lain bermasalah.
Sampai sore itu.
Kami duduk di taman kampus setelah kelas. Tidak ramai. Matahari sudah turun dan angin membuat rambutku beberapa kali masuk ke wajah.
Raka sedang bercerita tentang Dimas yang salah mengirim file ke grup.
Aku melihat ada bagian kerah bajunya sedikit terlipat.
“Diam.”
Raka langsung berhenti bicara.
“Kenapa?”
Aku mendekat.
“Miring.”
Tanganku merapikan kerahnya.
Raka diam.
Biasanya ini bagian ketika telinganya mulai merah.
Aku sudah siap menikmati kemenangan.
Lalu aku sadar wajah kami dekat.
Sangat dekat.
Raka tidak mundur.
Aku mengangkat mata.
Dia sedang melihatku.
Jantungku berdetak sekali lebih keras.
Kenapa dia nggak mundur?
Ironis.
Selama ini aku ingin dia lebih berani.
Sekarang ketika dia benar-benar tidak mundur, aku yang tidak tahu harus melakukan apa.
Aku bisa kembali ke tempat duduk.
Tidak.
Harga diriku menolak.
Jadi aku tetap di sana.
“Udah,” kataku pelan.
Raka tidak langsung menjawab.
Matanya masih di wajahku.
Senyumku yang tadi berniat menggoda perlahan hilang sendiri.
Aku tahu tatapan itu.
Atau lebih tepatnya, aku tahu ke mana tatapan itu sempat turun sebelum kembali ke mataku.
Bibir.
Dadaku mulai berisik.
Oh.
Ada jeda.
Cukup panjang untuk membuatku bisa mundur kalau mau.
Aku tidak mundur.
Raka bergerak sedikit lebih dekat.
Masih ada waktu.
Aku tetap di sana.
Lalu bibirnya menyentuh bibirku.
Lembut.
Singkat.
Tidak ada dunia berhenti berputar.
Tidak ada suara petir.
Hanya rasa hangat yang langsung naik sampai wajahku.
Ketika Raka menjauh, kami sama-sama diam.
Aku, Alya Maheswari, yang selama ini bisa menggoda Raka sampai dia lupa bicara, mendadak kehilangan semua kosakata.
Raka juga merah.
Bagus.
Setidaknya aku tidak sendirian.
Beberapa detik kemudian aku berhasil menemukan suara.
“Ternyata berani juga.”
Nada yang keluar tidak sekuat rencanaku.
Raka masih terlihat gugup.
Tapi kemudian dia bertanya, “Kamu nggak suka?”
Aku terdiam lagi.
Serangan kedua.
Aku menyipitkan mata.
“Aku nggak bilang begitu.”
Raka tersenyum.
Senyum itu membuat semuanya lebih parah.
“Jangan senyum.”
“Kenapa?”
“Pokoknya.”
Aku akhirnya menyender ke bahunya supaya tidak perlu terus melihat wajahnya.
Raka tertawa kecil.
“Jangan ketawa juga.”
“Terus aku harus apa?”
“Diam.”
“Siap.”
Kami diam.
Tangannya mencari tanganku.
Kali ini dia yang memulai.
Aku langsung menggenggam balik.
Jantungku masih belum sepenuhnya normal.
Aneh.
Kami sudah berpegangan tangan berkali-kali.
Aku sudah menyender.
Sudah memeluk lengannya.
Tapi satu kecupan singkat tadi mengubah udara di antara kami.
Bukan menjadi berat.
Justru lebih dekat.
Seperti ada pintu lain yang baru dibuka.
Aku mengangkat kepala sedikit.
Raka melihatku.
“Apa?”
“Nggak apa-apa.”
“Kamu kalau bilang begitu biasanya ada.”
Aku mendecakkan lidah.
“Sekarang suka balikin omonganku.”
“Belajar.”
“Dari siapa?”
Raka menatapku.
Aku tahu jawabannya.
Aku menutup wajah dengan tangan.
“Ya ampun.”
Dia tertawa lagi.
Aku memukul lengannya pelan.
Setelah beberapa menit, rasa gugup berubah menjadi hangat yang nyaman.
Kami mulai bicara lagi.
Tentang hal biasa.
Kelas.
Makan malam.
Tugas.
Tapi sesekali aku sadar bibirku masih terasa seperti menyimpan ingatan kecil.
Dan setiap kali sadar, pipiku kembali panas.
Raka tampaknya juga tidak lebih baik.
Suatu kali mata kami bertemu terlalu lama.
Dia langsung mengalihkan pandangan.
Aku tersenyum puas.
Masih bisa digoda.
Bagus.
Keseimbangan dunia belum sepenuhnya rusak.
Saat hendak pulang, kami berjalan sambil berpegangan tangan.
Di titik jemput, aku berhenti.
Raka juga.
Biasanya kami hanya bilang hati-hati.
Hari ini ada kecanggungan baru.
Aku tahu dia memikirkan hal yang sama.
Aku mendekat sedikit.
Raka langsung gugup.
Nah.
Aku kembali berkuasa.
Aku tersenyum manis.
“Kenapa?”
“Nggak.”
“Kaku.”
“Nggak.”
Aku tertawa.
Kemudian, sebelum kendaraan datang, aku menyentuh lengannya.
“Makasih.”
Raka bingung. “Buat apa?”
Aku tidak mau bilang buat ciumannya.
Terlalu malu.
“Buat hari ini.”
Dia memahami.
Senyumnya melunak.
“Sama-sama.”
Kendaraan datang.
Aku naik.
Begitu duduk, ponsel berbunyi.
Raka.
*Hati-hati.*
Aku mengetik:
*Iya.*
Berhenti.
Lalu menambahkan:
*Pacarku ternyata lumayan berani.*
Balasannya cukup lama.
*Lumayan?*
Aku tertawa.
*Jangan besar kepala.*
*Siap.*
Aku menyandarkan kepala ke kursi.
Beberapa minggu lalu, aku bahagia hanya karena Raka menggenggam tanganku duluan.
Hari ini dia menciumku duluan.
Lelaki yang dahulu hanya berani mengambil jalan memutar untuk melihatku dari jauh sekarang perlahan belajar mendekat sendiri.
Dan bagian paling memalukan?
Aku menyukainya.
Sangat.
- 1 Hari Pertama Aku Melihatnya
- 2 Jalan yang Sedikit Lebih Panjang
- 3 Cowok yang Sering Lewat
- 4 Senyum
- 5 Ketika Dia Tidak Lewat
- 6 Kebetulan Pertama Milikku
- 7 Namaku di Mulutnya
- 8 Ternyata Memang Sengaja
- 9 Kebaikan yang Tidak Ditujukan Kepadaku
- 10 Sekarang Giliranku
- 11 Sedang Mengetik...
- 12 Dua Kursi
- 13 Terlalu Dekat
- 14 Ini Bukan Kencan
- 15 Orang yang Kucari
- 16 Kalau Aku Memang Menunggumu?
- 17 Tinggal Satu Kalimat
- 18 Kamu Suka Aku, Kan?
- 19 Hari Pertama Punya Pacar
- 20 Sekarang Aku Boleh Manja
- 21 Kencan yang Benar-Benar Kencan
- 22 Karena Kamu Memang Begitu
- 23 Jangan Senyum Begitu
- 24 Kali Ini Aku yang Mulai
- 25 Sedikit Lebih Dekat reading
- 26 Jadi Kalian Baru Jadian?
- 27 Jalan yang Dulu Terasa Jauh
- 28 Kebetulan Lewat