← Aku Cuma Kebetulan Lewat

Chapter Three

Cowok yang Sering Lewat

POV: Alya

Aku baru sadar ada pola ketika Naya mengambil kentang gorengku tanpa izin.

“Itu punyaku.”

“Kamu dari tadi nggak makan.”

“Tetap punyaku.”

Naya memasukkan kentang itu ke mulut dengan wajah tanpa dosa. “Makanya dimakan.”

Aku hendak mengambil kembali piring kecil itu ketika seseorang lewat di jalur depan kantin.

Perhatianku berpindah begitu saja.

Cowok itu lagi.

Aku bahkan belum tahu namanya.

Tapi wajahnya sudah terasa familiar.

Rambut hitam sederhana. Tas gelap yang hampir selalu disampirkan di satu bahu. Biasanya berjalan bersama seorang cowok yang lebih banyak bicara daripada dia.

Dan entah kenapa, cukup sering lewat kantin ini.

Sering banget, ya?

Aku mencoba mengingat kapan pertama kali menyadarinya.

Mungkin beberapa minggu lalu, saat kami berpapasan di koridor. Aku ingat karena dia sempat menatapku, lalu tersenyum kecil.

Tidak ada yang aneh dengan itu.

Aku sering mendapat senyum dari orang yang kukenal maupun tidak. Sebagian terlalu lebar, sebagian terasa seperti sedang menunggu sesuatu dariku.

Senyum cowok ini berbeda.

Ringan saja.

Seperti sapaan tanpa suara.

Dan setelah itu dia terus berjalan.

Tidak menoleh terang-terangan. Tidak mencoba mendekat. Tidak membuatku harus memikirkan bagaimana cara menghindar dengan sopan.

Mungkin karena itu aku mengingatnya.

Hari ini dia semakin dekat.

Temannya mengatakan sesuatu. Cowok itu menjawab singkat, lalu pandangannya bergerak ke arah meja kami.

Mata kami bertemu.

Senyum kecil itu muncul lagi.

Tanpa berpikir aku membalas.

Dia lewat.

Aku kembali menatap piring.

Kentang gorengku sudah berkurang tiga.

“Naya.”

“Hm?”

“Kamu makan tiga.”

“Kamu hitung?”

“Iya.”

“Aku terharu kamu masih bisa menghitung sambil sibuk.”

Aku mengernyit. “Sibuk apa?”

Naya mengangkat dagu ke arah punggung cowok tadi.

“Kenal?”

“Nggak.”

“Terus senyum?”

“Dia senyum duluan.”

Naya menatapku beberapa detik.

“Apa?” tanyaku.

“Nggak ada.”

Aku tahu tatapan itu. Dia sedang menyimpan sesuatu untuk dipakai menggangguku nanti.

“Jangan aneh-aneh.”

“Aku belum ngomong apa-apa.”

“Mukamu ngomong.”

Naya tertawa.

Aku kembali makan, tetapi beberapa saat kemudian pikiranku malah kembali kepada cowok tadi.

Dia anak fakultas mana?

Pertanyaan itu datang begitu saja.

Bukan karena aku ingin mencari tahu. Hanya penasaran kenapa dia cukup sering lewat sini kalau aku tidak pernah melihatnya masuk ke gedung di sekitar kantin.

Mungkin kelasnya memang berpindah-pindah.

Mungkin ada urusan di perpustakaan.

Atau mungkin memang jalannya.

Aku mengangkat minuman dan melihat jalur tadi dari balik sedotan.

Kosong.

Entah kenapa ada rasa geli kecil ketika membayangkan kemungkinan lain.

Jangan-jangan sengaja?

Aku langsung merasa terlalu percaya diri.

Belum tentu.

Banyak orang lewat kantin. Kampus ini bukan milikku.

“Kamu senyum lagi,” kata Naya.

Aku menurunkan gelas. “Nggak.”

“Oke.”

“Kenapa jawabnya begitu?”

“Aku juga belum ngomong apa-apa.”

Aku memilih menghabiskan kentang sebelum semuanya dicuri.

Beberapa hari berikutnya, aku mulai memperhatikan tanpa sengaja.

Kadang dia lewat.

Kadang tidak.

Kalau lewat dan mata kami bertemu, hampir selalu ada senyum kecil itu.

Suatu siang aku sedang bicara dengan Naya ketika sosoknya muncul dari ujung jalur. Aku mengenalinya bahkan sebelum melihat wajahnya jelas.

Itu sedikit mengganggu.

Sejak kapan aku hafal cara jalannya?

Aku pura-pura tetap fokus pada Naya.

Tidak berhasil sepenuhnya.

Ketika jaraknya semakin dekat, ada antisipasi kecil yang aneh di dada. Bukan gugup. Belum. Lebih seperti menunggu bagian lagu yang sudah kukenal.

Lalu dia melihat.

Senyum.

Aku membalas.

Dan benar saja, setelah dia lewat, suasana kembali menjadi biasa.

Aku mulai memahami kenapa aku menyadari keberadaannya.

Bukan karena dia paling ribut.

Justru sebaliknya.

Dia tidak pernah meminta perhatianku, tetapi entah bagaimana aku mulai memberikannya sendiri.

Naya pernah bertanya apakah aku ingin tahu namanya.

Aku hampir bilang iya.

Hampir.

Tapi akhirnya aku menggeleng.

“Belum perlu.”

Naya menaikkan alis. “Belum?”

Aku baru sadar pilihan kataku.

“Bukan begitu.”

“Hmm.”

Aku menatapnya tajam.

Dia tersenyum puas.

Aneh.

Aku tidak tahu namanya, tidak pernah bicara dengannya, bahkan tidak tahu jurusannya.

Tapi sekarang, di antara begitu banyak wajah di kampus, aku sudah bisa mengenali satu.

Dan setiap kali dia muncul, ada pikiran kecil yang datang lebih cepat daripada yang kuinginkan.

Oh, dia lewat.