Chapter Eighteen
Kamu Suka Aku, Kan?
POV: Alya
Aku sudah memutuskan.
Kalau menunggu Raka, mungkin kami akan lulus dulu.
Bukan karena dia pengecut.
Justru itu yang membuatku semakin gemas.
Raka berani menjawab kalau kugoda.
Berani mengatakan aku membuatnya gugup.
Berani mengaku senang kalau aku menunggunya.
Kadang bahkan berani menyerang balik tanpa sadar.
Tapi untuk satu hal yang paling jelas, dia masih berhenti di garis terakhir.
Aku tahu kenapa.
Kemarin aku melihatnya hampir mengatakan sesuatu.
Aku juga melihat dia berubah pikiran.
Malamnya, ketika kutanya lewat chat, jawabannya hanya:
*Nanti.*
Nanti kapan?
Tahun depan?
Jadi hari ini aku mengambil keputusan.
Aku akan bertanya.
Langsung.
Naya mengetahuinya pagi-pagi.
“Aku mau ngomong sama Raka.”
Dia menatapku.
“Ngomong?”
“Iya.”
“Yang ngomong?”
Aku mengangguk.
Naya tersenyum perlahan.
“Akhirnya.”
“Jangan bikin aku tambah gugup.”
“Kamu gugup?”
“Banget.”
Mengakuinya justru membuatku sedikit lega.
Selama ini aku bisa flirting karena selalu ada jalan mundur.
Bercanda.
Menggoda.
Pura-pura kebetulan.
Hari ini tidak ada.
Aku ingin jawaban.
Dan aku juga akan memberikan jawaban.
Kami sepakat makan di kantin tengah.
Tempat yang terasa tepat.
Aku datang lebih dulu.
Naya sengaja tidak ikut.
“Ini urusan kalian,” katanya.
Aku memilih meja yang cukup familiar.
Meja tempat aku dulu beberapa kali melihat Raka lewat.
Lucu sekali.
Dulu aku duduk di sini dan bertanya kenapa cowok itu sering muncul.
Sekarang aku menunggu dia datang untuk menanyakan apakah dia menyukaiku.
Jantungku berisik.
Tenang.
Aku melihat jam.
Raka muncul dari jalur depan beberapa menit kemudian.
Mata kami bertemu.
Senyum kecil itu.
Masih sama.
Entah kenapa justru membuatku semakin gugup.
Dia mendekat.
“Hai.”
“Hai.”
“Lama?”
“Nggak.”
Raka duduk.
Kami memesan makanan.
Aku belum langsung bicara.
Ternyata keberanian yang tadi terasa besar menghilang ketika orangnya benar-benar ada di depan.
Raka mulai menyadari aku lebih diam.
“Kamu kenapa?”
“Nggak kenapa-kenapa.”
“Kamu kalau bilang nggak biasanya ada.”
Aku menatapnya.
“Belajar dari siapa?”
Raka tersenyum.
Aku hampir menyerah dan menunda.
Tidak.
Kalau kutunda, malam nanti aku akan marah pada diri sendiri.
Kami selesai makan.
Aku meletakkan sendok.
“Raka.”
Nada suaraku membuat senyumnya hilang.
Bukan karena takut.
Dia langsung fokus.
“Hm?”
“Aku mau nanya.”
“Tanya aja.”
Aku menarik napas.
Tidak ada cara elegan.
Jadi langsung saja.
“Kamu suka aku, kan?”
Raka membeku.
Benar-benar membeku.
Aku bisa melihat pikirannya berhenti.
Jantungku sendiri rasanya mau keluar.
Beberapa detik hening terasa sangat panjang.
Raka akhirnya mengembuskan napas.
“Iya.”
Satu kata.
Tidak berputar.
Tidak menyangkal.
Tidak bercanda.
Dadaku langsung hangat.
Aku sudah tahu.
Tentu aku tahu.
Tetap saja mendengarnya berbeda.
“Sejak kapan?”
Raka melihatku.
Ada rasa malu kecil di wajahnya.
“Hari pertama.”
Aku menunggu.
Dia tidak melanjutkan.
“Hari pertama apa?”
“Kuliah.”
Aku yakin ekspresiku kosong.
“Hari pertama kuliah?”
“Iya.”
“Kita sudah semester dua.”
“Aku tahu.”
Aku menatapnya.
Raka terlihat semakin salah tingkah.
Aku tidak tahu mau tertawa atau memukul lengannya.
“Terus kamu rencananya mau bilang kapan?”
Dia benar-benar berpikir.
Itu bagian paling menyebalkan.
“Belum tahu.”
Aku menutup wajah dengan tangan.
“Ya ampun, Raka.”
Dia tertawa gugup.
“Maaf.”
“Jangan minta maaf!”
“Refleks.”
Aku menurunkan tangan.
Rasa gemas hampir mengalahkan gugupku.
“Kenapa?”
Raka tahu maksudku.
Kali ini jawabannya tidak langsung.
Dia melihat meja sebentar.
“Aku suka kamu. Dari awal.”
Dadaku berdebar.
“Tapi itu kan perasaanku.”
Aku diam.
Raka melanjutkan.
“Aku nggak mau karena aku suka, terus aku merasa kamu harus kasih sesuatu balik. Awalnya aku cuma senang bisa lihat kamu.”
Senyumnya kecil.
“Terus kita mulai ngobrol. Chat. Makan bareng.”
Dia mengusap belakang leher.
“Dan aku makin suka.”
Aku tidak bisa menahan senyum.
“Tapi makin dekat, aku malah makin takut salah baca.”
“Kenapa?”
“Kalau aku salah dan bikin kamu nggak nyaman, aku bisa kehilangan yang sekarang.”
Oh.
