Chapter Twenty Three
Jangan Senyum Begitu
POV: Alya
Hari itu aku sedang kesal kepada dunia.
Tidak ada tragedi.
Justru kumpulan hal kecil.
Presentasi direvisi.
Satu file hilang.
Pesanan minumku salah.
Dan Naya meninggalkanku karena ada rapat.
Jadi ketika Raka datang dan bertanya, “Kenapa?”, jawabanku sangat dewasa.
“Kesel.”
Dia duduk di sampingku.
“Kenapa?”
“Banyak.”
“Cerita.”
Aku cerita.
Semuanya.
Raka mendengarkan tanpa memotong.
Tidak bilang aku berlebihan.
Tidak buru-buru memberi solusi.
Setelah selesai, aku mengembuskan napas.
“Capek.”
Raka menyerahkan botol minum yang tadi dibelinya.
“Minum.”
Aku minum.
Masih cemberut.
“Masih?” tanyanya.
“Iya.”
“Mau makan?”
“Nggak.”
“Es krim?”
Aku hampir mengiyakan, tapi harga diriku menahan.
“Nggak.”
Raka terlihat kehabisan alat.
Aku menatapnya.
“Bujuk.”
Dia langsung tampak menderita.
“Alya.”
“Apa?”
“Aku nggak bisa.”
“Belajar.”
“Gimana?”
“Pikir sendiri.”
Raka diam cukup lama.
Aku hampir tertawa, tapi mempertahankan wajah murung.
Akhirnya dia berkata, “Kamu sudah berusaha dari pagi.”
Aku berhenti.
Nada suaranya berubah lebih lembut.
“Kalau hari ini berantakan sedikit, ya sudah. Istirahat dulu. Besok lanjut lagi.”
Aku menatapnya.
Raka tersenyum.
Senyum itu.
Senyum kecil yang dulu hanya kulihat beberapa detik saat dia melewati kantin.
Sekarang dia duduk di sampingku dan memberikan senyum itu khusus untukku.
Semua kekesalanku bocor begitu saja.
Aku mendesah.
“Jangan senyum begitu.”
Raka langsung bingung. “Kenapa?”
Aku menutup wajah dengan tangan.
“Bikin aku susah marah.”
Hening.
Lalu aku mendengar dia tertawa kecil.
Aku membuka tangan.
“Nah. Jangan ketawa juga.”
“Terus harus apa?”
“Bujuk.”
“Tadi katanya berhasil.”
Aku terdiam.
Dia benar.
Menyebalkan.
Raka tersenyum lagi.
“Nah!” Aku menunjuk wajahnya. “Itu.”
“Apa?”
“Itu senyumnya.”
“Kenapa sama senyumku?”
Aku tidak mau menjelaskan bahwa senyum itu sudah menjadi kelemahanku sejak sebelum tahu namanya.
Terlalu memalukan.
“Pokoknya.”
Raka terlihat semakin terhibur.
Aku menyender ke bahunya.
“Bad mood-ku balik kalau kamu banyak tanya.”
“Baik.”
Dia diam.
Beberapa detik.
Kemudian tangannya mengusap puncak kepalaku pelan.
Aku membeku sedikit.
“Ini boleh?” tanyanya.
Aku mengangguk tanpa mengangkat kepala.
“Boleh.”
Senyumku muncul sendiri.
Curang.
Raka bahkan tidak sadar betapa curangnya dia.
Naya datang sekitar dua puluh menit kemudian.
Dia melihatku yang sekarang sudah makan camilan Raka sambil menyender.
“Katanya bad mood.”
“Sudah sembuh.”
“Obatnya?”
Aku menunjuk Raka.
Raka hampir tersedak.
Naya tertawa.
Malamnya Naya menelepon.
“Jadi Raka ngapain?”
“Nggak ngapa-ngapain.”
“Katanya obat.”
“Dia cuma... senyum.”
Hening.
“Naya?”
“Aku nggak mau ikut campur.”
Aku tertawa.
Setelah telepon selesai, pesan Raka masuk.
*File yang hilang ketemu?*
Aku tersenyum.
*Udah. Ternyata salah folder.*
*Bagus.*
Lalu:
*Masih kesel?*
Aku mengetik:
*Nggak.*
Berhenti.
Lalu menambahkan:
*Pacarku lumayan berguna.*
Balasannya:
*Lumayan?*
Aku langsung tersenyum.
*Jangan besar kepala.*
Tiga titik.
*Siap.*
Aku menatap layar.
Aneh.
Dulu aku membawa pulang senyum Raka dari pertemuan beberapa detik.
Sekarang setelah resmi memilikinya sebagai pacar, efeknya tidak berkurang.
Malah lebih parah.
Karena sekarang senyum itu datang bersama perhatian.
Bersama tangan yang mengusap kepalaku.
Bersama pesan yang menanyakan apakah aku masih kesal.
Aku memeluk bantal.
Gawat.
Aku masih terus jatuh cinta kepada orang yang sama.
Dan sepertinya dia tidak berniat membuat prosesnya lebih mudah.
- 1 Hari Pertama Aku Melihatnya
- 2 Jalan yang Sedikit Lebih Panjang
- 3 Cowok yang Sering Lewat
- 4 Senyum
- 5 Ketika Dia Tidak Lewat
- 6 Kebetulan Pertama Milikku
- 7 Namaku di Mulutnya
- 8 Ternyata Memang Sengaja
- 9 Kebaikan yang Tidak Ditujukan Kepadaku
- 10 Sekarang Giliranku
- 11 Sedang Mengetik...
- 12 Dua Kursi
- 13 Terlalu Dekat
- 14 Ini Bukan Kencan
- 15 Orang yang Kucari
- 16 Kalau Aku Memang Menunggumu?
- 17 Tinggal Satu Kalimat
- 18 Kamu Suka Aku, Kan?
- 19 Hari Pertama Punya Pacar
- 20 Sekarang Aku Boleh Manja
- 21 Kencan yang Benar-Benar Kencan
- 22 Karena Kamu Memang Begitu
- 23 Jangan Senyum Begitu reading
- 24 Kali Ini Aku yang Mulai
- 25 Sedikit Lebih Dekat
- 26 Jadi Kalian Baru Jadian?
- 27 Jalan yang Dulu Terasa Jauh
- 28 Kebetulan Lewat