Semua rasa gemasku mendadak melunak.
Ini Raka.
Tentu saja.
Bukan tidak berani.
Dia hanya terlalu berhati-hati dengan sesuatu yang menurutnya berharga.
Aku menatapnya beberapa detik.
Kemudian berkata, “Raka.”
“Iya?”
“Kalau aku nggak suka kamu, aku nggak bakal sengaja nungguin kamu.”
Dia diam.
“Aku juga nggak bakal muter jalan cuma buat ketemu.”
Matanya sedikit membesar.
“Aku nggak bakal chat sampai malam.”
Aku mulai tersenyum karena ekspresinya.
“Dan aku jelas nggak bakal duduk di sini nanya kamu suka aku atau nggak.”
Raka masih diam.
Aku menarik napas.
Ini bagianku.
Tidak boleh bersembunyi di balik flirting.
“Aku suka kamu, Raka.”
Wajahnya berubah.
Sulit dijelaskan.
Seperti semua harapan yang selama ini dia tahan akhirnya mendapat izin untuk muncul sekaligus.
Aku hampir menangis karena gemas, bukan sedih.
Raka tersenyum.
Senyum paling tulus yang pernah kulihat.
Dan tentu saja jantungku langsung kalah.
“Senang?” tanyaku.
“Banget.”
Aku tertawa kecil.
Kemudian ada satu masalah baru.
Kami sudah saling mengaku.
Lalu?
Raka sepertinya punya pertanyaan yang sama.
Aku mengulurkan tangan di atas meja.
Dia melihat tanganku.
Lalu wajahku.
“Kenapa?” tanyanya.
“Ya pegang.”
Telinganya mulai merah.
“Sekarang?”
“Besok aja kalau gitu.”
Tangannya langsung bergerak.
Aku tertawa.
Jemari kami bertemu.
Hangat.
Sedikit canggung.
Sangat menyenangkan.
Raka menggenggam perlahan, seolah masih memastikan aku benar-benar membolehkan.
Aku membalas lebih erat.
“Jadi,” kataku.
“Hm?”
“Kita pacaran?”
Dia hampir tersedak udara.
Aku menahan tawa.
“Kenapa kaget?”
“Nggak. Cuma...”
“Cuma?”
Raka menatap tangan kami.
Lalu aku.
“Iya.”
Aku tersenyum lebar.
“Iya apa?”
Dia tahu aku sengaja menyiksa.
Tetap saja dia menjawab.
“Kita pacaran.”
Ada bunga kecil yang rasanya meledak di seluruh dadaku.
Aku menyandarkan dagu pada tangan satunya.
“Pacarku.”
Raka langsung menatapku.
Aku tersenyum manis.
“Kenapa?”
“Nggak apa-apa.”
“Telingamu merah.”
“Panas.”
“Di sini AC.”
Raka menutup mata sebentar.
Aku tertawa.
Akhirnya.
Setelah semua jalan memutar.
Semua senyum.
Semua kebetulan palsu.
Kami sampai di sini.
Saat hendak pulang, Raka masih menggenggam tanganku.
Sedikit kaku.
Tapi tidak melepas.
Di persimpangan, aku berkata, “Nanti chat.”
Raka menatapku.
Kemudian tersenyum.
“Iya.”
Aku baru berjalan beberapa langkah ketika dia memanggil.
“Alya.”
Aku berbalik.
Raka terlihat sedikit gugup.
Tapi dia tetap mengatakannya.
“Hati-hati.”
Kalimat biasa.
Aku sudah mendengarnya sebelumnya.
Hari ini rasanya berbeda.
Aku tersenyum.
“Iya, pacar.”
Raka langsung diam.
Aku berbalik sebelum tertawa terlalu keras.
Ponselku berbunyi tidak sampai satu menit kemudian.
Naya.
*GIMANA?*
Aku mengetik sambil menahan senyum.
*Punya pacar.*
Balasan datang dalam bentuk sebelas tanda seru.
Aku tertawa sendiri di tengah koridor.
Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, aku tidak perlu bertanya apakah Raka akan lewat besok.
Kalau ingin melihatnya, aku bisa bilang.
Kalau rindu, aku bisa mencari.
Kalau ingin dekat, aku tidak perlu membuat alasan.
Dan anehnya, setelah semua kepastian itu, jantungku masih berdebar seperti pertama kali aku sadar sedang menunggunya.
Hanya saja sekarang aku tahu jawabannya.
Dia juga menungguku.
- 1 Hari Pertama Aku Melihatnya
- 2 Jalan yang Sedikit Lebih Panjang
- 3 Cowok yang Sering Lewat
- 4 Senyum
- 5 Ketika Dia Tidak Lewat
- 6 Kebetulan Pertama Milikku
- 7 Namaku di Mulutnya
- 8 Ternyata Memang Sengaja
- 9 Kebaikan yang Tidak Ditujukan Kepadaku
- 10 Sekarang Giliranku
- 11 Sedang Mengetik...
- 12 Dua Kursi
- 13 Terlalu Dekat
- 14 Ini Bukan Kencan
- 15 Orang yang Kucari
- 16 Kalau Aku Memang Menunggumu?
- 17 Tinggal Satu Kalimat
- 18 Kamu Suka Aku, Kan? reading
- 19 Hari Pertama Punya Pacar
- 20 Sekarang Aku Boleh Manja
- 21 Kencan yang Benar-Benar Kencan
- 22 Karena Kamu Memang Begitu
- 23 Jangan Senyum Begitu
- 24 Kali Ini Aku yang Mulai
- 25 Sedikit Lebih Dekat
- 26 Jadi Kalian Baru Jadian?
- 27 Jalan yang Dulu Terasa Jauh
- 28 Kebetulan Lewat